BAB 5
April 11, 2020Mimpi – mimpi indah tersusun dari siapakah aku harus berbeda pendapat ? Menjelajahi alam, dan mengarungi samudera waktu.51
Sepertihalnya mengamati desain, serta kecocokan warna apa yang ditangkap oleh mata, kemudian mengasah daya ingat, perpaduan apa yang sepantasnya ditaruh untuk pemuas warna satu dengan yang lainnya. Urutan dalam buku ini mengikuti logika yang sederhana; pokok bahasannya mengalir dari apa yang dapat disebut sastra murni (dalam subjek, dan perlakuan) hingga secara sepenuhnya dapat dianggap ilmiah dalam subjek).
Psikologi diri sejalan dengan sejarah pribadi. Hadir paling banyak dalam buku ini pada bagian awal, dan di bagian dua; ilmu pengetahuan alam, dan sosial di bagian tiga, empat. Dan kali ini, bagian dimana bahwa wawasan kalian dalam pola warna, yang mungkin sama atau sangat berbanding berlawanan dengan warna yang kalian miliki. Tidak ada orang yang tahu tentang segala sesuatu, tetapi para pemikir elite mengira bahwa mereka tahu lebih banyak dibanding makhluk-makhluk lain karena mereka adalah pemikir elite. Mempelajari kelompok Vespa era milenial ini cukup seperti terlihat sama dengan modernisasi Vespa, tetapi sangatlah berbeda, mengenai nilai luhur yang sudah biasa tersaji. JSR X, ini menjadi daya juang pola pemikir kaum modernis, sangat berbeda jika kalian mengasumsi bahwasanya Vespa ini hanya untuk golongan terbaik dari yang baik. Serta kian tergusurnya budaya yang makin modern malah mendorong ke arah primitive.
Bagian dalam “Kecil Bebas Bermain” menjalankan pola perumpaan, pengandaian, serta pengetahuan. Pengetahuan dimana Extremistan tumbuh pelan-pelan dalam diri, dan tidak berkesesuaian dengan data yang ditambahkan secara acak, barangkali dengan laju yang tidak diketahui.
Tetapi mengapa tidak, hal ini melalui proses yang memang sepertinya sudah banyak dipikirkan oleh rakyat khususnya kaum buruh. Berbanding terbalik jika kaum elite yang dengan ketidakpuasannya menambah kusut jalan pikiran, penganggu fokus pada rasa syukur. Serasa menginginkan wujud yang sama yakni keadilan, tetapi rupanya sulit sekali di negara kita ini. Mari kita coba!, oleh karena itu untuk memahaminya memerlukan kecermerlangan pemanfaatan pola budaya hidup di nergeri khatulistiwa kita ini. Yang emosinya bisa mengikuti perkembangan Barat, atau pun budaya Timur semaunya. Namun tak tersentuh sifat, dan nilai-nilai kebersamaan sejatinya.
Serta apa yang di salahkan kini ???
Apakah dosa negara ini sudah mendarah daging ?
Justru negara ini berdiri kokoh dari darah – darah mereka yang memperjuangkannya
Namun banyak interfensi, serta kitab – kitab masa depan yang dibangun negara-negara tidak berkepemilikan budaya
Kita ???
Bangga dengan film, dan ocehan buku dongeng mereka!
Mari kita tunjukan, wujudkan
Ini budaya kita!
Ini rencana kita!
Ayo berubah…
Jika kita ketahui negara ini berdiri di bagian paling selatan Asia. Namun, jika saja sejak dahulu negara ini tegak oleh budaya Eropa. Serta konsistensi struktur oleh negara Eropa, mengenai moda alat transportasi, serta fondasi-fondasi bangunan yang kita tiru. Kemungkinan besar, Indonesia ialah negara biru Asia. Tetapi, jika bicara sekarang ini, seharusnya produksi kendaraan buatan Asia tidaklah dipersilahkan masuk bebas di Indonesia. Dan tidak kalah Eropa terus menggerus masuk juga dari kapitalis nya, kita sudah kepalang percaya bahwa apa yang mereka kenakan, apa yang mereka konsumsi, kita malah berlarian ke arah tersebut. Tiga benua dengan berapa ratus negara didalamnya, mempertaruhkan dengan merusak kita satu negara dengan sistem mengasyikan mengenai kebebasan ekspresi.
Pandangan kelas sosial tidak menjamin bahwa kemerdekaan ialah bebas berkendara, serta kentalnya kita sebagai negara budaya Timur yang kental beragama. Jika konsisten, taksi sepedah saja lah, itu hal mahal jika konsistensi. Seperti hal nya Inggris, taksi sepedah kendaraan kampanye personal mereka masing-masing individu, dibalik memang konstruksi wilayah yang sudah memadai. Tetapi ya itulah, ada perlu banyak untuk berkampanye menjalankan sehat tanpa berkendara. Mengapa saya menuliskan mahal, yah jelas saja mahal, negara ini masih menyimpan banyak rahasia sampai kendaraan tidak bermesin, seperti sepedah itupun dapat menjadi goresan cerita mahal di negeri ini. Yang menggambari Indonesia kala pra-sejarah terdahulu, dan sampai saat ini sama seperti Vespa. Mereka memiliki raga tersendiri bagi para pecinta penulis sejarahnya.
Dibalik itu semua, keunggulan, dan keutamaan alat-alat Eropa dibuat untuk daya tahan dari tahun ke tahun. Jika pabrikan Asia, tahun ke tahun untuk pemanfaatan keuntungan. Sepertinya, memang penciptaannya dibuat simpel, dan tidak merepotkan, justru menambah tingkat kemalasan bagi para pemiliknya. Namun sisi lainnya secara jelas, sumber daya alam pun kian tergerus. Bahan bakar alam pun terus kekuras tiap tahunnya. Tetapi yasudahlah sudah terjadi, saya pun kurang mengerti lah apa yang terjadi dengan sistem politik dunia. Anggaplah memang negara ini surga bagi mereka yang juga perlu untuk saling hidup, demi rantai pangan. Tetapi jika kita pelit dari sedahulu, matilah kau penjajah dagang. Dimana, gambaran daya, dan upaya yang sedang berlangsung kini ialah, justru mematikan daya usaha masyarakat Indonesia. Dimana mereka memparuh hasil kerja, dan usaha hanya untuk memiliki kebahagian berupa “kendaraan” ?. Yang dimana para pemilik modal di negeri ini kian kaya, pekerjanya kian semerawut, pelit terhadap sekitar saudaranya. Kemudian jika strategi itu terjalankan dikemudian hari karena kita belajar, pemanfaatan itu semua pun bisa mengancam layaknya kematian besar negara investor, dari beberapa pasang usaha, dan lapangan pekerjaan diharapkan bisa diganti dengan usaha mandiri anak negeri. Jika kita keluar menawarkan suatu yang mereka juga tidak miliki, namun mereka butuh untuk di konsumsi.
Saya terus memahami, serta mengajak pembaca untuk bersama larut mendalamkan permasalahan kapitalis ini, gaya hidup, dan cara pandang hedonism. Hingga pada akhirnya saya juga bisa berhenti oleh mana, daya juang iklan dalam budaya komunikasi yang menkonstruksi orang putih itu lebih menarik, ketimbang orang hitam. Atau isi otak ‘bule putih’ memang lebih cemerlang dalam hal ulik mengulik penemuan ? saya rasa tidak mengarah untuk larut tercebur terlalu dalam mengenai hal itu. Namun, ini demi urusan perut banyak orang. Karena seharusnya nilai jual tukar rupiah lebih diagungkan, ketimbang belanja luar, dan pemfokusan dollar mati dikemudian hari, bukan untuk diagungkan. Dan ini yang menjadi hal menarik bagi orang kulit hitam. Mampu menciptakan hal berpolitik murni menurut saya. Lihat lah beberapa totalitas musik hip-hop era 80an yang di pelopori kulit hitam.
Meski jelas, kedatangan kendaraan murah, atau kredit kendaraan menjadikannya awal modal, menjangkau berbagai daerah untuk menggapai ekonomi yang luas, serta lapangan kerja era digital. Namun, sampingkan itu dengan konteks yang berkembang kini, menjadikannya lautan sampah yang sewaktu menjadi ‘time bom’ tidak lagi memerlukan kendaraan itu semua, demi kelayakan alam semesta, dan menjaga keseimbangan bahan bakar.
Dalam gambaran yang bercerita di JSR X saja. Budaya Vespa yang masih terjalin begitu kental. Dimana dalam lable kelompok mereka berbondong pergi dalam acara “Lebarannya anak Vespa”. Namun yah ada yang beberapa independent, dan jika mengalami truble, masih ada pula yang rela menolongnya, untuk sekadar saling mendorong keinginan untuk memberi kebutuhan apa saja yang di butuhkan Vespa yang mengalami truble di jalan menuju Sentul.
Dari situ saja kita sudah belajar, mengenai budaya gotong royong, tolong menolong sesama umat. Meski saja untuk sebagian lable, budaya itu hanya seputaran kelompoknya ? Dan terlebih dari sini kita diajarkan untuk sama-sama menjalin kebersamaan untuk mencapai tujan yang sama, fokus yang sama tiba di acara dengan cara bersamaan.
Demokrasi Indonesia Dilema dan Saran Jalan Keluar Atasi Krisis
Jika mengintip sejarah, serta catatan revormasi, ataupun ini ialah salah satu bentuk pemikir elite, kemungkinan akan memiliki gambaran sebagai yang saya kutip dari harian Kompas – Sabtu 15, dan Minggu, 16 Juli 2000 dalam buku “Pekerjaan Rumah yang Terbengkalai, catatan 4 tahun Reformasi”, cukup lumayan membangun kita untuk menjelajahi dimensi waktu sekejap, ini lah tulisan elite, namun ada baiknya kita simak pengetahuan yang baik dari karya yang terbaik. Karena pemikiran ekstrem pun tidak bisa di anggap remeh temeh.
Dalam usaha menemukan tapak jalan yang sedekat mungkin kepada kebenaran untuk langkah-langkah pertama kita beranjak menuju ke Indonesia baru. Marilah kita sempatkan sejenak menyusur kembali pertumbuhan kebangsaan, dan kenegaraan kita ke masa lampau yang semoga tidak terlalu jauh. Kita mulai dengan sedikit menelusuri tumbuhnya konsep “Indonesia”. Sebenarnya, perkataan “Indoensia” adalah suatu peristilahan antropologi, bersama ‘Melanesia”, “Mikronesia”, dan “Polinesia”.
