BAB 6
“Sejauh geometri itu pasti, geometri tidak mengungkapkan apa tentang dunia nyata, dan sejauh geometri itu mengungkapkan sesuatu tentang pengalaman kita, geometri itu tidak pasti”. 55
Cinta berlebih sama dengan kejahatan berlebih. Berlebih sangatlah tidak baik, bagi diri sendiri, meskipun dirimu ialah berasal dari segala unsur semua kebaikan, tetap bersikaplah sebagaimana mestinya. Perputaraan arus gaya hidup seperti ini, sudah mengantar kita di ujung kehidupan mukabumi. Manusia sudah tidak dapat diatur lagi. Pikiran saya pun kian berkembang dari rasa curiga, kehati-hatian, dan amat posesive. Oleh karena itu saya terus berupaya menuliskan ini semua, meski apa yang saya ingin wujudkan ialah kemungkinan yang amat berat. Bergerak lalu kosongkan lah, nampaknya itu yang dibutuhkan bumi kini. Karena bumi, dan alam sekitar berupaya menyampaikan pesan, namun kita acuh dengan pesannya.
Sejauh pengetahuan yang belum terungkap memberi saya suatu perasaan yang sama dengan perasaan yang dialami seorang anak kecil yang berusaha memahami cara canggih yang ditujukkan oleh orang-orang lebih tua ketika manipulasi berbagai hal. Mereka yang besar paham betul mengenai definisi dunia ini kejam, tetapi tidak dengan anak kecil.
Memahami sejarah adalah separuh bagian hidup saya. Untuk memperoleh visi itulah, kiranya yang dipertaruhkan sekarang. Ciri itulah yang kemudian, terus digencarkan. Ketika saya harus menuliskan sejarah jurnalisme hidup saya dalam KPPG. Dimana saya bertahun-tahun harus memahami pola sistem pekerjaan yang dialami, maupun diamati. Kumpulan sejarah tersebut kemudian dituliskan, dikumpulkan mungkin bisa menjadi satu bagian dalam era pra masa kini. Dalam tata olah kerja maupun usaha selanjutnya, demi kelangsungan upaya hidup.
Kekejian media raksasa membuat saya memilih bekerja extreme membanting setir menuliskan keahlian diri, untuk keluar dari pemikirian, dan bahan pemanfaatan media yang kini kian tidak kondusif. Lalu salah satu mudahnya khalayak mengakses informasi, serta laman sosial media menambah carut marut perputaran dunia. Bahwasanya, gaya hidup tersebut malah kian menjadi jadi. Lantas bagaimana cara memfilterisasi moda modern kini ? sedangkan kultur lama sudah ditinggalkan jauh dari sebagian khalayak. Dengan presentase yang negatif dalam media dibuang jauh, dan potensi positif terus di kembangkan ?. Kini media selain mengabarkan informasi, kini diapun ‘media’ menjadi bahan ajar mengajar. Hal apapun, sekecil apapun. Jika terus dilihat, diulang, di repost banyak orang, hal tersebut justru mengundang orang berlomba kearah demikian. Bak virus yang mau tak mau menyerang perlahan masuk dalam tata hidup modern.
Kini setidaknya menjadi baik, menulis harian, serta sejarah kehidupan personal. Dengan begitu hal upaya mengajak balik, memukul balik kemajuan dapat totalitas ditumpahkan. Tujuannya ialah, dikemudian hari kelak kita ingat, dan baca kembali apa keinginan dasar awal kita sendiri. Usai di bab sebelumnya, menghadirkan sedikit emosional, kini saya mengajak kembali untuk fokus pada finnish yakni perjuangan Vespa dalam rubik independent scooteris. Meski kini tengah menghadirkan ketidak mungkinan independen scooteris mengajak label besar untuk bersikap demikian.
Berbudaya Vespa Indonesia itu lahir, dan tercipta karena saling tolong menolong. Lantas yang dimaksudkan dengan berdiri sendiri, kemudian label, serta organisasi, ialah hanya wadah personal, bagi tiap kalangan, masing-masing individu, untuk memahami suatu kemampuan dari suatu perjalanan. Jika berdiri sendiri, kemungkinan besar apa yang dilaksanakan nya ialah pilihan, yang dimana ketidak cocokan, ketidak mampuan, kurangnya rasa berani, nyaman, serta bertanggung jawab penuh untuk banyak orang. Oleh karenanya dirinya memilih jalan personal. Yakni agar dirinya tetap bisa mengidupi pola-pola lain demi keberlangsungan suatu tujuan. Sedangkan label itu sendiri ialah, mengharapkan suatu pandangan, serta mengisi kegiatan dari badan yang sudah mencapai masa keberanian untuk menjadi salah suatu bagiannya, untuk sama-sama dengan gapaian kepuasan lahiriah dari proses label itu sendiri. Dan yang kelompok organisasi ialah, mengumpulkan beberapa orang dengan satu potensi, satu tujuan, dengan cara saling bahu membahu agar terlaksananya suatu pencapaian tertentu dari kemampuan suatu yang sama, pada kelompok tersebut.
Yang hasilnya dimaksudkan budaya itu beragam. Seperti yang sudah kita angkat di bab sebelumnya. Bahwasanya Vespa itu satu. Satu tujuan, satu kebersamaan, untuk saling tergur sapa, saling bersama. Kepentingan jika kita bertemu saudara sevespa yang dianggap cuek dalam suatu perjalanan. Anggaplah suatu gambaran tersebut adalah kita juga, yang dimana hal tersebut akan berlaku balik dengan diri kita sendiri. Kemudian, teruslah berpikir positif karena kehidupan di era kini, kita wajib memahami suatu atensi keperluan, yang mungkin saja kita yang menghambat mereka, mempersulit mereka. Jadi pahamilah suatu wujud yakni ahad ‘Tuhan’, itu ada dimana mana, dan tepat dalam segala urusan yang menolong kita, membantu kita, dalam mencapai suatu perjalanan demi mencapai tujuan dengan selamat. Yakinlah Tuhan yang menolong kita, mengantar rasa bingung kita, selagi kita mau, ingin berusaha, dan tidak pantang menyerah. Serta sabar ialah point utama dalam mengarungi suatu perjalanan, agar kita selamat, dan tenang dalam berpikir.
Meski jelas kini, manusia kian bertahan dari berbagai pemburuan kutukkan orang-orang lain yang berjuang mati-matian hanya dengan berharap bisa makan. Namun disandingkan dengan manusia era modernitas, kemajuan mendorong mereka untuk ikut memperbaiki taraf ekonomi. Yang di tegaskan dalam KPPG ini, mengeyampingkan suatu yang tidak perlu dalam pemuas kehidupan. Kuat bertaruh untuk melewati kegelapan zaman. Kemajuan memang tidak salah, dengan kemajuan kini mobilitas masyarakat sedemikian rupa naik dalam kurva yang meleseat bagai landasan pesawat terbang. Yang jauh kini ialah etika, serta keingian manusia untuk saling berprestasi sendiri-sendiri. Membangun sesuatu yang belum terbangun, menghitung kelelahan hati, dan jantung akan bertenti, saat zaman di mana nanti melawan penindasan kesia-siaan. Semua paruh disesakan, dan semua menjilat kembali pantat kekuasaan demi bertahan.
Saya akan menunjukan bentuk pandangan bidang kemajuan sudah terjadi di belahan desa-desa khususnya pulau Jawa di Indonesia. Cerita ini akan membawa kalian menuju perjalanan pulang mudik saya ke kampung halaman. Dimana pada saat itu masih dengan Siput yang seada adanya, sampai lah saya di kampung halaman.
Tahun Mudik 2016
Saya memulai perjalanan mengendarai Siputih seksi. Tidak memikirkan apa-apa lagi selain kebahagian yang terpancar dari raut wajah saya pada saat itu. Dari segala macam ancaman yang telah di lesatkan kepada saya, tetap keukeh, serta kukuh ingin ke Tasikmalaya dengan Vespa. Ayah pada saat itu cukup cemas lah yah, “jangan lah kesana nanti kalau bermasalah bagimana”. Kemudian Ibu pun demikian, “kesana capai nanti macet”. Hmmmmmmm…. “Cuek” jawab saya.
Kira-kira sudah belum sih, ngomongin pemerintahan. Kayaknya sudah yah, fokus ke Vespa fokussssssssss…… Ditahap ini, saya tengah menuliskan keadaan dimana masalalu selalu aktual, dan saat ini saya merasa yah ada di masa lalu, yang saya bawa pada saat ini. Kemudian kembali dituliskan, saya merasa, saya disadap, bukan menuliskan sedap tetapi sadap, parnoid saya sama kehidupan sekarang, mirip-mirip lagu Radiohead yang berjudul “Parnoid Android” pada era kemasanya Thom York, dan group. Sepertinya belum ada handphone berbasis Android, tetapi sudah ada lagunya, wewwww saya dipastikan parnoid sekarang. Saya bersyukur semasa penulisan buku ini, saya memiliki notebook berukuran 12 inc yang benar-benar software nya ini notebook rusak, jadi tidak bisa mengakses internet. Jadi bantu saya berani mempublish buku ini, semisal ini adalah bagian dari kalian juga. Karena yah ujung-ujungnya yang saya tuliskan ini, akan saya publish.
.
Uihhhh…. Rekor baru terpecahkan bagi diri sendiri. Jakarta – Tasik 6 jam dengan Siput. Berangkat pada malam takbir esok harinya ialah Idul Fitri. Alhamdulillah selamat, lancar Jaya. Tetapi tetap pagi harinya tidur, tidak salat Ied dong. Asli saya merasa gagal disitu. Hafffff……
Lebaran 2016, menjadi rekor pertama saya, dan tercepat pula mengendarai Vespa. Saya ingat betul, keberangkatan ini, mengakhiri saya bekerja, dan memilih resign karena fokus tidak lagi ingin bekerja mendapatkan penghasilan. Fokus pulang saya tuh, bertemu keluarga yang memang tiap tahunya selalu mudik lebaran sekeluarga. Kerja salah, tidak kerja lebih salah rasanya. Harus sekali sih memikirkan sesuatu itu, lepas dari satu badan yang kita bawa. Namun, tetap harus bisa menggandalkan perasaan, dan badan lainnya ada di dalam diri, karena kita hidup tidak sendiri. Bahwasanya pada saat itu saya kurang memikirkan sebuah impact besar tetapi baiklah, sudah terjadi, dan yah pengalaman saya seharusnya biar bahagia, tetapi harus tetap kerja. Apa benar demikian ?
Tepat pukul 20:00 WIB Jakarta, sehari sebelum esok hari Lebaran yang Fitri. Prepare lengkap bebawaan, lengkap juga dengan jasmani, dan rohani yang sehat. Tertolong lah di Siput hanya membawa badan saja karena baju salin, dan yang lainnya sudah dibawa oleh Ayah Ibu dalam kendaraan mudiknya. Tidak lupa berdoa, sandal jepit, celana jeans bolong dengkul, dan botol minuman, on the way Tasikmalaya. Rantang…tang…tang…ngengggg….
Kisaran pukul 21:00 WIB, saya keluar dari ibu kota. Yang sebelumnya memang benar-benar santai yah. Jalanan Jakarta begitu lengang. Saya keluar Ibukota melewati jalur Ciputat – Pamulang – Parung – Bogor, sejauh perjalanan itu telinga ini diisi oleh lantunan Takbir yang beradu earphone musik playlist acak. 80 Km/jam lah lumayan.hehe benar percaya diri, tidak takut akan jalanan itu ada apa, mengapa, karena Vespa, dan memang kebetulan amat sangat lengang jalanan pada malam itu. Tank darat Siputih membawa saya untuk berani menghadapi kendala apapun.
Tetapi, tunggu dahulu nih, pikiran kok ke mana-mana begini, ampun… Ya Tuhan, saya banyak dosa, besok lebaran, tetapi kok masih mikirin dosa-dosa kalian semua pengisi ibukota. Sejauh itu tuh, pikian selain mendengarkan suara mesin Siput, dan Takbir. Pikiran fokus kedepan jalan, tetapi seperti berjalan saja juga story mind, ini tujuan Tasik, tetapi wahhh memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi sudah dipikirkan. Memikirkan sekitaran, memikirkan besok sungkem, orang lain yang sama dengan saya pergi meninggalkan ibukota. Sampai-sampai usai lebaran balik lagi ke ibukota ini saja terus dipikirkan menerus begitu saja. Perlawanan antara setan, malaikat, antara pikiran, dan hati. Itu kali yah, sudah usai memang bulan Ramadan, setan sudah dilepas lagi dari ikatan sepertinya. Jadi pikiran mah jelek saja melulu….hampunnnn.
Meninggalkan ibukota menurutku memang bukan hal terhebat. Pergi begitu, sudah saja pergi. Tetapi, sadar tidaknya, saya banyak buat dosa di kota ini. Tetapi merelakan balik mudik, karena memang terpenting ialah meminta maaf - maafan kepada orang tua… serbasalah. Radio Dalam, dengan ceritanya, kelucuan, hina menghina teman tongkrongan, serta kegaduhan saya dengan tetangga versi soundsystem tapedec, Ciputat dengan ceritanya, kerabat dekat sekitaran. Pamulang dengan ceritanya yang sangat benar-benar membekas, dimana saya dirusak oleh satu wanita, jujur bukan saya yang merusaknya. Saya salah juga mengapa mau, oke lewat….. escape, di Parung rasanya mau putar balik merasa benar tidaknya, ini jalan mudik, kok jadi begini. Sssssssssssstttzzz….
Pemikiran itu lantas tidak memikirkan hal pribadi. Bicara pribadi, tidak luput dari anggapan. Saya yang dari kota, amat berbeda sekali dengan yang lainnya begitu. Itu yang membuat saya percaya diri. Rogoh kocek tidak terlalu dalam, melihat isi saldo atm, pas tidak yah bagi-bagi amplop ke pada keponakan, sip… ceki aman, terus agak di sombongkan lah yah, yang penting biar dikit tetapi sombong itu penting. Namun ini mah ada lagi. Orang-orang yah, paling standar membawa kendaraan tuh yang mumpuni lah yah… sama dengan hal baju lebarannya yang baik. Ini mah uhhhh….. gagal. Baju, baju lebaran yang kemarin, motor mana keren sekali Vespa, hanya saja lecet, dan keropos cat Siput yang di tutupi banyak stiker pada bagian tepong, dan spakbor.… Ini nih yang bahaya yang saya awali. Pikiran mah ngomongin orang mulu. Sebenarnya orang itupun adalah saya begitu. Mudik, nyari nya pada jungkir balik di kota, setahun bekerja di ibu kota. Sesampai di kampung halaman mah, wahhh gagal… apaan saja juga di keluarin…. Kepikiran balik lagi ke kota. Paling afdal ke kota maaf maafan, hati pikiran mah rasanya mengeras saja mirip batu sepertinya.
