Prolog

Agustus 17, 2017


 


Sekilas Tentang Penulis

Eko Prasetio Pratama lahir di Tasikmalaya, 10 Oktober 1994. Tumbuh kembang sejak kecil di Ibukota Jakarta. Oleh karena itu, ia sangat akrab dengan seputaran kerabat dan lingkungan daerah perkotaan yang memandang kehidupan berupa materil. Namun, teryata pandangan tersebut hanyalah dipandang sekedar dan penuh daya usaha sejalan dengan dirinya yang kian terus dewasa. 


Dadang Rusdinata, nama yang indah peninggalan sejarah Kakek dan Nenek, tamatan SMIP, memiliki nama keren sejak ia lahir dengan sudah menjadikannya gelar DR.  Ialah Ayahku seorang pekerja sebagai supir pribadi, sedari Saya kecil. Ayah terus berupaya membangun pandangan rajin dan tekun hingga terus berusaha mensekolahkan anak anaknya. Namun hal inilah yang ternyata mempacu tipikal pikir Saya sebagai anaknya. Pandangan seorang ayahnya berupa kerja keras, sabar, bisa menikmati rasa syukur dalam menjalani perjalanan hidupnya dengan berupaya menciptakan peluang bahagia dalam keluarga.

Memulai perkuliahan pada tahun 2013, di Universitas Prof Dr.Hamka, Jakarta. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, jurusan Komunikasi Massa. Selama kuliah inilah, kuat berperinsip jadilah kecil dimanapun berada. Sehingga timbulah sifat individual yang banyak terpancar akan makna kehidupan sosial disekitarnya.
Kekritisannya dalam melakukan analisapun kian terasah. Kuliah yang awalnya sangat tak terfikirkan olehnya, bidang Ilmu Sosial dan Politik, dibuatnya kini melahirkan sudut pandang kecilnya tersebut untuk dituangkan dalam tulisan, dan mengajak pembacanya menikmati buah hasil pemahaman sosial budaya, keanekaragaman, komunikasi dan hobi, untuk mimpi Indonesia yang lebih baik.


Kata Pengantar


Bismillahirrahmanirrahim,
Al-hamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam semoga tertuju untuk junjungan kita Nabi Muhammad SAW.           

Buku Kaum Pekerja Punya Gaya. Tinjauan Pemikiran Komunikasi, Budaya, dan Sosiologi, yang berada di tangan pembaca saat ini adalah buah karya mahasiswa lulusan Universitas Prof dr.Hamka bidang Ilmu Sosial dan Politik.

Proses   penyelesaian   buku    ini   berlangsung  sedemikian    rupa. Pertama,  Saya  ragu  bagaimana   tanggapan  pembaca  atas buku ini  nanti. Awal mula buku ini dibuat ialah berupa catatan harian yang gemar Saya tuliskan dalam note, serta smartphone Saya. Atas dasar landasan pandangan yang selalu Saya rasakan sejalan dengan kegemaran yang Saya tekuni. Meski begitu, kini hasil yang tercipta sedemikan rupanya merupakan bentuk eksperimen. Mengenai akan disukai atau dibenci oleh para pecinta hobi yang sama seperti Saya, bersalah tidaknya Saya, inilah bentuk kesiapan yang sudah Saya pondasi. Karena teks ini sangat menyisipkan banyak pengalaman menarik, kelas sosial,  teman (yang memang setatusnya dirahasiakan), unik, aneh, dan bahkan hiburan lucu hingga kebencian yang pada bagiannya harus dipahami dengan baik.          


Kedua, tulisan ini mengharuskan susah payah mengerti segala sesuatu yang kita lakukan setiap hari, ataupun segala bentuk tindakan yang kita lihat serta pilih, secara sadar maupun dalam pengontrolan. Padahal, dalam piramida penguasaan diri, paling dasar kita tidak mempelajari bagaimana cara berjalan, makan, bahkan tertidur. Namun, dari dasar itu kita perlu mempelajari jati diri kita, kemudian penganggapan, dari hasil tersebut kita sebagai manusia sosial yang sejatinya bersosialisasi harus pandai menyikapi, bahkan banyak yang memanfaatkan sehingga melahirkan pundi rejeki,  tetapi celakalah jika kita tidak bisa menyikapinya, karena selanjutnya pengendalian sikologis, jatidiri, penganggapan, sampai pencapian hasil sosialisasi hingga kebutuhan rohani. Dalam dorongan kaum modernis perumpamaan individualis hanya bisa memandang, mengadili persepsi sesuai nilai nilai yang dirinya miliki sendiri.                 

Ketiga, goal buku yang berada di tangan pembaca ini berupa landasan penuh sosiologi dan keterikatan budaya Indonesia melalui konteks simbol-simbol komunikasi yang dimiliki. Prinsip sosial berbudaya, berkomunikasi, dalam berupaya menyatukan tali persaudaraan dengan cara berkendara kendaraan tua dan menciptakan segala bentuk peluang berbahagia dimanapun. Serta melintasi makna simbol-simbol yang kian masih bertahan, sejalan dari masa ke masa hingga saat ini. Hingga mempicu heran, kenapa simbolis tersebut seharusnya terus bisa tercipta lebih baik, lebih besar dan terealisasi dengan baik, meski perkembangan kian maju, kita tetap bisa tegur sapa tanpa curia, saling gotong-royong tidak mementingkan ego, dan tanpa menghilankan budaya kita sendiri, meski dalam isi konten buku ini, mengandung unsur nama branding tertentu dalam menggambarkan kesatuan dan persatuan.

Berkat bantuan semua pihak, penulis berhasil menyelesaikan tulisan yang berjudul “Kaum Pekerja Punya Gaya”. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:


Coming Soon

You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts

Instagram Images

Instagram Images
Sempit Ruangmu Kaya (Repost)

Subscribe