Mula-mula agaknya dimaksudkan sebagai designasi kawasan dengan ciri utama budaya Melayu, perkataan “Indonesia” kemudian “dipinjam” (atau “dibajak’?) untuk memberi designasi hanya kepada kawasan Hindu Belanda semata. Para pendiri negara kita dengan begitu menunjukan pandangan mereka yang jauh ke depan. Sebab dengan sebutan “Indonesia”, dan bukan “Hindia Belanda”, mereka mengedepankan konsep kemerdekaan, dan kedaulatan secara cukup dini. Ditambah lagi dengan berbagai wawasan tentang negara modern yang mereka serap melalui pendidikan Belanda, “Indonesia” melambangkan suatu imajinasi, angan-angan, dan cita-cita terbentuknya sebuah negara kebangsaan modern (modern nation state), yaitu suatu negara yang dibentuk, dan didirikan untuk semua anggota bangsa atau warga negara, bukan untuk kepentingan raja penguasa.
Dari sudut ini, negara kebangsaan adalah lawan negara kerajaan, khususnya kerajaan mutlak, atau monarki absolut dari zaman pramodern. Karena itu modern nation state merupakan konsistensi wawasan republicanism, suatu wawasan bahwa negara berkewajiban menciptakan kesejahteraan seluruh bangsa, suatu wawasan yang dikenal dalam khanzanah budaya Islam sebagai al-mashlahat al-ammah, “kebaikan umum”, untuk semua tanpa kecuali, dan tidak mengenal diskriminasi. Sebagai angan-angan, dan imajinasi, “Indonesia terwujud mula pertama dengan menjadikan agregat “Hindia Belanda” sebagai pangkal tolak.
Dalam kenyataan kerasnya, apa yang disebut “Hindia Belanda” adalah sekumpulan gugusan pulau-pulau besar-kecil yang jumlahnya mencapai belasan ribu, dengan penghuni yang terdiri dari berbagai pengelompokan etnis, bahasa, dan budaya yang sangat beraneka ragam. Oleh karena itu angan-angan tentang “Indonesia” memerlukan prasarana sosial-budaya yang mampu mempersatukan (bukan “menyatukan”) berbagai ragam etnis, bahasa, dan budaya itu, guna mendukung pelaksanaan ide dasarnya, yaitu terbentuknya modern nation state, negara kebangsaan modern, yang bercirikan egalitarianism, keadilan, kebebasan, dan keterbukaan. Para pelopor gagasan “Indonesia” menemukan pada bahasa Melayu ciri-ciri utama yang mereka khendaki tersebut. “Penemuan” yang terjadi (1928) itu sebenarnya bukanlah kejadian mendadak, dan mengherankan. Sebab sudah sejak berabad-abad bahasa Melayu telah menjadi lingua franca Asia Tenggara.
Bahasan yang prototipenya berkembang dari zaman Sriwijaya itu memiliki ciri-ciri budaya panai, yang egaliter, terbuka, dan yang dijiwai oleh semangat mobilitas tinggi ekonomi perdagangan daerah-daerah pantai seluruh Asia Tenggara. Karena itu gejala menunjukan bahwa penduduk daerah-daerah pantai umumnya bercakap dalam dua bahasa, Melayu, dan daerah, demikian mereka penghuni pulau-pulau kecil, lebih-lebih lagi pulau-pulau yang bernilai perdagangan tinggi, seperti Maluku. Maka penduduk Ambon, misalnya dari semua memang berbahasa Melayu, dan dapat digolongkan berbudaya Melayu, sedangkan penduduk daerah pedalaman, umumnya orang Jawa pedesaan misalnya, tidak berbahasa Melayu, betapapun tingginya peradaban mereka, dan seberapa pun dekatnya daerah mereka dari daerah asal bahasa Melayu.
Dari lingua franca warisan Sriwijaya, bahasa Melayu meningkat menjadi bahasa litter, bahasa buku, dan sastra, oleh Kesultanan Aceh. Dengan menggunakan fasilitas huruf Arab, sebagai bahasa liter bahasa Melayu mengalami pembakuan, dan pemantapan. (Saat itu huruf Arab untuk bahasa Melayu disebut huruf Jawi, karena bahasa Melayu itu sendiri Suci yang menamakan seluruh Asia Tenggara sebagai Jawa, dan penduduknya orang Jawi). Dari rintisan Kesultanan Aceh, bahasa Melayu berkembang lebih lanjut di kawasan-kawasan pada kedua sisi Selat Malaka baik sisi Sumatera maupun sisi Semenanjung. Puncak perkembangannya terjadi di Kesultanan Riaw, dilambangkan dalam karya Raja Ali Haji, seorang pujangga Bugis pindahan dari Sulawesi. Bahasa Melayu Riaw dijadikan standar bahasa persatuan Indonesia yang diangan-angankan, yang kelak disebut Bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia inilah prasarana sosial-budaya paling utama untuk mendukung pembentukan modern nation state “Indonesia”, selain prasarana kewilayahan geografis sebagai kelanjutan Hindia Belanda. Dalam usaha memberi wujud nyata wawasan sosial-politik “Indonesia” itu, dari berbagai bukti dapat diketahui bahwa para bapak pendiri negara sangat terkesan oleh ide-ide yang berkembang di Amerika Serikat melalui tokoh-tokoh besar seperti Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, dan Franklin Delano Roosevelt. Lebih-lebih Roosevelt dengan visi New Deal-nya, dan dengan agenda politik kepentingan Amerika untuk menyudahi kolonialisme, dan imperalisme dari muka bumi lalu membangun kembali dunia setelah perang dunia kedua selesai.
Meskipun tidak sempurna, para pendiri negara kita ingin meniru model Amerika itu. Banyak segi sistem Amerika yang ditinggalkan, tetapi unsur paling utama, yaitu penjabaran ide-ide dasar kenegaraan sebagai titik temu (common platform) semua unsur bangsa, sistem pemerintah pressidensial periodic, dan bahkan motto kenegaraan, mereka tiru, dan ambil alih. Ide-ide dasar kenegaraan mereka tuangkan dalam suatu dokumen yang sekarang menjadi Mukadimah UUD 45 (sebanding dengan Deklarasi Kemerdekaan Amerika), sistem pemerintah presidensial periodic sedikit mereka ubah dari empat tahun menjadi lima tahun, dan motto kenegaraan yang amat fundamental, yaitu E Pluribus Unum mengilhami digunakan ungkapan Sanskerta, Bhineka Tunggal Ika. Kedua motto itu menunjuk kepada pengertian yang amat penting, yaitu “persatuan dalam peradaban” (unity in diversity), dengan kandungan makna toleransi, pluralisme, dan inklusifisme.
Sekalipun menghasilkan sebuah tiruan tidak sempurna, namun Indonesia adalah negara pertama di dunia yang ingin menerapkan model Amerika, yang kemudian disusul oleh yang lain-lain, Filipina, Taiwan, dan Korea Selatan. Para bapak pendiri negara, dipelopori oleh Bung Karno, mencoba mewujudkan cita-cita modern nation state Indonesia tersebut segera setelah proklamasi kemerdekaan. Terapi mereka segera terbentur kepada kenyataan belum tersedianya prasarana sosial-budaya pada bangsa kita guna mendukung ide-ide negara modern itu. Rentetan coba-salah yang mereka lakukan akhirnya berujung pada malapetaka politik 1965, hanya 20 tahun setelah proklamasi. Sejalan dengan logika urutan perkembangan sosial-politik yang terjadi saat itu, militer mengambil alih kepemimpinan, di bawah naungan Pak Harto. Mereka menamakan masa kekuasaan mereka “Orde Baru”, sambil menyebut masa sebelumnya “Orde Lama.” Dengan menggunakan suatu gabungan hampir sempurna antara hierakisme kemasyarakatan Jawa (feodal), dan garis komando linear militer, Pak Harto berhasil banyak sekali dalam usahanya mengatasi persoalan bangsa, dan negara, dengan cara yang sangat efisien, dan efektif. Namun, akhirnya ternyata, setelah sekitar dua dasawarsa kepemimpinannya, Pak Harto menunjukan rendahnya pengertian tentang wawasan modern nation state, dan banyak melakukan tindakan yang dalam ukuran wawasan itu merupakan skandal besar. Dan dalam pola kepemimpinannya, Pak Harto harus menabrak langsung ide-ide modern nation state, khususnya hak-hak asasi, dan kebebasan asasi.
Setelah 32 tahun Pak Harto harus meninggalkan kursi kepresidenannya in disgrace secara amat memilukan. Kehidupan Pak Harto, dan keluarga yang sangat stigmatis bukan alang-kepalang itu masih berlanjut sampai saat ini suatu pelajaran yang bukan main mahalnya bagi seorang pemimpin negara. Jangka waktu pendek kepresidenannya Pak Habibie jelas tidak terlalu ideal, karena cap buruk padanya sebagai anak emas Pak Harto yang manja, dan dimanjakan. Kepresidenannya ditandai dengan kesulitan besar usaha menyesuaikan diri kepada perkembangan yang terjadi mendadak-sontak, yaitu reformis. 52
Saya tertarik pada penyair dunia Kahil Gibran (1883-1931) yang menggambarkan Seni Bangsa-Bangsa, dan dia mengekspresikannya:
Seni Bangsa-Bangsa.
