BAB 4
Maret 23, 2020Andaikata arah perjalanan kehidupan sehari-hari yang diharapkan terganggu, kita menyadari bahwa kita itu seperti penumpang kapal yang berusaha menjaga keseimbangan di atas sebilah papan keropos di laut terbuka, melupakan dari mana berasal, dan tidak mengetaui ke mana hanyut.
Mundur kembali saat di mana, saya terbebas dari seragam putih abu-abu. Pada pertengahan tahun 2012. Tidak cukup lama memang, untuk masuk dalam instalasi di bidang retail. Awalnya saya diajak oleh teman, di sekitaran lingkungan rumah. Kemudian dia membicarakan hal, bahwa tokonya membutuhkan staff untuk event bazar. Sontak rasa keinginan pun kian memuncak. Dari pada menunggu ijazah yang belum tercetak, dan terlegalisir, lebih baik saya isi waktu untuk menambah, pundi rezeki.
Dan kabar baiknya lagi, usai event itu berakhir, selama saya berlangsung bekerja pada di butik selama dua bulan. Mungkin yah, dari hasil kerja keras serta niat yang mulia. Saya diperpanjang kontrak untuk memindahkan posisi yang sebelumnya karyawan temporary, menjadi karyawan tetap dengan toko yang sama. Dari situlah segala bentuk keinginan mulai terisi, terkabulkan, termasuk pembelian berhala saya, Siput. Lanjut pada pertengahan 2013, saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan retail tersebut. Dikarenakan, sang Ayah menyemangati saya untuk menganyam pendidikan lagi. Dan sebenarnya rasa pribadi tidak tulus. Jikalau saya tetap tidak bekerja untuk memenuhi kehidupan saya sendiri.
Oleh karena itu, pilihan bulat memutuskan saya resign, dan memenuhi kriteria pendaftaran di UHAMKA. Tetapi, betul saja, pada pengujung akhir tahun. Dengan niatan yang memang bulat, kabar juga dari satu teman, ke teman yang lain. Bahwasanya saya membutuhkan pekerjaan, yang bisa mengatur jadwal perkuliahan saya. Di sinilah, cerita saya memulai sebagai wartawan obat sakit gigi. Di sini jugalah, saya memetik sebuah ilmu. Di sinilah saya menjadi tahu. Namun, di sini jugalah awal kebencian itu pula yang melesat naik dalam pola pikir saya. Semuanya berjalan pelan-pelan teratur, ketimbang harus mematikan salah satu jalur tempuh ini. Saya haurs menyeimbangkan, yakin bisa diatasi.
Coba bayangkan, jika umur tidak memungkinkan, kita malah mengisi sebuah instalasi perusahaan media online. Tetapi kita serasa dibuatnya menjadi cocok, pantas, dari keperluan yang bisa mengisi kekosongan untuk menyebar luaskan konten berita yang sedang dibicarakan hari demi hari demi hari demi hari hari hari hari hari…demi demi demi demi demi demi demi demi diem diem diem diem diem diem diem diem diem diem diem diem…
Bagaimana tidak, selepas usia lulus sekolah umur 18 tahun. Saya kosongkan waktu 1 tahun demi bekerja kemudian, belajar lagi, dan mendapati pekerjaan sebagai lable “jurnalistik”. Kabar hati bangga pada saat itu, dikarenakan gajih tidak seberapa okelah, pulang kuliah kerja sesuai jam kuliah, bekerjanya tidak berdiri seperti di retail. Tiap hari online, tiap hari mendapat pasokan bacaan teks, wifi, yang menuntut saya itu tergerak dari kemauan yang harus dihadapi dibaca, dan cermat tiap harinya dalam ruang lingkup kerjanya. Kemudian kartu sakti tergenggam erat dengan paparan foto, dan nama jelas bahwa itu adalah saya. Saya bingung, belum menginjak 20 tahun namun sudah masuk dalam media.
Malah saya berbangga lagi, ketika acapkali kartu pers saya salah gunakan, untuk acara beralasan terburu-buru ingin cepat sampai tujuan dengan melewati jalanan transjakarta, kemudian ditilang, dan proses penilangan menjadi mulus hanya dengan melemparkan ucapan, “saya terburu-buru, saya wartawan”.
Kepolosan menjadi modal utama. Karena modal selanjutnya ialah kemampuan, mengaplikasikan Photoshop. Yang saya peroleh dari bangku SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), semasa itu. Faktor lain pastinya, karena terbiasa berada di garis kemampuan mengaplikasikan beragam kanal internet. Kemudian yah memang, perumpamaan ketika etika terburu buru itu disalah gunakan, yah tetap masih dengan cara ke kanak kanakan dikedepankan. Dan terlebih media yang saya lakoni ini, bisa dibilang sangat-sangat tidak memiliki kredibilitas. Yang terlahir nyata di jiwa ini ialah saya bekerja di media, yang di mana saya lah wartawan ‘bodrex’ tersebut, seperti yang dibicarakan orang-orang dalam kampus. Dan lebih terangnya lagi, saya sudah menanamkan berkemampuan memiliki, memberi, berboros ria saat semasa berkecukupan dari hasil bekerja. Jadi ketika dihadapkan kuliah, tetapi merasa tidak memiliki penghasilan, saya dipastikan mati gaya.
Sadar akan media yang saya sedang jalani ini ialah, yah tidak cukup jelas. Seiringnya keinginan bergeser kemudian mengambil kelas jurusan komunikasi massa. Saya pahami terlebih dahulu, bekerja semacam ini terasa nyaman sekali, dalam fokus jalur tempuh, bekerja sambilan dengan kuliah. Tetapi aneh memang, melihat ruang lingkup sekitar. Penulisnya terhitung dalam kantor ini, fasilitas mumpuni pun terbatas, dan jam kerja yang yah bisa sangat fleksibel. Sedangkan pemimpin nya pun acap kali mematenkan kata, bahwa banyak tim lapangan kantor, jadi terus menulis karena saya adalah bagian office. Yang jelas, “periksa kembali tulisan kalian, awas typo dalam penulisan, matangkan judul bacaan, kemuidan upload” ucap pimpinan redaksi. Disitu yah… sudahlah saya percaya, saya kerja, dan saya butuh uang. Itu saja perintah nyata, lakukan, laksanakan dalam kinerja otak ini. Yah, uang seakan menjadi peperangan yang sebenarnya dalam dunia era kini. Bermacam macam persaingan muncul karena uang. Padahal yah jika hidup semacam era jadulis, serba klasik… mungkin tidak seseram sekarang ini bumi. Faktor uang menjadi kepentingan utama. Semua pekerjaan saya terkadang rusak, karena mempikirkan uang. Bagaimana tidak, lama kelamaan makin lelah juga saya, kerja di gaji minim sekali, jauh dari upah pendapatan DKI Jakarta. Seringkali, mengerjakan suatu hal, yang isi kontenya bersebrangan dengan wartawan. Karena kantor tersebut, tidak jauh dengan pemukiman pemimpin media, terkadang kali saya mengantar anaknya bersekolah, kemudian menjemputnya, mencuci piringnya, kemudian membeli makan untuk para staf-staf lain. Tetapi itu menjadi hal yang menurut saya juga refreshing. Tetapi itupun tidak dengan saya saja. Yang lainpun merasakan hal yang sama dengan hal tersebut. Begini itu, seiringnya zaman, atau memang seiringnya kebutuhan, dan rasa keingin tahuan tinggi, menjadikannya nominal yang dibutuhkan juga tinggi ? atau suatu nilai itu memang pantas dalam kota, dan desa itu berbeda ?.
Meski begitu, bisikan sang perintah media acapkali menggerser isi tulisan yang saya buat. Mulai dari judul, isi konten, kemudian segala suatunya saat di tugaskan keluar, atau bertemu orang-orang penting. Pikiran setra karya saya dibelokan, seiring berjalannya bekerja sesuai paham akan dasar-dasar jurnalistik. Yah memang balik lagi, kita bekerja karena kebutuhan. Kita kerja karena untuk mengisi kepemilikan media perorangan. Meski media tersebut untuk dibaca orang, kemudian dikabarkan dari orang ke orang. Tetapi yang sebenarnya, dan sesungguhnya media tersebut atau media mana pun diluar sana, wajib berbicara benar, berbicara fakta, berbicara sesuai dengan kode etik, berbicara tanpa harus adanya membela satu, dan yang lainnya. Tetapi urusan perut nampaknya memang harus dirundingkan.