Terkadang apa bedanya lebaran dengan mudik. Harus di pisahkan sepertinya. Banyak sebagian orang Indonesia, menjadi hal yang sudah memang membudaya. Tetapi selalu saja, ada yang salah ketika budaya itu menjadi budaya yang buruk. Flash back, sewaktu saya berumur 5 tahun. Lebaran itu, menjadi ritual terpenting memang, dan sangat sudah dimengerti saya dari umur 5 tahun. Melekat ingatan, karena selain bertemu nenek di sana, di sana itu banyak hal yang memang berbeda, tidak saya temukan dikota. Umur pada 5 sampai 12 tahun itu, saya amat akrab dengan kendaraan umum trasnportasi bus. Kisaran umur saya pada saat beranjak bangku SD (Sekolah Dasar) umur 7 tahunan lah yah, memori tahun-tahun tumbuh hingga bersekolah di angkatan dasar itulah. Saya anak yang sangat amarah, ketika usai bulan puasa mendekati akhir, menjadi kewajiban, harus sekali ke Tasik. Malah, umur-umur golden age pada masa saya, kedua orang tua memang mungkin tidak ada pilihan, selain mudik menggunakan bus.
Seketika ada kendaraan mini bus, saya malah mabuk. Meski yah, pada saat itu, bus menjadi amat sangat nyaman, ramainya penjual yang mengisi barisan jalan tengah di antara bangku-bangku bus, saya semasa itu kuat menghadapi mereka. Karena yah cukup menjadi warna, serta cerita unik pada masanya. Dan terlebih ini, jalanan mudik pada saat itu, tidak seperti kala ini yang di padati kendaraan bermesin semua, dari mereka yang sudah kian maju. Karena dahulu dominan, yang mudik itu mereka asli, sejatinya ingin pulang lebaran. Kini, yah meski dari hasil yang memang benar-benar payah, ataupun sukses. Terlebih saya akan memposisikan kalian memang benar-benar sukses. Sukses menggagalkan kemajuan ini demi kata “gaya”. Lebaran, dan mudik sangat lah berbeda. Dikota ini pergi begitu saja, sesampai di desa kalian jadi begitu, uhhhhh gagal lah. Kalian mungkin akan mengerti mengenai rasa. Tidak bisa jelas digambarkan tulisan di atas. Yang pasti, dan tepat sepertinya, macet sekali sekarang ini mudik tuh, syukurlah saya dengan Vespa, tepat sehari esok Lebaran tetap gaya.
Gaya cukup, Vespa, dompet aman lah. Tetapi tunggu dahulu nih, dingin juga celana jeans bolong ini. Berhenti lah saya di bilangan wilayah sekitaran masjid Ata’aun, Puncak Bogor, demi beristirahat, dan sebentar melihat waktu sudah pukul berapa, sekaligus memesan kopi hitam, agar tetap terjaga. Pukul 22:00, Bogor kota terlewatkan begitu saja karena nostalgia. “Pak kopi hitam nya satu, jangan di aduk” ucap saya pada Bapak penjaga warung, Puncak pas.
Nikmat… tiap hirup kopi hitam ini, pandangan kosong, kaki telanjang di atas bangku kayu, jongkok, dingin asli… Pikiran ke mana mana, nikmat dimana mana, doa saya dalam kopi hitam ini. Cepatlah tiba, dan selamat. “Aa, tak mudik ?” tanya saya. “Tidak Aa, buka dahulu ah warung mah, lumayan suka ada saja yang mampir lewat Puncak, balik mah deket ke Cianjur”, jawabnya. Sruppppppp…..ahh… begitu hangat, kepulan panas kopi dalam gelas segera saya minum karena dinginnya Puncak malam ini bisa mengalahkan panasnya kopi si Aa. “Sendiri Aa?, Vespa mah dimana juga suka rame-rame”, tanya si penjaga warung. “Sendiri sajalah A” jawab saya, “balik ke mana ?” lanjut Tanya penjaga warung, “ka Tasik, Aa!” jawab saya, “uhhhh, aman begitu, besok mah sudah lebaran” lanjutnya, “Aman lah…” saut saya, “Iah da’ Vespa yah banyak balad nya (Teman)”, terheran penjaga warung. Mikir saya, jam malam begini, pemudik lain saja berkurang, mana ya ada, pikirku Vespa lain.
Istirahat ini, cukup lah menyita harapan, sekaligus tambah stamina, tenaga. Ponsel pintar menjadi teman pengisi malam, tembang lagu acak menjadi pertempuran Puncak – Tasik agar tidak terlalu sepi. Kemeriahan isi ponsel pintar, dalam rubrik sosial media. Teman-teman lain di kota, upload kemeriahan yang terjadi di rumahnya. Dan ada beberapa sudah tiba di kampung halaman. Tidak ingin kalah. Update ah, foto gelas hitam, sandal jepit, dan Siput, share location Puncak. Ueeeedan… keren saja kata saya mah. Tak tau deh, fans berkata apa, rasanya mau comment “tak waras” mungkin.
Yah, balik lagi bicara mengenai asumsi. Asumsi pada khalayak masa, kita dipaksa maju mengikuti perkembangannya. Tetapi, yah siap tidak siap, asumsi pendukung hanyalah mereka yang satu frequensi. Sisanya flamboyan yang mengatakan, hidup merekalah yang aman. Aman mengenai gengsi tersendirinya, dan masing-masing cerita berkepemilikan orang tuanya. Yah meski di belahan kota Jakarta, ada pula yang memang satu frequensi di Vespanya, mungkin loh yah. Kegiatan saya ini menjadi, kegiatan yang dianggap bodoh lah begitu. Mudik kok dengan Vespa. Baper saja lah sudah, aghhhh…. Di bagus bagusin yah mau bagimana, mau dikuat-kuatin yah bagimana, definisi tetap satu kata “gaya”. Lawan pikiran seperti itu, dan kalian yang kini sedang baca pada bagian ini. Terkadang tidak bisa disalahkan. Karena yah itu kembali lagi, rasa seperti itu ialah penganggapan ketidak mampuan saat yang lain dirasa merdeka dalam rubrik socmed saja. Ingat itu hanya fantasi, sisanya di tampar pada kenyataan keadaan masing-masing, yang sedang berbuat apa dalam kenyataan sejatinya.
Dan terpenting kalian yang menjalaninnya ialah untuk sama-sama saling bertahan hidup. Tetapi mungkin bisa digaris bawahi, jangan lah bertahan hidup di gaya, yang dirasa memaksa. Pengkategorian tersebut akan berujung pada sakit hati, dilain hari. Kebahagiaan berbanding jauh dengan kewarasan jiwa, dan raga yang mahal demi cerita di lain hari. Istilah singkat, penyakit jangan dicari, “Life is Fun”. Yang sudah ada kembangkan, pertahankan. Jika kita mudah saja mempertaruhkan apa yang bisa saja kita jual belikan, namun kian malas tidak keluar dalam fungsi daya otak ini dalam mencari daya, dan upaya.
Sakit hati ingin dipuji,
Sakit hati ingin dihargai,
Makin ingin diakui,
Makin ingin diberi,
Makin ingin diterimakasihi,
Makin ingin di sayangi,
Makin sering sakit hati…..
Tetapi bicara demikian, tetap. Kini kebahagiaan itu ialah memposting sudah melebihi bahagia rohaniah banyak orang sepertinya. Jauh akan doa yang begitu tenang dikala senyap, perseperempat malam. Media jauh dari segalanya, bingung saya tuh. Ini tidak mungkin bisa di pukul balik. Tetapi yah, siapkan masing-masing saja yah. Filterisasi mengenai konten apa yang ingin kalian buat, kalian konsumsi demi saling tidak merusak generasi followers kalian yang menerimanya serta konsumsi yang dinamakan ‘konsumsi visual’.
Doa saya semua maju. Semua jadi artis, semua pada kredit motor baru, mobil baru, jadi ngetop, semua jadi seniman. Semua jadi buat karya, karya nya dibeli, semua menjadi fortopolio di media, semua jadi Dajal, semua buat kitab ngengalahkan Nabi terdahulu, jika ya memang tidak jadi kiamat. Kiamat sedang di ciptakan kini. Mereka perlahan pergi meninggalkan dunia, meningglakan jejak kelam hitam. Karena seisi dunia ini sudah setan. Semua penampakah setan itu bohong adanya. Justru yang di Instastory tuh semua setanya. Ada yang perlahan memilih menyudahi hidupnya, karena tidak bisa bersaing dengan gaya. Ada pula contoh di Koreanya, mati karena sudah tidak maksimal di gayanya, dan karyanya. Coba deh, saya sedang memikirkan generasi 90s dimohon selamatkan, generasi milenium sekarang. Dibalik 70s, dan 80an nya membawa genre fashionnya serta keacakan musiknya. saya berharap ada 90s nya, menyelamatkan mengenai generasi yang bukan X.
Tetapi yah kembali lagi sulit rasanya yah ? ini intinya saya adalah bagian dari kalian. Puska umat yang ada di dunia. Berusaha mengajak semua untuk menjadi bijak, pandai, serta pulang dengan selamat, sampai tujuan yah meski tidak asyik se asik tasikkk….. Dan proses mengantarkan, serta ajakan belum tentu memiliki kecocokan. Oleh karena itu, mari kita acak acakan, agar menuai kecocokan. Puzzel sendiri, tangan di udara dari saya jika semua kontennya perlu penjelasan, tanpa kalian juga menyadarkan.
Semoga disemogakan, generasi 90s mencari makannya dengan berniaga serta menolong mereka, generasi kini. Dengan mendorong dimensi permainan masa silam, antik, kampungan, dimana bermain tidak lagi memakai fondasi media. Tarik balik bermain ps lah mungkin, saya juga tak tahu, hahaha… karena saya sendiri ialah bagian 90s itu. Yang dimana puas lah sudah, merasakan era modern baru pucuk tumbuh. Mulai merasakan hidup besar di lapangan, bermain layangan, pergi ke mall seadanya ala orang kampung masuk mall dengan membeli Tamiya dipasar berharap bisa bermain di track mall, pergi ke jalan raya dengan sepedah berjalu bonceng teman, main lotre, kelereng, beli mainan plastik, buat kerajinan, masak-masak.
Oleh karena itu, semangat saya ingin gencarkan bermain besama-sama lagi. Mengingat masa lalu, serta mempererat pertemanan. Generasi 70s, dan 80s mah sudah lah yah, masuk saja dalam line up kemewahannya, mau kuno ko mahal, “ya iya lah” ? skip, no comment. Era terdekat saja kini, yang pantas untuk mengajak bermain yang tidak telalu jauh fantasinya kini dalam apk download aplikasi.
Gedung bertingkat gercar dibuat, gusuran, dan kepungan melewati fasenya. Ada kala baiknya, karena, saya diera kini bekerja di perusahaan star up sebuah ecommers cukup terkemuka dalam moda transportasi. Dan yah, cocokologi kembali, dalam bidang trasportasi. Dan di zaman kini, perkembangan kian membentuk banyak sekali peluang usaha, keinginan demi mempertahankan isi dapurnya. Dibalik usaha yang kalian miliki dari landasan ide, semisal berkarya serta lahirnya keinginan, kemampuan yang menciptakan banyak pilihan dari landasan dasar kepentingan skunder, primer, jasa, kebutuhan ataupun yang digemarkan awalnya, kini bisa kalian wujudkan dengan usaha, dan belajar mudah dari banyak platform canggih era digital. Kemudian dibalik itu semua, ada wadah raksasa yang mampu memperkerjakan mereka sarjana muda, atau pun saya yang sangat sekali membutuhkan lapangan kerja, demi mengumpulkan sedikit demi sedikit modal usaha, dengan tekad tidak percaya tidak akan rugi, tidak ada yang tidak beli, pasti akan ada jalan, akan ada konsumen, dan dipastikan akan ada mereka yang bisa menghargai karya yang akan di buat. Karena mudahnya kini mengakses aplikasi apa saja yang di butuhkan untuk membeli sesuatu yang diperlukan, maupun hanya baru dipikirkan. Mereka kalap ingin membelinya, ingin membawanya pulang.
Dan yah…. kembali lagi, terselip yah fungsinya media sosial, seperti gambaran di atas. Bagus sih, cukup membantu. Tetapi tetap saja, diselingi iklan media yang memang balik lagi bisa merusak, jika kalian belum siap untuk mengadapi itu, serta skill, kemudian candu dari masyarakat sekitar, khalayak luas, serta kalian harus benar-benar terjun, ketika hal ide kalian itu ingin terealisasikan dengan fase yang lebih besar, dengan bermodal iklan. Meski yah, dibalik itu semua negara ini bermimpi besar, bisa menghadirkan pusat pemutar keuangan di negeri sendiri, dan semua orang Indonesia akan mandiri. Terlebih platform nya milik orang Indonesia, yang berjualan orang Indonesia, yang beli orang Indonesia, yang dipekerjakan orang Indonesia. Yang jelas terlihat kini, lahan pekerja menggeser lahan warga Indonesia. Yang jelas kini, gaji pekerja Indonesia lebih kecil, dan lebih berat pekerjaannya dari orang luar yang bekerja di negeri ini, dengan hasil gaji minim kewarasan.
Hasil karya jualan, kian bersaing dengan brand ternama. Bahan pemasok dalam negeri tersendat harus membeli bahan pangan impor. Semua sudah termanipulasi. Andai ada keberanian, untuk mendobrak itu semua. Mulai saja begitu dari diri kita sendiri. Mulai untuk bangga akan produk dalam negri, menabung di bank dalam negri, tergerak semua dalam fasilitas dalam negeri yang semoga sudah mumpuni, provider dalam negri, makan makanan tradisonal dalam negri. Niscahya, kita malah mendorong malu, orang kaya yang berlenggok di jalan dengan baju brand mewahnya, makanan mewahnya, karena tidak ada lagi yang sepemahaman. Bahwa bangga, serta mampu memiki produk luar itu ialah bukan lagi manusia pribumi pertiwi. Meskipun sejauhmana dia bisa menyombongkan itu semua, kita akan membuatnya malu. Kita siap membuat mereka dengan prakata “primitive”, mirip serial televisi Si Doel anak betawi. Mereka yang sejatinya norak, tidak mengerti akan budaya asli Indonesia. Dan terpenting ialah khalayak negri ini wajib mempelajari kejujuran sebagai landasan, berlenggangnya tujuan KPPG.
