BAB 3
Maret 05, 2020Setiap manusia terlahir ke dunia dalam fitrah ilahi. Salah satu fitrah ilahi manusia adalah kecendrungan untuk menjalani kehidupan bersama. Kecendrungan ini disebut gregariouness. Karena itulah manusia bisa disebut pula social animal : binatang atau makhluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup membentuk kelompok sosial (sosial group).
Kalian yang pecinta sejati Vespa tak ayal pasti tahu sudah, dan merasakan apa itu komunitas, atau sekadar kumpul di ruang lingkup bengkel semisal ?, dan bahkan ada yang merumuskan dirinya sebagai independent scooteris (berdiri sendiri) ? Ada ?
Saya akan banyak membahas mengenai struktur organisasi pada bab ini. Kelompok, serta keuntungan, dan kelemahan dari fase kerumunan banyak kelompok Mods. Kalian pula pastinya tengah paham, mengenai sebuah komunitas yang membuat nilai harga kendaraan tua ini terheran-heran, dan aneh, kian tahun kian melangit harganya. Itu semua karena keragaman kalian mendirikan sebuah komunitas baik sekadar dalam presentase yang valuenya kecil baikpun besar.
Secara sederhana, kelompok sosial dapat dipahami sebagai kumpulan individu yang hidup bersama. Namun kehidupan bersama masih belum cukup dinamakan sebuah kelompok tanpa disertai alasan, dan tujuan yang menyatukan mereka. Saya contohnya, pada fase awal masih terbilang remaja tanggung, labil, dan pencarian jati diri masih berlangsung. Saya sangat asing dengan pola kemesinan Vespa. Tetapi hal ini pula terpikirkan oleh orang yang juga baru memiliki Vespa pastinya. Nilai apa yang pula membuat mereka, menggemari pula kendaraan ini, sebagai moda transportasi dirinya untuk mengarungi hari demi hari. Maka dari itu, sejalan dengan pembelian Siput. Masih di penghujung tahun 2013. Mengarungi hari demi hari dengan berhala Si putih. Bergabung mengikuti apa itu kelompok komunitas. Tergabunglah saya dengan salah satu komunitas Vespa di sebuah taman, di wilayah pusat ibukota. Entahlah apa awal mula saya bergabung, mengapa coba rumah di mana, mainnya ke mana, dan ikut hampir rutin dengan kelompok ini???... Biar lah ikut ikut, nyangkut, barang kali ada untungnya.
Taman kota ini menjadi ruang belajar mengasyikan kala itu. Tetapi menurut pandangan saya, taman ini menjadi tempat ajang kumpul dari kejenuhan saja. Mereka yang tidak punya teman karena kesepian, sedikit galau, dan tidak ada kerjaan, yah termasuk saya. Dari sini, saya belajar, bahwa kesini itu tiap malem sabtu butuh uang lebih, butuh jaket tebal karena suka kumpul sampe pagi. Singkat cerita, ketika menjalani label produksi dalam fase pengakuan kelompok ini semisal. Bahwa saya adalah bagian dari kelompok ini juga, adalah dengan cara ikut turut serta, harus memiliki ragam pernak pernik menarik seperti macamnya (berupa stiker, jacket, dan lainnya). Saya ? tidak ikutan pastinya, apa lagi tertarik. Meski dalam hati mau, mau kalau gratis. Gratisan saya paling cepat deh.
Saya berpikir panjang karena masih banyak duit buat beli sagu, sama kecap buat bikin cilok apa lah begitu. Dan dari komunitas taman ini pastinya berbeda dengan komunitas kalian pastinya yah. Saya juga pernah amat sangat terbantu kalian yang memiliki komunitas di luar kota Jakarta. Karena dengan adanya kalian tersebar di mana-mana, terus terjaga di tiap bagian waktu, membantu para kaum pengembara jalan agar merasa lega hati. Seperti halnya untuk sekadar singgah, beristirahat, atau pun saling bantu membantu keperluannya. Tetapi ini nih! yang tidak dimasuk akal dari komunitas Taman. Sudah mana dini hari, naek Siput pakai segala challenge buka baju muter Monas, bundaran HI, Sudirman, balik lagi ke start… kebut-kebutan, deh bm.......... (banyak mau) upload sosial media deh, ‘penyakit sosial’.
Karena
itulah Rusidi (1988), seperti dikutip Syahriman, mendefinisikan, kelompok
sosial sebagai: “Kumpulan dua orang, atau lebih yang melakukan
interaksi dalam rangka mencapai tujuan yang sama, atau bersama”. Bahkan,
beberapa sosiolog mendefinisikan sosial lebih luas, dan terperinci. Misalnya
W Jack Duncan (1981:167) mendefinisikan kelopok sosial dengan: “A group is defined as two more people who
interach to accomplish a common goals; the interaction is lasting and display’s
at least same structure”. (Suatu kelompok terdiri dari dua orang, atau lebih yang saling
berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama; interaksi tersebut bersifat tetap, dan memiliki struktur
tertentu). Meski demikian, para ahli sosiologi tak dapat mencapai kesepakatan
dalam mendefinisikan kelompok sosial. Hal itu disebabkan beragamnya pola pembentukan kelompok sosial. Karena
itu pula Alquran selalu menyeru manusia dalam bentuk peran penting dalam bentuk
kolektif, al-nas (jamak dari al-insan). Artinya, kelompok sosial
memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Terbentuknya sebuah kelompok
merupakan fenomena sosial yang senantiasa mengiringi perjalanan sejarah
kemanusiaan.