Kini media malah mengadu domba, pemerintahan siapa yang punya kuasa, siapa pemilik kuasa, siapa dia memiliki banyak uang, maka dia benar. Bumbu-bumbu tulisan tertabur dalam berbagai asumsi kini. Tetapi siapa mereka yang lemah, siapa mereka yang pikiranya suci, mereka terus dibodohi. Kaum yang tertindas siap-siap dengan raut wajah yang memarah, pikirannya dinodai, tubuhnya penuh dengan perjuangannya. Dan parahnya lagi mereka yang rapi di sana, tampak raut wajah cemas juga sama, tetapi hatinya tersenyum gembira.
Yah, mohon maaf sebesar besarnya. Ini kan hanya pengalaman sedikit dari saya yang pernah di media ‘bodrex’. Semoga kalian yang berprofesi sama, hindarkan konten berita yang bisa memecah belah kita semua, serta membingungkan khalayak. Timbulkan banyak kebenaran dengan realita, dan fakta. Memang, terlebih media ini digerakan gaji yang bersumber selain iklan. Orang yang berkepemilikan modal boleh bernarasi di media. Media itu sendiri bisa berdiri, dikarenakan memiliki ciri dalam mewujudkan suatu konten berita. Sehingga beberapa pemilih berita sesuai kecocokan asumsi yang khalayak ingin bandingkan.
Jika ditanya, belajar dari mana, lulusan SMK bisa menulis tulisan isi konten berita. Meski pada masa itu memang sudah kuliah, tetapi saya setahun kemudian barulah mengambil peminatan ??? kok bisa??, selues ini saya menjadi orang bagian dalam jurnal. Intinya tidak sesuai gambaran Ayah, yang di mana ijazah SMK musti bekerja kasar. Tetapi, menelaah dari aspek bekerja seperti ini, sepertinya patut di pertimbangkan, bagi pemilik usaha baru ataupun starup mungkin ini strategi awal untuk bisa menjadi media yang besar. Dengan membayar murah, dengan kualitas yang dapat semaunya mendirikan terlebih dahulu idealis, kemudian kebijakan baru di lain waktu nanti, bisa jadi!.
Mengambil peminatannya yang saya lakoni, dikarenakan saya rasanya, harus paham betul apa itu Jurnalistik. Jadi pada masa itu, saya seharusnya kuliah meneruskan kemampuan skill saya, teknik informatika. Tetapi Tuhan berbicara lain. Jarak tempuh kampus pertama jauh. Jurusannya akhirnya saya memilih di FISIP. Kemudian rezeki menghampiri dengan sendirinya dibalik memang keinginan kuat, saya bekerja di media secara disengaja, atau kebetulan ? entah lah jauh dari nalar seorang manusia biasa, seperti saya. Yang terpikirkan saat ini, bersyukur, dan kesempatan emas berpeluang untuk bertahan hidup, menghidupi separuh perjalanan yang mengasyikan ini.
Ingat, ketika awal bekerja di media ini. Seminggu, dua minggu belajar menulis itu terlihat tampak mudah. Mudah karena saya menulis bagian paruh nya saja, sedangkan bagian daging utama copy paste dari media ternama. Isi dalam kutipan dari media raksasa Indonesia. Yah meski tidak semua, tiap berita yang saya kerjakan semacam itu. Mengapa ?, karena media saya ini memang minim, memiliki tim luar dalam konten mencari bahan berita. Hanya terhitung kurang dari jari. Apa mungkin menulis sumber berita hanya cukup dari bangku kantor ?
Saat konfirmasi konten isi berita dalam pesan elektronik semisal. Kemudian, isi judul, dan semacamnya terkadang yang menjadi nilai jual, dan provokatif. Meski kadang dalam berbagai hal, itu sangat dinilai masih sebatas kewajaran. Namun untuk demi rating itu sendiri, terkadang ada kalanya berita ini terlalu berlebih, karena bumbu yang terlalu banyak sekali mengundang pula banyak asumsi. Itu membahayakan menurut saya. Apa lagi mudahnya kini masyarakat luas mengakses media. Terlebih search engine pada smartphone itu lah yang bisa mengakses lewat apa yang kalian pikirkan kemudian di komunikasikan akan secara mudah terdeteksi, serta kebutuhan apa yang sedang kalian jalani. Jadi semisal perasaan kalian disadap, atau tersadap oleh socmed kalian sendiri, karena itu ialah program yang di sajikan oleh ponsel-ponsel zaman sekarang. Bisa sewaktu menjadi bom waktu yang selalu kita bawa dalam saku kantong tanpa tersadari.
Setahun terlewati, masuk pada tahun kedua. Pra-perkuliahan pun kian mendekatkan dengan ilmu yang sebenarnya. FISIP, menawarkan beragam jurusan. Pada kala itu, diawal memang sudah bulat rasanya, tergiur mendalami apa itu Komunkasi Massa. Meski di pola pikir, saya sangat tertarik masuk broadcasting. Tetapi pikir saya, ah… jika masalah edit mengedit, sudah memiliki dasar yang cukup.
Alhasil, paruh tahun kedua ini, saya dipenuhi dengan permatakuliahan dasar dasar Jurnalistik. Sejalan seirama dengan bekerja dalam produksi media online yang saya sedang tekunni, guna menghasilkan pundi-pundi rezeki, dan bertahan dari paham mengenai pola keluarga. Saya rasa, harga bayar upah saya di tempat saya bekerja ini sangat jauh dari kata pas untuk memenuhi keperluan. Tetapi pengalaman ini, rasanya tidak bisa dibayar sedemikian nominalnya bagi saya. Bagaimana pun saya rasa ini takdir yang Allah berikan. Bisa berkuliah, kemudian bekerja di media, selagi ingin paham betul ? kemudian mempelajari apa itu media. Saya harus paham dasar awal, yakni bersyukur.
Hari demi hari, tahun demi tahun. Pengalaman kian terisi. Pengetahuan serta perkembangan masa kian pesat dari biasanya. Di sinilah peperangan itu berlanjut. Perang yang bagaimana ? Yah terhitung sudah 2 tahun berjalan, saya di media ini bekerja. Dua tahun itu pula saya, melewati masa perkuliahan komunikasi massa. Saya menemui kejanggalan dalam bekerja di dalam media. Seperti yang dituliskan di atas, selain saya menjadi wartawan di sini saya memang banyak mengerjakan banyak hal. Namun, itu saya anggap dari kedisiplinan, saya anggap sebuah nilai plus, dan melatih kebiasaan, agar tidak terlalu banyak duduk-duduk saja, dan berpaku pada layar komputer.
Tetapi mengenai ilmu kode etik jurnalistik, yang saya dapatkan dalam mata perkuliahan. Amat sangat jauh, dari realita yang ada. Di media ini, membuka segala bentuk pandangan yang sangat luas bagi seluruh pekerja media di manapun itu berada. Saya pun berani mengatakan kejujuran saya mengenai, kebutuhan uang, lebih penting dari pada sebuah kasus untuk dibongkar, serta disebar luaskan ke khalayak umum.
Seperti yang pernah saya baca, dan pahami betul. Idealis seorang Jurnalis kini, dianggap hanya isapan jempol belaka. Mengapa ? dikarenakan idealis seorang Jurnalis jika disudutkan dengan idealis seorang Ayah, yang dominasinya untuk memenuhi kebutuhan isi dapurnya, dipastikan betul. Dalam era kini, banyak yang mengabaikan apa itu sebenarnya, dan sesungguhnya Jurnalisme. Saya terus terangi, media yang saya lakoni ini terhitung media baru, media menengah, dan harus tetap digaris bawahi ‘ini media berita’.
