BAB 2

Februari 17, 2020

 

Sekolah, rupa sistem pendidikan terlintas dipikir ialah, hidup dimasa mendatang, bukan hidup dimasa sekarang, yang tidak akan pernah terpikirkan juga nantinya di masa mendatang itu. Semangat, serta niatan ialah rupa wujud penggapaiannya. Uang menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang di negeri ini. Serta pendorong cipta ragam mimpi yang diharapkan.

Tuhan uang, semua manusia men-Tuhan kan segenap kemampuan, pikiran, meski hanya demi melanjutkan kelangsungan hidupnya di dunia ini, yang berpedoman terbaik bagi mereka yah! hidup itu harus banyak uang. Bahkan saya bisa menggambarkan bahwa, berhala terlihat bermacam – macam bentuk rupa di era modernis kini. Masih sepintas cerita, yang ingin saya curahkan. Hingga betapa saya berbangga, akan berhala yang saya miliki, dia bukan uang, meski segalanya harus dengan uang. Saya bangga akan, si Siput 2013. Dia terus saja menghadirkan pola hidup ini bahagia.

Kuliah, mana pernah terpikir rasanya bisa merasakan sistem pendidikan yang amat mewah ini. Andai kata bisa terlontar, saya hanya ingin bahagia, meski rasanya bahagia itu tak akan pernah dirasa tak apa, yang penting bersyukur masih ada pada bagian hidup ini. Seperti bicara ikhlas yang tidak saja ujungnya. Cukup memulai ambil kunci, mulai kick starter Siput rasanya sudah bahagia. Rantanggg…tang

Sekitar pertengahan tahun 2013, saya mungkin berterimakasih atas segala nikmat, dan rahmat yang Tuhan berikan atas segala rezeki yang saya peroleh. Saya dapat menjajaki kebusukan yang di lalui dari bangku kuliah. Ayah yang mendorong saya untuk tetap, memparuh waktu, agar bisa melaksanan kerja, dan berlajar kembali. Pada masa ini, mana mungkin terpikirkan rasanya kuliah, sambil melakukan aktifitas seperti biasanya, terasa percuma. Tetapi yah mungkin benar, sesuatu tidak akan menjadi sesuatu jika sesuatu itu tidak ada.

Ayah saya berkata, “ini mungkin jalan di mana, kamu harus lebih maju dari pada Ayah, terlebih sekarang ini, ijazah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) tidak dipandang mewah seperti dulu”. Saya pun akhirnya menimbang, apa benar yah kuliah itu penting. Sampai pada akhirnya, pilihan berlabu. Saya diberi pilihan oleh Ayah untuk menjalani sistem kuliah di UHAMKA (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr.HAMKA), di wilayah Selatan Jakarta. Duh... nampaknya, terlihat tragis, mempikirkan membawa badan ini saja rasanya mulai lelah, malah saya harus berkuliah menambah daya juang otak untuk melunasi nya, dan terlebih, Universitas yang saya ingin terapkan ialah kampus Islami.  Amin ayo Amin…                  

Mundur pada masa di mana saya merasa, tidak ada gunanya. Sekolah negri saja rasanya saya kurang mampu. Oleh karena itu pada waktu lulus SD  (Sekolah Dasar). Saya merasakan sistem SMP (Sekolah Menengah Pertama) di Tsanawiah, yang jaraknya masih mampu di hadapi dengan berjalan kaki pastinya. Dan hmm gumam... saya amat paling payah dari sekian ratus siswa ajaran 2006, wilayah Kebayoran Baru.

Di Tsanawiah, pelajaran yang amat benar membekas dari niatan, dan rasa takut pada saat ini ternyata, senjata di lain waktu menurut saya, usai yang dirasakan sekarang. Pada masa itu, saya menerima bentuk sistem ajar mengajar bersaing dengan murid yang notaben mereka sekolah sambil pesantren. Kelemahan terbesar ialah malas semasa itu, bahkan hingga mengerak dalam otak sepertinya. Sampai sering sekali ketakutan, tiap kaki melangkah memasuki kelas yang berisikan pelajar sederajat, mengenakan celana panjang, baju sopan, dan wanita yang berkerudung dengan rok panjangnya. Terpenting dari cerita lalu ialah, saya merasa gagal dengan teman teman lain. Mereka bisa dengan aman bersekolah Negeri. Sedangkan saya lagi-lagi menyusahkan Ayah, dan Ibu harus memparuh bayaran sekolah Tsanawiah, dan terlebih bayaran bulanan rumah petak tempat saya tinggal. Saya akan secara kuat mengantikan ini semua kelak.

Teringat lucu sih... tiap kali pelajaran mengaji, dan presentasi bicara bahasa Arab. Saya murid paling belakang, dan mencari bentuk tubuh teman sekelas yang gempal, agar dirinya bisa menutupi saya dari rasa yang amat payah, ujian tes di depan kelas.hihi... Tetapi sudahlah, masa itu pun telah dilalui, dan keberanian menjadi modal utama, kemudian optimis, saya bisa lalui masa itu sekarang, tanpa harus saya pikir panjang, jelas bahwa kuliah agama ini pasti menjadi pedoman paling penting dalam hidup saya nanti.

Bingung sesaat... mengapa Ayah memilih Universitas ini, untuk saya lalui. Mungkin terlebih memang dekat lokasi dengan rumah, jaraknya sekitar 900 meter jalanan lurus tanpa kelok, dan hanya berpapasan lampu stop sekali. Barulah tiba di mana saya belajar, dan saya rasa, bisalah dihadapi dengan mudah. Kerja pun berarti jaraknya hanya beberapa meter dari kampus ini. Yah meski pilihan Unversitas lain yang saya suka juga sudah didaftarkan pula, tetapi bagaimana ! mungkin benar, di sini lebih baik. Timbang menimbang kala itu, semua nya harus berjalan dengan baik, dan terlebih kuliah ini jangan main-main, harga nya bukan main. Jadi saya harus manfaatkan waktu baik, dengan mengambil kelas regular untuk hasil yang maksimal.

Lulus SMK multimedia terlintas pikir, fakultas apa yah yang pantas. Pada masanya niatan, dan keinginan memang ingin melanjutkan basic yang saya sudah miliki sejak SMK, yakni mengaplikasikan software Adobe. Dan saat hadir dalam pendaftaran, terpilihlah sudah Fakultas Teknik, saya siap dengan jurusan TI (Teknik Informatika) nantinya. Awal mula masuk Universitas, banyak kegiatan yang wajib dilalui, baguslah saya mampu untuk siap menghadapinya. Tetapi, belum ditengah jalan juga, belum awal-awal pula juga. saya dipaksa membelokan arah pilihan. Untuk memilih pindah jurusan, menjadi FISIP  (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik), jurusannya! masih amat horor untuk diceritakan. Pasalnya, pada saat saya mendaftarkan kelas Fakultas Teknik, jurusan TI. Gedung kuliah tersebut pindah di wilayah Timur  Ibukota. Yah saya menyerah, dilain hal saya bekerja, dan masih payah, amat sangat payah. Hanya memiliki rupa Vespa tua, yang mungkin sewaktu – waktu malah merusak sistem jam tempur saya, kala itu, berpikir wajib memilih, “Bismillah FISIP” dalam hati.

Sang Jiwa Yang Membara

Berbeda dengan perkembangan badan. Jiwa mengalami  perkembangan, dan penyempurnaan yang lebih ‘tak terbatas’. Dan, tidak linear hanya satu arah saja. Kalau diumpamakan grafik, penyempurnaan badan manusia mengikuti kurva normal. Yaitu dari rendah atau nol, meninggi mencapai puncaknya di usia 20-30 tahun, kemudian menurun lagi menuju nol. Berakhir dengan kematian. Badannya rusak, hancur terurai didalam tanah. Pada saat itu badan manusia sudah tidak berfungsi lagi. Tidak bisa merasakan apa–apa lagi.    