Namun, apa yang terjadi ? ketika usaha negeri ini kian berkembang, masuk lah insfestor besar luar. Dan kita lebih percaya dengan mereka dengan aspek dalih akan besar juga usaha yang akan kita jalankan. Jika, kembali lagi, bagimana frekuensi awal usaha tersebut, dijalankan, dan terpenting filterisasi agar menjadi manusia yang bijak menghadapi korporasi yang memang sudah tidak asing lagi. Jika dunia barat ialah gerbang kapitalis, tidak hanya sudah membudaya, tetapi kita sudah diracun agar kita percaya. Hidup itu seperti penting, dengan bergaya. Gaya itu menjadikannya cara unik gambaran cara bertahan hidup, percaya diri, serta kepuasan harkat martabat harga diri agar tidak terinjak-injak harga diri, dan pulang dengan tidur nyenyak. Serta gerbang kematian seperti format ctrl + alt + delete seketika rasanya, menyerang pola pikir. Perasaan mereka akan bercampur dengan cara memutar balik pikiran awal, tidak ingin lahir dimuka bumi ini, hidup tuh tidak seanjing ini, ketika paham akan begitu tujuan bekerja, terus menerus dibodohi. Mendoyong, borong, apa saja yang belum di lengkapi untuk dibeli. Serta mengupgrade apa saja yang dibutuhkan, demi membuang receh dalam kantong.
Kian jauh rasanya, melepaskan ide karya ini ke negeri barat. Rusak mereka dengan budaya kita. Mirip muntahan sampah yang dilempar film ‘Aquaman’, karena kita sudah merusak banyak alamnya dengan semua inovasi dagangan mutakhir. Lantas bagaimana bekerja yang sesungguhnya ? bagaimana usaha yang sesunguhnya ? Lantas bagaimana bisa membeli keperluan di hari akhir ? Bagaimana bekerja dengan memilik lapangan kerja yang baik ? Lantas dimana pula usaha harta benda agar laku keras terbeli ? Semua pertanyan otak itu, dapat dikalahkan dengan cara berpasrah, dan keyakinan hati yang suci. Mungkin sudah beberapa manusia di era kini, bisa berubah wujud, separuh hamba, sepatuh Tuhan, separuh makhluk. Kuat, padahal hatinya sudah mengeras, dan mendatangkan ribuan pertanyaan yang dilayangkan ketika dirinya kembali ke panggkuan Tuhan.
Saat bekerja ialah menjadi tolak ukur mempertahankan kehidupan. Di sini unsur budaya punk saya dibawa untuk meruntuhkan segala macam aspek di atas. Bahwa saya hanya ingin bekerja. Apa yang saya ingin miliki saya wajib berusaha, bekerja keras. Meski kehidupan itu untuk menjadi sosialita, mirip arus yang tidak ingin kalian lawan sejatinya. Dimana kerja dengan jabatan tinggi akan mempengaruhi cara mengauli pekerjaan tersebut dengan cara tinggi pula. Tetapi bekerja dengan mereka yang dimaklumkan setara, kehidupan dalam ruang lingkup pekerjaan juga tidak perlu mengeluarkan banyak biaya. Gaji tinggi, kehidupan makin tinggi, gaji standar, semua harus bisa dihadapi. Jadi untuk apa, jika pilihan hidup akan berotasi seperti itu. Berkecukupan, mengagungkan rasa syukur itu rasanya, terpenting. Tinju lawan yang menantang awan. Melintasi imajinasi untuk duniawi. Punk itu jauh sempurna di diri saya. Namun itu semua adalah unsur paling dasar. Yang kalian semua juga bawa, tanpa kalian sadari. Yakni yakin, di diri kita ada jiwa punk. Bisa menahan emosi pengangapan, bisa menjadi solidaritas yang tinggi, menjadi kuat meski perlut kalian lapar dengan membantu mereka yang sejatinya hari ini tidak makan dirinya wafat meninggalkan segera muka bumi. Ada banyak transmutasi diri jelasnya. Namun tetap peran terbaik setan ialah, kita harus merasa lebih, dari apa-apa yang mereka miliki, kita wajib miliki.
Senandung maaf saya tuliskan bagi kalian yang ingin bergerak di bagian tersebut. Berlutut dilantai bumi bersedih menyepi, toreh kisahmu kepada Tuhan yang Mahaesa. Tanpa menuai murka, mohon maafkan jika tulisan itu menyakitakan. Bagaimana jika dia itu menyakitkan hatimu ? saya niat mengembalikannya seperti semua tetapi saya mohon di maklumkan memang begini adanya. Setidaknya ini dikemas sangat tidak menyerang fasisme. Ibadah pun saya suka di tinggali, tetapi yakin Allah ada di hati ini, dan pikiran ini menjadi modal untuk saya, dan yah semua berjalan begini adanya. Mendengarkan isi hati. “Iqro” segala sesuatu disekitar. Semua bisa kita pahami, jika kita bisa membaca alam sekitar yang berpesan kepada kita. Meski sekecil apapun dirinya berbisik dalam hati. Ikutilah langkahnya…
Satu kata lawan!, pikiran yang tersaji dibalik celana kalian
Satu kata ikuti!, suara isi hati di mana letak Tuhan
Terlalu jauh rasanya ingin memulangkan kampung halaman ini dengan tanah yang terbentang luas, tanpa ada gedung pencakar yang mengahalanginya. Semua saling berkepentingan. Semua kini ingin menjadi dihargai, ingin mengisi bangku-bangku pekerjaan, ingin mewujudkan apa-apa saja yang ingin dimiliki di bawa pulang. Semua ingin tampil secara bersamaan. Semua terjerumus dalam mainan. Termasuk saya yang menuliskan ini semua, dirasa gagal ketika hasil kumpulan harian ini saya rasakan, saya tuliskan, saya tusuk dalam-dalam. Dan mencabut itu semua demi melawan masa depan. Karena Ayah tidak lagi muda, saya dengan keluarga, lingkungan, serta kekasih hati yang entah kapan ingin membangun negara sendiri nantinya sebagai tujuan istirahat pola pikir liar ini. Saya sedang menimbang itu semua. Saya masukan dalam pola warna, dan rasa saat ini. Dimana fokus saya terpecah belah, tanpa tahu akan berlabu dimana. Saya ingin sejatinya bisa terus bertahan, dan bisa saling membagi hasil prestasi.
Kemungkinan besar yah siap tidak siap. Masyarakat XYZ, asal ibu kota nanti banyak yang pada senderan di balik dinding, tertawa ketiwi, bahasan yang tidak kunjung usai, hepi-hepi. Kerja mereka membangun sendiri kanal televisi. Belum lagi usaha bagian para petani nya yang kian maju, dengan gagasannya mendirikan ‘Legalisasi’. Saya sangat mendukung, jika yah memang bawasanya tanaman tidak disalah gunakan aturan, dan jauh akan kriminal. Karena media kini internet, banyak menghadirkan manusia yang di dorong ke arah freedom. Tetapi tetap filterisasi kebebasan itu apa ? Dilain sisi yang sudah merasa selamat dalam jalur lurus, kanal agama yang mengkafirkan belahan sebagian orang, serta menutup semua akses silaturahmi. Rasanya banyak yang salah di pahami bagi sebagian orang. Karena mereka semua nya bergerak hanya demi ingin bertahan hidup, dan memiliki pengikut. Serta saya paham betul mengenai dimensi, hukum itu ada di langit, bukan di bumi. Godaan banyak disajikan, sehingga memungkinkan kebiasan para konsumtif tanpa melirik kembali jalur pulang sesunguhnya.
Yakinlah apa yang dikeluarkan, Tuhan akan ganti dengan apa yang dikeluarkan. Serta justru semua yang sirna siap terganti lebih. Sekarang saya hanya bertanya untuk apa ? angan kalian yang belum terjawab ? dari Amin yang paling serius dari simpul jam yang terus berdetak dalam curi pikiran khas pagi buta pikiran antara sehat, dan sakit raga. Ingin menepi semua rasanya belum rapi, semua urusan mengganggu pola istirahat. Percalah rezeki datang dari mana saja, jangan terlalu terfosir segala sesuatunya yang dipikirkan dengan sistem pola canggih platform era kini. Semua akan siap, dan rapi dengan sendiri.
Bicara kemajuan kedepan, banyak dari musisi era kini, dan kemudian nabi-nabi baru yang sudah memprediksi tahun-tahun yang akan datang digambarkan, ditafsirkan atau sejatinya itu lahir dari pistol mereka, yang masing-masing yang terletak persis di balik celana dalamnya, atau memang sudah melewati pesan nyata yang Mahaesa. Semua sudah bias rasa, dan memang sudah merancang semua ini, atau memang alur akhir zaman seperti ini. Sehingga karyanya itu mirip mirip suasana hati “katanya”, mirip sabda batu kepada lidah api. Awasi suara hati, siapa sopir sesungguhnya isi hati masing-masing diri.
Singkronisasi bermulai dari cara saya mengendarai Vespa. Tolong menolong bisa di definisikan hal yang utama, tetapi apa terjadi jika kita bicara tolong menolong demi suatu kepentingan ?. Dibalik hal tolong tersebut, akan ada hal pikiran melangit, membabi-buta, mengenai siapa yang akan lupa setalah membuka kulit kacangnya, dan siapa yang akan bersedih pernah mendampinginya…. anjir gagal gini tulisan di bait ini, berantakan padahal habis berserah diri jumat’tan. Hidup bukan saling mendahuli, bermimpilah sendiri-sendiri. Rapatkan barisan, pertemanan yang kian terpisahkan dari cara kita bermain yang terlalu jauh kini.
Saya tetap lah yah, menuliskan, bercerita, berputar mirip obat nyamuk. Ketika dengan teman mengenai bahasan antar pribadi, berdua dengan saya ialah pengalaman yang memang sangat tidak mengasyikan. Berbeda dengan bicara lurus yang langsung pada topiknya, dan endingnya jelas. Saya mah beda, memutar dahulu baru endingnya. Kewarasan saya ini di informasikan oleh sosok ‘Madbois Senoparty’. Saya juga kurang paham saya ini mengapa. Inilah efek penyakit itu, narko yang tidak membuat kalian menjadi apa yang seharusnya terjadi. Menggeser program kewarasan yang memang sudah diniatkan, bahwasanya kalian ingin sekali merusak diri sendiri, jika semacam itu dikomsumsi demi melintasi dimensi waktu yang menipu.
Yang pasti, saya jika fanatik agama tatanan ekonomi sama-sama tersesat di jiwa. Dan kalaupun lupa, saya ini bukanlah Tuhan, yang sibuk mendalami jiwa, dan materi sekitar. Akhirnya, merontok segala amal perbuatan saya sendiri, karena terlalu sibuk membawa mereka menjadi sosok manusia yang sebenarnya. Sedangkan saya, terus sakit jiwa dalam hal mengudara. Urusanmu cukup budaya yang menuturkannya, Allah yang menjalankannya. Batasi itu semua, berbuat baiklah setiap waktunya. Urusi diri sendiri dengan memahami alam semesta Nya. Jangan turuti nafsu dengan mengkafirkan sekitarnya dengan dalih berhasil membawanya ke jalannya yang lurus tanpa kita paham itu semua adalah urusan Nya. Saya semoga di doakan teman teman yang membaca, karena dengan di doakan teman lebih cepat terkutuk saya. Dari pada mendoakan diri sendiri yang ditiap malamnya di cancel Tuhan, karena mencoba menjadi Tuhan. Kita wajib berusaha, biar Allah lah yang bekerja. Pahami mengenai, rontok nya pahala. Datang lah ke majelis ulama. Hentikan berdimensi dengan memandang media kemajuan, yang kian juga mengurangi pahala. Hati hati dengan Tuhan, mungkin saja, Tuhan yang kamu miliki itu bukan sejati supirnya. Mungkin juga Tuhan ialah Dewa yang sewaktu perjalanan nya bisa upgrade level.
Sampe dimana ini, Cimahi, Jawa Barat. Stop ah, pom bensin ini, ngerokok dahulu enak di pinggiran. Jalur Padalarang, ngebutnya tak karuan, saya kan setan nih, takut bukan sama Setan. Takut sama begal sepanjang jalur Cianjur – Padalarang yang gelap, dan menanjak, lantunan takbir meriah menemani perjalanan, kendaraan mudik satu persatu melewati tetapi tidak memadati. Apa lagi kendaraan-kendaraan besar, sudah tidak ada sama sekali beredar. Kebut tuh dingin…. dengkul ampun. Hingga tersadar jam menunjukan kebersamaannya di atas, dan bersiap siap akan pergantian hari yang fitri. Dan sebentar lagi di hadapan, kota Bandung.
Bandung, memahami kota ini sama saja sakit kepala. Berjarak 152 Km Jakarta – Bandung. Namun memang terasa ada yang menonjol beda dari budaya ibu kota Jawa Barat ini. Keluar dari fase gedung bertingkatnya, tetapi sama potensinya. Sama-sama berpotensi tempat untuk singgah, namun tidak rebah. Tempat kota yang fungsinya, masing-masing orang mencari jati diri untuk bertahan hidupnya. Namun tatkala dipikirkan, mengapa menginginkan Jakarta mengapa menginginkan Bandung ??? mengapa.
Kita terlempar jauh, dari yang dinamakan wadah dimana ada keriuhan di sanalah banyak perniagaan. Kehidupan seperti berawal dari wadah-wadah ini. Namun menyadari saja akan perjalanan ini. Saya tepat berjalan di wilayah Buah Batu, track lurus panjang menuju Cileunyi, Bandung Jawa Barat. Kesisaan sunyi pagi, hal yang menarik tetap kental terasa, jika berfantasi moda transportasi. Namun, dimana kian hari, kian waktu, semua ini akan berakhir, secara tidak sadar masuklah kita dalam dua dunia. Maya, dan Nyata. Terjerumuslah kita dibaliknya, mirip lagu ‘Homogenic – Transmutasi’. Dibalik nya ini semua, kita hanya tersiksa dalam fase makhluk sosial. Namun dibalik kenyataan apa perlu untuk memenuhi aspek tersebut ?. Rasa ini hadir, ketika tengah malam berjalan di Bandung, sejuknya udara, sepinya jalan raya, serta tatanan kota yang cukup menyegarkan hati ini pula, gambaran yang berbeda kental dengan Jakarta.