Tuh, sudahlah itu kemungkinan gambaran kecil perihal perjalanan saya, dan objeknya mungkin sedang tidak baik bagi saya. Karena saya seharusnya bisa lewati sesuatu kemampuan yang tidak terpaksa. Terpaksa itu tidak baik, merelakan hal tersebut dengan meninggalkan hal-hal lain yang menyegerakan kita juga sampai di tahap tersebut. Saya merasa hanya butuh suatu itu ’berkelompok’, padahal belum butuh sekali, jelas saja yang lain terlihat bahagia. Saya biasa saja, malah bingung, yang penting ikut ramai saja. Pengakuan terberat adalah, pengakuan perasaan diri sendiri, dari pada pengakuan pandangan sekitar, atau pun luas dalam media sosial semisal.
Dalam ragam bentuk mengikuti komunitas. Sisi terbaiknya yang ditemui, komunitas itu bisa menjadi ajang jual beli Vespa atau ‘perintilan’ istilah onderdil, atau pun tuker sharing event kedepan akan berlangsung dengan sebar undangan, atau ajakan berupa informasi. Tetapi umum besarannya, saya belajar, serta memperhatikan mesin dari rangkaian kelompok, atau kerumunan, kumpulan individual di bengkel. Di sini kalian pasti bertemu dengan permasalahan kemesinan beragam. Mulai dari mereka juga yang sekadar memarkirkan kendaraannya atau pun menidurkan Vespanya heh... turun mesin nih bos romannya Vespanya tiduran sih. Di sini saya banyak belajar, dan tampung ingat. Apa itu kemesinan, kelistrikan. Yah meski hanya rupa rangkaian dasar, apa saja yang patut saya pahami, mengenai kerusakan, apa penyebabnya, dan masalahnya. Jangan sampai kempes ban, malah bongkar karbu ya..!!! hahaha...
Dari sini pula saya malah kian dewasa dalam pola pikir, bukan mengajuk pada socialneed kebutuhan orang lain, untuk kepentingan lain. Di sini ragam bertemu saudara, mulai dari anak sekolah, hingga orang tua. Dan ragam pola pertukaran sosialiasi pun lebih diperoleh dibengkel ini. Mereka layaknya buku sejarah yang tercecer, dan saya peroleh perlahan, kemudian menjadi catatan berharga untuk nantinya. Pastinya kebutuhan saya dengan hobi tercinta ini. Tetapi tetap yah suatu kemesinan ini, wajar. Apabila kepentingan kita ialah berkendara, dan kepentingan bengkel ialah mencari nafkah, maka dari itu jangan sekali keberatan untuk belajar, paham, serta mencoba ilmu dari bengkel ini. Karena bukan masalah bayar, kemudian Vespanya kembali enak lagi, tetapi ada hal yang menyebabkan patut di rawat di jaga, di rasa. Agar jika paham bisa saling membantu juga ketika kita bertemu saudara seperVespa di jalan. Bisa sama-sama mengerti keadaan, jika Vespa ini kembali pulih dari kerusakan yang pernah dialami.
Perspektif Konflik
Perspektif konflik, berasal dari pemikiran Karl Marx. Gagasan-gagasannya mengenai dominasi kaum borjuis, dan eksploitasi terhadap kaum proletar adalah contoh-contoh yang jelas bagaimana kekuasaan digunakan untuk kepentingan suatu kelompok di atas penderitaan, kelompok lain. Berlawanan dengan paradigma fungsionalisme, para ahli teori konflik melihat masyarakat sebagai kumpulan berbagai unsur yang bekerja bersama oleh suatu kekuatan sosial (soscial power) - suatu kemampuan mengontrol perilaku pihak lain yang menentang keinginan mereka. Bagi para ahli teori konflik, kekuatan adalah alat yang membuat suatu kelompok, kekuatan adalah alat yang membuat suatu kelompok mampu mendominasi kelompok lain. Dominasi pada gilirannya menggerakan potensi terjadinya konflik antara pihak-pihak yang menerima keuntungan memegang kuasa, dan mereka yang menderita akibat tekanan kuasa. Misalnya, kaum kulit putih secara historis telah mendominasi kaum dengan warna kulit yang lain, dan laki-laki mendominasi kaum perempuan. Dalam setiap kasusnya, kelompok yang mendominasi menggunakan kekuasaannya untuk memperoleh berbagai keuntungan dari kelompok-kelompok yang lebih lemah. Jadi, misalnya, bangsa kulit putih memiliki pengaruh politik yang lebih tinggi, dan kaum laki-laki biasanya memperoleh pekerjaan dengan gaji lebih besar ketimbang perempuan.35
Para ahli teori konflik lebih lanjut berpendapat bahwa konflik terjadi di antara organisasi. Dengan kata-kata lain, organisasi-organisasi berusaha menggunakan kekuatan mereka untuk meraup keuntungan sendiri. Menurut penganut teori konflik, perubahan sosial adalah bentuk reguler dari kehidupan sosial. Beberapa kelompok dengan memiliki keistimewaan sedikit lebih secara periodik berusaha mengubah status mereka, sementara kelompok yang dominan berusaha memaparkan posisi kuasa mereka. Contoh dari konflik-konflik tersebut adalah perjuangan kaum wanita memperoleh hak suara, perjuangan kaum buruh memperoleh hak untuk membentuk serikat pekerja, perjuangan untuk hak-hak warga sipil, dan perjuangan untuk memperoleh kesetaraan bagi kaum perempuan.36
Perbandingan
Pandangan Fungsionalis,
dan Konflik 37

Sosiolog teori konflik dari zaman klasik lainnya adalah Max Weber. Weber banyak ditentang oleh kaum Marxian karena tekanan Weber pada ide-ide agama, nilai, dan ideologi sebagai penolakan terhadap matrelialisme Marx (ekonomi). Pandangan Weber antara lain: 1). Ide-ide agama bisa menjadi sumber konflik ; 2). Ide-ide agama dapat membantu melegitimasi posisi sosial dari kelompok yang dominan dalam masyarakat,; 3). Mengakui pentingnya konflik dalam bidang ekonomi, dan melihat bahwa perjuangan atau konflik juga terjadi dalam bidang distribusi prestise/status, dan kekuasaan politik.38 Tokoh lainnya, Simmel melihat konflik sebagai bentuk interaksi, dan bahwa konflik aktual, dan yang potensial secara praktis merembes terjadinya perubahan struktur terhadap suatu sistem. Simmel sebaliknya melihat bahwa konflik justru dapat meningkatkan integrasi, solidaritas, dan perubahan yang teratur.39
Tokoh teori konflik lain, Dahrendof berpendirian bahwa masyarakat mempunnyai dua wajah (konflik, dan konsensus). Oleh karena itu, sosiologi harus dibagi menjadi dua bagian, yaitu: teori konflik, dan teori konsensus. Teoritis konsensus harus menguji nilai integrasi dalam masyarakat. Teoritis konflik harus menguji masyarakat takkan ada tanpa konsensus, dan konflik yang menjadi persyaratan satu sama lain. Jadi tidak akan ada konflik kecuali ada konsensus sebelumnya.40 Teori konflik yang dikembangkannya juga membahas kekuasaan, kewenangan, dan kepentingan.