Seni bangsa Mesir ada dalam okultisme Seni bangsa Kaldean ada dalam ilmu hitung Seni bangsa Yunani ada dalam tatanan Seni bangsa Romawi ada dalam gema Seni bangsa Cina terkandung dalam etika Seni orang-orang Hindu ada dalam pengukuran kebaikan & kejahatan Seni bangsa Yahudi ada dalam rasa malapetaka Seni bangsa Arab ada dalam kenang-kenangan & melebih-lebihkan Seni bangsa Persia ada dalam kenyinyiran Seni bangsa Perancis ada dalam keindahan Seni bangsa Inggris ada dalam analisis, & pembenaran diri Seni bangsa Spanyol ada dalam fanatisme Seni bangsa Italia ada dalam kecantikan Seni bangsa Jerman ada dalam ambisi Seni bangsa Rusia ada dalam kesedihan
Lalu dimana terletak seni bangsa kita INDONESIA? Masih merupakan teka teki yang sedang kita coba di sini, dan sekarang, sebagai kaum modernis. Kaum yang dikutuk untuk gaya berekspresi, dan cerdas seharusnya dalam analisis serta fanatisme dalam berbagai hal. Mari kita ciptakan budaya yang meledakkan antero dunia. Meski tulisan dalam buku ini ialah gambaran suatu pandangan yang masih berfase timbang menimbang, ini ialah suatu gerakan dimana, saya hanya seorang scooterist, ini upaya saya menyatukan lambang tali persaudaraan kami dalam bervespa. Mungkin dengan ini, kita memiliki budaya saling percaya tegur sapa dalam budaya memelihara. Tahan itu semua, sampai mereka diluar negeri ini menginginkan hal yang menurut kita kecil, tetapi besar untuk kita. Kita paham betul cara menciptakan suatu karya yang bersifat kuat, tahan lama, berkualitas serta memiliki nilai jual mahal, kita paham betul bahwa kita ini semut pekerja yang dengan niat serta gigih bisa melewati berbagai tantangan besar, dan kita paham betul kita terus dijajah, mari kita pukul mundur mereka. Ciptakan keadilan lewat tali persaudaraan. Lakukan di sini, dan sekarang!, di sini, dan sekarang!, di sini, dan sekarang!.
Jika kembali lagi memfokuskan, apa suatu keinginan tersebut. Saya menggambarkan pola yang memang berkonsekuensi tinggi serta usaha menyamaratakan kaum elite dengan kaum madani. Jika elite tidak bisa keluar dari pola hidup yang terbilang sifatnya setara menyamaratakan dengan pemikiran buas politiknya, lantas kaum madani ialah kaum yang meramaikan sejahteranya demokrasi negeri ini, dan berusaha untuk ingin menjadi kaum elite dengan pemikiran elite. Bagaimana ini dimaksudkan dalam penyatuan, terasa mustahil bukan jika ketika bicara moda trasportasi saja, tidak dalam perspektif yang meluas dari permasalahan ekonomi serta lain-lain.
Ketika berbicara semua bangga berkendara, semua butuh kendaraan, dengan genre masing-masing kegemarannya mengendarai kendaraan. Saya gemar dengan Vespa tua, diluar sana mungkin ada yang gemar kendaraan praktis maticnya, dilain genre ada yang gemar motor bebek dengan iklan irit bahan bakarnya, dilain lagi sporty, moge sampai kendaraan roda empat mulai dari kelas norak hingga ala-ala artis hollywod dua pintu. Tetapi sudah lah ikhlaskan itu semua coba berani berangkutan umum ?, Berani tidak kalian berangkutan umum. Satu menyatu bersama berklumpul. Jawabannya gengsi, merepotkan, sumpek, bejubal dengan berbagai orang, dan jauh dari nyata, pasti sulit, serta sabar dari era moda trasnportasi memadai, untuk yang sudah terbiasa bersyukurlah. Dengan kata terdekat mengenai dampak pemutuskan rezeki pertama supir pribadi, kemudian bisnis usaha bengkel kecil, karena semua berangkutan umum.
Menimbulkan kriminal di awal pendekatannya, tetapi sepertinya bisa yah untuk menjadi besar pasti akan terjalin, dan diminta kerjasamanya untuk semua aspek agar sama-sama menolong negara. Karena gambarannya, semua akan, dan harus bekerja, dimana lapangan kerja harus berlimpah ruah, menjadi tanggung jawab kepala, dan pemerintah negara. Toko usaha yang kita ketahui saat ini lekas berganti dengan toko milik warga negara Indonesia, gedung yang terisi oleh label perusahaan asing harus penuh dengan perusahaan Indoneisa, agar jelas ini perusahaan Indonesia, yang bekerja pun rakyat Indonesia. Bank tabungan berbangga dengan tabungan milik perusahaan Indonesia.
Dua tahun lebih, ternyata tepat di tulisan ini, yang sedang kalian baca, tengah dituliskan lagi. Wow, mulai dari mana yah… sesuai sekali, tema yang tertulis di atas, memungkinkan saya pergi bermain, kemudian, kembali menuliskan apa yang seharusnya saya ingin tuntaskan dalam KPPG. Dalam list sebelumnya, saya ingin menuliskan bahwa di bab ini, saya pergi dalam acara JSR X bersama siapa saya menjalaninya, polemik apa saja yang saya asumsikan. Ternyata tulisan ini sempat terhenti. The End……
Ternyata belum The End. Seperti kasusnya film “tersanjung” yang tak usai usai pada masanya. Hampir puluhan seri di tayangkan stasuin televisi, merubah polemik pemikiran banyak khalayak yang menontonnya. Tagar Indonesia galau…
Oke kembali lagi di frekuensi, Vespa nya, kembali lagi dimasa kaum pekerjanya. Di tahun yang sudah terlewati ini. Saya Alhamdulillah sudah lulus, dan menjadi Sarjana Komunikasi. Terlewatkan juga acara tahunan JSR XI di Jonggol, Jawa Barat. Sudah 2 Vespa berlalu ceritanya akan kita sajikan secara bertahap, berlalu pula, PX Siput, Excel Gading, dan Super Vebi. Sampai di acara Bandung JSR XII, Alhamdulilah pula juga saya ikut turut serta, dan kembali menemukan polemik, pada diri sendiri. Nanti yah ini akan kita tuntaskan. Seiring cerita Siputih ini berjalan masih panjang kutuliskan dalam catatan. Namun, terasa keinginan ini hancur pada bait ini. Dikarenakan gambaran singkat mengenai Siputih ada lagi, Gading, dan Sivebi. Dari Siputih 2013 lah yang mengajak saya untuk bisa berkreatifitas seperti sekarang ini, mungkin bisa mendapat sedikit rezeki lantunan doa, harapan demi kebaikan bersama.
Tepat, dimana era kini kian maju, merambah membaik negeri ini terlihatnya, dan tepat bait demi bait ini tertulis, tanggalnya dirahasiakan, tetapi di gambarakan dua hari kedepan ialah pemilihan umum Indonesia 2019, akan di jalankan oleh pemerintahan siapa 4 tahun mendatang ? Yang jelas dua tahun lebih warna warni pengalaman saya. Saya bertahan, nahan mules, belum juga tertuliskan. Kredibilitasnya pun sangat diragukan, atau pun sangat dinanti, dibenci, atau pun dimaki. Tetapi selalu saya tuliskan, ini bentuk toleransi bahkan lahir dari dasar pemikiran banyak orang yang saya temui selama beberapa tahun ini. Bahkan penafsiran yang lahir dari selangkangan ini dikhawatirkan berantakan, dan sempat keluar jalur, karena benar-benar total perjalanan mengenai fase dewasa. Bekerja terus, bekerja entah apa yang di pikir saya. Oleh karena itu, mari luruskan, saya tuntaskan Siput 2013.
Bab ingin bermain ini, seperti “out of space” keluar dari mana kebiasaan yang terbilang biasa tetapi tidak biasa, nah. Saya pun seperti lengah, dua tahun lebih, obsesi menuliskan buku ini, hampir-hampir tidur lama, dan pulas. Mimpi kalian bagaimana indah, atau gelap, dan buas ?. Dimana tahun-tahun yang amat krusial mengharuskan tulisan ini dituntaskan. Karena jalan hidup nya hampir kelabu, dan mungkin tulisan ini, saya lah kirinya. Kutipan lirik lagu “Bahaya Komunis” Jason Ranti . Sejenak terlintas, inilah akhir peradaban, pas ngobrol sama Thanos. Kiamat oh kiamat… galaksi kian tiba-tiba dihadang…. oh nyatanya masih hidup… Thanos yang mati. Oke syipppp…
Film membudaya, film murahan, film yang di nanti di tunggu khalayak, dan sutradara Amerika selalu saja mampu menumpukkan bejubal orang banyak dibelahan dunia ini, seakan dialah Tuhan skema dunia ini. Bagiku, para penggila-penggila Vespa Indonesia yang selalu memperhatikan kondisi tunggangan tercintanya. Vespa itu bukan kendaraan, Vespa adalah jati diri pemiliknya, belahan jiwa, sekaligus separuh napas dari dari dari, dari mana entahlah karena tuanya kuda besi ini. Tolong rawat mereka baik-baik sebagaimana mereka menjagamu dalam setiap perjalanan indahmu. Selamatkan Vespa dari belahan bumi Indonesia, jangan buang mereka karena mata uang atau apapun, karena mereka adalah sejarah. Meski kini, dan ini adalah bagian dari saya juga yang bisa jadi tidak konsistennya berdampak pada melambungnya harga Vespa. Sampai dimana, tinggal tulisan ini yang tersisa. Bahwa saya hanya punya cerita di Vespa. Hingga sampai akhirnya, postingan di Instagram “Tidak Dijual Takut Kaya”. Vespa saya entah ke mana. Bantu doakan saya menemukan anak-anak saya kembali yang telah terjual, demi kerasnya bertahan di ibu kota.
Angkutan berbasis onlinenya, dan kemajuan peradaban, pemberdayaan pemerintah dengan serius mempermudah akses kalian ingin berkeinginan, bukan kalian ingin menyombongkan apa yang dipunya justru malah membantu mereka yang ingin berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya dengan berangkutan berbasis online ini. Yang dimana ini juga terlihat membantu perekonomian. Saya terlihat cukup nyaman. Nyaman dengan galaunya tidak memiliki kendaraan apapun. Nyaman dengan fasilitas yang hampir-hampir terjalin sempurna mimpinya. Karena memang Indonesia harus dibinasakan, dirapihkan, dimudahkan.
Kini, di tulisan bait ini sedang tertulis, era dimana pabrikan jepangan mulai masuk kembali, berdimensi bahwasanya kendaraan mereka dibuat untuk awet, dan tahan lama bisa seenaknya dipecut ke manapun kalian akan diantarnya. Film berbudaya, mulut berbudaya, pabrikan jepang maju dengan antik, dan klassiknya. Saya hampir tertarik namun, tidak pada jatuh hati. Balasan komen dari atas, “okelah… tidak terlalu buruk pabrikan Jepangan”.
Tetap yang akan ada dibenak pikiran saya. Kian hari kian maju orangnya, maju negaranya. Orang-orang kini dengan mudah mengakses apa saja yang mereka inginkan, alat apa yang memadai agar dagangan mereka bisa pindah tangan kepada para pembelinya. Very Good, #jualginjal siapa yah yang mau pesan ? rasanya pasti ada saja. Yah bagaimana tidak, finnish mereka hidup kan di dunia. Berbanding balik dengan yang memfokuskan akan ada kehidupan di akhirat. Tidak mudah menjual untuk urusan kebahagiaan, namun keras pada usaha, dan berusaha untuk satu tujuan fokus yakni makan.