Kerisauan di atas sedikit terjawab oleh keheningan Bandung. Ini akan muncul dipemahaman rasa. Bandung itu ada rasa. Oleh karena itu banyak mereka yang besar karena nama Bandung, merekalah bunga-bunga yang bermekaran. Merekalah, susunan manusia hening itu. Takaan pernah mati, meski bangunan besar kian menggusurnya rata kelak.
Saya besar di Jakarta menuju kota yang taraf levelnya mengurangi angka demi angka. Bandung semoga engkau tetap memiliki rasa. Dan Jakarta saya mohon kreatiflah. Gantilah kemeriahan mu kini, kepada generasi mendatang bahwasanya, setiap baitnya memiliki lembaran-lembaran cahaya. Dan membuka gerbang luas membuka jendela dunia yang berbahaya. Ibu kota, tetaplah induk. Dia akan tetap siap, walaupun seisinya mudah melupakannya. Tertampar waktu indah penulisan ini, pada bait tulisan ini, di masa sekarang penulisan. Jakarta diisukan tidak akan menjadi ibu. Ibu ini akan siap tergantikan baru nanti di sebrang lautan sana. Dimana pemerintahan kini, orang dibalik semua ini, mereka yang kaya dari negeri ini, yang katanya berusaha benar-benar dari kosong, hingga semua perabotan rumahnya terisi. Kabur lah mereka…
Goyah lah mereka, oleh lautan masa pulau Jawa. Kabur mereka membuat negara baru. Dari tanah, dan batu yang debu debunya masuk ke dalam doku. Bangku-bangku di sana dijaga aman. Karena ibu kotaku kini tidak ada lagi bangku. Modern sudah, tetapi jadi kampung. Terasa sulit ingin bergerak ke ibu, karena minimnya perahu serta doku. ‘Efek Rumah Kaca’, berjudul ‘Biru’. Kalimantan kumohon, perhatikan kami anak anakmu, sulit menemui mu. Maafkan jika di Jakarta kami hanya singgah tidak lagi rebah.
Cileunyi, sejauh perjalanan ini baru terasa kalau ini hari pulang mudik. Meriahnya bus, dan kendaraan lainnya terlihat lalulalang mendahului Siput. Terlebih, banyak teman dari media yang waktunya tersita demi memberikan informasi hangat bagi para pemirsanya tersebar tumpah ruah, pada bibir ditiap jalan sepanjang keluar tol Cileunyi ini. Bismillah…. Kuat kuat tinggal dikit lagi. Garut kemudian kampung halaman yang berasa Singapore.
Semoga perjalanan tengah malam ini di temani shuffle playlist music yang menarik. Saya selalu terima, nyawa hidup yang selalu ada luka di hidup yang fana. Agar tidak merasa bosan saya kerap teriak untuk menghangatkan suasana dengan bernyanyi. Namun, yah bersyukurlah sebenarnya dengan udara Bandung tadi. Mendapatkan sedikit untuk mengenali diri begitu. Ternyata keheningan, memberikan keping kebahagiaan. Dan sadar, saya sendiri merasakan penuh rasa, dalam perjalanan ini. Saya adalah orang yang banyak sekali kehilangan sadar, kendali untuk menikmati hari demi hari dengan penuh kedamaian, dan kenikmatan. Yah meski, ketenangan itu hanya di balut, bisingnya knalpot Siput, dan playlist music, tetap saja hening itu cukup memberikan warna, meski tidak mewarnai.
Saya pula paham, penulisan ini, jauh akan memberikan kalian pedoman kebahagiaan sejatinya duniawiah. Namun semoga perasaan kaya hati, perlahan membentuk kalian agar tidak menjadikan munafik Amien…. utang jangan di bawa mati….
Rancaekek – Nagrek – Cipanas Garut didepan mata. Jika track ini terlewati, masuk lah kita di Singapore. Haha… Luar negri luh. Sadis…!!!!!!
Bicara keriuhan, hening memang jauh dari kota sepertinya. Lebih sering hidup di hirup pikuk keriuhan. Kemungkinan ini lah yang di cari mereka yang ingin pulang ke kampung halaman. Namun, sudah lah saya terbiasa di hirup pikuk keriuhan. Disela keriuhan, terselip waktu, meski lelah, meski penat. Bait demi bait rima ini tertulis, secara tidak sadar, melewatkan penyadaran yang tadinya tidak memungkinkan malah harus biasa dilaksanakan.
Story mind, masih berlangsung menemani perjalanan ini. Yang terpikirkan kini, saat turunan tajam, Nagreg, Garut Jawa Barat. Mengapa yang terpikirkan ialah berat pada kematian yang menanti. Kata pulang menjadi rima yang berbahaya sekelibat saat melalui jalur ini. Siput terlebih, remnya yang cukup membuat ngeri-ngeri sedap. Akhiri pemikiran itu, dengan mematikan mesin Siput. Turun meluncur, kalau ada yang klakson, apa lagi senggol, bacok saja sudah. Dia tak tau, saya ini parnoid sama turunan. Saksi nyata mengapa turunan sangat di takuti, karena bekas luka yang terukir di wajah sendiri dekat bagian mata kanan. Tersungkur di wilayah jalan menurun Kampung Baru, Jakarta Barat, dengan Vespa Pink ceper knalpot yang suaranya mirip mesin perang, milik teman. Dia pasti sedang tertawa jika mengingat ini, sekaligus memikirkan hal-hal aneh yang cukup juga menyiksa pikirannya. Padahal saya tak mengapa, hanya saja memang bolong, dan masih ada untungnya pula, tidak mengenai mata, masih untung juga tidak buta, masih untung pula juga masih ganteng. *wew
Sejauh perjalan ini, saya sadar tidak malu, dan saya wajib berbangga oleh cerita yang saya tuliskan. Hingga pemikiran ini lahir dikarena yah… memang perlu dibahas, kebanggaan apa yang terlahir sehingga tulisan ini memungkinkan, dan sekali lagi saya bukan siapa siapa, apa lagi ingin menjadi apa. Saya akan siap berbiacara apa adanya. Apa yang saya bawa ini, itulah pesan dari suatu yang terlihat dari kata kebanggan. Dan ini lah pekerja dengan gaya nya.
Landasan berpikir itu pula seketika terlintas, saat jalan menanjak di sekitaran daerah Leles, Garut. Dimana ini, waktu menunjukan pukul 01:00 WIB. Hanya lampu jalan, dan mini bus yang menemani cahaya jalan. Karena kiri kanan masih ada bukit, dan kebun jagung yang sedikit, namun gelap, karena sudah larut malam kota. Dari kejauhan Siput sudah meninggalkan Bandung, dibalik intipan lampu lampu yang kian menggecil terlihat jelas dari bukit. Dan yah lagi-lagi berpikiran mengenai politik, dan negara lagi. Padahal di atas sudah janji yah tidak mengumumkan hal ini lagi. Haduhhhhh…. Seru yah memang, terlihat konyol, dilihat melulu, kapan memang finnisihnya sih yah politik itu di Nusantara ini. Kapan pula juga pikiran ini usai. Saya padahal hanya Eko dengan Siputnya, bukan ‘Thom Yorke’ dengan Radiohead nya. Pikiran begini juga karena hal tersebut. Pikirian ini juga karena kemajuan tersebut. Dan pikirian ini juga yang menjadi keributan diluar tersebut. Yakin lah dengan berpikir, ilmu bahkan gagasan membuat ini semuanya akan carut marut. Mulai mengertilah, kalian harus berhenti baca di sini. Ini bercerita tentang orang miskin. Tentang bagaimana situasi cacatnya hati. Membuka aib tabir kebodohan duniawiah. Bahwasanya memang saya saja sepertinya yang terlalu bodoh, dan larut dalam kesulitan terus menerus.
Di era kini, dalam penulisan bait ini demi menyongsong masa depan. Disadarkan kembali mengenai sistem belajar mengajar baru, yang dimana siswa-siswinya pada SD, contohnya. Umumnya rasa ini sedang di alami adik ke 2 saya. Pintar tidaknya, wajib di luluskan. Kemudian, di bawah pemerintahan lanjutan, ranking kelas siap dihapuskan. Okelah…. mungkin ada kala benarnya, dimana tidak ada lagi kesenjangan antara yang pandai, dan yang malas. Karena mungkin, semua anak pasti memiliki potensinya masing-masing. Berkhayal saya, mengapa saya tak pandai, semasa SD lanjutan ke menengah pertama, saya bersekolah di Labschool, Kebayoran Baru, yang teman temannya itu diantar jemput mobil mewah. Namun bebas biaya untuk ikut turut serta menganyam pendidikan di sekolah elite tersebut. Hanya ingin begitu rasanya mengajak mereka, main bersama, belajar bersama. Kemudian akan saya tawarkan segala macam dagangan remeh dari kampung, yang akan saya jual dengan harga sepantasnya yang tidak pernah mereka temui di kompleknya. Dari sistem tersebut akan ada hal berbeda apa yah untuk kedepan nanti ? Harus bisa rasanya terealisasikan. Mengenai seisi sekolah dengan beragam kelas sosial. Tidak serta hanya menginformasikan kemampuan, atau tidak mudahnya siswa-siswi dengan meninggalkan budaya lama, yang menyongsong keadaan dengan berharap masing-masing siswa-siswi itu memiliki kreativitas, dan kemampuan yang beragam. Namun tidak difasilitasi mereka bisa berbaur dengan kelas, kelas terbaik ditiap daerah wilayah semisal.
Kemudian, kenyataannya yang terus berlangsung ini seperti penipuan, makin ketipu dengan kebutuhan. Makin ketipu juga pepatah saat SD lalu. Dimana, prakata “Guru itu tanpa tanda jasa”. Makin sini makin kesini, saat mereka semua yang tadinya murid, makin pintar lah mereka, makin di jasa kan lah yang membutuhkannya, serta ditambah ongkos kirim. Wahahaha…. *apasi era digital masa kini.
Garut, kota Swiss Van Java katanya. Dilihat lihat, oke lah. Kota wisata juga. Tetapi bertahun lamanya sudah, kota ini sama halnya dengan kota Tasikmalaya. Mereka banyak sekali menghasilkan buah tangan, entah itu oleh-oleh pangan, pernak-pernik kerajinan, dan yang terbaik cukuplah dinilai kota, dan masyarakatnya yang mandiri. Namun, rasanya tidak cukup disitu, rasanya saya ingin menguliknya. Jauh dari rasa syukur itu, tinggal di Garut kota ini sepertinya, dinilai sangat mampu, untuk saya semisal bertahan hidup. Karena, pandangan mereka tidak jauh, tidak terlalu tinggi, seperti bertaruh nasib di ibu kota, pandangan mereka pasti bagaimana cara bertahan hidup dengan berjualan, atau pun mengerjakan kerajinan tangan yang bisa di jual, dan ditawarkan ke pendatang, demi menyambung makan esok harinya. Meski yah memang kota-kota daerah, dipastikan hanya ramai dikala liburan. Namun, yah kembali lagi bagaimana bisa mengatur itu semua. Terlebih memang rasanya, banyak gambaran mengganggu mengenai rasa ketidak puasan khalayak untuk menopang suatu unsur ketahanan dalam hidup di era kini. Meski begitu, Garut, Jawa Barat saja contohnya sudah memulai diserang para investor luar untuk meramaikan daerahnya agar tampak dilihat menarik, atau dapat dilihat menjadi modern ? dengan banyaknya terbangun tempat istirahat, wisata dengan mengorbankan hasil buminya yang terbabat habis. Pandangan wajah penghuni lama sepertinya juga berjuang untuk menaikan harkat, dan martabat mereka, berkeinginan sejahtera.
Di sini, semangat itu makin keras, tancap Vespa dengan lugas. Bagus lah hari ini perjalanan selain kosong, lantun takbir membuat perjalanan yang terbilang menjadi teman mengasyikan berjalanan saya dengan Siput. Karena usai Garut ini, jika kalian tahu, hutan kanan kiri, namun yah dengan aspal yang baik, maklum ini pulau Jawa. Masih pengertian lah pemerintah Jawa, dan sekitarnya, kurang paham dengan belahan pulau lainnya, semoga sama yah. Proses katanya.
Sesekali rasa takut datang, meski yah benar. Ada untungnya jalan malam takbir ini. Selain hanya memikirkan esok pagi bermaaf- maafan. Perjalanan ini, hilang lah rasa bertemu setan di jalan. Aslinya gelap, kiri jurang, kanan tebing tinggi, jalan nya kelak kelok. Tetapi percaya ini akan biasa-biasa saja di jalan. Yah, meski pikiran ini membawa saya kepada akhir hidup, akan dengan dosakah atau dimaafkan kah dosa-dosa yang tidak luput dari harian hari yang dijalani semasa hidup. Serta diterimanya tidak tiap kali bersuci, dan berserah diri. Perhitungan hal-hal tersebutlah yang rasanya perlu di pertaruhkan. Apakah kita sudah benar-benar menjalankannya ? atau memang hanya bermimpikan surga untuk mendaratkan tujuannya ?. Padahal saat berwudhu saja, dalam agama Islam saya masih ragu, dan takut, bahwa proses itu ada yang salah, dan salat menjadikannya tidak sah. Meski niatnya mengalahkan itu semua.
Saya ingatkan kembali. Ini hanya cerita miskin, dengan bangga nya bercerita, menantang ikan lautan yang hanya tetap menceritakan bagaimana kerasnya gambaran arus sungai. Dan kerap meraba, jika jika jika… berandai andai andai andai. Saya yang suka air jernih meraba raba kalian yang terbiasa dengan air asin.