Selama di dunia kualitas jiwa manusia bisa naik turun. Meningkat ketika dia membersihkan jiwanya dengan membuat banyak kebajikan. Dan menurun, ketika dia mengotori jiwanya dengan banyak berbuat kejahatan. Mengapa demikian, karena jiwa adalah ‘sang aktor’ dalam kehidupan manusia. Dia punya kehendak bebas yang ditularkan oleh Tuhan dari sifat-Nya: Maha Berkhendak, lewat penipuannya sebagai ruh-Nya. Inilah yang membedakan jiwa dengan badan. Tubuh manusia sekadar ‘kendaraan’ bagi jiwa. Jika kendaraan itu rusak, penumpangnya masih bisa beraktifitas di luar kendaraan. Yang demikian ini terjadi pada manusia pada saat dia tertidur, dan mati.   Pada saat tertidur, jiwa manusia bisa beraktifitas, dan mengembara di luar badan dengan cara bermimpi. Baik atau pun buruk. Dan ketika mati, jiwa juga kembali beraktifitas, mengembara di luar badannya. Tetapi, karena badannya sudah hancur, maka jiwa itupun tidak bisa kembali ke dalam badan. Kecuali si badan sudah diturunkan kembali oleh Tuhan di hari bangkit, kelak. Jadi berbeda dengan badan, jiwa tidak mengalami kematian dalam arti sebenarnya. Meskipun badannya rusak, dan hancur, jiwa tetap tidak mati, melainkan hanya keluar dari badan yang rusak itu. Jiwa, kemudian melanglang buana di alam berdimensi lebih tinggi. Mengapa dia tidak mati ? Karena dia adalah energi. Dalam istilah kedokteran jiwa disebut sebagai badan bioplasma. Maka, perjalanan jiwa bisa disebut sebagai perjalanan mengembara untuk mencari hakikat fitrahnya sendiri.                                

Diciptakan di dalam rahim sang ibu, jiwa terbentuk seiring dengan proses pembentukan badan si janin. Karena itu tidak ada ceritanya di dalam Alquran, Tuhan hanya menciptakan jiwa tanpa menciptakan badannya. Badan adalah kendaraan jiwa. Sekaligus cetak birunya. Tempat Tuhan menciptakan jiwa. Di mana, dan bagaimana jiwa itu diciptakan Allah. Karakternya ditempatkan di dalam untai genetikanya. Susunan genetika manusia itulah yang menyimpan potensi jiwa. Interface-nya adalah otak.                                                      

Fungsi jiwa seperti sedih, gembira, pemaaf, pemarah, penyabar, tergesa-gesa, iri, dengki, ikhlas, sombong, rendah hati, dan lain sebagainya, tersimpan di dalam untaian genetika dengan susunan tertentu. Inilah yang oleh QS. 91: 7-10 disebut sebagai ‘’Allah mengilhamkan kepada jiwa kecenderungan untuk berbuat fasik, dan takwa’’. Kencendrungan itu disimpan dalam bentuk kode-kode genetika di dalam sel tubuh kita. Dan, ini merupakan turunan dari orang tua kita. Bahkan nenek moyang kita, sampai ke nabi Adam, dan ibu Hawa.                                                                                         Tetapi, mengapa sifat itu bisa berbeda-beda pada setiap orang ? Karena, semua sifat itu tersimpan di dalam genetika sebagai potensi. Sedangkan aplikasinya bergantung kepada ‘khendak’ yang menjadi bawaan dari ‘aktor’ yang lebih tinggi lagi yaitu ruh. Ya, kehendak kita bukanlah wilayah jiwa, melainkan wilayah ruh. Itu adalah derivasi dari sifat Tuhan yang diturunkan kepada manusia. Iradat Allah. Dalam bahasa genetika, kecendrungan untuk mengaplikasikan fungsi jiwa itu akan berupa aktifitas ‘nyala-padam’. Ibaratnya, adalah seperti seorang pemain piano. Umpamakan sang pemain piano itu ruh, sedangkan piano adalah badan. Maka, lagu yang dimainkan adalah jiwa.               

Tuts piano sudah demikian adanya. Susunan nada maupun jumlah oktafnya. Akan tetapi sang pianist  bisa melantunkan apa saja, dengan cara menekan-nekan tuts itu dalam kombinasi yang sangat banyak kemungkinannya. Bisa juga muncul lagu yang sangat indah, dan merdu, atau lagu yang menyeramkan, lagu yang menggembirakan, menyedihkan, dan sebagainya. Semua itu muncul dari ‘kehendak’ sang pianist. Dia tidak akan pernah bisa menyampaikan lagu-lagu itu kalau tidak menggunakan piano sebagai medianya. Mirip dengan badan, jiwa, dan ruh. Ruh adalah penggerak semua aktifitas kehidupan manusia. Akan tetapi harus ada medianya, yaitu badan. Di dalam sel-sel badan itu terdapat kode-kode genetika yang mirip dengan tuts piano. Perilaku yang keluar sangat bergantung kepada tuts mana yang ditekan. Juga bergantung kepada komposisi apa yang sedang dimainkan. Komposisi permainan tuts-tuts itulah yang akan menghasilkan kualitas jiwa. Bagaikan indah, dan tidaknya lagu yang diperdengarkan lewat permainannya.           

Piano-piano standar yang kita miliki mempunyai nada, dan oktaf yang sama di tuts-tutsnya. Akan tetapi, mengapa lagu yang keluar bisa berbeda-beda? Karena komposisi yang dimainkan memang berbeda-beda. Tuts-tuts yang ditekan juga tidak sama. Demikian dengan gen manusia, sama akan tetapi karena faktor kode yang dimainkan berbeda. Baik secara fisik maupun pisikis. Contoh tulisan ini memang tidak sama persis dengan kondisi antara badan, jiwa, dan ruh. Tetapi setidaknya sedikit mirip-mirip. Perbedaan yang mendasar ialah pada perumpaan antara jiwa, dan lagu. Jiwa adalah makhluk hidup yang bisa berimprovisasi secara aktif di bawah pengaruh ruh. Sedangkan lagu adalah komposisi mati, yang sepenuhnya bergantung kepada sang planist.9

Jadi pembawaan diri saya dimasa menjalani fase remaja ini, saya beranggapan semuanya bisa saya hadapi, semuanya bisa saya jalani. Meski terlihat cengeng memang, sedangkan pilihan sudah matang, malah pindah jurusan, dikarenakan terlalu jauh. Saya juga kan menghitung, pengeluaran pastinya, jikalau memang ingin tetap di Teknik banyak pengeluaran yang semestinya, dan tidak pantas juga untuk dikeluarkan menurut saya. Jiwa ini merasakan harus, dan berperan apa, dan semestinya yang akan saya hadapi rasanya, meski ruh saya asumsikan sebagai Tuhan akan bermain dadu. Dadu itu dilemparkan kemudian kita hanya merupa, bahkan meraba, angka yang keluar itu berapa. Jadi, kita sebagai manusia yang masih hidup perbanyaklah melakukan hal, dan macam yang ingin kita pula laksanakan, percayalah bahwa Tuhan yang Mahaesa, adalah pembuat skenario terbaik. Terlebih, kita sudah di alam lain, apakah masih kita bermain peran ?, dan bukan berarti meramalkan keadaan seperti sekarang ini. Penuh keinginan, tanpa tahu kehendak orang sekitar, ‘tetangga masih miskin’.                

Di masa belajar kembali ini, hal terpenting mengapa saya bisa mencurahkan, bahkan bisa memproduksi tulisan ini dengan sesungguhnya, dikarenakan saya menggambil jurusan Jurnalistik. Di sini, saya bertemu seseorang motivasi tertinggi saya, yang mengatakan kutipan Napoleon Bonaperte Jika anda bukan seorang anak Raja, maka menulislah, dari kutipan tersebut, mimpi terbesar saya berupa tulisan ini, yang mengaju pada saya harus diterima di instalasi tempat mengadu nasib, seusai saya lulus nanti, dengan mereka menguji saya, mereka dapat membaca hasil karya saya, bukan satu atau dua contoh berita, melaikan isi tulisan feature, hal itu sudah menjadi cukup. Dan tiap tulisan, kutipan, sobek tiap sobek kertas, dan catatan di smartphone yang saya simpan dari awal masa perkuliahan ini ialah bentuk metode Jurnalistik yang saya pelajari juga, hingga saya pun tersadar, siap mencurahkan isi perasaan, bahkan ilmu. Bahwa tiap bait kata menggandung imajinasi. Dan sedekah pun tidak berupa virtual uang, bahkan bentuk prakata – kata itupun bagian dari membagi ilmu, dan kemungkinan sebagian menerimanya tidak dicerna semua. Agar nantinya ilmu tersebut disebar luaskan, di bagikan dengan sebaik baiknya tidak dibuat buat. Serta menyusun prakata bagai puzzel untuk melengkapi kebutuhan yang sudah kian hilang. Jika yah sampai pada tempatnya, prosesnya saya ingin mengisi mereka kenyang perutnya, dan berisi otaknya.