Dari media ini saya belajar dunia media. Dari sini berangkatlah saya dengan kepolosannya, dan dianggap jauh akan umur yang pantas jika dihadapkan mewawancarai suatu narasumber. Dari media ini pulalah, kepolosan itu berlanjut menjadi tahu, di masa mendatang. Ternyata isi media, dan konten yang dituliskan oleh media satu media lain bersumber dari objek orang yang hampir sama, bersamaan dalam sebuah tempat, dan mereka mendapati penghasilan di luar dengan mudah, karena mampu memberitakan, informasi yang segar, dana segar, tetapi cepat busuk karena tidak sesuai realita. Balik lagi, mau tidak mau, uang kopi yang menjadi utama saat ini.
Dalam sebuah kesempatan waktu. Saya, dan rekan satu tim kerapkali di tugaskan untuk memperoleh pengetahuan, diluar sana seperti kantor AJI (Aliansi Jurnalis Independent), kemudian kantor KPK, kemudian kantor MPR. Ditugaskan biasanya agar memahami, proses apa yang dilakukan tim jurnal, yang dilakukan di luarsana. Biasanya saya janjian dengan orang dari media saya. Kemudian sesampainya tiba di sana. Saya mendapati orang, yang tulusnya untuk menertawakan saya dengan rekan, sepuas-puasnya.
Yah, mereka paham, bahwa pemimpin media kerap tidak mengetahui apa yang staff luar sana lakukan. Dan orang yang saya temui ini pula paham betul. Bahwa saya pemuda ingusan, yang di tua tuain. Diberi seragam, dan kartu untuk bisa menembus barisan penjaga kantor penting ini.
Dan proses ajar mengajar pun terlihat hanya diarahkan untuk membeli kopi, dan memainkan sebilah papan catur. Dan terlihat dari atas tribun pemuda mudi Wartawan media media lain terlihat pula asik, dan santai-santai. Jelas saja, mereka santai pun digaji oleh media. Dan segala sumber dewan – dewan di gedung utama pun bisa bebas santai, bahkan tidur. Jika mereka diancam oleh mata pengintai seperti kita ‘wartawan’. Wartawan dipastikan dipaksa akan terpompa isi dompetnya. Dan bertepatan dengan hari itupun. Sebut saja bang “IK”. Orang yang ditugaskan pemimpin media saya, untuk membimbing saya di dalam gedung ini. IK kala waktu itupun terlihat, menuliskan isi konten media, dengan meminta isi konten media yang di peroleh dari media ternama lain. Dan terus pun begitu dengan yang lainnya. Kemudian saya berakhir pula dengan isi memori ingatan, yang saya tuliskan hari ini, dengan keuntungan pada kala itu, saya mendapatkan uang kopi yang cukup lumayan, agar saya merahasiakannya pada masa itu kepada atasan, bahwa sudah lah masa belajarnya. “Bilang saja, Eko sudah belajarnya” ucap IK, usai memberi saya ongkos yang katanya inilah medan sebenarnya.
Yah meski begitu 2 tahun ini serasa tidak begitu lama. Dan semua yang saya nyatakan itu semua sama atau benar dengan pengalaman. Bahwasanya kembali lagi, jika itu cita-cita kalian, maka benarlah, jujurlah. Itukan hanya pengalaman yang saya alami. Nyata nya berbeda dengan sekarang yang kalian ketahui. Manfaatkan informasi dengan baik, dan benar. Ingat kembali masa kemunculan jurnalis tersebut dalam media Indonesia. Jerih, dan susah payahnya mereka lakukan demi kemerdekaan media kini. Hingga kini media kembali seperti fungsi awal nya. Yakni untuk mengadu domba, seperti buku yang dipaparkan fungsi media dalam tulisan buku Zionis. Padahal untuk di Indonesia sendiri, media itu diciptakan benar-benar untuk menginformasikan kepda khalayak apa saja yang dilalui dari wilayah kekuasan Republik Indonesia, di bawah pimpinan yang sedang berlangsung. Karena pada era waktu silam, kepemilikan media di Indonesia itu sendiri sering kali mengalami pembredelan, penutupan paksa, dan penangkapan wartawan demi keberlangsungan pandangan mulus dari pemegang setir negri Indonesia kala itu.
Jadi, pengetahuan yang didapatkan dari bangku perkuliahan ini. Dipastikan benar adanya. Bahwa Jurnalistik media ialah menayangkan, menyebar luasakan seluas – luasnya berita fakta yang di sertai 5 W + 1 H. Dan seperti yang tertulis di bab sebelumnya, saya pernah membantah dengan menghakimi orang yang ada di depan kelas. Bahwa sesungguhnya sekarang ini, kita belajar untuk benar, tetapi bicara mencari rezeki tidak ada yang benar, era kini. Jika kalian ingin benar, kalian siap di jauhkan dari perusahaan kalian sendiri mungkin.
Jika kalian ingin benar sesuai idealis kalian sendiri. Satu jalan aman ialah, membuat media sendiri. Kini banyak kan ? aktif dalam asumsi yang bisa bebas dilayangkan, serta di kirimkan tag kepada pemerintah secara langsung. Caranya dengan memposting asumsi, kemudian lihat lah dampak apa yang terjadi. Hanya berupa beberapa ratus teman yang dalam media kalian sendiri menerima dampaknya. Mungkin jika memiliki pemikiran asumsi, kemungkinan terdekat ialah kita akan mendapati komentar, dari pertemanan kita tersebut. Namun yang bahaya kini ialah, potensi menyebar luaskan asumsi berdasarkan tagar, kemudian postingan kita di sebar luaskan orang lain, dengan agenda, dan tujuannya yang belum sama-sama di diskusikan dalam forum atau hal baik lainnya. Langsung media kita ini sendiri yang bisa mengancam proses terbentuknya pemerintahan yang sedang dijalani. Semoga dengan berkembangnya media sosial kini, media raksasa ialah menjadi pedoman terbaik untuk menjembatani asumsi-asumsi yang beredar di masyarakat. Sedangkan media sosial yang khalayak miliki sekarang ini, harus ada lembaga khusus yang bisa menyelamatkan mereka dari jeratan hukum, karena tidak tercebur asumsi yang media besar lakukan.
Yah bagaimana tidak, banyak lulusan Jurnalistik, tidak ditempatkan sesuai pada tempatnya. Mereka justru yang mengisi media sekarang ini ialah, orang diluar jurusan Jurnalistik. Karena orang jurnal, sudah buta rasa, berkeinginan mengisi bangku ke wartawanan dalam media ternama. Mereka paham untuk belajar tembus dari kerak idealis media, dipastikan harus bersujud bertekuk lutut baru sampai pada bagian tengah media tersebut. Jadi pilihanya, masuk dengan pasrah menebar ancaman. Atau keluar mencari kebenaran.
Media yang kita tahu sekarang ini ialah, hasil dari buah di mana pada masanya. Kedaulatan serta kebebasan pers masih dilarang. Kini media menjadi sumber kecerdasan. Media seakan memberikan warna. Satu media dinilai tidak cukup, karena itu harus banyak media untuk memberi warna. Untuk tidak di arahkan pemerintah. Agar rakyat Indonesia khususnya dapat terhibur, dapat di manipulasi akalnya agar tertarik dengan konten yang di layani. Dan kinipun rakyat bisa bebas menyalurkan aspirasinya dalam media dengan menjadi masyarakat cyber. Balik kemasa silam. Balik dalam masa di mana kebebasan publik menjadi hal yang disakralkan. Dirinya diancam, siap di bunuh jika bisa mengabarkan serta memperluas informasi baik. Bandingkan dengan sekarang ?. Anak kecil bisa meliat media, melek media, membuka media. Bisa membahas politik. Isi konten media bebas!, apa yang terjadi ? pintar, tetapi pintar karena terarah. Arah yang bagaimana ? Arah yang di arahkan oleh golongan atas yang sedemikian rupa, memanfaatkan dari legalitas media saat ini. Terus tempur terus keluar dari domein akal pikiran buku. Bahwasannya saya harus keluar dari media bekerja saat ini. Untuk apa bekerja kalau untuk diarahkan pemimpin media. Dan saya merasa menyesali.
Kepala dua akhirnya saya tiba. Sejak awal saya memulai, pengawasan diri dari mencari jati diri sampai remaja kini yang hampir tercampur dewasa. Kalau kata lagu, Kelompok Penerbang Roket “Beringin Tua”. Umur sudah 22 tahun, serta tahun sudah 2015. Saya masih berkuliah, meneruskan cita-cita orang tua tercinta. Dan saya memutuskan untuk keluar dari media. Karena saya jauh dari kata bahagia, serta nyaman.