Kini, berada tepat kelokan tajam dimana sebelah kiri ialah kampung Naga, yang kini kian modern, sudah mengenakan lampu sebagai alat bantu penerangan rumahnya. Lanjut, di depan mata tinggal sedikit lagi tiba di kampung saya. Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Yakin lah Indonesia kaya akan suku, dan budaya. Contoh Kampung Naga. Kampung Naga ini merupakan salah satu kampung adat yang masih melestarikan tradisi, dan budaya leluhurnya. Dalam hal ini adalah budaya yakni keturunan Sunda sepertinya masyarakat Badui, di Banten. Fantasi jauh jika berbicara kekayaan alam, dan budaya jauh modern sebelum semua nya seperti sekarang ini. Contoh hal saja pulau Jawa. Dengan adanya, Candi Borobudur di Yogyakarta, Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, menambah era modernitas, dan canggihnya budaya, serta peradabannya pada saat itu, terletak di Indonesia. Aneh memang, negeri ini terdahulu siapa saja memang pengisinya ?. Dan sudah melewati fase apa saja bumi ini ? berakhir, tidaknya peradaban ? semua masih rahasia Tuhan. Selain itu, rasa penasaran kita sebagai anak-anak zamannya. Apakah harus majunya negeri ini dengan cara ? memperbanyak pembangunan ?
Malam semakin senyap, lantun takbir masih berkumandang. Tak sadar ini sudah menunjukan pukul 02:00 WIB waktu setempat. Setiba di rumah nenek Ayah, saya beristirahat. Saya amat sangat memuji, dan bersyukur saya sudah tiba di sini, hari ini, dimana hari yang begitu fitri. Perasaan yang begitu kacau selama perjalanan berubah menjadi amat religius.
Yap, saya tiba di kampung halaman. Di sini rumah nenek dari Ayahku yang sekitar wilayahnya sudah menjadi sebagian kota. Karena memang rumahnya berdiri di tengah kota Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. Setiba di sini, memarkirkan Siput, Paman ‘mamang’, yang sedang terlelap tidur rupanya yang membukakan pintu karena, mungkin paham, saya yang sudah tiba dengan suara khasnya motor 2 tak yang terpakir depan rumah. Terlihat keluarga yang lain, seperti keponakan, dan Bibi berkumpul semua di ruang tamu dikarenakan kamar yang penuh sudah terisi mereka yang usianya kian rentan.
Mereka semua hampir memejamkan matanya menyiapkan untuk beribadah Ied di masjid pagi ini. Saya setiba dirumah ini, langsung berkemas pergi ke dapur, untuk membuat segelas teh, dan ‘Uwa’ kakak dari Ayah, wanita kuat yang sesekali terlihat dengan lelahnya menahan kantuk namun sedang menyiapkan masakan enak untuk esok hari keluarga besar Rusdinata merayakan hari kemenagan bagi umat muslim, ternyata Uwa terjaga di dapur hanya untuk mempersiapan pangan pagi ini.
“Sampe pakai apa kesini, kata Ayah pakai Vespa, jadi ?”, “Uh kuat, macet gak?” saut Uwa. “Lancar Wa, berangkat jam 10 tadi, jam seigini sudah sampai” jawab saya. “Sudah tinggal saja semur nya, nanti Eko yang matiin kalau sudah matang, sudah kantuk betul sepertinya”, tanya saya. Dengan formasinya Uwa bersiap, dan penuh kepercayaan meninggalkan tugas larut malamnya ini kepada saya. Dengan pertanyaan penutup tidurnya. “Eko belum mau tidur ?” Dan saya mengiakan. Belum…
Teh tersaji di atas meja makan dengan cerutu dibibir. Alhamdulilah bisa berlebaran. Alhamulillah selamat sampai tujuan. Mengenai gila tidaknya dengan hari ini yang sudah terjadi. Trip pikiran berlanjut kembali. Dosa kenangan, dan ibu kota kini sudah saya tinggalkan. Cara bermaaf-maafan yang perlu disiapkan tidak lagi saling bertatap muka dengan penuh keseriusan, kesiapaan. Saya hanya berpikir saja dari lintasan, semua drama hidup ini akan berujung sendiri. Bervespa sendiri, dosa sendiri, dengan penuh maaf sebesar besarnya. Saya yang memang sangat akrab dengan kesendirian ini. Sangat lebih siap menyendiri, dan berdiri sendiri, karena kemauan sendiri ini pula. Ujung dari pulang ini, saya tetap senang dengan kesendirian. Hal-hal menyenangkan itu sebuah perjalanan bonus, sesiap apapun mengenai sasaran tujuan. Saya hanya mempersiapkan bahwa saya ini sendiri, terlahir ini jangan menyusahkan. Segala bentuk rupa pertanyaan. “Mau apa hidup tuh?” mungkin saya juga tidak bisa menjawabnya. Kata mau, ataupun keinginan, menjadikan hal yang amat membingungkan bagi saya sendiri. Yah mungkin kalian tidak. Jika di tanya ingin apa. Pasti keinginan itu banyak, dan ingin penuh daya usaha juang untuk mewujudkannya. Kemungkinan besar semua keinginan ini semua berasal dari suapan dari sekitaran.
Pikir saya, apa yang dimiliki, apa yang sekarang ini dilalui, sebenarnya berawal dari sesuatu yang tidak memiliki apapun. Jadi kadang sesuatu keinginan yang semangat dicari, digapai, hingga dimiliki kemungkinan besar dibatasi dengan pikiran saya dahulu tidak memiliki semua ini. Mengapa yah suatu kenginan, jika harus, keras sekali ingin rasanya memiliki. Sepertinya sudah memiliki batasan juga, apa yang dimiliki ingin saja begitu, kemudian hilang saja sudah. Jika hilang juga rasanya punya pedoman. Bahwa dahulu juga tak memilikinya. Terus sekarang punya. Ya punya apa ? Bingung saya kadang tuh. Jadi yah pede saja lah….
Sepertinya harus merubah suatu keinginan. Saya harus sekali berhasil. Tetapi tidak untuk Saya. Sudah itu saja keinginan. Mereka yang sedang bersemangatnya begitu, dengan keinginannya. Bertemu orang macam saya begitu, apa yang bisa saya bantu hingga bisa mencapai kenginan kalian dengan begitu, ya saya mah siap saja sesuai aplikasi, eh salah sesuai kemampuan, menyemangati dalam hal mengantarkan. Sudah itu saja sepertinya keinginan tuh. Asli, sisanya keinginan ? Ya, kenginginan apa. Saya mah sudah lah. Tulisan ini dengan sejujurnya tidak mau memiliki keinginan. Dan keinginan itu apa sih ? Ya mungkin, seperti sekarang ini begitu, ketidaktahuan ketika dihadapkan dengan kehilangannya. Pasrah pada Lillah.
Waktu kian larut rasanya, malam rasanya tidak ingin cepat berakhir. Dengan karenanya malam, pikiran ini lebih merasa puas mendapatkan segala pencerahan mengenai teka-teki yang tak kunjung ditemukan. Namun waktu, dan alam yang terus berjalan ini menampar saya. Rasa lemas, dan butuh istirahat besok bersiap mengikuti barisan rapi, dan suci menghadap Nya.
*
Membuka mata perlahan, tak sadar saya tertidur di bangku sofa ruang tamu. Dengan dihadapkan banyak toples kue kering, dan basah yang tersusun rapi di meja tamu. Terbangun saya oleh banyaknya keluarga yang berlinang air mata, dan keponakan yang kecil-kecil sesekali menaiki bagian punggung saya, untuk membangunkan saya. Ohhhhh… sialan saya tak berangkat ke Masjid.
Pandangan semua yang terlihat pagi ini ialah, bermaaf-maafan. Sedangkan saya harus apa. Haduh… di sini saya merasa gagal. Sibuk menggosokan kedua tangan ini ke belahan mata, dan bergegas menuju kamar kecil untuk cuci muka. Seketika keponakan kecil-kecil saya yang sudah berseragam barunya, tertawa bahagia karena berhasil membangunakan saya. Di sini terselip bahagia, dari raut wajah mereka yang juga sangat penuh kebahagiaan. Saya ? tetep berseragam perjalanan semalam, sambil mencari, dan memeluk erat Orang tua terlebih dahulu, untuk meminta maaf, karena nenek Ayah orang yang amat di tuakan sudah pulang, di panggil Tuhan yang Mahaesa. Apa yah, tanggapan dari dua pasang mata orang tua saya, tiap kali menghadapi hari yang fitiri ini. Kegagalan sepertinya yang terlihat dari wujud saya pagi ini. Yap… gagal mau ikut lebaran, tetapi malah seperti roker lampu merah begini dandanan…
Sudah ah yah begitu saja, intinya ramai lebaran di rumah nenek Ayah tuh. Yang silaturahmi tak putus-putus, selalu ada saja yang datang. Saya mah dimana hayoh tamu datang ? saya mah di dapur yang pintu belakangnya dibuka langsung balong ‘kolam ikan’. Selain semua makanan berawal dari sini. Saya mah makan saja sudah, sambil memandang balong. Edan kan…. Jarang sekali begini nih di Jakarta, kalau tidak paling-paling makan di pinggir kali iya deh, sering. Tetapi apa yang di nikmati di kali Jakarta, mau dibuat seperti kali Italia, Belanda juga rasanya takan berselera, sangat jauh berbeda.
Sedikit cerita, dari keluarga besar Rusdinata saya ini. Yakni, Nenek tercinta yang sejatinya dari dahulu suka menemani saya semasa kecil ke pasar, untuk membeli kelengkapan warung teras depan. Dari pengalaman tersebut, ajakan yang takan terlupakan, sangat wajib naik kuda keinginan saya tuh, kalau-kalau tidak uhhhhh... cucu paling dimanja, disayang, dan paling rewel saya. Dan dialah yang amat sangat sayangnya membekas sampai sekarang, takan terlupa. Sangat jauh memang ketika disadarkan dirinya sudah tidak bisa saya temani. Hanya ada lantunan doa yang memeluk untuk dirinya. Kemudian Kakek saya di sini, dahulu ialah Angatan Laut, dan dari ke tujuh anak nya Kakek Nenek saya, Ayah ini anak 3. Kesemuanya anaknya ini amat sangat disiplin, jadi kebayang yah 7 bersaudara ini, detail, kemudian sigap, dan rumit jika diajak bicara mirip-mirip lah sama seperti saya haha… harus lengkap, dan tak bisa sekali punya rasa berbohong, apalagi dibohongin nih wahhh sudah kelar… ngegas saja sudah ngomel. Harap dimaklum, anak, cucu angkatan.
Dari semua 7 saudara ini, mereka sangat tidak asing hidup, dan tinggal di Jakarta. Karenanya dahulu, Kakek memiliki tempat dinas di wilayah Priok, Jakarta Utara komplek Angkatan Laut dimasanya. Kemudian sang Nenek ini dahulu pedagang buah. Dari ke 7 anak Nenek ini, mereka saling bergantian merasakan Jakarta. Kemudian sang Ayah lah yang sangat kukuh menemani sang Ibunya menjual buah yang sering sekali menetap di Jakarta, sisanya menjaga warung kelontong di Singaparna ini.
Okeh deh yah, lanjut… Lebaran hari ke dua. Bangun pagi, di rumah Nenek Ayah ya pagi sekali lah pastinya, mereka sudah pada ramai. Ada yang sudah ke pasar, ke toko bubur sarapan juga ada nih anak-anak receh… Bubur di sini tuh enak sekali. Namanya bubur Kalawagar, sesuai dengan nama daerahnya. Bubur mana juga kalah deh. Ini tukang bubur resmi mirip cerita yang di televisi tuh. Sampe sudah naik Haji dia nyatanya. Okeh pagi ini sarapan bubur, yah bosan juga sih, hari kemarin ketupatan saja. Waktu menunjukan pukul 07:00 bergegas kerumah Nenek Ibu, yang jaraknya 30 menit dari sini. Saatnya berlebaran sama Nenek. Nenek Ibu ini masih sehat, cinta deh sama dia mah… cuma memang pembagian waktunya memang harus di Nenek Ayah terlebih dahulu.
Rantanggg… tang tang….. on the way Cibalanarik, Singaparna, Nenekkkkk I’m Coming.
.
.
.
.
Perjalanan 30 menit yang memang jarak tempuh ke desa ini tidak terlalu jauh, malah harusnya lebih cepat dari ini. Namun memang, jalan menuju desa Cibalanarik ini dari tahun, ke tahun tidak pernah semulus janji yang pemerintah setempat janjikan awal mereka berkampanye. Yap, menurut warga setempat pun mengatakan, bahwa jalan ini pernah bagus, tetapi saat pemilihan pemerintah setempat saja, sisanya yah rusak lagi, kemakan kendaraan berat yang melewatinya, dan terkikis hujan. Sepanjang perjalanan tadi, justru malah dimanfaatkan warga setempat untuk mencari keuntungan, dari jalan yang berlubang ini, mereka kerap meminta bayaran, yang yah… untuk setidaknya menutup lubang dalam, dengan hanya tumpukan tanah, dan pasir, sepengelihatan mata saya.
Tiba…… dimana desa Cibalanarik, wilayah ini cukup terkenal karena adanya Situ, yang dinamakan Situsangiyang yang penuh legenda. Desa ini terlihat masih serupa dengan Kampung Naga yang versi modernnya. Rata-rata beberapa dari keluarga di kampung ini mereka memperkerjakan anaknya di luarkota. Selebihnya untuk pekerjaan mereka di kampung ini ialah, berupa menanam, menjahit payet, sisanya kebanyakan menjadi TKI diluar negeri, dan yang jelas keluar kota dari desa ini.
Rantanggggggggggggg…..tang jlebbbb…..
Dari kejauhan terlihat bentuk rumah yang klasik di tengah antara persawahan, jembatan pemisah sungai, dan kiri kanannya balong. “Assalamualaikum….. Nenekkkkk”, teriak saya. Pasang muka bahagia total. “Aeh, si Eko, orang kota mawa nu kiyeu”, ucapnya. Tau tak Nenek bicara apa itu ? raut wajahnya sedang terheran heran, baru sekali sampai nih, memarkirkan Siput yah ampun. Anggapan nya langsung ialah, saya yang kian dewasa, hidup, dan besar dikota hanya bawa Vespa Siput. “Yah Nenek, jangan liat motornya, liat Ekonya saja cakep”, tangkisku. “Motor tuh yang benar, kaya si bibi dari Jakarta juga bawa motor barunya”, balasnya. “Tetapi kan sampe Nek, ini mah antik, seperti Nenek cantik, sehat terus, gesit, sama seperti skuter Eko” jawabku. Hanya balasan senyuman yang bahagia menyimak saya berbicara, “Maffin Eko yak Nek, Minal Aidzin Walfaizin” :* “Iyah, Nenek kangen sama Eko, tuh dikira tak akan kesini, Eko sewaktu kecil paling tak mau kesinikan karena rumah Nenek jelek, sekarang sudah baguskan, jadi mau kesini”, sindirnya lagi. “Yah Nenek”. “Ayah dan Ibu belum kesini” tanyanya, “masih dijalan Nek, paling dikit lagi sampai, membawa mobil Uwa”.