   Jika kalian pembaca yang terlahir, di era milenial, maka ketika remaja tanggung seperti saya, pastinya tidak asing dengan salah satu band asal ibu kota yakni “Seringai”. Band ini di terbangkan oleh Arian, Ricky, Sammy, dan Edy. Lagu terfavoit saya ialah ‘mengadili persepsi’ di mana alunan lagu, lyrik, dan baitnya saya suka, terlebih banyak merchandaise pula yang saya miliki, sampai tiap kali memulai perkuliahan jaket tersebut menjadi ciri saya. Yakni  jaket dari album ‘Taring’. Dari lagu ‘mengadili persepsi’, saya pula lah memulai menumpahkan ide gagasan dalam tulisan ini hingga menjadi karya untuk pribadi bahkan jika terbaik tanpa ragu saya produksi tepat pada masanya. Yakni di mana dalam catatan saya bertuliskan, “1. Carilah harta sebanyak-banyaknya, kemudian gunakan untuk tidak lupa membantu, dan menolong sesama, kerja untuk Tuhan dalam menyampaikan rezeki, ibadah, sunah, kerjakan, jangan tinggalkan, 2. Raihlah ilmu setinggi-tingginya, lantas ajarkan kepada masyarakat luas agar memperoleh pencerahan di kemudian hari, dan yang ke 3. Ingatlah pesan yang disampaikan, jika disebar, dan dilaksanakan orang lain pahala, dan dosa ada hukumannya”, tulisan tersebut terasa saya bermain Tuhan dalam perjalan ini, “merasa benar menjajah nalar” dalam lirik ‘mengadili persepsi’. Oleh karena itu, saya mau baik meski panik akan terjadi apa didepan. Yang buruk buang jauh, terlebih jika isi buku ini payah, mari kita diskusi bersama.

Tetapi ada baiknya memang saya pertimbangkan tulisan ini, mengacu pada gaya hidup saya selama perkuliahan. Konseptualisasi keluarga, serta lingkungan sekitar, di mana saya pun tersadar segala bentuk dosa, dan pahala dilakukan bersamaan, dan wujudnya dipastikan tidak kasat mata, tidak bisa dihirup, bahkan di konsumsi sebagai penunda rasa lapar. Namun, yah sudah tergambarkan kan bagaimana rupa gambaran, akan dibawa ke mana isi tulisan ini. Nampaknya belum yah, terlebih masih banyak sudut pandang menarik ditiap bab nya.

Semasa memulai perkuliahan, saya adalah objek yang mudah dicari, di mana saya berambut panjang, dengan balutan jaket/parka, dan kaki yang dibungkus booth kulit hitam, dan memarkirkan Vespanya di bawah pohon rindang, berisikan manusia – manusia unik menurut saya. Karena di kampus Islami ini, memang tidak terlebih semua diasumsikan berpenampilan sebagai teroris, atau pun ISIS yang tengah santar diberitakan. Tetapi tempat saya berkumpul inilah, berisikan ragam bentuk teman yang memang amat berbeda, dari seisi kampus UHAMKA, wilayah jalan Limau, Jakarta Selatan. Saya, dan mereka semua bisa digolongkan sebagai. Kelompok penghancur system??? Saya berbangga dengan tempat ini, lebih bisa mengexplore luas.                   

Yah, saya dipastikan remaja tanggung yang cukup merasakan, apa itu lingkaran hitam semasa kuliah. Entah bagaimana ceritanya, dan pastinya, di mana kebanyakan Univeristas di Indonesia, khususnya Jakarta. Pasti mudah menemukan di mana, pencarian jati diri masih berlangsung. Dan Tuhan pasti mengarahkan, dan menempatkan kita di tempat semestinya pula. Oleh karena itu, dari sekesekian ratus orang yang saya temui, dan selalu berubah – ubah tiap tahunnya, di kampus ini. Saya terlihat sosok orang yang amat cuek tidak peduli tetapi menimbang dalam hati bergundil akan setiap pasang mata yang menatap saya. Haduh, bergundil itu ialah sifat yang banyak menghabiskan pahala yang kita kerjakan.

Cuek dengan kendaraan jeleknya, cuek jikalau kuliah jarang mandi, bahkan jarang sekali memulai menyapa terhadap orang yang tidak sama sekali akrab, bahkan mungkin hanya orang sesekali itupun juga, jikalau dirinya yang menyapa saya dengan kata “pret”. Pret itu nama yang saya dapat, di masa perkuliahan ini. Dengan nama terangnya ialah “KAMPRET”, coba itu. Kampret itu anak kalelawar, terbang dikala sore hari. Meski kuliah saya itu dari pagi sampai siang hari pun mereka melihat saya dengan muka malas, menyebalkan, dan sedikit kantong mata. Tidak itu saja, penilaian kata yang acap kali terlontarkan dari bibir ini, terkadang mengacu untuk mereka dengan nilai-nilai yang saya pertimbangkan, terkadang menyakitkan, terkadang membuat lawan bicara saya mempikirkan kata-kata saya. Pedas saya tuh kaya sambal setan. Tetapi sejatinya jelas saya orang paling bodoh, banyak bertanya, banyak bingung.

Karena pada fase ini, saya belum paham betul sebenarnya. Saya hanya berpikiran semua harus sama, semua yang kalian jalani itu payah, lemah, dalam kacamata saya. Semua bisa keren, semua bisa pantas kuliah. Sedangkan saya, bisa juga bergabung dengan kalian yang rapi, bahkan terlihat amat pandai dari tampak luar. Dikarenakan mereka saya anggap, manusia selamat. Bermainkan peran dengan nyaman. Kuliah sama, tetapi berbeda dengan saya yang juga berkuliah tetapi harus merasakan kerasnya mencari rezeki versus sudah banyak memiliki keinginan kaula muda. Namun, harus rela terbuang begitu saja, demi bayar kuliah. Tetapi di sini pastinya tidak hanya saya saja kan ?

  Oh iyah... mungkin terasa bingung, mengapa saya kuliah gondrong. Karena, di semester dua, saya sudah pindah bekerja saya di sebuah media online milik swasta, wilayahnya tidak jauh dari Mall tempat awal bekerja, dan curahan ini akan kita bahas pastinya. Oleh karena itu juga, pilihan Jurnalistik dipastikan, karena saya ingin sekali tahu lebih mendalam, apa itu Jurnalistik. Teringat pula mengapa FISIP, pasca resign, leader lama butik saya bekerja, berpesan. “Kuliah lah Eko ambil fakultas berbau komunikasi, sepertinya cocok”. Karena saya mendapati keanehan, mengapa tidak!, umur yang dipastikan belum matang, masih di bawah 20 Tahun dengan kewajiban umur yang valid itu 22-23 dalam dunia kerja Jurnalistik. Fase umur ini bertepat dengan yang sudah lulus masa perkuliahan seharusnya. Saya buta apa itu sistem kerja Jurnalistik apa itu menulis, tetapi saya bisa bekerja di instalasi media. Bahkan sudah memproduksi puluhan tulisan per harinya. Dalam kelas Jurnalistik, dan banyak ilmu komunikasi, kutipan terbaik dari pengajar menjadi catatan, dan daya timbang dalam konseptualisasi.

Saya selama menjalankan jiwa sekarang ini. Dan tidak dibenarkannya, jika ini kehidupan anak yang dicontoh “rider Vespa” di manapun kalian itu. Ini hanya rupa bentuk saya, karena terjerumus dalam jahatnya berhala yang diisap, pemacu daya kekacauan otak. Dari kelas Jurnalistik, banyak membaca ialah faktor utama mengetahui jendela dunia. Meski terkadang, semua kata yang terlontar terhadap sosok manusia di depan kelas pernah saya sanggah. Dengan raut wajah kekesalan, dan mata yang sedikit memerah karena ulah setan yang merasuki, lewat berhala isap. Dikarenakan, pikir saya pada masa itu ialah, tidak ada yang memungkinkan media kini nyata. Pasalnya seorang naluri Jurnalistik berbeda drastis dengan kenyataan di lapangan, dan segala bentuk yang diajarkan pada sistem idealis seorang Jurnalistik amat sangat meleset, dan berbeda, itu menurut pikiran sesuai nalar lucy in the sky pada saat itu, dan mohon maaf, jika kalian protes pikiran nalar liar ini, bagaimanapun ini masih bab pendidikan, dan kita juga masih negara democrazy. Anehnya, ingatan itu samar-samar, sangat amat acak. Ketika tiap bait itu ingin saya tuliskan semuanya tidak ada. Semuanya tidak bisa saya tumpahkan. Yang saya ingat media itu diciptakan awalnya untuk saling menghancurkan belahan negara. Dilain sisi media itu bisa menerbitkan suatu agenda yang baik. Contoh saja penggulingan era Bpk. Soeharto, itu juga pengaruh media ada yang baik, mendidik ada pula yang buruk. Tetapi bicara mendidik ? , bagimana siaran itu saja yang berlangsung ketika tayangan itu terus berulang dan dikemas ulang, awas!