Dan bicara cinta, lagi-lagi cinta, cinta cintaan, mulu-mulu cinta. Jangan jangan pembaca yang sudah sampai bab ini, ialah orang yang nikah dengan Vespanya kali yah. haha… jangan nanti assetnya ledes *18tahun keatas. Namanya Kuya, semoga dia menjadi pribadi yang lebih baik dari doa saya kala itu, “untuk apa saya ditemani, saya jauh lebih bersahabat berteman dengan benda mati”… Kuya, ialah orang yang pertama mengisi barisan bangku belakang, dengan jarak terjauh, yakni Sentul. Ialah Sentul Bogor Jawa Barat, jangan jauh-jauh belum syahhhh… Sisa touring terjauh pastinya dengan batangan semua, rambutnya saja yang gondrong, serasa mereka teman rasa pacar, kalau berangkat dengan tujuan “satu vespa berjuta saudara”.
Kuya orang yang yah mungkin bisa terbilang bisa diajak bertukar pikiran berupa dari rasa, bukan dari gaya berbicaranya. Modus awal saya ialah dengan cara bermain, berbalut dosa-dosa yang terjalin berjalan dengan nya bersamanya, intinya memang lebih baik ke Vespa, pada masa kini “relationship with Vespa” udah paling the best. Karena dengan kalian merawatnya kini jualnya sesuai dengan merawatnya. Meski yah, okelah… perjalanan ini diseponsori oleh Kuya.
Berangkat di day 2, JSR X Sentul, Bogor. Pada saat itu masih dengan Siput pastinya. Dimana seperti biasa, lebarannya anak Vespa, dijalanan, kemudian pemberitaan media ramai berantusias dengan kabar Vespa. Saya kebetulan berangkat Minggu pagi. Terasa sangat kental dipenuhi para pecinta Vespa. Perasanaan suasana di sana tergambar dari layar flatorn, televisi maupun smartphone. Berbagai belahan lokal maupun Internasional sudah berkumpul di sana, sesuai apa yang di sajikan media. Ada yang berangkat pada hari yang sama, ada pula yang pulang. Ini menurutku, liburan yang sangat berarti. Mengapa ? Berbeda sekali dengan kalian yang hidupnya sibuk berangkat, sibuk pulang, kenikmatan hanya di jalan, usai tiba di tujuan, kalian lupa arah, dan tujuan. Liburan JSR X ini sangatlah menyenangkan, pergi, berangat, dan sesampai tujuan Alhamdulilllah banyak silaturahminya, meski yah, mereka selalu bilang “mengapa gak konfoi bareng”, saya hanya gumam, dan menjawab dalam hati “Yes Im Independent Scooterist”.
Intinya jalan arah menuju Sikuit Sentul tersebut, sangat penuh hiruk pikuk Vespa tua yang berlaga. Meski begitu, jalanan aman, dan lancar. Terlebih lagi kendaraan tua kami ini lah, terlihat nyata populasinya. Jauh berbanding dengan ramainya kendaraan era baru kini, yang kian lahir terus terus terus menggerus sempit laju gerak. Keberangkatan, dan kepulangan bertahan di angka 4000 unit kala itu di hari Sabtu, dan Minggu memadati area parkir Ciruit Sentul, Bogor.
Bercerita perjalanan yang penuh akan jawaban ke kosongan Kuya. Ketidak tahuan pengisi jok belakang, terhadap banyaknya, lontaran pertanyaan dari pemuda liar seperti saya. Liar dimasa mengingat kembali cerita masa kecil dahulu, proses sosial kehidupan, liar karena banyak materi, dan buku yang baru digemari untuk dibahas, dan bermimpi agar tulisan ini digemari banyak orang. Tepat kini dituliskan, dimana frequensi dimainkan oleh khalayak, dimana semisal musik sudah penuh diputar, dan ragamnya banyak mewarnai, disitu pula lah masing-masing telinga menemukan kecocokan, musik apa yang akan dia dengarkan. Penggambarannya kini seperti musik itu sendiri. Musik religi, rock, pop, metal, hingga satanis bla bla bla semua kian terputar berbarengan kini. Jadi era zaman kita ini, khususnya Indonesia, atau bicara Vespanya akan sangat berkaitan dengan apa yang saya temukan beberapa tahun lalu mengisi JSR X. Perjalanan menuju Sentul itulah, banyak sekali warna yang saya rasakan. Dan ini hampir berbarengan dengan menyusun kesesuaian dari pemikiran yang lahir dari pemuda lndonesia gagal semacam saya.
Semacam kiamat kecil, dan kiamat itu pasti, dalam agama yang saya percayai. Semakin tumbuh besar, semakin butuh kalian dengan Agama. Oleh karena itu, kalian ini semacam playlist, keinginannya sesuai kebutuhan hati. Tetapi percayalah mengapa harus beriman kepada waktu bukan pada agama. Jika kalian berkaca raut wajah kalian tidak muda lagi, kalian baru beriman. Meski kadang kita paham waktu itu tidak mengajari kita kapan dia berhenti. Waktu itu terus menggoreskan perjalannya, meski perlahan detik-detik kian pasti jalannya. Banyak ragam warna, bagaimana cara menyatukannya, semisal kita ini pula lah barang yang diwariskan para manuisa - manusia suci terdahulu, menggapa kita melanjutkan unsur kejahatan dimasa depan. Bumi kian tidak terawat, orang-orang berebut menjadi terdepan, banyak menemukan ragam inovasi mutakhir, yang semestinya, dan sejatiinya, hanya membuat manusia malas serta manusia itu sendiri akan terbunuh perlahan dengan apa yang dia simak, baca, gambar, hingga dia tiriu, mirip perjalanan Siput dahulu dieluh eluhkan, karena tidak ada kendaraan lain selain Siput. Saya bisa merawatnya, saya mengisi waktu luang dengannya, saya mampu membenarkannya meski dia rusak parah, tetapi mengapa dia harus saya jual ??? Mari doakan saya, Eko Prasetio Pratama, maafkan jika ini sudah keterlaluan, doakan saya, lanjutkan tulisan ini dengan baik, dan cermat. Masih berlanjut, dan simak bait demi bait lainnya. Kemungkinan didepan ialah rasa yang sama yang pernah kalian juga alami. Namun berbeda pembawaan, dalam berkelangsungan mencari kebahagian.
Narasi Dan Terapi
Kalau proses narasi membuat kita melihat masa lampau sebagai sesuatu yang lebih dapat diramalkan, lebih dapat diharapkan, dan tidak seberapa acak dari pada yang sesungguhnya, itu berarti kita harus bisa membuatnya berlaku bagi kita sebagai terapi untuk menyembuhkan beberapa sengatan keacakan.
Misalkan ada peristiwa tidak menyenangkan, contohnya sebuah kecelakaan yang membuat kalian merasa bertanggung jawab secara tidak langsung, membuat kalian terus menerus bersalah. Kalian akan tersiksa oleh pikiran bahwa kalian seharusnya dapat menghindari kecelakaan tersebut. Pikiran kalian terus memainkan skenario-skenario alternatif yang merupakan cabang sebuah pohon utama: andai kalian tidak bangun terlambat tiga menit dibanding sebelumnya, kalian akan bisa menghindari kecelakaan mobil itu. Kalian sama sekali tidak bermaksud mencederai penumpang kalian, tetapi pikiran kalian terus dihantui oleh penyesalan, dan rasa bersalah. Orang yang punya profesi dengan keacakan yang tinggi (misalnya pedagang di pasar modal) berpeluang menderita efek beracun dari kebiasaan menengok ke belakang ini lebih dari semestinya: “Seharusnya aku sudah menjual portofolioku sewaktu harga masih tinggi; seharusnya aku membeli saham itu bertahun tahun yang lalu sewaktu masih murah, maka sekarang akan telah mengendarai mobil warna pink; dan sebagainya.” Apabila kalian seorang professional, kalian dapat merasakan bahwa kalian gagal melakukan sesuatu yang setara dengan membeli nomor kupon lotre pemenang bagi para insvestor kalian, dan merasa perlu meminta maaf atas “kecerobohan” strategi investasi kalian ( yakni yang tampak ceroboh setelah direnungkan).
Bagaimana kalian dapat mengenyahkan gangguan-gangguan yang terus menerus seperti itu ? Jangan mencoba sengaja tidak memikirkannya: itu justru akan berakibat sebaliknya. Solusi yang lebih tepat adalah berbuat seolah olah kejadian itu dapat dihindari. Hei, sudah takdirnya demikiran, buat apa menangisinya. Bagaimana kalian dapat berbuat demikian ? Sesungguhnya dengan sebuah narasi. Pasien yang menyediakan waktu 15 menit tiap hari untuk setiap hari untuk menuliskan kesulitan kesulitannya sehari-hari sungguh merasa lebih baik tentang nasib yang merundungnya. Kalian merasa tidak terlalu bersalah karena telah tidak menghindari kejadian tertentu; kalian merasa kurang bertanggung jawab atas kejadian itu. Segala sesuatu tampak seolah olah sudah seharusnya begitu.
Apabila kalian bekerja dalam sebuah profesi yang sarat dengan keacakan, sebagaimana akan kita lihat, kalian akan berpeluang menderita rasa bersalah akibat terus menerus menilai kembali langkah-langkah yang sudah lewat berdasarkan yang kemudian kalian kerjakan. Menulis buku harian adalah cara paling baik dalam mengatasi situasi ini.