Okeh… lebaran kedua yah ini, di sini pun sama, begitu ramai, begitu meriah. Namun, jika di keluarga ini menurutku memiliki cerita tersendiri. Yah menurutku dengan versi benar kampung begitu yah. Cerita sedikit mengenai masa kecil saya, mengapa tidak menyukai untuk menetap, dan tidur di rumah Nenek Ibu. Karena yah, pada kala itu, jalur masuk untuk ke rumah ini belum ada jalan yang di batu, apalagi di aspal. Yang kiri kanannya sungai, dan kolam ikan yang begitu dalam dari permukaan jalan tanah setapak ini hanya bisa dilalui 1 motor. Belum lagi yang jalannya hanya diisi rumah yang berjauh jauhan jaraknya, dan minim penerangan, serta banyaknya kebun kelapa, serta depan persis ialah sawah yang membentang. Kebayangkan pas datang hujan, dan malam tiba. Sudah belok, gelap, seram, meleng dikit nyebur waduh….
Selain itu juga, rumah Nenek di sini keren pada kala itu sampai sekarangpun, kerap kali ruang tamu itu sebagai jalur jalanan katak. Malah di tembok-tembok tiap kamarnya itu juga ada katak yang menempel, wahhh benar-benar horror… makannya pada masa itu paling menangis amat menjerit. Karena saya pada saat itu tidak siap bertempat yang benar-benar sangat asing seperti ini. Kecil, dan besar di kota, yang nyatanya ialah saya ini turunan orang dari desa yang benar-benar desa. Takan mudah pudar, kepribadian nyata ini sepertinya.
Namun ini juga menjadi cerita keluarga di Ibu. Usul punya usul dari cerita keluarga. Keturunan dari Ibu ini dahulunya masih turunan darah biru dari bangsawan terkaya Raja Singaparna. Nah, cerita punya cerita kita ini keturunan ke delapan haha… Jadi terjauh dari silsilah ini, kekayaannya sudah habis jauh, dimakan tujuh turunan kesebelumnya. Selain itu, Nenek pun memiliki keturunan yang dimana uyut saya terdahulu menikahi orang berkebangsaan Jerman. Tetapi punya tetapi, kok saya tak ada Jerman nya, dikit macung engak, pesek ia belesek lagi. Yah… namanya juga cerita keluarga.
Tetapi biar bagimana, kalau keluarga dari Ibu ini, memang kerap bercerita yang letaknya jauh dari pemahaman. Dahulu keluarga ini semasa Ibu kecil itu, tinggal, dan besar di gunung Galungung. Paling sering, saat berkumpul bercerita tentang cerita mistis. Yang lagi-lagi ini jauh akan nalar. Terlebih, jika Bibi menceritakan mengenai, cerita Ibu semasa remaja tanggung, memiliki teman dikamar, yang kerap jika ingin sesuatu harus, dan wajib 2, karena satunya lagi untuk teman gaib nya itu. Dan semua keluarga di sini dahulu semua paham dengan itu. Saya ? percaya tidak percaya. Hampir semua saudara kerap menceritakan hal tersebut.
Yang teringat sampai saat ini cerita itu, dan kerap berulang ceritanya, kala dahulu Ibu tengah asyik bermain dengan temannya disebuah perkebunan. Entah mengapa teman sebayanya bermain membawa pistol mirip airgun. Cerita punya cerita, airgun itu ditembakan ke arah kepala Ibu. Namun, apa yang terjadi… dentuman kencang keluar dari airgun tersebut, dan mengeluarkan besi panas melayang ke kepala Ibu. Dan ini cerita yang lagi-lagi jauh dari nalar. Ibu yang sedang bermain dengan asyiknya terjekut karena suaranya, dan menangis kencang, yang sontak juga membuat sekeliling orang perkebunan itu juga lari menghampiri kerumunan anak-anak tersebut. Saksi di kebun tersebut ialah Kakek tua yang juga masih saudara dengan Nenek kandung.
Melihat bahwa Ibu, dan temanya sedang main seperti biasa, becanda, dan asyik bermain, tiba-tiba temanya mengarahkan pistol yang tadinya juga dipikirnya becanda. Setelah bunyi sontakan kencang itu si Kakek ini memarahi temanya, dan mengucapkan pistol ini berbahaya mengapa kamu bawa bermain. Karena kesemuanya anak-anak ini terkejut karena suara pistol orang tuanya dibawa untuk bermain. Mereka tengah terengah, dan bingung. Pistol ini berfungsi, Ibu menangis karena terkaget. Sedangkan si anak itu dimarahi Kakek, teman yang lainnya bercerita, bahwa tadi pistol ini dibawa main, dan ditembakan ke kepala Ibu. Namun, si Kakek ini juga malah terdiam, kok anak ini ditembaknya, namun tak mengapa. Tidak ada luka sedikitpun yang diterimanya, padahal semuanya menyaksikan. Ibu dahulu sedang bermain kepalanya ditembakkan pistol, tetapi tidak mengapa.
Disitu keluarga memahami, betapa benar teman menyendirinya Ibu semasa kecil. Teman yang dahulunya dianggap sebagai hayalan Ibu, membawa cerita keanehan dimasa sekarang. Karena memang betul betul, jika Ibu sewaktu itu suka sekali, ke mana saja ingin memiliki suatu barang itu wajib dua, jika saja dirinya jajan ‘Ibu’ ingin kue, dan snack yang dibeli harus sama, dan harus dua. Karena Ibu juga bilang kepada Nenek kalau yang satunya ini, untuk temannya yang menunggu di kamar. Dilain hal, Kakak dari Ibu pula kerap ingin memergoki Ibu dikamar, bahwa penasaran dengan teman hayalannya itu. Ditiap kali ingin memasuki kamar Ibu, pintu yang ingin dibuka terasa sangat berat seperti terkunci. Namun, kata Kakak yakni Uwa mengungkapkan, bahwa Ibu tidak ingin di ganggu jika di kamarnya. Saat tertutup rapat kamarnya, teman hayalan itu seketika seperti, seisi kamarnya itu ramai. Dan Ibu akan marah besar jika ada yang berkeinginan besar tahu jika temannya itu ada dikamarnya. Karena temannya itu berpesan, cuma Ibu yang bisa mengetahui keberadaan teman hayalannya tersebut.
Namun jika cerita itu kembali di ceritakan keluarga, selalu saja ada cerita berulang, mengingatkan kembali ini. Kemudian, yang berujung bahwa temanya itu dengan sendirinya pergi seiring waktu berjalan. Nenek pun berpesan demikian, dahulu jika dirinya saya suruh bercerita mengenai Ibu. Keganasan Ibu semasa itu harus, dan wajib jika ingin suatu barang, atau apa pun itu wajib dua, dan wajib dibawa pulang untuk dimilikinya. Sewaktu waktu, jika keinginannya tidak dituruti Ibu kerap marah besar. Kepalan tangannya bisa merusak apa saja. Kaca rumah yang berdiameter besar, dipukulnnya, dan terinjaknya dari serpihan tersebut, namun lagi-lagi hal aneh. Ibu tidak mengapa sama sekali tidak memiliki luka apapun, sedikitpun.
Yahhh… bagaimana juga ini hanya cerita kampung. Jadi jika dahulu keluarga ini besar di gunung. Rumah yang saya takuti ini belum seberapa dengan keseraman rumah yang dahulu semasa keluarga ini tinggal, di wilayah Gunung Galungung. Kini pun tinggal di desa Cibalanarik yang melegenda. Di sini Cibalanarik, Singaparna, ada situ yang ceritanya mirip legenda di televisi. Kalian wajib tahu, dan bermain kesini, Situnya tak kalah keren dari danau Toba. Jaraknya hanya 700 meter dari rumah Nenek saya ini. Tersedia track motor trill, dan wisata perahu rakit. Wisata di sini, nyata terciptanya, bukan seperti tempat, tempat wisata lainnya di kota-kota lain. Yang dimana wisata diciptakan dengan sengaja, demi keuntungan beberapa pihak.
Jadi yah begitu lah keseruan kala Lebarannya pribumi kampung dari kota. Prihal ada apa saja, dan ketentuan masyarakat urban meramaikan desa setahun sekali sepertinya budaya yang bagus tetapi belum tentu baik, menurut saya. Dan sedikit gambaran mengenai cerita diatas ialah background keluarga besar saya. Dilain sisi keluarga Ayah kini hampir rata-rata orangnya kukuh, disiplin serta perhitungan bepikir dalam bertindak, lain hal dengan keluarga Ibu yang falsafahnya bersitegang dengan pikiran yang menabrak keanehan alam semesta. Meskipun alam ini begitu besar, dan pandai bermuslihat. Jadilah saya orang yang begini pemikirannya. Segala sesuatunya, saya catat dalam goresan pena, segala sesuatunya di alami, serta pahami dalam-dalam, menurut saya sendiri mah, saya ini cacat sendiri. Dari apa saja yang saya kumpulkan dari catatan ini, yang saya akan siap bacakan lagi, dilain hari, saat saya sudah mencapai suatu tujuan, yang tidak tahu kapan. Buka kembali catatannya, bersandar, dan menertawakan apa yang tengah terjadi.
Oke ada kala baiknya kini merenungkan, budaya orang di sini, dilain sisi dengan budaya kota Jakarta. Nenek saya saja berpesan mengapa sih orang kota malah ke kampung bawa Vespa butut. Wewwwwww….. saya lebih tertantang untuk menjadi pusing. Ketimbang harus diam, berharap segala sesuatunya santai, easy going, dan enjoy begitu dengan rutinitas modern kini. Waktu semakin berjalan, terasa cepat, begitu sangat cepat, hingga tertampar pada penulisan bait ini. Saya sudah terbilang tidak remaja lagi, hampir-hampir menempatkan diri dalam pembentukan Negara sendiri, keluar dari keluarga yang sudah terbangun kini. Hingga saya menjadi seperti sekarang, berfase menimbangkan demi kehidupan di hari esok.
“Kita tidak dapat menyamaratakan seekor kuda disampingkan dengan kendaraan bermesin kalian. Kuda memiliki perasaan, hati, dan insting. Tetapi tidak dengan kendaraan bermesin kalian.”
Pandangan kemajuan dalam era sudut-sudut desa, dengan pemahaman mereka yang minim, menarik untuk didiangkat. Demi kesadaran, permainan invasi di depan mata. Pada dasarnya semua berkeinginan hidup layak. Rupa bentuk kelayakan semua ingin membanting segala hal, meski mereka disetir doa-doa untuk bersombong muka dikala ladang harus dihancurkan dari berbagai lini. Lantas ekonomi kian di giring dalam kesulitan, serta merasa dirugikan dihari lain kelak. Hukum, pemilik, dan politik mereka rasanya lemah. Yang terlihat jelas ialah, angan yang kini, kian mereka simak dengan mudahnya, diakses agar pandangan yang sejatinya hidup itu mirip mereka yang tersimak jelas dalam layar flatron genggam. Tanpa mengetahui proses, dampak, dan meninggalkan jauh sejarah.
Gambaran jelas hal ini terus terjalin terulang, dari waktu ke waktu. Nenek ibu pada akhirnya mendapati waktu luang untuk saling duduk bercerita dengan saya. Pada masa silam, era dimana Nenek dipaksa berbaris, dengan dalih mendapatkan nominal bantuan pangan kala era pemerintahan silam. Nenek ternyata malah masuk dalam nama barisan orang golongan Gerwani, namun lagi-lagi dirinya tidak memahami betul. Hanya mengikuti apa yang dilaksakan pemerintah. Menuliskan nama, dan penerimaan amplop. Singkat cerita hal tersebut sangat disesalinya. Ceritanya mirip film “Sang Penari” era kala itu. Jika terlebih kini dimensi tersebut dibawa dalam era kini, masih ada kah masa-masa ajakan tersebut ? Meski tak terlihat, pastinya ada, namun di balut eksotis saja nampaknya. Kemajuan oh kemajuan, Indonesia selalu melalui fase tipu menipu, mengajak lalu meninggalkan, merasa diagungkan, dijanjikan, langsung tak lama menunggu terabaikan, berhasil merampas semua hak kepemilikan orang kecil. Kini dalam moda lapangan bekerja era modernisasi kini semisal. Pembabatan lahan, untuk siapa, dan fokus ke mana. Ujungnya lahan habis, seisi lapangan kerja dimanfaatkan orang asing untuk mengisinya. Menggeser sejatinya masyarakat asli. Lantas berpijak dari mana lagi jika terus seperti ini berulang. Bagaimana memanfaatkan waktu yang tersedia kini, dengan paham bersama, dengan Indonesia yang harus sejahtera. Harus sesuai unsur lima Pancasila.
Indonesia harus memiliki ketakutan yang amat jelas. Kita bisa memandang, Korea Selatan yang takut akan Korea Utara, Israel takut karena dirinya hampir jauh tertingal, dikelilingi oleh bangsa Arab, Singapore yang negri terpencil takut dengan kita semua bangsa melayu. Namun Indonesia dengan santainya tidak takut apapun, siapapun. Bahkan sila pertama mereka semua menantang keras. Mereka jauh paham akan hari akhir. Mereka yang di atas lupa dengan sumpah. Dan besar tujuan mereka ialah mapan, dan gaya terpandang. Lihat wabah yang sejatinya nyata. Yakni masyarakat yang fokusnya hanya ingin makan. Karena sesungguhnya musuh diri ialah lapar. Karenanya semua oleh Kapitalis, saat awal mula ini semua masuk tanpa kesiapan nyata Indonesia, curva berbanding tajam dengan si kaya, si miskin. Ketidakstabilan karena masing-masing ingin memenuhi meja makanan yang bukan lagi tersedia, namun malah memilih selera makan mereka dengan yang lebih mewah, lebih berasa, apa yang harus wajib kita ubah jika ini lagi-lagi saja terulang ?. Mahalnya kelas memang dirasa tidak sebanding, bagi mereka yang gambarannya belajar membaca saja sudah cukup. Tetapi tidak dengan kaum elite, bersekolah tinggi dengan biaya tinggi, proses yang cukup lama, usai itu semua mereka dinilai wajib memanen apa-apa saja yang usai mereka tanamkan. Demi mengganti, dan rela membayar lunas hasil jerih payah dimasa silam. Namun dengan tulisan ini bertujuan, mereka yang pintar, mohon untuk sama tergerak hatinya, dengan sama merubah pola pikir ini, agar seirama, sejalan, sepemahaman. Sampai disini ada yang mengungkapkan dalam pola pikir, sirik tanda tak mampu ?