   Seorang Jurnalistik ialah, mencari, mengolah sampai mempublikasikan suatu rangkaian berita berdasarkan fakta. Namun, yang terjadi di lapangan, dengan berbagai macam bentuk wadah media. Seseorang menjalankan media, di nahkodai mereka yang berkepemilikan modal. Mereka tidak mudah begitu saja, menuangkan ide, dan gagasan sesuai idealis jurnalistik mereka. Terlebih saya pada masa perkuliahan ini, sudah merasakan bekerja pada instalasi kecil, bernamakan media, namun tidak sesuai SOP (Surat Oprasional Perusahaan). Bagaimana tidak contoh saja yang saya temui orang media diluar yang mencari isi hidupnya dengan menjalankan peran pemilik media, bahkan hingga mereka dibutakan, demi idealis seorang Ayah. Demi membeli susu untuk anaknya dirumah. Memberitakan karena bayaran sekesekian untuk menuliskan sesuai opini narasumber yang banyak dirahasiakan, dan terlebih susunan pertanyaan yang seharusnya di pertanyakan, malah dibelokan, karena Tuhan kertas.      

Oleh karena itu, hal kini yang saya timbang dipastikan saya hadir dengan sadar utuh, hingga menghadirkan utuh pula tulisan demi tulisan, yang sedang pembaca pegang ini. Jadi dipastikan lagi, segala bentuk pemicu daya otak itu bukan gaya hidup terbaik. Bahkan memang sebuah berhala tersebut banyak merasakan bentuk imajinasi yang luas. Akan tetapi, kita harus sadar pula, Agama megajarkan, sucilah dirimu jika menghadapku, bahkan jika kalian masih dijalan yang salah, cobalah untuk kuat terhadap cobaan yang kalian akan jalani, untuk berjalan di jalan benar. Karena, segala bentuk ibadah, akan menjadi biasa, jika kita terbiasa. Bahkan resep terkuatnya ialah, jika kita beribadah, jika kita ingat sang pencipta, baik lagi kita menjalankannya. Maka kita terlepas dari perbuatan jinah, bahkan bisa lebih baik untuk jauh meninggalkannya. Meskin pun yah, komentar terberat ialah. Mau makan apa kalau idealis ? lagi-lagi dia tidak yakin Tuhan yang bermain  film dunia ini?.

Baik, masuk dalam pola pikir pada masa kacau di atas. Tetapi terlebih jika tersadar kini. Pikirku beranggapan, kendaraan Siput ini ialah rupa berhala terbaik. Pada kelanjutan saya menjalani perkuliahan. Saya pindah lokasi, tempat tinggal, dan memulai menjalankan perkuliahan dengan membuka mata, Astagfirullah... kesiangan. Pasalnya, kedua orang tua, saya, dan kedua adik kini tinggal, di wilayah Barat ibu kota. Cukup panjang, awal cerita disini ini, tetapi rasanya di buku lain cukup. Tidak di buku ini. Yah terasa cukup lumayan lah, yang di mana biasa saya kuliah jarak tempuh hanya lima menit, kini 30 menit bahkan sampai 60 menit, bahkan tidak sampai pun juga pernah. Cerita nya panjang mengapa tiba-tiba di Jakarta Barat.

Saya berasumsi kacau, pada masa galau menurut saya, yang artinya ‘gak ada lauk. Saya kuat sampai saat ini, karena Siput. Bagaimana tidak, tiap malam hari, Siput, saya ajak bicara, tiap minggu saya bongkar untuk sesekali merawat mesin yang kotor karena oli tercampur debu jalan, dan sampai terlebih kalau mogok dijalan, tidak pernah saya sesali, malah saya usap, saya ajak obrol kembali, “kok mogok, mengapa mogok, belum jajan – jajan yah.. ?”, sampai segitunya saya, sayang Vespa saya sendiri. Yah tersadar memang, kali ini banyak sekali masalah nampaknya, terasa memang harus turun mesin, dan jarak yang kutempuh tiap hari kini lebih memakan waktu. Daya umur Siput pun semakin harus terus menerus di rawat dengan lebih baik. Tetapi tetap saja, inilah budaya, inilah Vespa Indonesia. Bahkan saya masih terkagum, hidup di perkotaan ini, yang notaben manusia sudah tidak mempikirkan lagi manusia. Namun ada saja yang rela, dan ikhlas membantu, terlebih kalau saya sudah menyerah, dan Siput terpaksa harus didorong sampai rumah, oleh kalian yang sama seperti saya, pengagum Vespa. Mereka adalah orang-orang utusan Tuhan, masih dalam budayanya, masih dalam tolong menolongnya, masih pula di satu jalur yakni “Satu Vespa Berjuta Saudara” begitulah culture Vespa Indonesia. Begitulah cara kerja Tuhan. Begitulah Tuhan ada. Itulah film yang diberikannya.

Di masa pendidikan ini, banyak sekali karya buku yang kudapat dari keluarga, teman, kerabat dekat, dan kadang teman bermain. Demi hanya untuk sesekali tukar buku, dan memulai perbicaraan yang menarik dari paham satu pikiran. Saya gemar membaca bentuk buku motivasi, serta buku pelajaran yang memang semestinya harus di pahami terlebih dahulu, sebelum siap berperang di landasan kelas. Tidak hanya itu, buku cerita fiksi, yang memusingkan nalar, kemudian banyak pula bentuk buku yang ceritanya membangun mimpi dikemudian hari. Dan semoga pula, wujud tulisan ini, difokuskan untuk membangun kehidupan nanti. Guna mengganti pola hidup kini, dengan modernis kaum buruh Indonesia yang sejahtera.                                             

Dan banyak juga film, kemudian musik yang saya dapat, dan peroleh dari teman kuliah ini. Karenanya film juga menjadi objek menarik. Banyak gambaran, jelas tergambar dalam bentuk wujud film. Dan mungkin dari sebagian orang lebih bisa cepat paham film. Kemudian mengenai isi konten musik dipastikan karena lirik, dan nada irama. Semuanya saya dapat belajar, bahkan semuanya itu juga harus terlebih dipahami, dan dirasa. Meski begitu, terkadang kita pula harus mengerti betul, lawan komunikasi kita. Apa yang diwujudkannya, apa yang disukainya, sehingga kita pula bisa memahami pola daya pikirnya. Karena demi sekadar perubahan diri pula, bisa berlanjut dengan konsep orang-orang sekitar. Bisa sekadar obat penyembuh luka hati dari apa yang kita simak, mungkin objeknya selain itu bisa orang yang kalian temui.

Baiklah, kembali dalam bab ini yang di mana, kita lebih membahas belajar yang bersangkutan, sosial, komunikasi, dan budaya dalam Vespa dengan sama sama. Meski banyak juga yang harus tercurahkan mengenai pertemanan, kehidupan dalam masa kuiah ini. Namun, sepertinya banyak sekali goresan cerita masalah dalam masa pra-kuliah ini. Tuhan amat membenci. Dalam pikir ini ketika, cerita masalah, cerita yang mengangkat suatu keburukan ke pada orang lain. Tuhan sepertinya akan menumpahkan masalah baru, dan apa-apa yang belum kalian ketahui, rasanya menurut saya bersyukur lah dengan film kehidupan itu, kita lewati saja.

Visi, Misi, Tujuan Berbudaya

Pembaca selaku individu, dan makhluk sosial yang beradab pastinya memiliki landasan pengetahuan, wawasan, serta keyakinan untuk bersikap kritis, peka, dan arif dalam menghadapi persoalan sosial, dan budaya yang berkembang di masyarakat. Berikut visi misi tujuan Ilmu Sosial Dasar Budaya :

a) Memberikan pengetahuan, dan wawasan tentang keragaman, kesetaraan, dan martabat manusia sebagai individu, dan makhluk sosial dalam kehidupan masyarakat.

b)  Memberikan dasar-dasar nilai estetika, etika, moral, hukum, dan budaya sebagai landasan untuk menghormati, dan menghargai antar sesama manusia sehingga akan terwujud masyarakat yang tertib, teratur, dan sejahtera.

c)   Memberikan dasar untuk memahami masalah sosial, dan budaya serta mampu bersikap kritis, analitis, dan responsif untuk mencerahkan masalah tersebut secara arif di masyarakat.