Di pertengahan tahun tersebut. Saya kembali meneruskan mencari rezeki dengan cara bekerja di salah satu wadah retail, terbesar di Jakarta. Dan kembali masuk dalam jajaran mall kembali. Dan sangat di sayangkan, bahwa rambut gondrong ini harus di potong. Tetapi biarlah, toh nanti akan tumbuh kembali. Yang saya harus pikirkan kembali saya harus mampu membayar pra kuliahan saya sendiri, membeli keperluan jajan Siput, dan snack untuk adik-adik saya.
Di sini mulai kembali, di mana rapi, ramah sopan, dan penghasilan lumayan. Tetapi tidak mengerti apa yang dilakukan di belakang panggung sandiwara ini. Seperti biasa, saja. Pekerjaan ini menyamaratakan dengan pekerjaan kuli bangunan. Jika kuli bangunan mengaduk semen, mengangkat batu, dan pasir. Di tempat ini, mengaduk baju, dan mengangkat dus per dus baju datang. Yah sudahlah, bagaimanapun harus tetap dihargai, dikerjakan. Mungkin usai ini, akan ada hikmahnya. Bahwa bekerja nyaman tetapi cepat bosan. Bekerja setimpal, tetapi banyak sakit pinggangnya.
Di tempat ini pun, saya tidak bertahan lama. Karena ke egoisan saya untuk, mengatur jam kerja sesuai sistem yang saya inginkan semasa masuk kuliah. Dari sini pulalah banyak rezeki, banyak pula cobaan. Mengapa yah ? sifat begitu, atau sudah makin lemah, atau makin idealis, atau memang eror sistem saya ini, anti kebijakan perusahaan ?
Kita banyak sekali berbicara mengenai, pekerjaan sehingga lupa akan Si putih saya. Siput kini, makin lama kian manja. Kerap saya inapkan di bengkel. Karena sudah umurnya. Dan kemungkinan dia juga tahu, dan cukup mengerti kini. Bahwa, pemiliknya lagi di beri kelebihan. Tetapi yah, seperti inilah kalau punya mainan. Terkadang yang dibangakan juga dipakai tiap hari pula, pasti akan rusak juga. Jadi terus menggali kebahagiaan, terus pula juga bahagia itu tak sampai. Jadi duit tuh aneh ya, larinya ke mana yah bahagia itu ?
Jadi dari kemungkinan besar yang kini dihadapi ialah. Siput di bengkel, saya nyaman dengan berkendaraan umum. Bergabung dengan orang – orang bermata lima watt, dalam mengais rezeki, serta berangkat untuk mencari ilmu. Ternyata dari bervespa, yang benar-benar bervespa begitu banyak macam pengalaman mahal. Saya kian semangat, dan tidak menyesali ini semua.
Banyak sekali pengeluaran uang, tenaga, dan waktu. *eh. Banyak sekali kesempatan serta pelajaran yang saya peroleh. Dengan yah saya terus tumpahkan dalam tulisan. Di mana sih orang yang tidak berbangga, memiliki kendaraan. Dari Negara ini masih belum bebas seperti sekarang ini, dan tidak akan terus merdeka sampai saat ini jika semua dijebak kearah yang sama. Orang terdahulu pun bahagia memiliki kendaraan, namun masih seputar kemampuan, dan yah masih juga terjebak.
Tetapi jika kita terus belajar, kapan pintarnya. Jadi terapkanlah langsung. Baru nampaknya akan terasa. Jadi, untuk apa takut berkendaraan umum ?. Dalam berkendaraan umum kita bisa banyak kenal beragam orang, banyak melihat sesuatu realita yang ada, membuka peluang usaha bagi kelas menengah ke bawah untuk perekonomian yang lebih baik, merawat pola gaya hidup bermasyarakat, serta merawat jalanan kota yang kian hari terus di padati kendaraan pribadi, malah memperusak rusak rusak rusak… dan terus terus terus terus saja mengaspal jalan. Uangnya dari pajak yang kita bayarkan ? capai tidak sih ? Me Edan. Seperti si Lay asal medan yang berprofesi tambal ban.
Jadi untuk apa jalanan, gerakan perubahan, terus di gencarkan, terus di bangun beragam pembangunan. Kalau, pemerintah itu sendiri malah membebaskan pasar, sehingga tidak berkelangsungan malah mengedukasi masyarakat untuk bersifat hedonism. Mungkin kita atau segala sesuatu ini memang terbangun dari pola pikir yang saya tulis ini. Jikalau saya belajar ini dari Vespa, kalian yang mungkin para pembaca ataupun oknum yang sama seperti saya pernah merasakan, bahwa berhenti di lampu merah bersama Vespa itu sangatlah menggangu. Menggangu dari suara bising, asap tebal yang keluar dari gas pembuangan 2 Tak, serta bentuk orang – orangnya yang menyeramkan. Tetapi itu mungkin sekarang, berbeda zaman kita kalau hal segala ini dapat terwujudkan, dengan baik, dan rapi.
Saya belajar segala sesuatunya dengan kendaraan tua ini. Dari dirinya, saya membangunkan pola hidup telaten, merawat, dan bangga akan mengendarainya. Dan segala sesuatunya, saya belajar dari si mesin tua yang perkasa ini. Bagaimanapun juga, pandangan orang lain, mengenai kendaraan saya, jauh akan kelayakan, itu salah besar. Jadi kemungkinan garis bawahnya, mau bagaimanapun keadaannya, saya harus bervespa. Jika mogok, rusak, itu memang sudah dosanya. Jika dibilang Vespa itu menyusahkan, ya memang, jika ada yang bilang perawatannya mahal, ya memang. Yang menyusahkan itu dikarenakan kita manja, dibilang perawatannya mahal, karena kita tidak ingin menjaga, tidak yakin bahwa kita bisa menghidupi orang lain dari Vespa yang kita alami. Sekali lagi kita jelaskan, asap terlihat lebih pantas ketimbang asap mengepul yang kasatmata dari kendaraan zaman kini. Kendaran era kini malah merusak lapisan udara, dan kita pun yang disampingnya merasakan nyaman saja, padahal tidak terlihat asapnya karena difilter dalam emisi gas buangnya.
Yang termudah ialah, jika Vespa disamping kalian, kalian bisa saja mengindar jika merasa terganggu dengan asapnya karena memang telihat jelas kan bentuknya ? Yang lebih mudah lagi, coba hindarkan masalah, di mana perbulan kalian harus memparuh bayar cicilan. Kemudian jika rusak rasanya ingin menjualnya ? wah… sampah sih. Bicara nilai ? pastinya jauh murah dari pada pengorbanan waktunya yang kalian tempuh. Mudah saja bukan! berpikir semuanya hanya lapar sekejap.
Yah, semoga yah. Jika sekarang ini, mata saya terbuka dengan segala bentuk pembangunan. Dengan pembangunan jalan kian macet, jalanan kian berlubang, kendaraan saya dinilai kurang layak dikendarai. Tetapi orang macam saya yang terus berkampanye, bangga. Meski, seharusnya kendaraan ini di istirahatkan ataupun pemerintah ingin mengistirahatkan. Tetapi tidak dengan saya. Tidak begitu saja dengan pola pikir ini, berserta rekan-rekan satu jalan KPPG. Karena semisal jalannya kini tidak diperuntukan untuk kendaraan tua ini. Tetapi jika pada masa ini pula. Saya sering sekali melamunkan begitu dikala sela macet, dan pemberhentian lampu merah. Realita yang terbentuk dari pola pikir saya sangat menyenangkan justru. Bahwa saya ingin menikmati, kendaraan ini di jalan aspal yang kian mulus, dan jalan yang bisa menembus ke segala arah, tanpa adanya kendaraan murahan seperti kalian-kalian. Yang bertumpuk kerumun macet di mana mana, lahir terus akan gengsi. Karena jika ya ini terwujud. Ini berupa asset, dan rangkaian menjadikannya visa terbesar negri ini sebagai pemelihara asaet jadulis. Berbangga lah kalian, para pengendara Vespa. Semoga ini bisa terus berlenggang di era modern kini. Di mana kesetaraan muncul, di mana pola hidup yang berbahagia di munculkan dari suatu pola yang kecil. Yakni, merawat, menjaga hingga kita bahagia. Karena mungkin kebahagiaan yang kita cari ini begitu tersesat, karena begitu ragam media pandangan kita. Kecilkan pandangan tersebut, karena yang indah, dan mewah belum tentu bahagia mendapatkannya, justru malah merusak kadaan yang ada.