Saya menggambarkan, diri ini ialah manusia yang benar-benar bodoh. Orang bodoh jelas akan banyak berbicara, besar mulutnya, kecil otaknya. Berbeda dengan yang kian urung waktu besar otaknya, namun kecil suaranya. Karena tidak ingin salah langkah untuk bertindak. Tidak ingin rugi usai bertindak, tidak ingin mati secara cepat dalam bertindak. Untuk apa rasanya pandai namun, primitif pemikiran. Bertahan ego, perhitungan, tidak ingin salah melangkah. Yang jelas ialah, melangkahlah dengan suara isi hati. Rugi tidaknya, salah tidaknya, yakinlah sekecil apapun itu suara hati, jalankanlah. Bukan akal akalan otak. Jelas itu fungsinya diberi otak, namun jalankan bersamaan dengan hati, serta syukur. Agar pikiran pula tenang, dan ramah menghadapi segala suatu hal.
Meski begitu, melihat sisi lain waktu ini belum terlambat, meski terasa kehilangan kerabat. Saya akan memaksimalkan jalan ini. Demi saya, keluarga, dan negara baru nanti yang saya sangat ingin wujudkan. Yah, coba bayangkan kehidupan di desa, Cibalanarik ini saja contohnya. Rasanya saya orang kota yang tengah berlibur, sangat amat rugi, jika hanya memanfaatkan waktu dengan bermalas malasan dengan televisi. Namun jika dibanding terbalik, memang di kota itu rutinitas dari luar rumah cukup menguras tenaga.
Itu tengah saya pikirkan dengan masyarakat di sini. Mereka kebanyakan bekerja sebagai, petani kebun, ojek pangkalan serta sopir angkutan yang menggangkut masyarakat di sini menuju pasar. Model tradisional tempo silam, masih terjalin baik. Lalu, sisanya sama persis dengan apa yang dirasakan keluarga saya ini. Bekerja paruh waktu, untuk saling membantu mereka yang menjaga rumah abadi ini, yakni negara kusam yang ditinggal pergi seisi rumahnya ke kota. Berusaha semaksimal mungkin menciptakan peluang pasar, namun tetap saja di bayar murah, dan diambil mereka para pemilik modal yang menjajapkan dagangannya kepada juragan. Mohon lah kini era sudah kian maju, mohonlah mereka anak anakmu yang sudah kian beranjak ke kota, bawalah ilmu yang baik. Bukan membawa pandangan kesusahan kalian. Karena mereka sejatinya butuh pelajaran selagi mereka pun juga harus di kenyangkan.
Pada akhirnya, disinilah pemikiran primitif itu terbentuk. Masyarakat berbondong dengan semangat dari desa ini menuju kota dengan tujuan besar ialah membangun daya besar di desa agar terlihat jelas perjuangan dari kota. Tanpa mereka harus tahu, kota itu benar-benar mewujudkan nyata, bentuk rasa bahagia, atau sejatinya hanya sekadar janji semu belaka. Pasalnya, coba bayangkan kebahagiaan saya cukup hanya dengan Vespa Siput yang cantik ini. Sedangkan beberapa pasang mata menaruh hatinya kepada kegagalan yang terlihat sebagai lontaran balik, atas kebahagiaan yang saya rancang ini. Kemudian paham betul, mengapa beberapa orang usai pulang kampung, ke kota ialah hal paling enteng terealisasi. Setelah usai melepas daya, dan usaha di kampung halaman. Karena agar mendapati anggapan, rasanya cerita di perkotaan saja tidak cukup, ilmu, dan paham dibiaskan, terpenting ialah mengisi isi perut mereka. Kembali lagi terpenting ialah ilmu. Ajak mereka untuk paham, dan sama-sama mengerti, pola hidup jangka panjang.
Tuhan selalu menciptakan manusia dengan bermacam cara, dan rasa. Tetapi menurut saya, apa yang tengah saya perjuangkan ini ialah bentuk dominasi bertahan hidup. Bagaimana tidak, ini ialah bentuk kepuasan batiniah. Terlebih untuk apa kita ada di sini, di dunia ini, jika hanya untuk bekerja yang dirasa sangat tidak masuk akal, mengais rezeki untuk memuaskan hasrat yang tidak pernah usai. Namun, ini semua saya anggap hanya menjadi kiasan. Inilah bentuk kepuasan batiniah tersebut. Bahwasanya kota menjanjikan dunia yang amat fana. Berjubel banyak orang di kota dengan kalian yang hanya di gambarkan bagai ikan sungai yang tak sanggup memasuki muara, apa lagi luasnya lautan yang tiba-tiba saja ikan besar menghadang sewaktu, seiring berjalan.
Harpan dari kata di atas ialah. Semoga keturunan China yang merajalela di negeri menolong kita, dikala perang III dimulai, kerena kini semua kapitalisnya untuk memperkaya bangsa mereka sendiri, dan menggerus negri kita ini, yang dengan mudahnya berkata, mereka maju, mereka akan pindah dengan sistem dagangnya dari negeri ini. Kerja, dan kerja terus, bekerja kami yang menjadi petani kota yang masih begini saja, jauh akan hasil panen yang diharapkan.
Ayah paham betul bahwasanya kekuatan, sehat, umur, waktu semua dapat diraih dengan cara bekerja keras, bangunlah lebih pagi, jika dirasa belum berhasil lakukan itu secara ulang. Bertekun ria dibalik gambaran luar di sana yang sama sekali tidak mengajarkan apapun. Sedangkan Ibu mempengaruhi, bermimpilah setinggi apapun itu, anggapan harapan ketidak pastian, bahaya yang menghantui, lawan!!! Jadilah saya yang juga bagian dari mereka, yang megabungkan ketidak pastian hal-hal tersebut dalam diri. Saya lah mungkin rima ababil itu. Yah karena keababilan ini berpegang teguh kepada kitab kaum muslimin. Dilain sisi saya mempercayai jalur, serta alur hari akhir. Sekecil apapaun itu wajib tersimpan di jiwa ini ‘Islam’.
Santar terasa pula, dari genre keluarga di atas. Keluarga Ayah pada umumnya dirasa seperti bagaimana Vespa itu berlaga. Dimana ada yang merasa kesulitan, dibantu. Dimana ada yang merasa memiliki kegagalan akan tertolong. Meski dalam bentuk wujud yang tertembak sekalipun, keluarga yang lain akan menolongnya. Lain hal dari keluarga Ibu. Dimana semuanya bersusah payah sendiri, memerdekakan dengan cara sendiri, dan taakan pernah memecahkan masalah keluarga yang lainnya dengan cara saling bersama sama. Karena kebesaran dari rasa kegagalan, akan mengeluarkan segala macam cara agar terlihat bahwa dirinya itu semua berpeluang merdeka.
Tertampar kembali waktu pesan ini dituliskan berlangsung. Ketika segala halusinasi menyerang pola pikir yang sehat. Harapan serta bayangan doa yang kini jarang terkabul disepertiga malam. Saya harus mempersiapkan jalan pulang, dan kembali ke kota. Dimana semuanya sudah dikeluarkan, dibuktikan, bermodal kejujuran ini lah saya masih bertahan hidup.
Kemajuan memang sertamerta tidak bisa, kita tidak terima. Terlebih dari sejauh perjalanan yang kita ukur, malah kita yang di gilakan oleh hal-hal remeh temeh yang menjadikannya budaya primitif ini kian mewabah ke desa-desa. Mungkin ke plosok-plosok, kemajuan bagi saya bukan modernisasi, melainkan primitif busuk kontroversi sistem jalur yang mempercepat neraka di depan mata. Mungkin jika ini semua ditarik mundur. Kalian tetap di daerah kalian masing-masing. Upah Minimum Rakyat (UMR) wajib terganti dengan kata Upah Maksimal Rakyat. Semua merasakan kebahagian dari mereka yang bertani, dari mereka yang bekerja mengantakan dengan jasa, dan dari mereka yang mengatur keseimbangan agama keyakinan yang dimiliki. Perekonomian global menjadi tabir kebodohan yang mengumpulkan masyarakat dalam satu titik. Hingga seketika titik tersebut hanya butuh air bah untuk menyadarkan, bahwasanya tempat tinggal kalian tidak pantas di kota yang memungkinkan banyaknya lahan yang tergusur, banyaknya beberapa kepala yang tengah merasa berhak besar, karena berkepemilikan setelah bertahun tahun beranak pinak dalam satu titik tersebut. Tanah yang dirasa memiliki kebebasan kemudian perampasan lahan secara simultan mengatasnamakan undang-undang.
Maaf maafan nya sudah usai, 2 hari cukup. Esok harus memikirkan bagaimana cara kembali, bagaimana bisa bertahan hidup, jauh lah memikirkan bagaimana cara posting bahwa badan ini sudah tiba di level mapan kala libur panjang ini. Maffkan saya merumuskan ini bak dajal yang menelaah akhir zaman. Rasanya hidup ini seperti tidak ingin berakhir tragis. Namun jika hidup mimpi dibalik mimpi itu akan bahaya, siap-siap membunuh pemikiran diri sendiri. Kini rasanya disaat saya memiliki banyak rasa tahu. Saya merasa mereka alam lain di luar sana memaksa menipu itu semua. Kitab pemikiran buku kelahiran dibaca setan, habislah… Rasa pentafsiran hadis tidak sepenuhnya kita jalani. Namun, malah di contek, dan dibaca mereka orang yang bukan sewajarnya mempelajarkan Islam. Dan mempersiapkan bait tiap baitnya perumusan Ayat Suci.
Berusahalah membaca, namun sudah lah tidak harus berlebihan, dalam penafsiran, lihatlah sekitar kalian. Memang sangat tidak salah menyampaikan, dan sebagainya. Yang salah ketika hal kesalahan orang lain kita umumkan, kita sebarkan, kita jabarkan dengan kajian penelitian, segala bentuk amal pahala akan begitu saja mudah pindah kepada dirinya yang engkau jadikan metode mengkucilkan. Hadis pun kini sudah semacam, penjabaran Al -Kitab yang sudah tidak tahu lagi dimana versi aslinya. Cukup tidak di lebih lebihkan ungkapan ayat suci. Tidak ada perintah untuk hal tersebut di tafsirkan hingga mencapai kesepakatan bahwa ini lah penjelasan ayat tersebut. Yang perlu dilakukan bacalah, kerjakanlah, amalkan lah, sampaikan walau satu ayat, cukup Allah yang bekerja dibaik kita sudah berusaha. Secukup nya…. Tidak berlebihan, tidak kian primitif ikut bersama larut dalam kemajuan. Nabi pun rasanya paham betul dirinya hidup di dunia ini berupaya menjalankan tugas, tanpa mengetahui kapan itu hari akhir. Diturunkannya pun kembali dirinya, tidak paham betul kapan berakirnya alam semesta. Namun tetap menjalani sesuai tuntutan ibadah, dan berdoa. Terlebih larilah ke guru pedoman majelis ilmu, minta ajarkanlah, tanyalah sesuai pemahaman, jangan berlebih, dimana akal kini, media memang yang membuatnya harus bermutasi muktahir cara ajar mengajar, namun ada dampaknya juga ketika media ini mengajak liar. Banyak khalayak untuk menggali rasa penasarannya, dari bentuk pertanyaan, pertimbang apa-apa saja yang mereka konsumsi. Dan paling terdekat ialah Iqro segala sesuatu dikehidupan yang kalian jalani tiap harinya. Sekecil apapun itu Iqrolah.
Kini ketika tulisan ini kembali diingat, meski rasanya hanya cukup besar keinginan mengingat bukan mengulang. Banyak-banyak berdoa saya tuh, gelar Sarjana ini harus apa, ngapain, bertindak apa. Sedangkan bekerja ini pun dirasa saya hanya mencari kesibukan, dan tunduk akan keteraturan, peraturan yang bukan diri sifat saya sejatinya. Kerja harus tunduk, merasa dibudak, dan memang buka ada apa-apa lagi selain bekerja, bertahan, untuk menghidupi hari demi hari. Mungkin jika tidak memasang mental babu, hari ini tertulis saya dipastikan mati esok hari. Tetapi jika mencubit diri kembali, alam itu besar luas, semesta itu mudah bermuslihat, hidup rezeki ini bukan untuk diri sendiri. Manusia saling berkegantungan, manusia membutuhkan manusia lainnya, manusia saling tusuk menusuk, melontarkan panas bara pembicaraan demi kepuasan. Tetapi yasudah lah, harapan besar mereka sekelilingku, jika ya kata ini kasar, dan kejam, apakah dosa ?. Minal Aidzin Walfaizin…
Pembentukan rasa cinta dalam kalimat yang membangunkan naluri, semoga menjadi pahala. Tidak hanya itu, berkeras hati menanti esok hari kalian sahabat saya yang pernah saya temui, dan membaca kegiatan tulisan ini, saya itu baik. Buat apa dirasa memaksa sesuatu keinginnan saya, hanya untuk merobohkan segala daya mampu kalian. Saya ingin kalian kaya ilmu yang dihadirkan seiring Tuhan juga adalah bagian dari saya, bukan berarti manusia bisa menjadi Tuhan. Karena prinsip itu tertulis jelas. “Wajjahtu Wajhiya” dimana menghadapkan wajah, disitu wajah Allah, yakinlah bahwa itu Allah yang juga turun bertemu ditiap hari-hari yang telah di tuliskan dari Nur Allah, yang jatuh sebelum bermimpi itu hadir persis pada hari ini detik ini menit ini.