            Berdasarkan porsi tersebut, maka ilmu sosial, dan budaya termasuk dalam kategori, general education (pendidikan umum) yang bertujuan untuk membina individu (pembaca) untuk menjadi warga masyarakat, dan warga nergara yang baik, yaitu pendidikan yang bekenaan dengan pengembangan keseluruhan kepribadian seseorang dalam kaitannya dengan masyarakat, dan lingkungan hidup. Nursyid Sumaatdja (2002: 107) mengatakan bahwa :

“Pendidikan umum mempersiapkan generasi muda terlibat dalam kehidupan umum sehari-hari dalam kelompok mereka, yang merupakan unsur kesatuan budaya, berhubungan dengan seluruh kehidupan yang memenuhi kepuasaan dalam keluarga, pekerjaan, sebagai warga negara, selaku umat yang terpadu serta penuh dengan makna kehidupan.”

            Dapat disimpulkan berdasarkan pendapat di atas bahwa pendidikan umum ini mempersiapkan pembaca, terutama generasi muda untuk menjadi “manusia yang sesungguhnya”, yang manusiawi, mengenal diri sendiri, manusia lain di sekelilingnya, sadar akan kehidupan yang luas dengan segala masalah, dan kondisinya yang luas dengan segala masalah yang menjadi hak, dan kewajiban tiap orang untuk memberdayakannya sebagai anggota keluarga, masyarakat, warga negara dunia, dan akhir selaku umat manusia sebagai ciptaan Tuhan Maha Pencipta. Karena manusia dalam hidupnya mengalami pengalaman hidup yang penuh makna, bahkan aktivitas sosial, dan budayanya pun dipengaruhi oleh pola-pola makna yang memberdayakan hidupnya. Philip H.Phenix (1964: 6-8) mengemukakan bahwa, “Pendidikan umum merupakan proses pembangkitan makna-makna yang esensial yang membimbing pelaksanaan hidup manusia melalui perluasaan, dan pendalaman makna-makna tadi”.

Selanjutnya Phenix dalam Nursyid S., (2002: 109)  mengatakan bahwa makna-makna esensial yang melekat dalam kehidupan masyarakat, dan budaya manusia meliputi enam pola, yaitu simbolis, empiris, estetik, sinoetik, etik, dan sinoptik.

            Makna simbolis meliputi bahasa, matematika, termasuk juga isyarat-isyarat, upacara-upacara, tanda-tanda kebesaran, dan sebangsanya. Makna simbolis ini sangat berarti dalam kehidupan bermasyarakat-berbudaya manusia. Makna empiris mencangkup ilmu kealaman, hayati, dan kemanusiaan. Makna empiris ini mengembangkan kemampuan teoritis, konseptual, analitis, generalisasi berdasarkan fakta-fakta, dan kenyataan yang bisa diamati. Makna estetik meliputi berbagai seni, kesenian,  sastra, dan lain-lain. Kedalam kawasan maka estetik ini, termasuk hal-hal yang berkenaan dengan keindahan, dan kehalusan, keunikan menurut persepsi subjektif berjiwa seni. Makna sinoetik berkenaan dengan perasaan, kesan, penghayatan, dan kesadaran yang mendalam. Makna ini mencangkup empati, simpati, dan sebangsanya. Makna etik berkenaan dengan aspek-aspek moral, akhlak, prilaku yang luhur, tanggung jawab, dan sebangsanya. Makna sinoptik  berkenaan dengan pengertian-pengertian yang terpadu, dan mendalam seperti agama, filsafat, dan pengetahuan sejarah yang menuntut nalar masa lampau, dan hal-hal yang bernuansa spiritual.

            Mengenai pempaparan di atas terdapat segala nilai mengenai proses terjadinya bentuk sosial budaya. Dan jika saya mentafsirkannya untuk membuat segalanya lebih kecil, dalam golongan Vespa. Mengenai karir, dan hobi untuk sebuah harapan nantinya. Jika pembaca pernah menonton Film “Racing Extinction” sebuah karya terbaik menurut saya dari negeri yang tidak ada kerjaan, dan tidak memiliki budaya yakni, “Amerika”. Amerika memang budaya film. Pintar menggambarkan saja dia mah. Namun, dari film tersebut saya mengambil kutipan. “Jika kita kehilangan sesuatu yang kecil, maka tidak akan menjadi apa-apa”. Dalam film tersebut, menceritakan kepunahan hidup hewan serta seisinya. Namun difokuskan, mengenai kepunahan sirip Hiu, dan banyaknya pemburuan masal Hiu, dan Paus. Dalam konten film tersebut, terdapat cuplikan sudut Indonesia ialah negara yang masih hijau. Dan modal 60% udara terbanyak dalam bumi. Dan dalam film ini juga menjelaskan, dan menurut saya ini bukan realitas sebenarnya. Jika warga Indonesia memburu ikan besar-besaran demi kapitalis uang. Karena, ikan pun datang dengan sendirinya. Dan yah pesan, atau pun komentar akan kalian pertimbangkan sendiri jika kalian sudah melihat film tersebut. Terpenting berhati-hatilah oleh ajakan film Amerika ini, entah mengapa idealnya saya sebagai manusia biasa, amat terganggu oleh negara penganut Liberal yang mengajak kita kejauhan lalu mengecoh kita sebagai bahan eksperimen nya.

            Namun jika kita lirik kembali. Ini suatu bentuk hal yang amat penting, terlebih apa yang saya ingin bangun ialah, mengenai sesuatu yang kecil. Sesuatu sejarah, ya meski dari mananya itu, tulisan ini tidak membuat pembaca kaya dengan pastinya. Karena buku ini tidak menjelaskan bagaimana pembaca meggarap ekonomi, perekonomian. Karena ini buku sosiologi, tulisan budaya, perspektif dari pandang seorang objektif penulis dengan harapan tingkat tingginya melestarikan alam dari bentuk sejarah lewat kendaraan. Namum baik jika kita juga kan membahas sedikit yang berkenaan dengan ekonomi. Tetapi jika kita mampu bergerak bersama. Indonesia ini akan mandiri, karena memiliki potensial ragam. Dari apa yang dibiarkannnya, dicuek nya. Meski kini ditambah lagi warga negara +62 menjadi manja, bawel, dan banyak ragam penyerangan budaya lewat media. Utang berhutang di mana mana dalam sistem pemerintahan. Proses jilat menjilat demi membangun negeri sedang dijalani. Lewat kemajuan, era modernis kini. Mari perbaiki, mulai saja dahulu dari kita. Seperti memilih tulisan yang baik, menggunakan media dengan baik, kemudian menyebarkan kabar berita yang baik pula itu sudah memulai untuk terus menerus demi generasi yang baik.

Yah memang ini terasa proses simbiosis jika kita beranggapan postitif dari sudut jilat menjilat. Segala bentuk pasar bebas, masuk dalam negeri ini. Kitapun terlena, budaya pun dijual begitu murah, alhasil karya di mentalkan sana sini. Dianggap negara miskin tetapi jalanan kian macet. Semua golongan atas pun miskin penglihatan. Menimbun segala harta demi memperkaya negara tetangga. Demi kelansungan 7 generasinya. Ayo lah, ini buku yang tergerak dari kami para penggaum rahasia. Budaya, dan cinta yang melestarikan aset, melesatkan jauh kebersamaan. Kita cinta negara kita, kita butuh hidup meski sekadar bahagia. Tetapi kita mengalami kesulitan. Dan tampak raut wajah rakus, membuat negara ini kian tidak hijau lagi. Memerah bagai neraka dikemudian hari. Maju dengan segala bentukan pandangan. Ketika diserang, dan terserang. Habislah sudah.                     

Andai kata negara ini masih asri, yah. Biarkan segenap kota maju dengan potensialnya. Tetapi stop! Merusak alamnya. Vespa memiliki ragam simbolis, dan akan kita banyak bahas dalam bab “Kecil Bebas Bermain”, sedangkan empiris sejalan dengan estetik ialah jelas ragam bentuk wujud Vespa, pengendaranya itulah yang berkenaan dengan keindahan, dan kehalusan yang dipahami ideologi bagi para pengendaranya. Sineotik menjadi alasan tulisan ini meluas, serta tercurahkan. Atas asas, dan dasar simbolis tegur sapa. Membudaya, dan berbudaya, bahwa satu Vespa sejuta saudara. Etika menguak entah ke mana, mungkin luas.

Namun perkecil kembali. Kita kembali lagi, yang melakukan tidak tandunk atas mengatas label contoh Vespa’, sebagai ruang belajar. Dan yang merasa dirugikan dalam harapannya untuk mengupas buku ini, harap bercermin kembali, dengan hati lapang, dan ikhlas menghadapinya. Ini demi mengedepankan citra budaya sesungguhnya. Dengan proses sinoptik, berfilsafat, berkeyakinan nyata. Agar sejalan prilaku kedepannya berdasarkan, Rahmatan LilAlamin. Sampaikan tulisan miskin ini kepada mereka yang berkecukupan, kepada mereka manusia elite penguasa.