Kemungkian besaranya ialah. Hentikan segala bentuk pasar bebas dengan membeli kendaraan murah. Ataupun, bisa terus kalian membeli kendaraan yang kalian inginkan, tetapi pajak, dan sangksi harga kendaraan tersebut sesuaikan lagi dengan pajak tahun pembelian kendaraan tersebut. Mungkin ada yang protes, “ah… motor Mas saja, yang sudah tua di musnahkan”. Oh salah, yang tua yang berkuasa atas asas tidak terbentuknya lagi diproduksi dalam produksi masal, namun dicari untuk didirikan kelayakannya seperti surah menyuratnya, kemudian pajak pertahunnya yang juga mahal bisa membahagiakan si pemiliknya. Yang tua belum tentu kalian mampu mengendarainnya pula, apa lagi ingin memilikinya, karena kebanyakan semua dipukul rata. Kalian kalian kalian, mari berkendaraan umum saja, jika ia tidak bersepemahaman dengan ini semua. Jika terori kalian ialah menambal tambal masalah, coba pikirkan kembali ? apa itu perlu. Lain hal kembali, kita pasti akan temukan di mana perorangan yang mencari keuntungan jalur tulisan ini. Semoga tidak yah, harga benar-benar melambung, dan lagi-lagi mereka yang memiliki uang yang bisa membawanya pulang.
Jadi negara ini sekarang, takut dengan kemajuan negara – negara adikuasa ataupun negara maju. Padahal kita negara yang memiliki banyak potensi. Negara dari segala negara yang belum tentu dimiliki negara lain. Mari sama-sama pikirkan. Stop! pasar bebas. Stop! hedonism, pembelian mode barang luar Stop!. Mari banggakan produk dalam negeri. Tutup semua akses, segala bentuk dagangan negara lain. Mari gencarkan dagangan impot kita untuk menyerang pasar luar negeri. Dengan begitu, perekonomian kian maju. Dengan begitu, kita mandiri, meski berproses, tetapi kita mandiri dengan begitu kita bangga akan produk dalam negri. Toh negara lain mau menikmati apa ? toh, segala sumber daya yang tersisa, masih kita miliki. Asal saja, pemerintah ini tidak bodoh. Tidak terus di kuasai oleh mafia maling, demi suatu keuntungan pribadi. Dorong dong potensi kami warga negara sendiri. Untuk memajukan perkonomian Indonesia kedepan sebagai induk suatu kehidupan bahan pangan, dan produksi.
Biar negara lain berpikir sekuat apa dirinya mampu. Biar negara luarpun kita buat iri dengan negara yang berlimpah ruah hasil alamnya. Hanya saja kemungkinan yang terjadi kini. Indonesia harus siap siap betul, dengan kecemburuan sosial negara yang ingin menjajapkan dagangannya, atau pun ingin membeli hasil alam Indonesia yang kian melambung. Melambung pula karena kualitas, bukan ? Dengan begitu, dipungkiri sekarang ialah, Indonesia takut dengan pertahanan yang dimiliki oleh negara lain. Sekali menggigit, harusnya terus menggigit. Tetapi seperti dalam era sekarang, berani mengigit, nuklir melayang? Memang iya begitu, nuklir harus melewati fase yang begitu sederhana ? mainkan lah perasaan, mainkan dulu pasar. Mereka juga harus melewati tahapan itu baru bisa menyerang. Buat negara lain lapar, dan kebutuhan hanya ada di Indonesia.
Semua yang berpikiran seperti itu karena bangsa ini, salah langkah. Dan seharusnya pula langkah tersebut tidak diteruskan begini saja. Mari berubah, mari bangga dengan alam ini, negara ini, mari satukan pikiran. Hindari egoism, untuk apa miliki beratus ratus, beribu ribu rezeki. Kalau rezeki itu, ditabung terus demi kelangsungan anak cucuknya. Tetapi mari berpikir rezeki itu berputar. Terus berputar, masyarakat satu dengan yang lainnya dapat merasakan pula isi dapurnya terpenuhi. Bangun segala bentuk kerja sama, untuk memajukan perekonomian Indonesia. Bangga akan produk Indonesia, makan hasil produksi Indonesia. Kalau bisa nanti, mungkin ada yang membuat kendaraan roda dua terbaik didunia dari INDONESIA.
Yang seharusnya kita lakukan kedepan ialah, jangan menunggu pemerintah bertingkah laku apa. Mungkin dirinya juga sudah mempraktikannya, hanya saja sesekali dua kali. Mungkin juga, masih belum nyaman, karena kebiasaan yang diterimanya masih kurang layak, sehingga memungkinkan jauh dari kata nyaman. Mungkin juga saya sendiri orang yang masih bangga akan pola gaya hidup ke barat-baratan. Yah semoga ini berubah, dengan sejalannya apa yang saya tuliskan. Mari sama–sama jaga pandangan. Segala bentuk ketidak puasaan lahir nya, dari mata turun ke prilaku. Prilaku ini, yang membentuk pribadi orang Indonesia keseluruhan, bisa bersifat riya. Bayangkan saja diluar negeri sana, yang hidupnya tidak bekerja pun digaji. Memiliki rumah layak, apa mereka hidupnya bisa menyombongkan apa yang dimilikinya ?, yah seperti macam kendaraan saya balik lagi. Bersyukur akan yang dimiliki, rawat apa yang sudah dimiliki, jadikan itu bentuk sejarah serta aset nantinya, serta berbanggalah karena itu. Bukan dengan, orang lain beli ini, kita panas ingin membeli ini. Besok besok bisa deh, ada barang terbaik negeri ini, orang beli kita beli. Kan semoga saja! nantinya perusahaan itu maju, untuk kita-kita lagi. Jangan pabrik rokok mulu yang di majuin. Pabriknya maju, masyarakatnya sakit. Rumah sakit penuh, soksokan bikin cabang olah raga juga. Haduh… AYO SEMBUH…
Jadi semoga saja, kedepannya kurangi tuh, bentuk produsen barang luar. Sebagiannya kembali untuk membeli produk dalam negeri. Agar pula nantinya, orang yang bekerja mencari rezeki dari hasil Indonesia, untuk orang Indonesia. Dari yang belum bekerja dapat bekerja. Dari yang phobia dengan penganguran, bisa dapat kerja, karena para pemegang sahampun orang Indonesia itu sendiri. Penyedia lapangan kerja itupun masyarakat Indonesia sendiri. Bank tabungan orang Indonesia wajib juga, menabung dalam milik Negara. Yang menjadi kemungkinan besar, tarik kembali mereka yang pandai tinggal, dan hidup di luar negeri. Mari kembali bangun negeri ini secara berasama, kita sudah banyak belajar, dan dijajah. Ketika sudah mapan semuanya, persiapkan kembali pekerja-pekerja masyarakat Indonesia, untuk Indonesia yang jaya, dan merdeka sesungguhnya.
Mungkin yang sekarang ini seperti berhala yang saya juga punya Vespa tua ialah bentuk arsip yang masih tersimpan. Jadi kian tahun memang kian melejit harganya. Namun bagaimana dengan kendaraan yang kini juga banyak di Indonesia, yang klasik masih bisa beredar, dan yang baru pun kian terus bertambah. Yah kemungkinan besar nantinya, kedepan hanya jadi sampah daur ulang yang dirusak, dilelehkan menjadi barang layak pakai. Jadi terbilang negara ini, miskin tetapi makin marak saja orang kaya dijalan. Terbilang negara ini hasil buminya dirampas, dari sekarang pula harus di stop. Dan kita sebagai masyarakat Indonesia harusnya juga sadar, segala sesuatu yang dirampas tersebut, mineral bumi, sudah kita konsumsi pula sekarang ini. Jadi kita lihat perubahan kedepannya, hasil bumi masih milik kita, ataukah terbuang begitu saja, atau mungkinkah akan berakhir kiamat atau habis ? berhasilah mereka itu yang membuat mainan, sedangkan kita yang membeli mainan tersebut. Untuk apa ?. Mainan di sini ialah jelas kendaraan, kemudian semua barang modern konyol dibeli demi eksistensi, dan majunya peradaban.