Pertimbangan dimulai, saat pagi hari bersiap diri menjemput Kuya. Seperti yang dituliskan di atas, yah dibalik kesiapan saya dalam perjalanan singkat ini, seperti biasa, Kuya lebih memilih saya menunggu beberapa saat untuk mengisi bangku kosong, “ Kuy sudah didepan Kost”. Pada saat itu, dirinya ialah mahasiswi juga satu kampus dengan saya, hanya saja berbeda fakultas. Kata jawaban “tunggu” menjadi jawaban laris manis setiap keberangkatan ke manapun kapanpun, entahlah wanita. Waktu itu pukul menunjukan jam 08:00 di hari ke 2, Minggu on the way JSR X Sentul, Bogor. Dimana hari tenang jalanan ibukota, namun sedikit banyak lalu lalang orang saja di jalan yang membuat, tidak perlu kebut-kebutan di jalan, dan banyaknya pedagang mengisi ramainya hari minggu pagi. Kata kalimat sosial, dan pertata usahaan, keduanya menjadi usaha perbincangan awal yakni merambah dalam nilai tukar menukar bahan pemikiran tersebut menjadi bahasan obrolan bersama. Tetapi, ternyata percuma, Kuya hanya pengisi bangku saja biar tak sepi, dan lebih bagus suara Siput yang meramaikan suasana pagi, serta sejuknya angin yang lebih menghibur perasaan. Karena Kuya hanya diam, nyimak nontonin ocehan saya, dan Siput, kurang tahu kalau pikiran imajinasinya dimana, kemana, yang dia tahu hanyalah senyum lebar, ikut acara event tahunan Vespa, senangnya hanya semacam itu, kurang tahu pemikiran lainnya. Jadi, yah pembahasan perjalanan ingin bermain ya tidak terjauh dari lahirnya pemikiran ingin membahas sosial, dan perdagangan yang akan dituliskan.
Pagi yang terasa amat sangat berbeda, yang seharusnya istirahat dihari yang kosong ini, atau diluangkan waktunya untuk berolah raga. Ini mementingkan berdandan rapi, berpergian, bertujuan meramaikan acara lebaran Vespa. Terlintas dibenak pikiran, “memang ada apa sih ?”. Pada masa tersebut, pemikiran bermain ini bukan sekadar melihat suatu lautan pameran Vespa yang berjejer megah dengan beralasan ratus ratusan cerita didalam perjalanannya, apa lagi bagi kalian yang pada saat itu berfantasi yang sedemikan rupanya tergambarkan. Tetapi saya melihat ini sebuah fenomena. Dimana gagasan ini lahir dari kalian para pemilik sekaligus asset pemelihara, yang dimana baiklah asset tersebut sudah terbilang jauh dari kata orisinal, karena sudah banyak campur tangan di dalamnya agar Vespa ini masih bisa berlaga dijalan. Namun, ini masih banyak kemungkinan, bagi penerus generasi, bahwa Vespa ini masih berbentuk sedemikian rupa, ditambah budaya yang membudaya, dan meskipun seperti di atas saya akhirnya banyak bertemu rindu dengan teman-teman yang lain, yang juga pergi dalam memeriahkan acara JSR X.
Dari pemikiran di atas, lahirlah pertimbangan, akankah Vespa kedepannya masih bisa berlaga di jalan ? Akankah Vespa ini, orang orang di dalamnya masih bisa mempertahankan budayanya ?
Jauh dari pemikiran landasan, Vespa itu jelas masih bisa berlaga. Tetapi dengan era kini, mari berhenti sejenak memikirkan lingkungan budayanya saja, yang terdapat dari sebuah Vespa. Ini pembelajaran yang terbentuk dari pengalaman diri saya berbicara hobi saya diluar Vespanya, yakni selain menulis seperti ini, dan mengkoleksi rilisan fisik berupa kaset pita, dan piringan hitam. Indonesia sangatlah megah akan budaya luarnya, Indonesia megah akan pasar bebasnya, Indonesia pula lah yang istilahnya terkena imbasnya dari peradaban liberal tersebut. Bicara liberal, atau yakni sistem kebebasan. Kini saya akan mengangkat sedikit berbicara mengenai musik yah sebagai penyama ratakan rasa dalam ragam hobi. Karena tidak dipungkiri yang membaca tidak harus paham Vespa saja. Barang benda lain pun yang bisa kalian tuliskan, dan digagaskan dengan bijaksana, akan menghasilkan suatu pola paham bagi para pencintanya. Yang dimana ini juga bagian dari hobi saya juga. Yang masih saya simpan, dan ada beberapa bagian menjadi tolak modal usaha untuk menyambung gambaran kebahagiaan, usai 2 tahun menghentikan penulisan.
Pada masa era Ir. Soekarno. Indonesia masih terbilang minim, informasi berita luar, serta pembelian asset barang semisal, barang barang produksi hasil karya ciptaan manusia yakni kerajinan ataupun inovasi muktahir dari masyarakat Indonesia. Pada saat itu masih terbilang Indonesia terjaga, lain hal dengan bangsawan. Dan terlihat pula jelas, kaum-kaum mino, dan elite terlihat dari genre apa yang sudah dia kenakan, dia sudah konsumsi apa saja usai Kemerdekaan 45. Era permusikan pada saat itu terbilang masih amat sangat sulit tidak seperti sekarang era digital. Namun, anehnya anak dari mendiang presiden pertama kita Ir. Soekarno, yakni sebut lah nama Guruh Soekarnoputra dengan grup musik Gipsy. Meskipun hanya sempat merilis satu album, tetapi proyek kolaborasi tersebut, malah menjadi sangat penting peranannya. Band itu bernama “Guruh Gipsy”. Guruh Gipsy sudah bisa memainkan musik yang sebegitu canggihnya, dan juga bisa memproduksi rilisan fisik pada zaman usai kemerdekaan, kala itu. Rilisan fisik semacam Guruh Gipsy terlihat buah maha karya yang ternilai kecil, sekecil kalian bisa membeli Vespa yang pastinya lebih mahal dari membeli piringan hitam, atau pun kaset pita. Kini hal itu bisa menjadi nilai harga yang fantastis. Berarti pada masa itu ? kendaraan vs rilisan fisik ??? oh pastinya sangat berbeda jauh harga untuk memilikinya. Tetapi tolong, para pemilik Vespa, jika memiliki Vespa tidak keritis semacam saya ini. Boleh berhenti pada tulisan di sini. Karena terus membalikan pola warna, yang dimana dijaga dirawat, dibudaya, bicara kepemilikan bagi mereka-mereka yang ingin membelinya silakan ?, itu buah hasil menjaga.
Bicara nominal, sepertinya sudah memisahkan para elite, dan pemikiran elite. Yang sudah terkupas, bicara sebuah asset itu, sangat, dan harus diupayakan “selamatkan”. Namun ini menjadi pembicaraan terhebat lagi yang menjadi kesadaran diri kita, inilah kekayaan Indonesia dimasa mendatang.
Kemungkinan besar, capai yah bicara politik Indonesia, berbicara bhineka Indonesia apalagi bagian Indonesia Timur kita, kemudian negara-negara kemerdekaan tetangga kita, yang hampir kita pertahankan namun terlepas begitu saja. Mari kita membuat kemerdekaan Indonesia yang benar-benar berkualitas. Mari menjaga asset kepemilikan, yang dari mana proses rasa bersyukur melahirkan sebuah ide yang brilian. Dan harapan besar lagi, jangan terpecah belah lagi, tidak terlepas lagi, meski di depan mata menghalang seribu cobaan.
Bukan tidak mau di ungkapakan secara gambling, dan luas, tetapi mari ketuk rumah saya untuk membicarakan sekaligus bertukar pikiran, dari proses hasil pembuahan salah prasangka tersebut, banyak kemungkinannya tulisan ini yang saya buat amat sangat jauh dari rasa kebenaran. Mari kupas lagi, masih pada sebuah hobi saya yang lain yakni rilisan fisik. Contoh hal saja, dimana softcopy asli lagu Indonesia awal negara tercinta kita ini ??? dikutip, dan ditulis setelah melihat video di Youtube, berjudul “Indonesia Raya dalam Sejarah Vinyl”. Untuk dituliskan memang sangat kurang kredibel, namun kalian bisa melihat sendiri rakaman tersebut tersedia di kanal Youtube, yang kini dengan mudah mengakses pergi kesana untuk mengetahui informasi tersebut.
Singkat cerita, rekaman asli tersebut disinyalir kita negara ini atau pemerintah negara ini sama sekali tidak memiliki rekaman aslinya, entah ke mana pada saat, dan zaman tersebut, namun softcopy tersebut dimiliki seri copynya saja oleh perorangan yang bernama Bapak Tio, dirinya juga ialah penjaga asset sekaligus pemilik toko rilisan fisik. Dan tragedi terpentingnya, dalam contoh pemelihara aset yakni, kita ini mudah sekali, dan jauh sekali dari rasa untuk menyimpan serta merawat, kemungkinan besar banyak orang Indonesia, terpengaruh dari cara budaya membeli, namun usai dia membeli dia dinilai sudah cukup puas apa yang dia miliki, apa yang dia bisa sebar luaskan kepada khalayak untuk memuas rasa luapan emosi. Jika sudah memilikinya, serta sudah merusaknya, akan bertempat ke mana barang tersebut ? terbuang kah ? terabaikan kah ? rusak dimakan usia kah ?
Dari gambaran di atas akan menjawab pula nantinya, saya juga ialah bagian dari Indonesia. Bagian dimana saya juga dinilai sangat lalay pada masanya. Seperti dituliskan di atas, dan pastinya menjadi dasar landasan untuk menjadi bahan pikiran, bahwa penulis buku “Kaum Pekerja Punya Gaya” yang kalian baca ini, sang penulisnya ialah manusia terlabil yang baru kalian temui, serta banyak gaya.
Lanjut, pada Era zaman Orde baru, Indonesia menjadi negara yang dirasa, belum siap menerima sebuah peradaban dunia. Semua peradaban warna di telan mentah-mentah di negri ini. Sebut saja dalam musikal seperti The Beatles, Pink Floyd, Motorhead, dll banyak lagi, mereka ialah contoh peradaban bebas. Bebas apa ? Apa yang dimaksudkan dengan bebas tersebut ? yah, pada awalnya, Indonesia ini sudah memiliki ragam macam budaya, agama, suku bangsa, warna kulit serta bahasa. Mulailah mereka dicekoki warna-warna lain, yang menurutnya inilah budaya Barat, dan gedung putihnya. Kota yang sangat terasa kental menjadi berbudaya baratnya, atau pun ke barat baratnya pada kala itu, paling terasa menyerang Bandung. Bandung dengan tipikal musikalikal nya, fashionnya, dan cara koboynya mereka berkendara menggambarkan jelas kondisi kelas sosialnya.
Bandung, Jawa Barat pada saat itu menjadi buah bibir yang menjadikannya sebuah label yakni kota Paris Van Java. Hingga kini pahamlah kita dengan Bandung. Dari dahulu kala, kemudian kini, Bandung selalu melahirkan seniman senimannya, dalam mengangkat sebuah cerita, namun kalian harus pahami pula cerita yang mananya ? seniman yang mananya ? karena kebanyakan era mode zamannya tersebut banyak diwarnai kisah-kisah percintaan, selebihnya ialah emosional, oleh karena itu masyarakat Jawa Barat paham betul dengan Bandung lautan Api. Belum apa-apa sudah membakar sekitarnya.