Perspektif Intraksionis
Perspektif fungsionalis, dan konflik bisa dianggap sebagai dua sisi mata uang yang berlawanan. Meski memiliki pandangan yang sangat berbeda, kedua pandangan ini juga memiliki persamaan. Kedua perspektif ini sama-sama fokus kepada bentuk-bentuk untuk memberi kita sebuah pemahaman tentang bagaimana suatu masyarakat bertahan, atau berubah. Namun demikian, kehidupan sosial juga ada dalam skala yang intim antar-para individu itu memahami, atau menafsirkan dunia sosial di mana mereka menjadi bagian darinya. Perspektif ini utamanya berfokus kepada perilaku manusia pada level individu ke individu. Para pendukung perspektif intraksionis mengeritik para penganut mengasumsi bahwa proses-proses konflik disebabkan secara implisit bagaimana memiliki sebuah kehidupannya sendiri terpisah dari para partisipannya. Para penganut perspektif intraksionis mengingatkan kita bahwa sistem pendidikan, keluarga, sistem politik, dan tentunya semua institusi sosial pada puncaknya diciptakan, dipertahankan, dan diubah oleh orang-orang yang saling berinteraksi, satu sama lain. Memahami sifat dasar interaksi dari hari ke hari ini adalah salah satu hal yang vital.41
Perspektif interaksionis mencangkup beberapa pendekatan yang terkait secara bebas. George Herbert Mead (1863-1931), sebagai pendiri perspektif interaksionis memformulasikan sebuah pendekatan interaksionis simbolik yang fokus kepada tanda-tanda, sinyal-sinyal, aturan-aturan yang disepakati, dan bahasa tulis serta lisan. Harold Garfinkel menggunakan etnometodologi untuk menunjukan bagaimana para individu menciptakan, dan membagi pemahaman mereka akan kehidupan sosial. Ervig Goffman mengambil pendekatan dramaturgi di mana dia melihat kehidupan sosial sebagai sebuah bentuk pertunjukan drama/teater. Dari ketiga teori ini, pendekatan intraksionis simbolik memperoleh perhatian terbesar, dan menyuguhkan formulasi teori yang cukup baik.42
a.Intraksionisme Simbolik
Interaksionalisme Simbolik sebagaimana dikembangkan oleh George Herbert Mead (1863-1931) fokus kepada makna-makna di mana orang-orang tempat di dalam diri mereka sendiri, dan pada perilaku orang lain. Manusia adalah makhluk yang unik dalam hal bahwa kebanyakan apa yang mereka lakukan terhadap yang lain memiliki makna yang melampaui tindakan kongkritnya. Menurut Mead, manusia tidak bertindak, atau beraksi secara otomatis namun dengan berhati-hati mempertimbangkan, dan bahkan membayangkan apa yang akan mereka lakukan.
Mereka mempertimbangkan, dan bahkan membayangkan pihak-pihak lain yang terlibat dari situasi diri mereka sendiri. Berbagai ekspetasi, dan reaksi pihak-pihak lain sangat mempengaruhi tindakan tiap-tiap individu. Tambahan pula, orang-orang memberikan berbagai hal dengan makna-makna, dan bertindak atau bereaksi berdasarkan makna-makna tersebut. Misalnya, saat bendera Republik Indonesia dikibarkan, orang-orang akan berdiri hormat karena mereka melihat bendera itu sebagai representasi negara mereka. 43
Karena kebanyakan aktivitas manusia terjadi di dalam berbagai situasi sosial-pada saat hadirnya orang-orang lain-kita harus menyesuaikan apa yang kita perlaku sebagai individu dengan apa yang orang lain lakukan pada situasi yang sama. Kita menjalani kehidupan ini dengan asumsi bahwa sebagian besar orang saling berbagi definisi-definisi mengenai situasi-situasi sosial dasar. Menurut para pengamat pandangan interaksionis simbolik, kesepakan mengenai definisi-definisi makna-makna ini adalah kunci bagi interaksi manusia secara umum. Misalnya, seorang staf perawat di rumah sakit jiwa yang membuka pintu untuk seseorang pasien berbuat lebih dari sekadar membuat sang pasien itu bisa melewati satu ruangan ke ruangan yang lain. Dia juga sedang mengkomunikasikan sebuah posisi dominasi sosial atas pasiennya di dalam rumah sakit itu, dan sedang mengusung simbol-simbol kekuasaan dari dominasi itu.