Kajian Ilmu Sosial

Sosiologi jelas merupakan ilmu sosial yang objeknya masyarakat. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri karena telah memenuhi segenap usur-unsur ilmu pengetahuan. Dengan beberapa ciri utama. Ciri pertama, sosiologi bersifat empiris, berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan, dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif. Ciri kedua, sosiologi bersifat teoritis, yaitu ilmu hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan-hubungan sebab akibat, sehingga menjadi teori. Ciri ketiga, sosiologi bersifat kumulatif, berarti bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori yang sudah lama. Ciri keempat, sosiologi bersifat non-etis, yakni yang dipersoalkan bukanlah buruk-baiknya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.10           

Sosiologi umumnya dideskripsikan sebagai salah satu cabang-cabang ilmu sosial. Selain merujuk kepada suatu tubuh pengetahuan hukum-hukum universal. Sosiologi juga menggunakan metode investigasi umum yang sama, yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam. Seperti sarjana pada ilmu alam, para sosiolog menggunakan metode ilmuan. Mereka berusaha membangun suatu tubuh pengetahuan saintifik melalui empat komponen metode ilmiah, namun kumpulan data itu sendiri bukanlah merupakan sebuah ilmu. Dalam setiap kondisinya, data-data mesti disusun dalam suatu cara, analisa, digeneralisasi, dan dikaitkan dengan data-data. Hal ini dikenal sebagai rekontruksi teori (theori recontruction). Teori-teori yang membantu kita mengorganisasi, dan memahami data-data mengkaitkan mereka dengan penemuan-penemuan terdahulu para peneliti lain.11             

Sains hanyalah salah satu cara di mana manusia mempelajari dunia di sekitar mereka. Tidak seperti alat-alat investigasi lain yang bergantung kepada diskusi logis konsep-konsep abstrak seperti agama, atau filsafat, sains dalam beberapa bagiannya membatasi investigasinya langsung melahirkan peristiwa-peristiwa yang diobservasi. Berbagai hal yang bisa diobservasi melalui cara ini di istilahkan sebagai entitas-entitas empiris. Karena itu, salah satu karakteristik dasar dari sains adalah empirisme. Misalnya, para teolog bisa mendiskusikan peranan iman dalam melahirkan “kebahagiaan sejati”, para filsof bisa mengkaji kebahagiaan sejati apa yang bisa dicakup. Namun, para sosiolog akan mencatat, menganalisa, dan memprediksi berbagai konsekuensi item-item yang bisa diukur seperti kepuasan kerja, kaitan antara pendapatan, dan kebahagiaan yang dimaksud, dan peran kelas sosial dalam peristiwa depresi.12                   

Ilmu-ilmu sosial berisi semua disiplin ilmu yang mengaplikasikan metode-metode ilmiah dalam mengkaji perilaku manusia. Meski terdapat beberapa kasus tumpang tindih, masing-masing cabang ilmu sosial memiliki ranah investigasinnya sendiri. Hal ini membantu untuk memahami setiap cabang ilmu sosial lainnya, seperti antropologi, kultural, psikologi, ekonomi, sejarah, ilmu politik, dan social work.                                    

Antropologi Kultural adalah ilmu sosial yang berkait erat dengan sosiologi. Dua cabang ilmu ini memiliki banyak teori, dan utamanya adalah dalam kelompok-kelompok yang mereka teliti, dan cendrung mengkaji kelompok-kelompok, dan institusi-institusi di dalam masyarakat besar, modern penelitian yang membuat mereka mampu agak cepat mengumpulkan informasi spesifik mengenai sejumlah besar penduduk. Kebalikannya, antropologi kultural sering berkutat dalam masyarakat lain untuk periode yang panjang, dan berusaha mempelajari sedalam, dan sebanyak mungkin mengenai masyarakat itu, dan kaitan-kaitan dengan penduduknya. Jadi, para antropolog cendrung fokus kepada budaya masyarakat, masyarakat kecil pra-indrustri karena masyarakat tersebut kurang kompleks, dan lebih cocok dengan metode pengkajian seperti ini.13   

Terkait dengan psikologi, ilmu ini mempelajari proses penggetahuan akal, proses mental, dan prilaku individu. Dia berfokus dengan tema-tema seperti motivasi, persepsi, kognisi, kreativitas, gangguan mental, dan kepribadian. Lebih dari disiplin ilmu sosial yang lain, psikologi menggunakan percobaan-percobaan laboraturium. Psikologi, dan sosiologi tumpang-tindih dalam sub-divisi ranah yang dikenal dengan Psikologi - Sosial -  kajian tentang bagaimana prilaku manusia dipengaruhi, dan dibentuk oleh berbagai situasi-situasi sosial yang beragam. Psikologi sosial mengkaji isu-isu seperti bagaimana masalah, dan mencapai sebuah kosensus atau faktor-faktor apa yang bisa menyebabkan ketidak nyamanan dalam sebuah situasi kelompok. Untuk sebagian besar kasus, bagaimanapun, psikologi mengkaji individu, dan sosiologi mengkaji kelompok-kelompok individu begitu juga institusi-intitusi masyarakat.14                            

Berkenaan dengan ekonomi, ilmu ini mengkaji produksi, distribusi, dan konsumsi barang, dan jasa. Para ekonom telah membangun teknik-teknik untuk mengukur hal-hal seperti harga, supply and demand¸ suplai uang, rata-rata inflasi, dan ketenagakerjaan. Bagaimanapun, ekonomi adalah suatu bagian dari masyarakat. Adalah tiap-tiap individu dalam masyarakat yang menentukan apakah akan membeli barang buatan Amerika, atau Jepang, apakah dia bisa menangani cicilan atas rumah impiannya, dan sebagainya. Sebaliknya para ekonom mengkaji harga, dan faktor ketersediaan, para sosiolog tertarik kepada faktor-faktor sosial yang mempengaruhi prilaku ekonomi. Apakah tekanan kelompok yang menyebabkan pembelian suatu barang, atau apakah kekuatan akan ukuran jarak tempuh yang menyebabnya meningkatnya pembelian kendaraan kecil yang lebih hemat? Faktor-faktor sosial, dan kultural apa yang menyumbang perbedaan dalam hal pendapatan yang disimpan dalam kelompok masyarakat yang berbeda? Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah contoh-contoh pertanyaan yang para sosiolog berusaha cari jawabannya.15                                                  

Terkait dengan disiplin ilmu sejarah, sejarah menengok masa lalu dalam usaha mengkaji apa yang telah terjadi, kapan kejadiannya, dan mengapa itu terjadi. Sosiologi juga melihat peristiwa-peristiwa historis di dalam konteks-konteks sosial mereka untuk mengungkap mengapa berbagai hal terjadi dan, yang lebih penting, untuk menguji apa signifikansi sosialnya pada saat itu, dan sekarang. Para sejahrawan menyediakan sebuah naratif  kronologis dari berbagai peristiwa selama periode tertentu, dan bisa menggunakan metode-metode penelitian sosiologi untuk mencoba mempelajari bagaimana bersejarah. Para sosiolog di sisi lain, menguji peristiwa-peristiwa itu mempengaruhi situasi-situasi sosial selanjutnya. Para sejahrawan berfokus kepada peristiwa-peristiwa satuan, misalnya Revolusi, atau Perbudakan Amerika.                                                                      

Saat melihat topik perbudakan Amerika, para sejahrawan secara khusus berfokus kepada saat para budak pertama kali tiba atau bagaimana para budak telah ada pada tahun 1700, atau 1850, dan bagaimana kondisi-kondisi yang mereka hadapi saat hidup. Para sosiolog, dan sejahrawan sosial modern akan menggunakan data tersebut untuk mengajukan banyak pertanyaan: kekuatan-kekuatan sosial, dan ekonomi apa yang telah membentuk institusi perbudakan di Amerika? Bagaimana Revolusi Indrustri telah mempengaruhi perbudakan ? Bagaimana pengalaman perbudakan telah memberi pengaruh terhadap keluarga kulit hitam ? Meski sejarah, dan sosiologi telah saling memberi kemajuan lebih dari 20 tahun, setiap ilmu masih memegang fokus yang berada: Sosiologi fokus pada masa sekarang, dan sejarah pada masa lalu.16   Dalam hal ilmu politik, ilmu ini berkonsentrasi pada tiga wilayah utama, yaitu teori politik, pelaksanaan aktual pemerintahan, dan perilaku politik. Penekanannya pada prilaku politik, ilmu politik tumpang tindih dengan sosiologi. Distingsi utama antara kedua disiplin ilmu ini adalah bahwa sosiologi berfokus pada bagaimana sistem politik mempengaruhi intistusi-intistusi lain di masyarakat, sementara ilmu politik memberi perhatian-perhatian lebih pada kekuatan-kekuatan yang membentuk sistem-sistem, dan teori-teori politik untuk memahami kekuatan-kekuatan itu. Namun demikian, kedua disiplin ini saling berbagi dalam ketertarikan keduanya tentang mengapa orang ikut dalam gerakan-gerakan politik, bagaimana media massa mengubah partai-partai, proses-proses politik, dan sebagainya.17                                                                          