Jadi dalam bab kerja ini. Kerja menurut saya ialah obat penutup luka. Karena didalam bekerja, tersisip segala bentuk keterpaksaan. Jika tidak bekerja maka tidak hidup. Namun, yang seharusnya terpikirkan untuk kedepannya. Rezeki bukan hanya bekerja saja. Jika bekerja ialah mengharapkan gaji. Jadi terbagi dua antara rezeki, dan gaji. Antara gaji, dan rezeki, gaji ada slipnya, rezeki tidak ada slipnya. Gaji dari perusahaan, rezeki dari Allah, gaji berupa uang, rezeki bisa berupa apapun, gaji diperoleh dengan bekerja, rezeki diperoleh dengan iman, dan taqwa. Gaji sudah terduga, rezeki sering tidak terduga. Gaji mungkin sudah besar, tetapi sering terasa kurang. Sedangkan rezeki selalu tercukupi meskipun jumlahnya tidak seberapa. Gaji harus di kejar, dicari, dan diusahakan dengan bekerja, sedangkan rezeki akan datang oleh orang yang beriman, dan bertaqwa.
Lalu tidak semua orang tidak memiliki gaji, sedangkan manusia sudah ditentukan rezekinya. Gaji bisa tertukar, seangkan rezeki tidak akan tertukar. Gaji ditentukan oleh masa kerja, sedangkan rezeki ditentukan oleh taqwa, jangan takut jangan khawatir dengan rezeki, semua sudah diatur, gaji sebagian kecil dari rezeki. Berikut ada tulisan inspirasi yang pernah saya baca, dalam buku “The Black Swan” karya Nassim Nicholas Taleb. Dalam halaman prolognya saya kutip.
Wujud Baru Sikap Tidak Bersyukur
Menyedihkan
sekali ketika berpikir tentang mereka yang telah diperlakukan secara keliru
oleh sejarah. Mereka seperti penyair yang tidak begitu dihiraukan oleh orang –
orang sezamannya, seperti Edgar Allan Poe, atau Arthur Rimbaud, yang dahulu
dicaci oleh masyarakat, dan baru belakangan dipuja, dan diinformasikan secara
paksa kepada anak- anak sekolah. (Bahkan ada sekolah yang dinamai dengan nama
tokoh-tokoh yang tak lulus SMA ini.) Kendati demikian, pengakuan itu datang
terlalu terlambat untuk membuat penyair tersebut bisa menikmati suksesnya, atau
bahkan bercerita tentang kehidupan romantisnya di muka bumi. Namun masih ada
sejumlah pahlawan yang telah menderita oleh pengakuan yang jauh lebih
buruk-sekumpulan orang bahkan kita sendiri tidak tahu bahwa mereka pahlawan,
yang telah menyelamatkan hidup kita, yang telah membantu kita terhindar dari
bencana. Mereka tidak meninggalkan jejak, bahkan tidak tahu bahwa mereka telah
berjasa. Kita bisa mengingat para martir yang tewas karena suatu sebab yang
kita ketahui, namun tidak kelihatan karena kita tak pernah menyadari jasa
mereka-tepatnya karena mereka sukses. Sikap tak tahu terima kasih kepada para
orang sezamannya tadi menjadi tidak seberapa sebanding sikap tidak terima kasih
kepada para pahlawan ini. Itu sikap tidak bersyukur yang jauh lebih kejam: yang
menimbulkan rasa tidak berguna pada pahlawan yang tidak banyak bicara. Saya
ingin menggambarkannya menggunakan eksperimen pikiran berikut.
Andaikan ada seorang legislator yang
memiliki keberanian, pengaruh, kecerdasan, serta wawasan, dan dengan gigih
berusaha mengaktifan sebuah undang-undang yang akan mempunyai pengaruh
universal, dan diberlakukan pada 10 September 2001; undang-undang itu
mengharuskan setiap kokpit pesawat penumpang dilengkapi dengan pintu tahan
peluru (tetapi mahal bagi maskapai penerbangan yang sedang terseok-seok) buat
berjaga-jaga andai teroris memutuskan menggunakan pesawat penumpang untuk
menyerang World Trade Center di New York City. Saya tahu ini pikiran yang tidak
waras, tetapi ini hanya sebuah eksperimen pikiran (saya sadar bahwa agaknya
tidak ada legislator dengan kecerdasan, keberanian, wawasan , dan kegigihan
seperti itu; ini yang pokok dalam eksperimen pikiran ini). Penerapan
undang-undang ini bukan upaya yang popular di kalangan awak pesawat terbang,
karena menjadikan hidup mereka lebih rumit. Namun itu jelas akan mencegah
peristiwa 11 September.
Sosok yang mengusulkan kunci khusus pada kokpit pesawat tidak pernah dibuatkan patungnya di taman-taman umum, kendati dalam obituary orang secara kilas menyebutkan jasanya. “Joe Smith, yang membantu mencegah bencana 11 September, meninggal akibat komplikasi penyakit lever.” Melihat usulnya yang kelewat berlebihan, dan betapa besar kesia-siaan yang akan terjadi pada sumber daya, masyarakat umum, dengan bantuan besar-besaran dari para pilot pesawat penumpang, hampir pasti akan menolak usul tersebut. Vox clamantis in deserto. Seperti orang yang berteriak-teriak di padang pasir. Dia akan mengundurkan diri dalam keadaan depresi karena merasa gagal dalam menjalankan tugas. Dia akan mati dengan kesan melakukan sesuatu yang tidak berguna. Saya ingin sekali hadir dalam upacara penguburannya; sayangnya, saya tidak dapat menemukan orang seperti itu. Selain itu, pengakuan (recognition) dapat menjadi sebuah dorongan yang kuat sekali. Percayalah, bahkan mereka tidak percaya dengan pengakuan, dan bahwa mereka memisahkan kerja, dan hasil kerja, sesungguhnya memperoleh semangat dari situ. Coba lihat bagaimana pahlawan yang kesepian mendapatkan imbalan: bahkan sistem hormonalnya sendiri akan berkomplot untuk tidak mengiming-iming imbalan sedikit pun.
Sekarang
kita kembali ke peristiwa 11 September. Sesudahnya kejadian itu, siapa yang
memperoleh pengakuan? Mereka yang kalian lihat di media, yang dipertontonkan di
televisi ketika sedang mencoba memberikan kesan bahwa mereka sedang melakukan
aksi kepahlawanan. Kategori yang terakhir mencangkup seorang melakukan aksi
kepahlawanan. Kategori yang terakhir mencangkup seorang seperti Direktur Bursa
Saham New York Richard Grasso, yang telah “menyelamatkan bursa saham” dan,
karena itu, menerima bonus besar sekali atas jasanya (setara dengan beberapa
ribu kali gaji rata-rata). Yang harus dia perbuat hanyalah menyembunyikan bel tanda
pembukaan di televisi-televisi yang, seperti akan kita lihat, merupakan pembawa
ketidakadilan, dan menjadi penyebab utama kebutaan.
Siapa yang
memperoleh imbalan; pejabat bank sentral yang berhasil mencegah resesi atau
orang yang datang untuk “membetulkan” kesalahan-kesalahan pendahulunya, dan
kebetulan berada di sana selama sebagian masa pemulihan ekonomi? Siapa lebih
berharga: politisi yang menghindari perang, atau politisi yang memulai sebuah
perang baru (dan cukup beruntung dapat memenanginya)?
Ini kebalikan logika yang sama yang telah kita lihat lebih dahulu soal nilai sesuatu yang tidak kita ketahui; setiap orang tahu bahwa kalian lebih memerlukan pencegahan. Kita manusia bukan hanya makhluk yang hanya jelas di permukaan (yang sampai batas tertentu mungkin dapat diatasi); kita adalah makhluk yang sangat tidak adil.