Demikian juga seorang profesor yang menuliskan sesuatu di papan tulis atau seorang direktur yang sedang mendiktekan sesuatu kepada sekertarisnya. Meski semua tindakan itu tampaknya sederhana, interaksi-interaksi seperti itu juga penuh dengan makna-makna sosial simbolik. Makna-makna simbolik tersebut, tersebut secara erat berkaitan dengan pemahaman kita atas apa yang seharusnya terjadi atau berpilaku sebagai kita memahami orang lain, dan pandangan mereka tentang kita, kebahagiaan, dan kesengsaraan yang kita rasakan di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di antara kawan, kolega, dan sebagainya.44
b. Etnometodologi
Aksi sosial yang kita geluti dalam keseharian merupakan peristiwa-peristiwa yang biasa. Aksi-aksi tersebut cendrung dipahami sebagai taken for granted, dan jarang dikaji atau direnungkan. Harold Garfinkel (1976) menawarkan bahwa penting untuk mengkaji hal-hal yang dianggap biasa itu. Hal-hal yang kita anggap biasa memiliki sandaran yang kuat pada kita karena kita menerima tuntutan-tuntutannya tanpa pertanyaan atau pertimbangan secara sadar.
Etnometodologi berusaha mengungkap, dan mendeskripsikan rangkaian-rangkaian aturan atau petunjuk yang para individu gunakan untuk menginisiasi perilaku, merespon perilaku, dan memodifikasi perilaku dalam setting sosial. Bagi para sosiolog etnometodologis, semua ineraksi sosial sama-sama penting karena semua itu menyediakan informasi mengenai berbagai aturan tak tertulis mengenai perilaku sosial, pengetahuan yang disepakati, dan mendasar bagi kehidupan sosial.45
c. Dramaturgi
Orang-orang menciptakan kesan-kesan, dan respons-respons lain bersamaan dengan kesan-kesan mereka itu sendiri. Erving Goffman (1959, 1963, 1971) menyimpulkan bahwa suatu fitur sentral dari interaksi manusia adalah pembentukan kesan-yaitu suatu usaha untuk menyuguhkan diri sendiri kepada orang lain melalui suatu cara tertentu. Goffman percaya bahwa banyak interaksi manusia bisa dikaji, dan dianalisa melalui prinsip-prinsip dasar yang berakar dari pertunjukan teater. Pendekatan yang dikenal dengan nama dramaturgi ini berdasarkan pada asumsi bahwa untuk menciptakan sebuah kesan, orang memainkan peran-peran, dan pertunjukan-pertunjukan mereka dinilai oleh orang lain yang mengamati setiap kekeliruan yang mungkin saja menyingkap karakter sebenarnya sang aktor. Misalnya, seorang pencari kerja dalam sebuah interview berusaha menunjukan kemampuannya dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban di posisi tertentu. Sang pewawancara tentunya berusaha mencari tahu apakah dia benar-benar mampu bekerja di bawah tekanan, dan melaksanakan fungsi-fungsi pekerjaan yang diperlukan.46
Kebanyakan interaksi mensyaratkan semacam tipe aksi untuk menyuguhkan sebuah citra akan melahirkan suatu perilaku yang diinginkan dari pihak-pihak lain. Pendekatan dramaturgi melihat interaksi-interaksi sebagaimana diperankan oleh suatu perilaku yang disengaja, yang didesain untuk membuat sang individu mampu menampilkan sesuatu image tertentu atas orang lain.47
Perspektif interaksionis dengan ragam teori di dalamnya telah dikritik karena memberikan perhatian terlalu sedikit bagi elemen-elemen masyarakat yang lebih besar. Para penganut pandangan interaksionis meresponnya dengan menyatakan bahwa masyarakat, dan institusi sosial adalah dibuat oleh para individu yang saling berinteraksi, dan tidak bereksistensi selain kepada unit-unit dasar tersebut. Mereka percaya bahwa sebuah pemahaman terhadap proses interaksi sosial tersebut akan menggiring kepada sebuah pemahaman terhadap struktur sosial yang lebih besar. Kenyataannya, para penganut paham interaksionis masih harus menjembatani celah antara kajian-kajian mereka atas interaksi sosial, dan struktur-struktur sosial yang lebih luas. Namun, demikian paham interaksionisme simbolik sungguh melengkapi pandangan fungsionalis, dan teori konflik memberi kita suatu wawasan yang menyeluruh terhadap bagaimana manusia berinteraksi.48
Perbandingan Perspektif Teoritis Utama. 49
Begitulah paham interaksi antara group/kelompok, bagi kalian lebih baik independent scooterist atau kalian sendiri yang membangun sebuah kelompok itu sendiri ?, silakan pilih jalan kalian masing-masing. Kalau saya, jujur masih memiliki cinta Siput, dan paling utama keluarga dirumah. Jadi untuk sekadar bahagia, saya mencoba bahagia, dan membangun kebahagiaan bersama keluarga terlebih dahulu. Karena mereka yang sesungguhnya memerdekakan saya, dikala bahagia, maupun tepuruk mereka tetap ada. Dan tidak ada labilitas mengenai kapan saya harus tertampar maju karena memfokuskan kehidupan diluar sana. Dan teman saya ya mereka ”keluarga”. Seberapa lama saya bermain di luar, bekerja di luar ? tetapi saya juga tidak peduli seberapa lama saya dirumah untuk sama-sama bersama keluarga. Karena rasanya mereka juga tidak pernah mengeluh selama saya dirumah hingga sampai saat ini. Lantas mengapa mengeluh kalau hanya berdiam diri di rumah. Jangan salah, banyak hal yang bisa kalian lakukan di rumah, dan lebih erat dengan keluarga itu penting.