Masih kepada pembahasan warna nya, yang akan kita simak juga, Siput, dan saya ini memelihara landasan suatu pemkiran apa ? Hingga pada bait ini masih menjadi semangat penulis, bicara, menuangkan ide, dan gagasan liar ini agar tercapainya, buku KPPG ini nantinya dikenal generasi mendatang.
Yah, masih dari asal muasal, era lengsernya Bapak kemerdekaan tercinta Ir. Soekarno, Indonesia selalu saja melahirkan musisi-musisi yang isi musiknya ini ialah jika tidak membahas berat “ lirik politik”, ya sudah pasti musik yang banyak didengar, dan mudah untuk diperjual belikan ialah musik cinta cintaan khas melayu. Tetapi cinta nya memang dimana ? dijual kah ? hehehe
Sebut saja pada zamannya, Kelompok Kampungan Mencari Tuhan, Koes Plus yang pada saat itu dari landasan pemikiran mereka yang dituliskan, dan dimainkan menjadi not-not irama musik yang kemungkinan besar lebih mudah untuk dicerna ketimbang beratus ratrus ceita yang dituliskan untuk dibaca. Contoh hal saja, dari zaman tersebut hingga kini, sebut saja yang kita kenal tipikal musik kini, Iwan Fals cukup mewarnai bahwasanya Indonesia pada saatnya itu hingga kini, masih mewarisi bahasan politik. Kemudian mulailah lahir, di era zamannya, Homicide, rapper yang cukup fenomenal, dimana rilisan fisiknya selalu laku terjual habis, namun untuk pementasan dirinya dianggap sama sekali tidak banyak terlihat mengisi suatu penas seni musik. Dan kemudian, anak dari mendiang Wiji Tukul, Fajar Merah bersama Cholil Efek Rumah Kaca, yang juga ikut meneruskan sajak sajak tajam Ayahnya untuk dikenalkan kepada generasi kini.
Sampai di sini loh. Indonesia. Titik ? Sepertinya yang tertinggal era pada masa itu ialah benar. Dimana cari makan di Indonesia harus berbau politik. Lihat saja terus politisi sekarang, terus di beritakan, meskipun tertangkap dalam berita yang dipenjara mewah, terus di siarkan di beritakan, sehingga timbul pola gambaran mengedukasi. Yang dengan saksama dinikmati, disebarluaskan, diulurkan penangkapannya, dan siksaannya. Menjadikannya buku bagi kita. Bahwa di Indonesia mencari uang harus berpolitik. Dimana pun itu berpolitik tanpa memikirkan sosial sekitar. Di sini yang dinilai gagal, dan yang lain nya pula jadi mengedukasi. Bahwa menarik rasanya menuliskan, dan menggagaskan aspek tulisan bagi sebagian orang, seperti lirik, gambar, dan segala macam karyanya berbau politik. Oleh karena itu, jauh akan label bahagia warga negara Indonesia ini dari Finlandia yang selalu menang, dengan nominasi negara terbahagia di dunia.
Masyarakat Madani
Dalam banyak konteks diskusi, terbentuknya masyarakat madani dikaitkan dengan kehadiran nyata dari kelas menengah yang mempengaruhi bahkan menahkodai, dan memotori proses demokratisasi suatu negara.
Mereka biasanya kumpulan yang tak begitu terorganisir dari para professional, intelektual, akademisi, pemuka agama, pelaku bisnis, mahasiswa, media masa, politik, tokoh LSM, dan pembentuk opini publik lainnya. Dalam banyak contoh, golongan aristocrat yang menginginkan perubahan juga kerap kali terlibat. Ingat saja Revolusi Prancis, dan juga Gerakan Boedi Oetomo di Indonesia. Banyak percobaan dilakukan, banyak pula kegagalan terjadi
Sejarah pergerakan nasional kita menunjukan bahwa pergerakan nasional di awal abad 20, sumpah pemuda, proklamasi 1945, pemilu bebas pada 1955, pergerakan awal Orde Baru, sekitar peristiwa Malari, dan reformasi sejak tahun 1998, merupakan gerakan kelas menengah Indonesia yang kehadirannya dari waktu ke waktu timbul tenggelam tanpa tradisi yang kuat.
Pada masa Orde Baru, kelas menengah Indonesia dianggap tidak ada, atau kalaupun ada dikecam sebagai bagian dari kemapanan yang menikmati hasil-hasil kecil. Kelas menengah menikmati peningkatan taraf hidup secara mengagumkan. Sementara mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan, struktur ekonomi yang rapuh, supremasi hidup di bawah garis kemiskinan, struktur ekonomi yang rapuh, supermasi hukum yang lemah, kehidupan politik yang direpresi, dan kehidupan sosial budaya serta pendidikan terus terdeteriorisasi.
Toh kelas menengah diam saja atau lemah tidak berkutik, dan mayoritasnya dengan banyaknya martir dari kalangan ini di masa itu, kelas menengah bisa dikatakan gagal memotori proses demokratiasasi, dan membentuk masyarakat madani karena semua kendali, dan inisiatif dipegang erat oleh penguasa yang represif.
Reformasi sejak tahun 1998 sedang diuji, kesungguhan maupun kelanjutannya. Jatuhnya Soeharto jelas kerja dari kelas menengah. Pemikiran intelektual, kalangan professional, tokoh LSM, akademisi, dan tokoh-tokoh masyarakat yang dipersepsi masih sedikit banyak mempengaruhi gerakan reformasi. Gerakan mahasiswa sangat mendorong banyak pihak untuk ikut mengakhiri kezaliman yang lama berkelanjutan.
Pembangkangan sipil sejumlah anggota kabinet, dan tekanan militer juga akhirnya menjadi salah satu unsur yang memaksa pergantian pemerintahan pada mei 1998 yang sangat fenomenal dalam sejarah Indonesia. Sekarang, mampukah golongan menengah kita melanjutkan reformasi, membentuk masyarakat madani, dan menjadi pengawas yang efektif agar negara tidak menjadi momok lagi, dan pemerintah tidak menjadi penguasa kejam lagi.
Masyarakat madani boleh saja menggantungkan nasib reformasi kepada lembaga-lembaga, dan badan-badan baru yang dibentuk untuk tujuan reformasi. Masyarakat madani bisa saja yang dibentuk untuk tujuan reformasi. Masyarakat madani bisa saja mempercayakan wakil wakilnya di parlemen untuk mempercepat, dan mengawal reformasi. Namun, kecendrungan yang terjadi sekarang ini sangat mencemaskan.
Pemerintahkan sekarang, atau siapapun juga penggantinya, kalaupun ini terjadi, tidak mempunyai kredibilitas tinggi untuk meneruskan reformasi di segala bidang, termasuk menegakkan supermasi hukum kehidupan sosial politik yang aman, dan damai.
Masyarakat madani mempunyai begitu banyak pilihan. Dalam prinsip masyarakat madani, negara, dan pemerintahan dibutuhkan untuk mengadministrasikan pengelolaan kepentingan publik, dan hajat hidup orang banyak. Negara, dan pemerintahan dibutuhkan untuk menegakan hukum, dan keadilan, serta sederet lain fungsi-fungsi negara, dan pemerintahan modern, demokratis, dan yang melaksanakan good governance.
Selebihnya semua merupakan bagian dari kehidupan masyarakat madani. Kalau pemerintah tidak mampu membantu, atau pemerintah berpaling muka dari urusan-urusan masyarakat madani, masyarakat madani tidak perlu banyak peduli. Mari kita urus diri kita sendiri. Kembangkan ekonomi kerakyatan, dan antar daerah. Awasi, dan diskusikan secara terbuka proses penuntutan, dan peradilan serta penentuan kebijakan publik. Awasi kinerja wakil-wakil kita di parlemen, dan minta pertangung jawaban mereka pada pemiliknya.
Didik sendiri anak-anak kita, dan masyarakat sekeliling kita sebagai tambahan pendidikan formal. Kembangkan adat istiadat lama untuk merembugkan semua perselisihan dalam masyarakat. Kembangkan teknologi dari skala rumah, indrustri kecil, dan kemitraan dengan indrustri besar.
Masih banyak lagi deretan dari kegiatan masyarakat madani. Kalau ini terjadi, negara, dan pemerintahan tidak lagi menjadi penting, dan tidak mengendali. Kita bisa hidup dengan kehidupan bersahaja, lebih tenang, dan tanpa beban, bebas dari gonjang ganjing elite politik, dan suasana caci memaki. 53
In het heden ligt het cerleden
In het nu wat komen zal,
Dalam masa sekarang kita mendapati masa lalu, dalam masa sekarang juga kita mendapati apa yang akan datang.
Historia docet!
Sejarah itu memberi pelajaran kepada kita! 54
Mungkin dahulu setelah 2 tahun tidak berjalan tulisan ini, dibalik memikirkan seputar kemajuan transpotasi dalam KPPG. Pada masanya, usai kuliah memikirkan bagaimana bekerja di media, kemudian seiring berjalan, bagaimana saya menjadi karyawan tetap dengan cara cita-cita menjadi kepala keluarga yang utuh untuk pelan berjalan menuju itu semua perlu mengumpulkannya pundi rezeki. Ternyata usai itu semua lulus, ternyata abstrak. Kini yang dipikirkan saya ialah masa depan yang akan sibuk dalam roda gengsi jiwa, dan raga para kaum pekerja seperti saya ini. Akankah masih dengan terus menerus bekerja ? akankah masih ada ratusan toga yang kecewa ? akankah pekerja terus di hatui dari masa PHK? Rasanya pendidikan mahal, tidak menjamin kreativitas suatu individu. Serta kemiskinan, kesetaraan juga belum tertentu membantu, terlebih jika individual tersebut tidak keluar dari permasalahannya sendiri, mengenai akan mengatur laju setir kehidupan untuk ke arah yang mana.