Dari pemaparan di atas guna menciptakan sesuatu menjadi suatu, ternyata memang tidak mudah, karena sifat manusia yang sangat tidak adil, kurang puas, serta dipakai jika hal mendesak, dan telanjur hancur. Pekerjaan untuk menyatukan bangsa dengan cara yang dituliskan dalam buku ini pun, ialah bentuk ekstrimis dari sebuah gagasan pikiran yang belum tentu juga nanti akan mengarah ke mana. Jadi untuk menciptakan peluang indah, memang butuh proses. Proses ialah bentuk bekerja. Pekerjaan yang diarahkan dengan niatan ikhlas, tulus, tekun hingga mengarah ke perbudakan. Namun dibalik proses tersebut terlebih besar pengaruh yang akan terwujudkan ialah, rasa penghargaan.
Sejarah dan Tiga Hal yang Serba Kabur
Sejarah
bukan sesuatu yang transparan. Kalian melihat yang telah terjadi, bukan tulisan
yang menghasilkan peristiwa-peristiwa, yang membangkitkan sejarah. Ada
ketidaklengkapan yang mendasar dalam pemahaman kalian terhadap
peristiwa-peristiwa seperti itu, karena kalian tidak melihat apa yang ada di
dalam kotak, bagaimana mekanismenya bekerja. Yang saya sebut pembangkit
peristiwa-peristiwa sejarah berbeda dengan peristiwa-peristiwa seperti itu
sendiri, sama seperti pikiran dewa-dewa tidak dapat dibaca dengan menyaksikan
ulah mereka. Kalian mungkin sekali terkecoh oleh tujuan mereka sesungguhnya. Diskoneksi ini mirip dengan perbedaan antara
makanan yang kalian lihat di atas meja di restoran, dan proses yang teramati
oleh kalian di dapur. (Terakhir kali saya mampir ke sebuah restoran Cina di
Canal Street di kota bawah Manhattan, saya melihat seekor tikus keluar dari
dapur.)
Pikiran manusia mempunyai tiga kekurangan ketika harus berurusan dengan sejarah, kekurangan yang saya sebut triplet of opacity (tiga hal yang serba kabur), yakni :
a. Ilusi pemahaman, atau bagaimana setiap orang mengira tahu yang tengah terjadi di dunia yang lebih rumit (atau lebih acak) dari pada disadari
b. Distorsi retrospektif, atau bagaimana kita dapat menilai masalah hanya sesudah fakta tersedia, seolah-olah itu adalah pemandangan di belakang cermin (sejarah tampak lebih jelas, dan lebih tertata dalam buku-buku sejarah dalam realitas empirik); dan
c. Valuasi berlebihan terhadap informasi faktual, dan hambatan yang dialami oleh orang-orang yang berwenang, dan terpelajar, khususnya ketika mereka menciptakan kategori-kategori ketika mereka mencoba menjadi seperti Plato.
Masih dalam buku The Black Swan, kali ini hanya mengutip unsur ketiga dalam tiga serangkai ini, sisi negatif pembelajaran. (Nicholas, 2009 : 19)
Pendidikan dalam Sebuah Taksi
Saya
pernah mencermati kakek saya, yang ketika itu menjabat menteri pertahanan,
kemudian manteri dalam negeri, dan wakil perdana mentri pada hari-hari pertama
perang, sebelum peran politiknya memudar. Kendati posisinya seperti itu, dia
tampaknya tidak lebih tahu tentang yang akan terjadi disbanding sopir
pribadinya, Mikhail. Namun, tidak seperti kakek saya, Mikhail biasa mengulang
ungkapan “Allah Mahatau” ketika memindahkan tugas untuk memahami sesuatu kepada
Yang di Atas.
Saya
melihat bahwa orang-orang yang sangat cerdas, dan terpelajar pada dasarnya
tidak lebih unggul dari pada sopir-sopir taksi dalam hal membuat prediksi, tetapi
ada perbedaan yang sangat penting di antara mereka. Sopir taksi tidak percaya
bahwa pemahaman mereka sama dengan pemahaman orang-orang terpelajar, mereka
tahu sekali bahwa mereka bukan pakar. Tidak ada orang yang tahu tentang segala
sesuatu, tetapi para pemikir elite mengira bahwa mereka tahu lebih banyak dibanding
makhluk-makhluk lain karena mereka adalah pemikir elite, dan kalau kalian
termasuk dalam sebuah klompok elite, kalian secara otomatis tahu lebih banyak
dari pada yang bukan anggota kelompok elite.
Selain pengetahuan, informasi pun dapat menjadi sesuatu yang meragukan. Saya sempat memperhatikan bahwa hampir setiap orang tahu tentang peristiwa-peristiwa saat ini secara rinci. Overlap antara surah kabar satu, dan surah kabar lain begitu besar sehingga kalian akan memperoleh informasi lebih sedikit semakin banyak kalian membaca. Namun setiap orang begitu menjadi akrab dengan setiap fakta sehingga mereka membaca setiap dokumen yang baru dicetak, dan mendengarkan semua stasiun radio seolah-olah jawaban yang dahsyat akan diungkapkan bagi mereka dalam pemberitaan selanjutnya. Orang-orang menjadi ensiklopedi tentang siapa telah bertemu dengan siapa, dan politisi mana mengatakan apa kepada politisi lain (dan dengan nada suara seperti apa: “Apakah dia lebih akrab dari pada sebelumnya)”. Namun tidak ada manfaatnya.
Seperti yang sebelumnya saya tuliskan mengenai komunitas Vespa tengah kalah dengan ojek berbasis online. Yah bisa jadi proses dari kepandaian mereka kini, dan sampai saat nanti jika kalian bertemu atau pun menggunakan jasanya. Kemungkinan besar mereka lebih pandai dari kalian. Pastinya karena para penumpang mereka yang tiap waktu tiap menit bergantian mengisi bangku kosong kendaraannya. Mereka mengambil ilmu, menimbang apa yang pantas, dan yang harus dilakukan agar mudah bertransaksi komunikasi.
Tetapi kini, yang sedang ditegakan ialah bukan pandai berkomunikasi satu hal untuk hal lain, yakni demi kepentingan duniawiah. Tetapi bagaimana cara pandai berbuat kebaikan. Pandai bersembunyi ikhlas melaksanakan ibadah, diam diam. Serta berbuat baik terus kepada sesama. Dalam komunitas Vespa pun seperti itu seharusnya. Terus tegakan persatuan kesatuan kebaikan, tanpa ada tipu daya hanya demi kepentingan. Dalam Islam pun jelas segala sesuatunya ditimbang, hari ini kita baik akan mendapatkan cacatan yang baik pula. Namun yang terus nikmat dengan kejahatan, mungkin saat ini langsung diganjar, atapun terus jahat, dan terus nyaman, awas! Pembalasan kalian itu berarti sedang ditumpuknya dalam kesaksian nanti di hari akhir.
Dalam bab bekerja ini pun, lakukan terus hal kebaikan, jika ingin kerja cerdas pun tanpa kerja keras tetapi lakukan cerdas yang benar cerdas. Yakni ikhlas, bukan cerdas dikarenakan ingin menduduki jabatan tertentu, serta takut kehilangan sesuatu yang menjadikan niatan serta perbuatan yang menghalalkan segala cara. Tetapi teruslah hati ini disiramkan dengan keyakinan, baik, ikhlas, segala kesusahan mungkin Tuhan sedang menguji kita. Was-was setan itu yang berkelakuan mengenai sifat kita sendiri yang tanpa disadari pula perlakuan tersebut.
Masuk dalam fase pertengahan kuliah, saya sudah tak terhitung lagi bekerja di mana, dan terus terulang begitu saja terus menerus. Usai bekerja bersama instalasi media, saya tetap menjalani kuliah, bahkan sempat menjadi balada keluarga. Bersyukurlah keluarga pada kesempatan waktu itu, menyanggupi beberapa bulan saya menganggur. Pasalnya, dirinya memang terus mendorong saya untuk jangan tinggalkan ilmu. Tetap semangat raih gelar saya.