Tetapi jika memandang, kala baiknya. Nyata pastinya kebutuhan mengenai kelompok itu dinilai penting. Namun, karena ini pandangan saya. Mengapa terasa begitu banyak ditemui kebusukan di pandangan. Terlebih mungkin ini ragam pembentukan kelompok di Ibukota. Saya memfokuskan apa itu Bhineka Tunggal Ika, satu negara, ragam budaya, dan agama. Apa salah juga kalau ada budaya Vespa ? yang terbentuk karena sejarah ?. Baiklah salah jika suatu kelompok membuat kesibukan negatif. Nongkrong mabuk mabukan di jalan, membahayakan pengguna jalan lain, atau yasudahlah demi kepentingan pribadi dahulukan, baru bisa bergabung ?. Tidakah seperti itukah ?.
Budaya tolong-menolong tengah terus ditegakan, budaya lebarannya anak Vespa, JSR (Java Scooteris Rendeveouz) itu untuk apa ?. Saya pribadi memandang sebagai suatu harta yang masih tersimpan untuk membuka mata generasi terdepan. Jika tulisan ini menyalah gunakan, baiklah kita bicarakan dengan kepala dingin. Satukan, pahami, dan gerakan bersama. Bukan semata-mata perubahan, tetapi sama-sama menjalankan budaya satu. Tidak mengolongkan antara kelas pekerja, kelas bangsawan, atau apapun itu. Tetapi kita sama kotor, sama gaya, dan terlebih terus terang. Jika membahas negatif, dan positif tampaknya kita akan bahas di bab selanjutnya, karena tidak dipungkiri juga, kejahatan bisa terbalut mereka yang tampak rapi betulkah seperti itu ?.
Yah meski terlihat konyol tampaknya, semua manusia hampir bersamaan, sama tidak ada beda. Tetapi apa ada salahnya jika kalian tergerak bersama untuk kepentingan berbudaya yang sama. Pahami saja sendiri nantinya, pilihan jalan baik itu, tidak perlu banyak pertanyaan. Tetapi jika pilihan jalan buruk, baru pantas mendapat lontaran banyak pertanyaan, mengapa kau pilih jalan jahat ? Mari sama-sama berupaya memajukan potensi, kalian punya apa kita punya apa, bergerak bersama pelan, tidak semerta terburu buru entah ingin ke mana. Menimbun surga yang tak akan pernah dibagi.
Jadi kelompok sosial itu dapat dikaji berdasarkan pendekatan tertentu dalam melihat pola terbentuknya interaksi, dan struktur kelompok. Seperti apa pendekatannya ahli sosiolog dalam mengkaji kelompok sosial, balik lagi tergantung bagaimana pandangan itu, dan menimbang suatu pola sosial. Sedangkan untuk menggerakan sebuah realita besar pun, tidak bisa dengan individual pastinya. Bisa saja memang terjadi, “jika” individual tersebut memiliki kuasa. Bisa saja di jalankan “jika” individual itu memiliki kreativitas yang merangkum ini semua. Tetapi sebenarnya, dan seharusnya harus memiliki kebersamaan, agar sebuah teater bisa digulirkan sebagimana untuk kebaikan, dan kepentingan pola banyak orang, bukan dominasi kelompok tertentu, atau golongan kaum borjuis tertentu, harus seirama bersama, dan adil.
Teringat tragedi sangat disayangkan pada saat saya berangkat dari Bandung menuju Sukabumi dengan sorang teman yang berada tepat duduk dibelakang kemudi, pastinya dengan mengendarai Siput. Pada waktu itu, tepat di daerah Buah Batu, Bandung Barat, suasana yang macet sore hari pada pekan senin, membuat saya, dan teman memutuskan berangkat sebelum azan magrib. Nyatanya sama saja dengan ibukota. Kota kembang ini juga mengalami perkembangan yang amat pesat majunya. Kendaraan indah tampak memadati jalan pada saat pulang dari kegitan ragam aktivitas. Keberangkatan saya tersebut, menjadi kepulangan rekan Vespa yang mengikuti acara event di Pangandaran, Jawa Barat.
Tepat di pom pengisian bahan bakar, masih di wilayah Buah Batu. Saya mengisi full untuk menempuh perjalanan liburan yang amat mengasyikan dengan teman saya tersebut. Tetapi, tepat di sana pula. Ada suatu kelompok yang berlabelkan suatu komunitas yang bermarkas di Timur ibukota, mengarah pulang ke Jakarta, dan mereka amat sangat membutuhkan pundi uang untuk membeli keperluan bensin, dan pangan. Yang disayangkan di sana adalah, dirinya meminta, dan memaksa para pengendara Vespa yang lewat. Tidak tanggung, dengan nada dramanya juga dia lakoni, bahwa “dengan bensin ataupun duit berapapun akan saya terima”.hmm...
Teman saya ini, jika saya boleh ceritakan, dirinya ialah orang pengagum Vespa juga. Dan bukan orang baru dalam vespa. Dia amat menyesalkan dengan kemanjaan, kelompok/grup Ibukota yang sedih mengemis, dan manja. Teman saya ini berciri, pernah menjadi salah satu artis Vespa dalam acara tahunan Mods May Day Jakarta dengan Sesvan birunya, dirinya menggebrak para kaum modernis dengan tampilan yang amat nyentrik. Dan dia banyak bercerita pengalaman dengan saya mengenai, kerap berjalan jauh mengarungi Jawa dengan Sesvan nya, sampai ingin makan, tidur, dirinya tidak mencari belas kasihan. Malah dia berusaha bekerja dari tempat satu, ke tempat yang lain, demi dia dapat diberi bensin untuk pulang ke rumah lagi dengan selamat, dan catatan terpenting dirinya pernah diberi bensin, ‘bukan meminta’ paksa dari rekan Vespa lainnya. Pada waktu itu dirinya, mengalami sedikit musibah saat berkunjung acara Pacitan, yang memungkinkan perhitungan dirinya meleset. Jadi dirinya berupaya, bagaimana bisa pulang ke Jakarta dengan berusaha.