Banyak teori, dan metedologi penelitian-penelitian dalam bidang social work berasal dari sosiologi, dan psikologi, namun social work memberi fokus hingga pada tingkatan yang sangat tinggi kepada aplikasi, dan problem sloving. Dispilin-dispilin sosiologi, dan social work sering tumpang tindih. Tujuan utama dari social work adalah untuk secara langsung membantu manusia atas berbagai masalah yang menjeratnya, sementara tujuan sosiologi adalah untuk memahami mengapa masalah tersebut bisa muncul. Para pekerja sosial menyediakan bantuan bagi para individu, dan keluarga yang memiliki masalah emosi, dan psikologi atau yang mengalami berbagai kesulitan dari masalah yang menjeratnya, sementara tujuan sosiologi adalah untuk memahami mengapa masalah tersebut bisa muncul. Para pekerja sosial menyediakan bantuan bagi para individu, dan keluarga yang memiliki masalah emosi, dan psikologi atau yang mengalami berbagai kesulitan dari masalah kemiskinan atau masalah lain yang sedang dihadapi yang berakar dari struktur masyarakat. Mereka juga mengorganisasi kelompok-kelompok komunitas untuk menangani isu-isu lokal seperti masalah tempat tinggal, dan berusaha untuk membantu disipilin ilmu lain. Meski sosiologi bukanlah social work, dia merupakan bidang konsentrasi akademis yang berguna bagi pihak yang tertarik untuk memasuki profesi-profesi di bidang social work.18

Pengetahuan Sejarah Sosial

            Pada masa abad ke-18, dan 19 Masehi, masyarakat tradisional Eropa mengalami perubahan yang sangat pesat, dan signifikan. Pada saat itu, perubahan yang terjadi di masyarakat tak bisa dipahami karena para sarjana belum memiliki taradisi intelektual, dan pandangan berkaitan dengan masalah kemasyarakatan. Saat para peneliti, dan sarjana berjuang memahami perubahan itu, usaha-usaha mereka muncul silih berganti, dan membentuk ilmu baru yang disebut sosiologi.

    Kekuatan utama yang mengubah peradaban Eropa selama abad ke-19 adalah Revolusi Indrustri. Revolusi ini sepenuhnya telah menyusun kembali bentuk masyarakat, dan mengubah cara hidup manusia. Misalnya, mesin uap telah digunakan untuk membuat mesin baru yang lebih kuat, dan luar biasa. Dengan mesin itu, lokomotif bisa mengangkut ribuan ton barang, dan ratusan penumpang ke tempat-tempat yang jauh jaraknya. Mesin-mesin uap telah membuat perahu, dan kapal laut bebas berlayar tanpa harus bergantung pada arah angin, dan turbin-turbin raksasa telah merubah pola kerja di pertanian, dan perindrustrian. Berbagai pusat produksi telah berkembang, dan menjadi tempat kerja bagian ribuan orang. Komunitas pedesaan semakin lemah, dan kota-kota menjadi rumah bagi banyak orang yang bekerja di pabrik-pabrik baru. Karena batubara digunakan sebagai sumber energi utama, pabrik-pabrik mengeluarkan volume asap yang sangat besar yang berubah menjadi debu, dan mengotori udara, gedung-gedung, jalan-jalan, dan orang-orang. Kota-kota di mana pabrik-pabrik berada belum memiliki instasi kepolisian, dan pemadam kebakaran yang baik, dan instasi-instasi lain yang terkait dengan kepentingan publik. Akhirnya, wabah penyakit menjadi hal yang biasa. Kolera misalnya menjadi mesin pembunuh efektif yang secara rutin telah menghilangkan ribuan nyawa manusia tiap tahunnya.19                                                       

Saat tatanan sosial, dan indrustri berubah, tatanan politik pun mengalami hal serupa. Sistem kelas sosial dengan uang, dan sosial lain yang berada di atas, dan hampir semua sistem kelas sosial lain yang berada di bawah tak lagi mudah dipahami. Berbagai peruntungan dibuat dalam di setiap perniagaan, dan melalui bidang usaha ini, para pedagang, dan indrustrialis memperoleh kekuatan baru. Rakyat biasa mulai percaya bahwa mereka juga punya hak yang sama dalam kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan [Liberty, Equalit, and Fraternity]. Untuk memperoleh hak-hak tersebut, beberapa pihak mengadakan perlawanan, dan revolusi. Banyak revolusi tersebut yang pada akhirnya dirayakan sebagai hari raya nasional, misalnya Bastile Day di Prancis, dan hari kemerdekaan di hampir semua negara.  Inilah sekelumit latar belakang lahirnya sosiologi di dunia Eropa. Disiplin ilmu baru ini memprsentasikan sebuah usaha untuk secara lebih baik memahami kekuatan-kekuatan sosial yang merambah di hampir seluruh wilayah Eropa, dan tatanan masyarakat yang telah mapan sebelumnya.

Auguste Comte (1798-1857)

            Auguste Comte lahir di Montepellier, Prancis, tahun 1798. Dia berasal dari keluarga Katolik, dan berdarah bangsawan tetapi Comte tidak memperlihatkan loyalitasnya. Comte lama hidup di Paris politik. Sebagai seorang mahasiswa di Ecole Polytechnique, Paris, seorang yang keras kepala, dan suka membentak, dan meninggalkan Ecole. Dia salah satu seorang filsof yang menyaksikan, dan mengalami kekacauan pada abad ke-19 di Prancis. Kerajaan monarki Prancis diturunkan dari tahtanya pada saat revolusi tahun 1789, Eropa. Di tengah ketidakstabilan tersebut terdapat keraguan terkait efek yang lebih luas dari Revolusi Prancis terhadap gangguan stabilitas Prancis yang diprediksi lebih lama.                                                             

Comte tidak menginginkan perubahan revolusioner karena dia merasa evolusi masyarakat secara alamiah akan membuat segala sesuatu menjadi lebih baik. Reformasi hanya diperlukan untuk membantu proses.20 Pemikiran Comte ini dipengaruhi, dan sejalan terutama dengan pemikir kontra revolusioner Katolik Perancis seperti Louise de Bonald (1754-1840), dan Joseph de Maistre (1753-1821). Kedua pemikir ini bereaksi keras terhadap Pencerahan, dan Revolusi Prancis yang dianggap sebagai produk bercirikan abad Pencerahan. Sebagai contoh, De Bonald merindukan kembali keharmonisan, dan perdamaian Abad Pertengahan serta merasa terganggu oleh perubahan revolusioner di Prancis. Namun, pemikir Comte dapat dipisahkan dari pengaruh kedua pemikir itu setidaknya berdasarkan dua landasan. Pertama, dia tidak berpikir adanya kemungkinan kembali ke Abad pertengahan; kemajuan ilmu, dan indrustrilah yang tak memungkinkan nya. Kedua, dia mengembangkan sistem teori yang lebih canggih ketimbang yang dilakukan pendahulunnya, yang cukup memadai untuk membentuk kajian yang baik dari sosiologi awal.21                         

Awalnya istilah fisika sosial yang berasal, dan digunakan Comte untuk merujuk pada disiplin ini (sebelum penggunaan sosiologi). Namun sebagian pemikir rivalnya menggunakan istilah fisika sosial juga, sedangkan dia bedakan disiplin sosiologi akan melahirkan pengetahuan. Dari keyakinannya, sosiologi akan memberikan pengetahuan untuk memahami, dan kemudian memprediksi serta mengontrol prilaku manusia.22 Dengan disiplin ini, Comte percaya bahwa sebuah ilmu pengetahuan teoritis mengenai masyarakat, dan investigasi yang sistematik tentang tingkah laku dibutuhkan dalam menemukan hukum-hukum sosial, dan memperbaiki masyarakat. Dalam fisika sosial Comte lebih menekankan dinamika sosial (social dynamic, atau perubahan sosial) dari pada statika sosial menggambarkan bahwa fokusnya terhadap perubahan sosial menggambarkan bahwa fokusnya terhadap reformasi sosial, khususnya peristiwa Revolusi Prancis, dan Pencerahan yang melahirkan penyakit-penyakit sosial. 