Kuliah menawarkan berbagai banyak kerancuan berpikir bahwasanya media kian terus berkembang. Ya jawabku memang ? ratusan kepala bertoga pun kian terus menerus bertambah tiap tahunnya. Dan ternayata, saya tidak memiliki nyali untuk bekerja di media, malah memilih sebuah kantor ecommers, sialan Satu. Ya, sialan, dengan datangnya dia kemajuannya, dan dia bebas menawarkan berbagai macam cara. Mulai dari moda transportasi online, dan jual beli barang online memang sangat dinilai memajukan kami juga para masyarakat yang ingin berbelanja maupun berpergian. Namun ini yang membuat saya khawatir, Vespa dengan tegur sapanya, kini dipatahkan oleh kelompok ojol “Bang, udah dapat berpa orderan”. Wuhhhhhh…. tanpa harus berlabel Vespa, kini semua mudah saling tegur sapa. Tetapi digaris bawahi, sangatlah berbeda fokus. Namun, Alhamdulillah sudah terjadi sedemikian rupa dengan baik. Bahwasanya kini orang sudah kian tergerak. Serta lapangan kerja yang sudah membaik, seiring demi menopang pemerintah melakukan kebijakan di depan akan bertindak laku apa, dari komunitas yang sudah bisa membentuk suatu yang dinamakan kumpulan ormas ini. Namun kembali, memfokuskan mengapa macet belum teratasi, dan kepulan asap merusak lapisan ozon yang terus saja, dan kian memburuk dari tahun ke tahun.
Baiklah, kembali menahkodainya untuk hari-hari kedepan. Kerja pun butuh bergaya. Kini, lihat saja saya dengan kendaraannya “gaya”, sepatunya “gaya”, label pakaiannya “gaya”, makan, makanan yang di snapgram ? “gaya”. Mampus lah saya, pekerja banyak gaya. Dibalik bos tidak merasakan saya yang bekerja mau die, bos hanya memikirkan keuntungan dari sistem kemajuan ini, sialan Dua.
Sebab sepertinya terlihat indah itu perlu. Kembali menengok, Siput saya memang dikutuk untuk gaya. Setiba nya di acara, makin sumringah Kuya melihat ramainya di sana. Kepulan asap ribuan Vespa menjadi seperti berada dalam surga nya Vespa mungkin yah, asap-asap begitu *lol… dilain masih dalam perjalan itu, JSR X, Sentul. Pikiran ditabrak tabrakan. Soktahu soktahu diadakan, bahaya mulai di padu padankan, saya khawatir butuh suster. Kuya mengiakan, semua kekacauan pikiran. Pada saat itu, saya melemparkan banyak pikiran, bahwasanya jika pemerintah kota, negara mengurangi kendaraan di jalan, stop sudah, entah apa persyaratannya mungkin satu rumah satu kendaraan, mungkin pembelian kendaraan disudahi, mungkin pula harga pajak lebih tinggi dari harga kendaraan tersebut, mungkin Vespa ini pasti harganya melangit malah menjadikannya juga mode barang yang dimiliki oleh orang kaum berduit lagi ?. Akan berdampak apa demi berkelangsungan hidup banyak orang. Jika, kemudian di suatu waktu itu semua terbentuk. Pasti mengurangnya rasa kebahagian, dan praktis yang sudah mereka terbiasa. Menjadikannya alasan terkuat untuk tidak berlaku seperti itu ?. Yah kembali lagi, pada individu itu sendiri. Dan terlebih kita ingin sama-sama, berjuang pelestarian udara, dan alam. Dibalik banyak orang yang juga harus dipenuhi kebutuhan hidupnya. Pasti akan timbang tindih, dan daya juang edukasi yang cukup tinggi untuk mengaturnya. Agar tidak menjadi rebut, dalam hal mempertahankan kekonyolan yang di budaya.
Tetapi tunggu dahulu, jika ya memang Indonesia memberhentikan pembelanjaan kendaraan murah ? apakah bisa ? ‘harus bisa’, dan ‘yakin bisa’. Mungkin lagi, bisakah kendaraan kota ini semua pindah tangan keseluruh pulau Indonesia ? tanpa harus berpindah tangan jual ke negri sebrang, dengan harga murah ? Agar masih tetap bisa berkendara, hanya saja di batasi, dan terbatas. Serta hukum aturan yang dimainkan bisa sama-sama menguntungkan tidak di beratkan kepada kaum elite. Pada dasanya harus kembali, pada fokus ini di Indonesia. Bukan di belahan Amerika, ataupun Asia negara maju. Yang mereka bebas saja melaju di ruas tertentu dengan kecepatan tertentu, namun kendaraan nya yang tetap saja menjadi gambaran, orang berjuang, berlomba untuk membelinya, memilikinya, mengunakannya, merasakannya berlaga di jalan-jalan kota. Dengan juga tingkat kecelakaan yang bisa saja sewaktu waktu malah menurunkan aspek budaya itu sendiri. Karena dalam berkendaraan sopan itu juga perlu.
Contoh hal dalam negara kita, masih membeli moda trasportasi bekas always, kadang bus bekas, kadang kereta bekas ??? memalukan. Mungkin lagi lagi lagi tadi seperti perpajakan kendaraan tersebut dinilai harganya dari tahun kendaraan itu dilahirkan ? Vespa bisa murah seperti harga belinya terdahulu, namun kendaraan lainnya yang baru ini, harga nya di pastikan mengacau. Tetapi kembali lagi stop, kita sangat khawatir, dengan pajak negara ini tak jadi apa-apa, malah jadi tiket nonton tenis di Bali. Keuangannya untuk memperkaya ketua pajak, serta yang katanya pajak dari rakyat untuk rakyat, dan pemerintah mempergunakannya dengan cara tambal menambal permasalahan urusan yang terus terusan saja dialami dari cara proses yang salah, sialan Tiga. Kita sebagai rakyatnya tergiring dalam roda putaran hutang piutang, lalu negarapun ikut kian sama. Capai lah yah, jika ini terus menerus terjadi. Penuh drama dalam hidup yang sejatinya itu tidak perlu di hadirkan. Nyatanya masyarakat harus keluar dari persoalan rasa malas, mau berjuang, serta kuat menghadapi segala rintangan, serta dinilai harus tinggi rasa kreatifitasnya, demi bisa saling bekerja, dan dicukupkan isi kepentingan perutnya. Bukan hasrat pemuas apa yang harus dikenakannya.
Lantas bagaimana caranya untuk mengurangi populasi kendaraan kalian ?, lantas bagimana kita sejatinya hidup, namun mengurangi rasa ketidakberhasilan dalam suatu pencapaian yang malah tergerus, lalu ke arah yang berasaman dengan cara ingin memiliki suatu bentuk kendaraan ? ayo nyebut, ayo ingat Tuhan, ayo Istigfar. Mari gerakan, dan wujudkan, ada banyak ide, dan cara, dan timbanglah tulisan ini, kemungkinan besar ada.
Semuanya dari ide pemberhentian tersebut, ektreme tersebut, kemungkinan pandangan kiri, dan kanan saya tidak lagi melihat mereka toko-toko onderdil kendaraan bermotor. Saya makin khawatir jika itu terjadi, perekonomian makin berkurang, lapangan kerja minim, kini toko-toko, bengkel kecil pun tutup, mereka memutar kembali mau berbuat apa ? Tetapi yah bagaimana ? percuma ongkos kalian dari bekerja capai habis untuk membenarkan kendaraan tersebut ? Tetapi harus bagaimana juga ? saya pasrahkan saja kepada pemikiran sang penguasa, tolong lah siapkan semuanya. Terhitung pula kepada kalian membantu penghirupan udara kita makin membaik. Mungkin juga kiamat di persempit. Karena jika terus tidak ada pilihan seperti ini, terus saja mengalir ? yah terus saja seperti ini.
Senjata pemuas masal yang tidak ada henti hentinya, memuaskan, puas yang mana? Rakyat digiring untuk bekerja dengan perusahaan asing ? rakyat dipaksa untuk mengikuti aturan pemerintah yang rajin berutang ? lihat deh dari cara berutang. Mereka berkejaran kearah yang sama, yang seragam, mereka bekerja paruh waktu untuk mencapai tujuan tertentu. Mahalnya kegiatannya di masa mendatang, memperhitungkan segala sesuatunya untuk apa ? untuk menjadi manja, dan merasa gagal. Karena selama ini bekerja, hanya ingin memiliki kendaraan, dengan paruh gaji membayar cicilannya, dengan pertahun membayar pajaknya, dengan bulanannya mereka membayar service untuk kesehatan kendaraannya, bukan orangnya!?. Lalu dengan hasil harga jualnya yang dari masa ke masa kian rusak, dan murah ? lalu kapan mereka merasa hidup layak ? kapan mereka berkeinginan yang lain untuk memparuh hasil kerjanya untuk menciptakan ruang gerak yang harmonis. Dan kapan Indonesia terbiasa dengan disiplin ?
Puji, dan Syukur kepada maha pencipta, saya diberi sehat. Saya sumpahin semoga, Indonesia bertobat. Indonesia jangan lagi melihat sejarah yang kelam. Dimana Indonesia di jajah kaum Eropa Belanda, kemudian Asia Jepangnya, sudah lah kita berfoya foya, sudah lah kini era, dan zamannya, mandiri. Jangan pernah takut, tutup semua akses, jangan hiraukan mereka yang memiliki nuklirnya. Saya yakin beribu ribu persen, negara lain di luar sana, jauh dari hidup jika Indonesia mandiri. Karya kita yang sudah kita hasilkan dari keringat itu mahal nilainya. Mahal mirip-mirip kredit motor, kredit gadget, kredit tas Louis Vuitton. Esok! negara tetangga beli pangan kredit AMIN… semoga Indonesia yang berada di jalur khatulistiwa ini dijauhkan dari mara bahaya, dan bencana. Yang dimana hal tersebut juga yang memungkinkan kita mengeluarkan dana yang tidak, mau tak mau, harus keluar demi kepentingan orang banyak. Karena apa, jika yakin kepada suatu hal yang di dekatkan oleh bencana. Karena Indonesia belum mau bersyukur, belum percaya hari akhir, belum tersadar akan nilai-nilai luluhur serta menjaga alam yang asri agar semua nya seragam menuju satu kasta yakni kedamaian. ‘persiapan doa panjang umur saya’
Indonesia harus hapus ingatan lirik, “Engkau Ku Hargai”, Mari ciptakan “Aku Menghargai Dirimu”, saat kutipan ini kita tanamkan, kita sudah berani mengurangi pola pikir, negara luar sana dari kapitalisnya. Kita pun bisa menciptakan apa yang kita ciptakan, kita lah yang menjadi kapitalis tersebut. Mereka nanti belajar dari apa yang sudah kita lewati, kita perjuangkan, di negara demokrasi ini.