Sumpah arah kembali ini, yah terasa sangat lah lama. Ketimbang kemarin pulang ke kampung halaman. Kebanyakan berpikir ini tuh benar sudah kembali ke kota lagi. Cepat sekali sih libur lebaran tuh. Ibu kota sih tidak jahat, tetapi pikiran ini nih…. Ada salah apa sih. Diawal kepergian memikirkan salah tidak bermaaf maafan. Ketika dihadapkan macam ini, salah apa yah ??? Haruskah kembali bekerja, menginjak ? atau di injak demi bertahan, mempertahankan keluarga di rumah ? Semoga ada jalan keluarnya, semoga bisa mengumpulkan dikit, demi sedikit rezeki, dan kembali berusaha, memperjualkan suatu kebutuhan, dan yakin pasti ada yang membeli, dan laku. Amin… dan bercita bisa membuka lapangan pekerjaan, serta asrama seni, bagi mereka yang ingin mentotalitaskan karya untuk ikut sama mempertaruhkan daya, dan upaya hidup di dunia ini. Dan bermimpi saya bisa punya wayang golek si Cepot untuk saya mainkan, dan diceritakan.
Namun sama persis keadaan sekarang, ketika hal ini dituliskan. Sewaktu semasa pulang itu, saya tengah memikirkan hal-hal ini, akan tiba dimasa yang akan datang persis ketika hal ini tengah di tulis. Kapan yah Jakarta menjadi kampung. Meski begitu, itu hanya moda pemikiran. Dan kini dituliskan semoga belum dijadikan seperti pemikiran tersebut. Bagaimana coba, ketika kota Jakarta menjadi desa, atau kampung. Intinya mirip gambaran, kereta tanpa gerbongnya. Bagai Ibu tidak mengajak semua isitinya. Pergi dia membangun negara baru, yang niatnya untuk menyendiri, bersepi, jauh akan keramaian, dan ketegangan para pengisinya yang kerap tidak bermaafan, dan sukar merusak. Kini dirinya ingin apa, jika dia seperti itu. Kita juga ngapain sih jadi seperti ini, anak-anak zaman ibu kota. Sekarang ini, bekerja rasanya seperti percuma. Segala sesuatunya bisa didapat, dan dibeli, tetapi malah merusak seisinya. Kerja capai, hanya untuk mendorong kematian. Mulai rasanya ingin bertani, memiliki kebun sendiri, tanah, dan air yang mengalir, menjual bahan pangan. Tidak ada lagi kehidupan modern, lsitrik maupun segala seuatunya yang menyulitkan.
Media dibalik itu semua dampak apa saja yang saya ungkapkan. Sedikit orang gila, banyak orang stres. Satu saja nih seperti saya sudah titik, yang jadi gila tidak kebanyakan, karena konsumsi media. Terlalu banyak mengkonsumsi media dapat menjadi daya juang agar kalian juga bisa menjadi apa saja, siapa saja, yang bukan dirinya lagu ‘Festivalis’ sekali nih. Anjirr GAGAL hidup terkotak, kotak kaya teh kotak, televisi kotak, bak mandi kotak, rusak, kutipan lagu ‘Melancholic Bitch’ sekali nih. haha dasar lirik band era kini.
Jadi seketika perjalanan balik itu, sedang merasakan nikmatnya berlibur di atas Siput. Pemandangan tanah Pasundan cukup mengoyah hati. Tetapi tetap saja ini, pikiran tak bisa jauh dari berpolitik. Anjir….. Hidup nyari makan di politik mulu negeri ini mah, biar laku. Kan saya juga bilang kalau-kalau damai, malah tak seru. Indonesia seperti tidak membutuhkan damai… mereka juga semua akan menyiptakan apa sih… Tetapi sebenarnya bukan itu, tetapi ya bagimana realita kehidupan ini, dibuat menjadi mengasyikan seperti itu. Tidak dipusingkan oleh kemajuan ini, itu, begini, begitu. Yang lapar tetap saja lapar, yang kenyang tetap menaikan selera makannya karena dirinya terus merasa lapar dikala kenyang. Dosa kita sudah semua ini, membiarkan saudara kita malah mati kelaparan. Atau memang salah mereka tidak bergerak, dan berpikir ? Atau salah mereka terlalu banyak berhayal, meminta ? Apa karena kita ini yang memang selalu merasa kekurangan ?
Kehidupan yang bergeser dari kegemilangan yang terbilang sudah sangat maju dari desa menuju kota. Masih samar teringat, kalau saya ini orang dari kota cuma bawa harta benda yang remeh temeh. Berarti dari situ saja sudah jelas, bahwasanya pengangapan itu terpenting, ketimbang apa yang kita kerjakan di kota. Oleh karena itu tak aneh, kalau-kalau kini masyarakat kota mementingkan glowing wajahnya, berpindah pindah dari bar ke bar yang satu, dan yang lain. Itu juga membuatnya bikin maju kok. Yah meski dari semua ulasan banyak omong saya ini, semua isi tulisan ini hampir sangat kental terasa bahwa saya sangat merasuki urusan kalian. Hidup itu singkat, dan terlalu buang-buang waktu untuk terjun dalam pemikiran yang memikirkan orang lain ‘setuju ?’.
Tetapi saya mah apa, sekali lagi saya mah bukan apa-apa memang, tetapi kiranya disaat saya ini begini, saya selalu merasa saya ingin membawa kalian ke arah cara bertahan hidup yang baik. Meski, saya juga jauh akan di pemikiran kalian. Dan saya biar lah, terbiasa dengan sepi ini, sama mikirin kalian-kalian biarin cukup kuat saya tuh… biar surga usaha nya bagaimana caranya untuk mencapaikan nya. Tetapi biar lah pula jika neraka ujungnya. Namun di sini tengah berdoa semoga dijauhkan fitnahnya, serta paham akan tulisan remeh temeh ini. Semoga buku ini mendekatkan, bukan malah menjauhkan, serta bebas akan kebencian.
Dari Garut mengarah ke kota kembang, mikirin saya tuh semisal Jakarta saja macet sudah lah yah ampun ampunan. Terus ini Bandung sama juga, kedua kota ini seperti dari bagian titik kumpul begitu. Cuma memang mengapa Jakarta, mengapa titik kota Jakarta tuh menjadi UMR ? yang mungkin dari pengangapan khalayak yang begitu besar, menarik untuk disinggahi. Tetapi, coba bayangkan besar itu, sebesar apa. Kecil itu sekecil apa, sepertinya sama saja. Namanya juga upah minimum. Banyak sekali segala kemungkinan, semisal yah, bahwasanya satu titik ini, menjauhkan dari berbagai lini kehidupan yang terus gencar pembangunan. Kemudian apa lagi, yang terasa usai pembangunan, kebanjiran, kebakaran, dan lain nya, banyak sekali karena macam yang mengundang kejahatan semisal. Tetapi yah dimana mana juga seperti itu sih, selalu akan ada mendung bergelayut di belahan mana saja pun akan sama, jika pangkalnya yang akan kita bahas, endingnya akan menjadikan seperti sekarang ini, yang kalian rasa saat ini, yang pada akhirnya, mereka orang-orang mulai pandai mendaki. Berlangsung filmnya, tulisan tulisannya, lagu-lagunya. Masih mau menyangkutkan segala omong tersebut di atas dengan teka teki akhir zaman ? Kalau zaman sampe jadi bertemu zaman Doraemon bagimana ? Setres lagi loh fix… besok nyari duit gali apa lagi, bangun apa lagi, gusur apa lagi, tebang apa lagi. Sampai kalanya bertemu dimana itu adalah zaman di mana ada doraemon. Jadi nobita saja sepertinya, anak yang malas, dan bodoh, tetapi beruntung.
Semisal kita berbicara, manusia itu butuh lapangan pekerjaan, sedangkan itu sudah menjadi pola pikiran pemerintahan bahwa siap menciptakan banyak lapangan pekerjaan, dan itu modal awal yang mereka tanamkan dalam sembako-sembako yang kalian ambil dan konsumsi. Namun mengapa musti satu titik ?. Jelas saja ada banyak orang yang mengejar titik itu semua. Koes Plus pun berpesan, “ke Jakarta Aku kan kembali”, tetapi setelah memikirkan lapangan pekerjaan kini sudah menopang lah yah, terbukti dari beberapa masyarakat Indonesia kini mahir mengaplikasikan smartphone, hampir lah merata berkepemilikan smartphone ini. Kemudian, kota itu sendiri, sudah mulai menunjukan kemampuannya untuk sama dengan kita, yakni eksis, dan mengajak untuk kembali pulang dengan sama-sama membangun kampung halaman dengan lapangan pekerjaan.
Namun apa yang terjadi ? pembakaran dimana mana, pangkas lahan secara merata, ini sudah pembentukan yang menurut saya harus di selesaikan ketimbang “Kaum Pekerja Punya Gaya”. Lantas apa yang sedang terjadi di Jakarta kini, banjir dimana mana, pemukiman kumuh segera disembunyikan dari kecacatan yang jika disimak negara sebelah menjadi organ paling fital, untuk segala sesuatu apa yang ingin di buktikan malah akan terasa memalukan. Mereka lagi-lagi disingkirkan. Pemerintah kembali memakai kacamata hitamnya. “Tenang ini cool”… ucap mereka.
Dengan sepantasnya, memang Ibu ingin ini semua berakhir ? mengapa dengan hari esok Ibu, ingin pergi ? Ibu ingin ini semua berakhir cemerlang di seberang lautan sana. Paham betul Ibu, sedari dahulu memang sosok yang keren, dan penuh gemilang. Jadi dirinya miris ingin pergi karena kini seisinya kebanjiran. Terlebih ini kesuksesan mereka semua sudah pada bisa mencari uang, atau memang ini semua sudah ah sudah lah… mari bedayakan tik-tok aplikasi canggih demi memperjual harkat martabat wanita, atau memang memperkenalkan budaya goyang rakyat +62 agar go Internasional oh…
Namun sekali lagi terlukiskan, media dengan busuknya menaikan informasi bahwasanya pembakaran hutan cukup lama, dan menyiksa waktu untuk memadamkannya. Disisi lain, ini menjadi makanan saya. Ketika media semua itu banyak bicara. Semua media Indonesia kini sudah tidak sejatinya menjadi media.
Diberitakan, Jakarta polutan terbesar ke 2 di dunia. Terus pembarakan yang tadi di atas kita bahas, tidak parah ??? Ini seperti ya sudahlah bakar saja hutan, lihat orang yang hidup di Jakarta mereka semua masih bisa hidup. Terlebih jika jam istirahat berlangsung mereka mengeluarkan cerutunya, dan kembali menghisap dalam-dalam tembakaunya, demi mengelurkan kata-kata toxic. Ini yang akan menjadi kiblat saya meneruskan bab selanjutnya. Yakni, masih dengan Siput masih dengan perjuangan Vespa. Namun ini puzzelnya. “Rima ini kurancang untuk memantang mitos – Homicide” bahwasanya juga bukan lah saya yang tabirkan segala sesuatunya ini semacam ke Tuhanan yang Mahaesa. Menjabarkan segala semua bentuk kisi-kisi isi Alquran. Namun ini hanya bicara rasa. Jika ya, saya merasa Tuhan. Rasanya tidak sanggup berbicara, didepan mata Nabi Isa meng Islam kan semua agama, dengan usainya kehancuran di tiap-tiap negara.
Dilain hal media kini berkicau, menyebar ketakutan, ketidakpastian serta kebinasan mengenai akan berlindung dimana kita usai ini, semua menit ini, dan detik yang sudah melewati batas perhitungan. Lagi lagi lagi dan lagi... bahwasanya pulau Jawa dikabarkan akan kesulitan air bersih di tahun 2040. Jadi saya pun berpikir, selama ini saya besar di pulau Jawa ini. Saya mengkonsumsi air haram yang kubiarkan begitu saja masuk kedalam tubuh ini, dan berlapis terus menerus ke bagai generasi begitu ?. Hingga akhir hidup ini pun usai. Sudah kuduga, saya akan berubah wujud, separuh hamba serta menyerempet Tuhan. Melintasi batas garis waktu itu
Pemikiran mengenai, apa itu puasa plastik. Apaitu save earth, dan apalah itu macam ganti nya. Jadi kesudutan mengenai itu semua ialah, bagaimana upaya kita wajib ‘bijak’ menggunakan plastik. Tanpa tahu, bagaimana mengurangi plastik. Sejauh ini berbicara, kuda ini pun berwujud besi tangguh peninggalan negeri Pizza. Vespa saya yakin kedepan akan meminta tumbal. Mengenai, kendaraan lain yang kian memenuhi, dan menghabiskan miliaran limbah dari bahan bakar mereka yang mendekatkan kiamat. Yang kalian harus sadari, sesuatu yang kalian inginkan mungkin bukan yang kalian butuhkan. Benarkah cinta di atas segalanya ? apakah cinta itu satu-satunya ? Yang menjadi alasan, untuk menutup mata, tak melihat dunia yang sesungguhnya ? Mungkin harus bisa menjadi jawaban, untuk akhir yang bahagia. Tetapi mungkin memang paling terkecil prosesnya, coba membuka mata hati, dan telinga.
Padalarang, kini saya lewati dengan cara menurun. Terus mengalir kearah mata angin Barat menuju Ibu Kota. Kiri kanan masih kupikirkan, ini ciri khas sejatinya pulau Jawa. Berhalusinasi kembali dimana akan adanya dampak dari pemikiran kuda besi, penuh polusi versi 2tak, era nya yang takan pernah merugi melintasi beragam generasi. Tidak semua searah, tidak semua sejalan meski searah. Pemikiran modern ini, di singgungkan dengan kalian yang terus meneruskan kehidupan dengan cara mendukung ke primitifan. Kesenangan demi mengejar anggapan. Tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi di masa depan. Semisal ya ini semua dijalankan, entah berapa lapangan kerja, dan usaha mati, karena kini semua kendaraan dibatasi. Entah akan bagaimana indahnya jalanan yang hanya terisi kendaraan yang melintas sesuai kebutuhan, dan keinginan untuk menggapai tujan. Entah berapa pula mereka yang beralih fungsi bekerja seperti Ayah. Yang berbahagia menyupir bak mereka yang kini juga menjadi taksi online demi membeli sesuap nasi, dan separuh bonusnya untuk membayar cicilan gengsi, serta hal yang terus di konsumsi akan menuai kerusakan yang memerlukan sisihan kembali kebangkangan sedikit rezeki untuk berbangga kembali mencari.
Bekerja untuk hidup…
Atau hidup untuk Bekerja…
“Anti Gandja – The Brims” menutup bab, Antik itu Kampungan.