“Pret itu Vespanya lebih bagus dari pada elu, gak ada yang gembel” ucap teman saya, “Ia Pret dia bilang buat pulang ke Timur, gak ada ongkos”, “Yaelah manja sekali, Vespanya doang bagus, dulu gue pake Sesvan gak gitu-gitu amat”, “Haha yaudahlah biarin, tadi sisa beli bensin gue kasih dia”, “Bukan gitu pret, anak Vespa itu bukan perampok, kan seharusnya dia tau perhitungan, baru Pangandaran, mana rame rame, gue dulu satu Sesvan berdua doang bisa”. Hmm.., tetapi tetep yah Siput saya jelek hmmmmmmm….. bagusan yang minta minta Vespanya!.
Perjalanan terus dilanjutkan, dengan melintasi Bandung luar dengan suasana pergantian terang ke gelap. Vespa bukan juga untuk saling memanfaatkan, kalau seperti itu tercoreng sajalah kami. Biar lah bentuk ragam rupa, menyeramkan, sekali lagi jangan melihat sosok luar. Jangan juga ragu untuk saling tegur sapa. Dan janganlah saling memeras diri pihak lain, dengan alasan tertentu. Saat kalian yakin, bisa, lakukan semaksimal mungkin. Jika keyakinan itu tidak menghadirkan dalam benak pikir, hindari segera. Karena itu hanya rupa nafsu yang memungkinkan kita balik lagi “hanya mementingkan kepuasan batin, agar terlihat dirinya mampu mengarungi sebuah tragedi”.
Berkelompok lah dengan cara baik, dengan tujuan baik. Bekonteslah dijalan dengan Vespa kalian yang elegan. Semakin kita kompak bersama, semakin berbudaya kita, semakin dikenal kepentingan kita, yang mungkin saja kedepannya kita ini siap tergerus dengan pengembangannya. Pengembangan harusnya berkembang, tidak kian serta merta tahun ke tahun makin primitif. Mematikan populasi saudara sepaham sejalan. Sejuta saudara itu kini kian hampir hilang. Contoh hal dalam budaya Jepang. Kemudian saya sendiri ialah berbudaya Sunda di Indonesia ini. Beberapa orang terdahulu mengatakan mulai dari bahasa, pra kata logat, dan gekstur budaya Jepang itu mirip-mirip dengan Sunda. Entah dari mananya, yah mungkin juga ya. Tetapi lihat lah betapa hormatnya orang Jepang jika bertemu lawan bicara lainnya. Meski tidak bersalaman, itu bentuk penghormatan yang saya pandang sebuah budaya yang hampir sama dengan kita yang saling tegur sapa, saling hormat menghormati, saling permisi. Justru beberapa study membandingkan antara budaya kita ini ingin ditiru di Jepang. Karena, budaya di sana sudah membentuk proses komunikasi yang terlihat amat sangat dingin. Seperti terlihat jelas dalam trasportasi mereka saja. Dilarang berbicara apa lagi berisik dalam smartphone dalam ruang umum. Karena itu sangat menggangu. Lain hal dengan kita, dalam satu yang berbudaya, dalam trasportasi umum semisal. Satu dengan yang lainnya saling berbicara, dan ramai. Mereka iri dengan kita, mengapa kita juga patut iri dengan mereka ? Karena saling hormat menghormati setiap kali berkomuniasi. Masih banyak lagi contoh yang disajikan di Indonesia ini. Gimana kita saja memandangnya. Jepang dengan budayanya namun ingin keluar dari permasalahan terkecilnya tersebut. Kita yang begitu dengan banyak budaya, namun cuek, dan ingin keluar mengenakan budaya orang lain???
Dinamika Kelompok
Dinamika kelompok adalah suatu yang menganalisis berbagai kekuatan yang menentukan perilaku anggota kelompok, hingga terjadinya gerak perubahan dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kelompok mempunyai struktur, dan sistem perilaku di antara anggota-anggotanya. Perilaku tersebut dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam kelompok. Kekuatan-kekuatan itulah yang disebut dinamika kelompok. Analisis dinamika kelompok bertujuan untuk 1) melukiskan proses kelompok; 2) mengetahui gerak atau kekuatan yang menyebabkan maju-mundurnya kelompok; dan 3) mempelajari perubahan-perubahan yang terjadi dalam kelompok, dan berusaha mencari keadaan atau gaya yang memengaruhinya.