Dua tahun berwarna ini juga, memberikan rupa, tepat sekali dituliskan pada lembar ini, kejadian seru pun banyak sudah tergambarkan. Indonesia sedang bereksperimen, mengenai buku kiri. Masyarakat terpaksa membaca ulang buku yang pernah tertuliskan dimana kerusuhannya. Yap… kita boleh bergaya barat, tetapi budaya tetap harus Timur. Tetapi timur yang mana ? Karena, kini Indonesia sedang asyiknya mempeributkan 01, dan 02. Wowwwww… Pilpres 2019 diwarnai kerusuhan, sadap menyadap, penggelapan senjata tajam, api, batu, kafir, kopi keliling, matinya komunikasi, mati listrik, akhirnya Tuhan membalas dengan teguran gempa dimana mana. Sadar sadar sadar, besok sudah usai, kalian bebas lagi menjadi sinting, maksiat, dan menanggapi tenang kimat masih jauh. Semuanya belum Islam. Kepanikan saya, dan keluarga cukup terasa. Ini negara sedang mengapa yah ? ingin menjalankan mode apa ? adzab apa lagi ?
Saya hentikan terlalu jauh pikiran tersebut, yang jelas, dan terasa ialah saya sibuk memikirkan Indonesia ini, sehingga lupa bagaimana indahnya bercinta dengan romantis. Sempat setuju dengan Pidi Baiq bahwasanya sepertinya cocok membangun negara sendiri, rakyatnya tak usah banyak, puluhan orang saja. Mulailah membangun kedutaan, dan istana sendiri, jika ada yang memasuki wilayah perbatasan negara mohon lampirkan passport. Dan yang paling terkecil untuk mencoba di aplikasikan ialah, kita sendiri menganggap bahwa keluarga kecil kita ini ialah Indonesia / negara yang kita miliki. Ketentuan keluarga kita ini ialah negara, dan Ayah seorang presiden, dan anak sebagai rakyat. Dimana menjelma lah menjadi Indonesia. Jadilah bagian Indonesia. Agar kita tahu pasti, kita memiliki sistem kekeluargaan apa yang utama, yang bisa menopang suatu negara yang harmonis, hakiki, dan makmur rakyatnya. Baru kita paham mengenai ada hal apa yang salah, dan benar dari penjalanan sejarah Indoneisa itu sendiri, dari apa yang kita rasa dalam keluarga yang kita jalanni.
Tetapi yah memang cukup rumit. Nalar sadarku menengahkan bahwasanya Indonesia, kita lah masyarakat pada umumnya sedang di eksperimen untuk belajar tidak menjadi yang terlebih dahulu dituliskan. Dimana banyak orang yang tidak kembali ke rumahnya, kerusuhan, dan kehancuran dimana mana. Ibukota menjadi korban. Ini akan terjadi lagi, jilid 3, 4, 5 ? dimasa yang akan datang ? saya mohon jangan. Sudah cukup, saya ingin negri ini adil, sejahtera, dan mandiri, sibuk boleh, sibuk dengan memberitakan kekacauan negara ini yang terjadi ?, tetapi mohon jangan membuat kerugian apa lagi korban.
Tetapi yah bagaimana, lihatlah Ibu kota sudah indah dipercantik oleh jalan-jalan yang kini sudah rapi, tetapi yah meski macet, dan tidak adanya lahan hijau akan dihancurkan begitu, oleh emosi masyarakat, karena ulah elite ? Bagusss……..
Kadang yah berpikir melihat negri luar seperti enak begitu yah? Jalanan-jalanan di kotanya bersih, tidak ada kejahatan, kan semisal ada kejahatan disitu bermunculan seperti Batman, Spiderman, dan manman manman lainnya. Tetapi terkadang juga berpikir ini adalah Indonesia, terbentuk dari rasa syukur. Karena dengan adanya, keadaan macet moda trasformasi begini, dan seperti ini saja contoh begitu, mana bisa ada maling kebut kebutan mirip ‘Fast And Furious” begitu yah ? boro boro ngebut, pengkolan rumah manman aja, eh sudah macet. Terus ada apa lagi ? Yang berangkat kerja pagi bangun subuh tidak bisa, kerja mepet waktu dengan kendaraannya masing-masing akhirnya mereka bisa sampai tujuan. Terus saja begitu… gagal lah yah dari rasa disiplin sedari dini. Uang dicari macam kesetanan, usai di dapat baru berpikir. Uang sebegitu banyak tetapi tidak ada hasil, hanya rupa gaya dalam wadah pemanfaatan bos hutang.
Nih contoh saja begitu yah, Cina kiranya lagi bego begoin ini negeri dengan negara ini akan di bangun sistem keuangan negara akan sepenuhnya dipegang dirinya. Indonesia sih santai, dari semuanya itu pasti ada saja cara agar tidak terlihat istimewa, dan kekayaannya dimana, rusuh lagi saja, pukul balik cina ? ‘jangan jahat’. Semisal begitu yah, Indonesia mah paling suka dah pasar bebas, semua barang masuk sana sini, dan laku, terus apa lagi ? kerusuhan dimana mana yakan ? bahwasanya Indonesia sangat mudah di adu domba, bahkan mudah di tipu daya. Terus apa lagi ? negara dengan banyaknya hutang begitu yah, mana tahu ini negara kan paling sempurna serdadu daratnya, tetapi apalah daya jika tidak memiliki nuklir semisal ?.
Ini negara seperti tipu daya, orang pura-pura miskin pengemis di desanya memiliki kekayaan, orang-orang sering jajan sembarangan, orang orang sering nonton acara sepakbola keluar negri, orang orang orang orang banyak orang Indonesia yang kerap ihhhh wow gaib nyaaaaaaaaaaaaaaaaaa….. sudah lah. Adzab seperti dekat di tanah air ini. Tetapi orangnya berlomba untuk berharap dirilah yang bisa selamat dari maut tersebut.
Tetapi yah sudahlah, dibalik ini semua sudah saya tuliskan bersyukurlah, kita tidak di perebutkan negara Adi Kuasa. Negara ini terus melahirkan seniman-seniman terbaik versi koruptor negara ini. Dari dahulu rasanya itu-itu saja yang diangkat oleh musisi. Karena ? yahh jika damai, apa yang musti di ulik ???? Jadi apa lagi yah kekayaan nya. Udara bagus, masih baik, terus ke maritiman, Tuhan memberi semuanya, ikan semua ada di negeri ini. Jadi apa lagi ???
17 Agustus 2019. Merdeka
Dirgahayu Indonesia
Terima kasih atas Indonesia, saya menjadi pribadi yang tidak Romantis, selalu saja memikirkan Indonesia.
Terima kasih juga karena Metallica, Beatles, Sampai The Gay Pink Floyd musikalikal yang banyak jadi sampai kebanyakan warna.
Terima kasih juga kepada Tik Tok, begitu yah. Ormas, Terus Hamberger, Gocajang, H & M, Uniqlo, segala juga motor motoran. Mobil mobilan Murah begitu yah…. 212, Tidak lupa pula juga, Ibu-Ibu Indonesia sein motor kanan belok ke kiri, Starbucks, Pasar Gembrong juga terimakasih, kemudian Mobile Legend, PUBeGo, terima kasih sangat. Dan Juga, K- Pop terima kasih, Upin Ipul terima kasih, Tim Promo Food begitu yah jangan dilupa.
Merdeka… katanya ? kalau sudah merdeka mah yah. Sudahkan saja tulisan ini.
.
.
.
.
.
.
.
Ehhhhh…… media kini mulaiiiii lagi dengan eksperimennya. Rakyat harus merasakan pusat listrik mengalami kerusakan, tambang pipa minyak bocor, Mahasiswa Papua, di Surabaya mendapati hinaan bagai binatang. Indonesia bagian timur jauh tersentuh akan media.
Ini Indonesia masih dalam dunia tawa kali ?
Monas, dan patung pancoran siap digeser ke Kalimantan?. Ibu kota kasih sayang “Jakarta”, ingin tergantikan oleh Palangkaraya. Haduh saya khawatir, lagi-lagi miris. Ampun prakata dalam “Kecil Bebas Bermain” rasanya jelas, dimana kaum menengah kebawah fantasimenya masih seputar ingin keluar pergi, dan bermain. Memandang suatu ke atas dengan daya upaya sebuah pemikiran yang bisa terwujud serta keinginan jika suatu orang elite namun tidak berpikiran elite hanya bisa mengeluh, merasa dimenangkan, merasa terus kurang. Padahal sisi lain dari pemikir ekstreme ini iyalah, keluar dari cara dia bertahan, dan berkoneksi dengan keadaan sekitarnya, untuk bagaimana cara mereka bisa mengharapkan sesuatu yang mereka impikan karena memandang suatu yang dinilai dirinya itu mewah mereka harus rasakan.
Sedangkan para elite sudah merasakan segala sesuatunya yang, kaum ekstreme yang belum rasakan. Dengan cara menggerus rakus, dan menggilas, lalu pergi meningalkan segala sesuatu yang dianggapnya tidak perlu lagi di tengok, tidak perlu lagi di hadapi, tidak perlu lagi di pikirkan karena pandangan mereka terhadap kaum ekstreme ini ialah benalu dilain hari. Padahal untuk mencapai segala sesuatu nya, rasa itu semua tidak dapat di tinggalkan dari sesuatu yang kecil. Bagaimana mereka semua bisa menjadi besar, karena sesuatu komponen yang kecil itu menyatu padu, bersama, dan melengkapi satu sama lain. Semoga kita menjadi besar, dan saling tolong menolong. Meski harapannya kecil, bekerja dengan banyak membangun lapangan kerja bukan memperbanyak gedung tinggi namun berisiakan mereka yang berniat menghancurkan negeri ini. Kemudian udara kian memburuk, lapisan ozon dari efek gedung, rumah berkaca menambah buruk umur keadaan bumi. Mari yuk… sebelum tombol riset Allah beri kepada kita. Seharusnya kita yang ingin terus berpikiran pasrah, namun tidak merusaknya, berperang, dan kembali menjadi manusia yang jahat, sehingga Allah murka, dan kita tidak akan jadi apa-apa. Hanya debu yang tertiup, dan tidak penting peranannya. Mari kita wujudkan sama mencapai satu titik yakni. Nusantara yang katanya, tanah kita tanah surga.


0 Comments