Seingat saya, saya pernah tercebur kembali dalam perusahaan retail besar di Jakarta. Dari situ terus saja yang saya terima, bekerja paruh waktu, rezekinya lumayan bersyukur, tetapi entah ke mana pun lari, dan perginya rezeki tersebut. Sampai pernah pula saya bekerja dalam sebuah instalasi event masak, dagang produk serta jaga stan pun pernah, semua saya coba, semua saya jalani. Terkadang ada yang membuat nyaman, membuat ikhlas, dalam bekerja, tetapi tetap saja, dalam bekerja kita tengah mempertaruhkan sosialisai penuh terhadap rekan kerja salah satunya serta terhadap para pengunjung tersebut.
Pernah disela waktu, di antara saya setengah manusia, dan setengah buaya. Mengapa saya anggap diri saya macam itu, disatu sisi saya melaksanakan ibadah dilain hal saya gemar mengkonsumsi minuman keras, dan segala sesuatunya hingar bingar duniawiah yang sangat enak, dan nikmat tersebut. Saya pun sampai pernah memperjual belikan dagangan, dan segala sesuatunya yang dilarang. Sampai pada kesempatan waktu, saya membawa sample barang pekerjaan tersebut pulang ke rumah. Ibu saya yang ketika itu, bertanya “sekarang bekerja di mana, kok pulang pagi sekali membawa minuman yah ?”, saya pun dibuat bingung dengan pertanyaannya. Memang itungan perhari tersebut sangat lah terbilang besar. Satu kali jaga 500 ribu sampai 1 juta perhari. Namun menjual minuman keras, botol yang terbawa, dan terlihat oleh adik saya pun juga yang sering sekali bermain untuk sekadar membangunkan saya untuk pergi bekerja kembali, dirinya melihat jelas. Botol minuman, seragam spg, dan macam hal lainnya.
Di waktu tersebut cukup lama menikmati pundi uang, yang yah saya ucap sebelumnya, entah habis ke mana pula uang tersebut. Saya tengah tertipu daya dengan hinggar bingar dunia. Sampai pada akhirnya saya gerah untuk bekerja kembali. Namun bukan berarti tidak memperoleh ilhamnya. Banyak waktu kosong kini, yang membuat saya berpikir penuh. Tidak memiliki kesibukan, tidak memiliki rezeki, cukup dipusingkan dengan prakata kata perkuliahan dipuaskan waktunya untuk belajar, menulis waktunya yang cukup untuk menungkan ide, dan gagasan. Dan lumayan cukup matang, untuk berpikir dengan kegiatan terdahulu, bekerja terus bekerja sampai Tuhan itu adalah bekerja, lupa dengan beribadah sesungguhnya. Padahal jika dipahami, ketika kita beribadah, berdoa agar dicukupkan, dan dipaskan duniawiahnya, niscahya akan dilapangkan pula duniawiah itu, ikut turut serta dengan alam nya nanti di depan sana.
Benar kata orang-orang yang lahir terlebih dahulu dari zamannya kini. Muda ialah berbahaya. Contoh kasus presiden pertama kita Ir.Soekarno pun ingin Indonesia besar karena pemuda, dan pemudinya. Agar merekalah yang menjadi mesin yang dapat terus terpakai, dan dapat terlihat oleh khalayak dewasa lainnya, menjalankan sesuatunya dengan pola pikir yang semangat, dan niatan yang bersih hati ikhlas. Terus hal tersebut kini yang membuat saya tanam baik dalam pikir.
Jadi pada awal permulaan umur tengah muda ini, nafsu pola pikir ialah bagaimana cara meraih kesempuraan hidup itu ? saya sudah memulai pekerjaan belajar menimba ilmu sudah, bekerja rajin sudah, hinaan pun juga sudah, bahwasanya hidup terus masih begini-begini saja. Mencoba pekerjaan ini, dan itupun juga sudah, sampai titik puncaknya berpikir mengumpulkan dana yang tidak pernah terkumpul sebelumnya, ingin menciptakan peluang usaha. Dan pada akhirnya pun belum belum juga terlaksana. Jadi muda ialah hal menuju kedewasaan, mulai memasukan mencerna, dan mengeluarkan pendapat yang terbilang lazim tidak lazim. Tetapi percaya lah pergunakan muda kalian dengan baik. Fokuskan pada tujuan yang baik bukan fokus pada kesempurnaaan jalur duniawiah.
Carilah Pekerjaan Lain
Dua jawaban khas yang saya hadapi ketika saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar ramalan bisnin adalah “Apa yang seharusnya dia perbuat? Apakah kalian memiliki cara lebih baik untuk membuat prediksi?” ,dan “Kalau kalian pintar sekali, tunjukan prediksi kalian sendiri.” Sesungguhnya lah pertanyaan terakhir, yang biasanya diungkapkan dengan sombong, bertujuan memamerkan superioritas yang praktisi, dan “plaku” di atas para filsof, dan kebanyakan datang dari orang yang tidak tahu, bahwa saya seorang pialang. Kalau ada satu keunggulan dari keseharian bergaul dengan ketidakpastian, itu adalah orang tidak harus menelan semua omong kosong dari para birokrat.
Salah seorang teman saya meminta saya membuat prediksi. Ketika saya katakanlah bahwa saya tidak mempunyai prediksi, dia marah, dan memutuskan tidak memakai lagi ucapan saya. Sesungguhnya ada sebuah kebiasaan rutin untuk tanpa pikir panjang mencari uang dari menjawab pertanyaan-pertanyaan, dan menulis panjang lebar buat mendukung “ramalan-ramalan” mereka. Saya belum pernah mempunyai ramalan, dan belum pernah membuat prediksi professional tetapi sekurangnya saya tahu bahwa saya tidak bisa meramal, dan beberapa orang (yang saya ketahui) menjadikan itu sebuat asset. Ada orang yang membuat ramalan, pra kiraan, atau prediksi tanpa sikap kritis. Ketika ditanyai mengapa mereka meramal, mereka menjawab “Apa boleh buat, untuk itulah kami dibayar”
Saran saya kepada mereka; carilah perkerjaan lain. Saran ini tidak menutut terlalu berat: kecuali kalian seorang budak, saya mengandaikan kalian memiliki sedikit control atas pekerjaanatas pekerjaan yang kalian pilih. Sebaliknya, ini menghadirkan masalah etika, dan bisa yang paling buruk. Orang-orang yang terjebak dalam pekerjaan membuat ramalan hanya karena “itu tugas saya” tahu sekali bahwa ramalan-ramalan mereka tidak memberikan hasil yang dikehendaki, bukan sesuatu yang bisa disebut etis. Yang mereka kerjakan tidak beda dari mengulang kebohongan hanya karena “itu tugas saya”.
Siapa pun yang menimbulkan masalah dari meramal harus diperlakukan entah sebagai orang bodo, atau penipu. Ada juru ramal yang menimbulkan kerusakan lebih besar kepada masyarakat dibanding penjahat biasa. Tolong, jangan mengemudikan bus dengan mata tertutup.
Semoga dengan Kejar Kelas Keras, Indonesia menjelma menjadi anak anak bangsa yang mulai memikirkan fungsi berkendaraan, memikirkan fungsi pajak, membatasi pemikiran orang kaya, orang miskin kini di ibu kota dengan moda transportasi yang mumpuni. Dan terpenting menghentikan kebijakan harga kendaraan murah, kredit kendaraan tidak perlu dengan edukasi yang baik kepada masyarakat. Karena itu semua demi kesejahteraan Indonesia. Mohon sekali, kaum ini jangan pernah luput meski Indonesia kian melambung pesat, kian besar. Karena akan tertinggal sesuatu yang besar jika sesuatu yang kecil tidak saling melengkapi.
Semoga kedepan, Vespa masih bisa beroprasi, karena yang seharusnya tidak beroprasi yakni mereka yang mahal itu, yang megah itu, bisa mencelakakan para pengguna jalan dengan kencangnya mereka bisa merenggut nyawa sekitar, dan penggunanya. Oleh karena itu, jangan memandang keluar, mari memandang kedalam diri. Indonesia kini butuh menjadi buku untuk mereka diluar sana belajar dari budaya yang satu yang beda INDONESIA…


0 Comments