Lebih jauh, I Gede Sujatna menilai dinamika kelompok berarti menilai kekuatan-kekuatan yang muncul dari berbagai unsur yang memengaruhinya. Menurutnya, dalam setiap kelompok terdapat delapan unsur, yaitu; 1) tujuan kelompok (group goal); 2) struktur kelompok (group structure); 3) fungsi tugas (task fungction); 4) pembinaan, dan pengembangan kelompok (group building and maintenance); 5) kesatuan kelompok (goup cohesiveness); 6) suasana kelompok (group atmosphere); 7) ketegangan kelompok (group pressure); 8) efektivitas kelompok (group effectiveness); 9) maksud terselubung (hidden agenda). Karena itu, menganalisis dinamika kelompok berarti mempelajari bagaimana kondisi unsur-unsur yang ada dalam kelompok, dan hubungan yang terbentuk di antara unsur-unsur tersebut.50
Meski demikian, para ahli sosiologi menggunakan beragam pendekatan dalam menganalisis dinamika kelompok. Pendekatan yang mereka gunakanpun menghasilkan beragam teori. Mulai dari Teori Pertukaran dari Homans, yang mengembangkan antara perilaku psikologi, dan ilmu ekonomi dasar. Pasalnya, dari konsep prilaku psikologi, dia mengambil gambaran mengenai perilaku manusia yang dibentuk oleh hal-hal yang menyokong dukungan saling berbeda. Sementara ilmu ekonomi dasar mengambil konsep seperti biaya (cost), imbalan (reward), dan keuntungan (profit) dalam mekanisme kelompok. Sedangkan, Teori Pertukaran dari Thibaut, dan Kelley (1959), yang mengembangkan teori Homans mendasarkan pada “biaya” dan “imbalan” khususnya dalam kelompok duaan (dyad). Konsepnya tersebut mengarah pada pola antarpribadi, rangkaian perilaku, dan daftar perilaku (Shaw, 1976:26). Pandangan di atas memberi penjelasan bahwa setiap individu, baik sendiri maupun bersama, memberikan suatu daftar perilaku (reportoire behaviour), dalam pengalaman hidupnya yang bisa tampil sewaktu-waktu. Dan yang lainnya ialah, Teori pembentukan kelompok. Kelompok terbentuk setelah adanya komunikasi. Komunikasi yang berlangsung lama, dan mapan akan segera membentuk pola interaksi tertentu, yang berarti awal pembentukan kelompok telah terjadi. Secara umum, ada dua alasan individu memasuki kelompok. Alasan pertama adalah kedekatan geografis yang berakibat memungkinkan terjadinya interaksi. Alasan kedua adalah adanya kesamaan nilai sehingga memungkinkan membentuk, dan mempertahankan interaksi. Dengan kata lain, persyarat terpeliharanya pola interaksi yang sudah mapan adalah banyaknya kesamaan sistem nilai yang dianut oleh masing-masing anggota.
Tetapi, di dalam suatu dinamika kelompok, ataupun organisasi sebuah lembaga ataupun sekrikat beratas namakan komunitas atau apapun itu namanya. Sejauh di dalam kelompok itu terbangun pasti dimiliki sebuah susunan, yang di mana susunan tersebut pula memiliki pola, dan ragam. Mulai dari individual yang memiliki budaya, kemudian kelas sosial tertentu dalam tiap tiap individual, serta visi misi yang ingin di jalankan.
Di dalam agenda, agenda yang terarahkan tersebut, pastinya perlu memenuhi serta melewatkan suka, dan duka, serta pengharapan persetujuan atau pun pengakuan dari para anggota. Di sinilah timbul, di mana kepuasan tidak terlampaui batas. Di sinilah kegiatan yang dinilai mencapai, dan terlewatkan terus mencoba hal bentuk agenda yang terus baru, terus memperoleh keuntungan, terus memperoleh kepuasan, dan hal lainnya. Serta lupa akan rasa bersyukur. Lupa akan segala ridonya. Lupa dengan cara beralam untuk mendekatkan diri kepadanya.
Saya dalam memilah jalan, nyatanya bukan segala sesuatunya diimpikan serta diharapkan berjalan mulus. Misi, dan mimpi untuk mencurahkan isi pikiran seperti ini pun nyatanya harus saya lalui, dan istikamah. Jikalau saja mimpi berjalan mulus serta cemerlang, anggaplah itu mukjizat yang diberikan Tuhan semesta alam. Serta jika segala sesuatunya mengalami kendala, anggaplah diri dihadapkan 100 buku tebal yang memaksa kalian untuk ingin tahu. 100 buku tersebut seperti masalah bagi kalian. Tetapi, karena melihat 100 buku tersebut yang menggunung depan hadapan kalian, mungkin di ke – 40 buku, atau 50 buku, 80 buku atau pun 99 sekian, dan tinggal satu buku lagi kalian malas untuk memerangi masalah tersebut, atau merasa besar kepala untuk menyudahinya, yah pasti Tuhan pun tidak akan berbuat nilai plus untuk kalian. Padahal masalah itu hanya satu buku lagi yang harus dilewati. Hanya dengan satu langkah lagi, kalian akan dapat apa ? Ilmu. Ilmu tersebut untuk apa ? visi ? misi ? terserah kalian – kalian semua yang mengarakan. Asal point tersebut jangan kalian harapkan, dan melangkahi kehendak Tuhan. Tetaplah merunduk bak padi, lama lama kian merunduk. Lama berbuahnya, namun mengenyangkan isi perut yang lapar. Pergunakan dengan baik, ambil langkah baik, sabar, ikhtiar, tawakal, ikhlas dalam mengarungi bahtera kehidupan dunia. Habiskan semua masa gagal kalian, kedepan akan ada cahaya terang mengenai ini semua.
Segala keingintahuannya, itu ialah proses alamiah. Itu adalah proses yang baik, tetapi yang tidak baik ialah jika kita banyak tahu, banyak cepat puas, jadi pandai, jadi lalai serta jadi muter bahasa gaulnya, pintar namun kebelingar. Apa yang harus dilakukan kok malah jadi masalah, malah jadi merajai ataupun mentuhankan segala tindak tanduk perilaku. Semisal dalam membuka peluang usaha, masalah ingin memiliki banyak teman, masalah ingin terus menggali kepuasan, tetapi lupa mendekatkan diri kepada yang maha Agung. Maka percumalah kita mengendarai badan kita. Kita puas akan duniawiah, namun gelap paham akan alam sesudah duniawiah. Kita mudah saja, kaya, bahagia, sejahtera, terpandang, dipandang dalam suatu lingkungan, tetapi kita enggan mengajak rekan sekalian untuk meluruskan jalur perjalanannya, mengantarkan dirinya, menyampaikan sesuatu mimpinya, hanya ada satu kata “tenang” nanti kalian juga akan sampai. Tetapi itu semua yang di datangkan oleh Allah. Percayalah Allah tidak buta, dan dirinya adil sesuai apa yang kita dapat hadapi. Sudah kaya sudah mapan, sudah menjadi orang terpandang, dalam prosesnya selalu lancar, lancar saja tidak ada kendala, dan kita sebagai yang ingin mengikuti jejaknya, terus kufur, kemudian lupa bersyukur. Dapat segala sesuatunya, tetapi lihat, dan ingat, nantinya, akan ke mana kita diberi penghormatan oleh diri-Nya.
Dan sekali lagi saya tuliskan pula, segala sesuatunya yang diharapkan di pikirkan atau strategi untuk memuncakkan visi, dan misi pribadi dulu saja ‘kita’. Jangan sekali-kali berkeluh, dan kesah, karena Allah belum menjawab doa doa kita mungkin. Mengapa ? Allah bisa langsung menurunkan segala doa kaumnya, kemudian hambanya malah lalai, kemudian lupalah kita mengendarai raga tersebut, celaka lah kita. Dalam doa penuh dengan kebencian, dalam doa menutur dalam kehidupan. Awas! Ada doa yang terkabul. Karena kita kurang bersabar selagi bersyukur. Segala daya upaya semua demi prestasi dunia. Beristirahatnya mereka membangun kembali dinasti demi untuk menguasai galaksi.
Allah tempat berkeluh kesah, tempatnya yang maha segala maha. Dan jangan sekali-kali menduakan, atau mentuhankan, serta doa yang mengancam. Dalam Islam saja, tertuliskan dalam Zaadul Ma’aad (1/275) tahqiq Al-Arnauth, dan Al-Hawadist wal Bida’ karya Imam At-Thartuusi hlm.152 (Membiasakan/merutinkan doa setelah setelah salat fardu, dan mengangkat tangan pada saat berdoa tersebut, perbuatan ini tidak ada tuntunanya dari Rasulullah.) Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “Berdoa setelah salat fardu tidak terlarang jika dilakukan tidak secara rutin, namun bila menjadi kebiasaan, maka menjadi sebuah kekeliruan. Ibnul Qayyim berkata “Tidak ada tuntunanya dari Rasullulah, merutinkan doa setelah salam dari salat fardu. Dari point di atas ialah, memintalah sewajarnya, segala sesuatu urusanya, meminta sehat, rezeki, Allah sudah mewariskannya, yang jelas kita sudah rasakan dalam usaha kita yang juga kuat untuk sama bergerak. Jika bertanya, “terus kapan teruwujudkannya mimpi-mimpi lain ?”, Jawabnya ialah, tenang saja mengenai hidup ini. Allah, tidak tertidur. InsyaAllah, segala perbuatan alam, ibadah, soleh/solehanya diterima disisi Allah sebagai bagian dari pahala berasabar itu. Kemudian berdoa pada tepat waktunya, bersyujud, bertahajud, ikhtiar, ikhlas ridho Lillahitaala, di waktu ¼ malam. Usai salat fardu perbanyak zikir, berselawat, berterimakasih telah melalui bagian-bagian waktu masih diberi hidup. Setiap berkativitas apapun itu jangan tertinggal dengan menyebut rahmatnya.
Jadi, untuk saat ini di sini. Berjalanlah sesuai kemampuan. Kemungkinan besar, kepayahan saya di atas ialah sudut pandang karena diri ini yang amat sangat rendah, tidak terpandang lalu memandang. Mengeritik seakan semuanya nyata bisa dilalui. Tetapi saya lantang betul, ini perlahan akan terjadi. Seiring saya harus memperjuangkan kaum modernis dibalik hobi saya. Meski jelas betul, saya independent, malu amat malu, jika menyusahkan suatu kelompok lain, sedangkan saya harus mampu berusaha berjalan dengan sendirinya. Semoga ini disemogakan, dan semoga saya dapat bermimpi kembali seperti ini, tidak melangkah terlalu jauh, agar paham di mana saya harus kembali pulang. Dan mengajak pembaca semua larut dalam acara terindah saya.
Paham mengenai semua itu fokus pada birokrasi, susunan dalam management. Tetapi mengapa ? yang ikut turut meramaikan kumpulan tersebut malah di rugikan, yang harus kaya, dan bahagia hanya perorangan ? jawaban nya lagi, mau tidak mau. Mungkin sebuah ide serta gagasan yang menarik beberapa orang yang ingin berkepentingan sama melihat, memandang, dan merasa terbayar mahal oleh mereka yang menggerakan ini semua. Namun tetap harus kembali lagi dari nilai nilai yang sebelumnya nilai itu juga kosong tanpa value.
Beda kelas sosial di negeri ini, beda paham di negeri ini menjadi daya untuk orang juga seperti saya dengan segudang kemampuan, hanya baru sekadar buku ini. Semoga kedepan, sudah dipersiapkan sedari dini. Kita tak akan pernah mengerti, negeri ini akan berlabuh untuk ‘mereka’ atau untuk kita semua. Harus siap fondasi terkecil, bangun satu suara untuk sejuta saudara. Vespa harus dipandang sebagai aset budaya negeri ini. Darinya kita belajar, darinya kita merawat, membudaya, bersatu jangan sampai di era masa nanti, punah karena kebijakan birokrasi, yang memang jauh di mana satu otak pengerak tersebut sudah sangat jauh menyentuh kami KPPG “Kaum Pekerja Punya Gaya”. Menimbun surga yang tak akan pernah dibagi, akhirnya maju dengan sendiri-sendiri mati tanpa prestasi di sisi Tuhan Nya.


0 Comments