Ketertarikannya pada perubahan sosial terutama evolusi sosial masyarakat mengantarkan kita pada landasan pendekatan Comte tentang hukum tiga tingkatan, atau teori evolusinya. Teori ini menyatakan bahwa terdapat tiga tingkatan intelektual yang harus dilalui dunia di sepanjang sejarahnya. Selain dunia, kelompok masyarakat, ilmu pengetahuan, individu, dan bahkan pemikiran berkembang juga melalui proses tahapan tiga tingkatan yang sama. Pertama, tahap teologis yang pengaruhnya besar pada dunia sebelum era 1300. Pada masa ini ditandai dengan keyakinan bahwa dasar segala sesuatu terletak pada kekuatan adikodrati, tokoh agama, dan keteladanan manusia. Pandangan terhadap kekuatan supernatural sangat dominan dalam kehidupan dunia sosial alam fisik. Semua gejala dihasilkan dari tindakan langsung dari hal-hal lain supranatural. Kedua, tahap metafisik yang hanya bentuk lain dari tahap pertama, dan keyakinan bahwa segala sesuatu dapat dijelaskan dengan sesuatu keyakinan bahwa segala sesuatu dapat dijelaskan dengan adanya kekuatan abstrak, bukan lagi kekuatan dewa-dewa personal. Ketiga, tahap positivistik yang bercirikan dengan sebuah keyakinan terhadap ilmu sains. Manusia mulai cendrung menghentikan penelitian terhadap penyebab absolut, atau supranatural (Tuhan atau alam), dan memusatkan perhatiannya pada studi tentang hukum-hukum, yaitu dengan mengadakan pengamatan terhadap alam fisik, dan dunia sosial. Penekanan terhadap evolusi intelektual merupakan gagasan untuk memperbaiki situasi sosial dari segi intelektualnya terlebih dahulu. Mengingat kekacauan pemikiran terdahulu seperti teologis, dan metafisik menyebabkan kekacauan sosial. Sedangkan alam pemikiran positivisme menggabungkan penalaran, dan pengamatan, sekaligus secara tepat. Positivisme ini akan muncul meskipun tidak secepat yang diharapkan orang.

 Sebagai sebuah ilmu, sosiologi mengkaji dua aspek fundamental masyarakat, yaitu mengapa dia berubah, dan mengapa dia tidak berubah. Pendekatannya pada sains, dan perubahan sosial masih menjadi bagian yang penting bagi disipilin ini hingga sekarang. Meski Comte dianggap sebagai orang yang menggunakan istilah sosiologi, adalah sarjana Inggris, Harriet Martineau, yang telah menerjemahkan, dan mengedit karya Comte yang paling berpengaruh, The Positive Philosophy of Auguste Comte. Dalam proses pengeditan, dan penejemahnya, Martineau telah mengklarifikasi ide-ide Comte, dan membawa gagasan–gagasannya kepada audiensi yang lebih luas. Lebih jauh pada tahun 1837, Martineau menerbitkan Society in America yang berisi kebiasan kebiasaan di negara baru ini – keluarga, ras, gender, politik, dan agama. Di samping itu, Claude Henri Saint-Simon (1760-1825) merupakan pemikir yang berjasa mengembangkan minat Comte dalam masalah-masalah kemanusiaan, dan sosial. Comte pernah menjadi murid, dan sekeraris Saint-Simon, dan keduanya menjalin kerja sama yang erat, sehingga mampu mengembangkan karya awal Comte sendiri. Meskipun keduanya memiliki kesamaan, tetapi setelah tujuh tahun akhirnya keduanya terlibat perdebatan sengit terkait kepengarangan karya bersama yang menyebabkan berpisah.23

Emile Durheim (1858-1917)

            Lahir di Alsace, Prancis, Durkheim masuk ke sekolah-sekolah di Prancis, dan Jerman, tempat dia belajar hukum, filsafat, ilmu sosial, psikologi, dan antropologi. Dia adalah seorang sosiolog teoritis, dan praktisi pendidikan. Durkheim merupakan orang pertama yang memperoleh gelar profesor di bidang pendidikan, dan sosiologi. Beberapa karya Durkheim meliputi: The Devision of Labor in Society (1893), Suicide A Study in Sociology (1897), dan Elementary From of Religius Life (1912). Perhatian utama Durkheim adalah melerakan sosiologi sebagai disiplin sains yang berbeda, dan unik. Dari pemikir sosiologi sebelumnya disiplin ini dianggap masih terlalu spekulatif, dan samar-samar. Upaya yang dilakukan oleh Comte kurang maksimal untuk mengembangkan sosiologi berdasarkan sains. Sosiologi, bagi Durkheim, sebagai sains yang mempelajari fakta sosial (sosial facts); sesuatu yang eksternal, namun memaksa, terhadap individu.24

Ciri dari fakta sosial berupa eksternal dari individu, dan bersifat memaksa yang membentuk tindakan setiap individu seperti keberadaan ekonomi, dan pengaruh agama. Semisal tubuh manusia yang memiliki organ-organ, masyarakat juga mempunyai bagian-bagian berupa institusi seperti sistem politik agama, keluarga, dan sitem pendidikan. Bagian-bagian ini harus bekerja secara harmonis sehingga berkontribusi untuk menjaga keberlanjutan hidup. Tidak hanya itu bekerja secara harmonis tetapi bagian-bagian ini juga berfungsi secara terintegrasi dengan keseluruhan. Durkheim berpandangan bahwa keberlanjutan konsensus umum, atau kesepakatan di antara anggotanya mengenai nilai-nilai dasar, dan kebiasaan. Masyarakat memiliki keunggulan terhadap individu. Dia bukan sekadar kumpulan tindakan-tindakan individu, melainkan juga terdapat struktur sosial yang memaksa tindakan individu. Dengan latar belakang Revolusi Prancis, dan akibatnya pemikiran Durkheim muncul ke permukaan. Pandangannya tentang masyarakat, solidaritas, dan integrasi tidak dapat dilepaskan dengan tatanan sosial saat itu. Ketegangan berkepanjangan, dan konflik-konflik di wilayah politik, dan di wilayah sosial terjadi perubahan dari keteraturan sosial yang baru terlihat masih goyah. Durkheim fokus kepada kesatuan masyarakat. Dalam pemikirannya, terdapat distingsi antara dua tipe solidaritas sosial yaitu solidaritas mekanis, dan solidaritas organis. Menurutnya, masyarakat-masyarakat tradisional bersifat kecil, dan bergantung kepada teknologi yang tidak rumit. Semua pemburu di dalam masyarakat berburu, dan pengumpul makanan, misalnya menggunakan sistem senjata yang sama, dan semua petani bercocok tanam dengan cara yang sama. Karena setiap orang berpartisipasi dalam kehidupan sosial yang sama pula. Durkheim menyebut tipe solidaritas semacam ini dengan solidaritasnya mekanis.24                                                

Dalam masyarakat-masyarakat indrustri, di sisi lain, orang-orang melakukan berbagai perkerjaan yang spesifik dengan menggunakan alat-alat yang kompleks, dan mereka jarang berinteraksi secara langsung. Meski orang-orang berbagi beberapa nilai, mereka tetap tidak sependapat dengan beberapa nilai yang lain.  Tampaknya masyarakat indrustri memiliki potensi sedikit untuk bisa mempertahankan mereka bersama, namun mereka secara jelas bisa tinggal bersama. Dalam hal ini, Durkheim menunjuknya bahwa berbagai perbedaan di antara mereka memuatnya menjadi interdependensi. Misalnya para pekerja di perusahaan Ford di California tidak melakukan kontrak dengan para akuntan yang bekerja di tempat lain. Namun mereka bersifat indepedensi. Jika para akuntan itu tidak melakukan pekerjaannya, maka para pekerja tidak bisa menerima gaji. Dan jika para pekerja berhenti bekerja, maka Ford tidak akan bisa memenuhi jadwal produksinya, dan para akuntan mungkin tidak bisa bekerja. Dengan kata lain, jika satu pihak jatuh, semuanya akan jatuh; dan jika satu pihak sukses, semua akan sukses. Durkheim menyebut tipe solidaritas semacam ini dengan solidaritas organis.25                 

Durkheim juga disibukan dengan berbagai perubahan indrustrial yang menjamah seluruh Eropa. Dia secara khusus fokus kepada tendensi industralisme yang memproduksi anomi- suatu kondisi  sosial di mana norma-norma masyarakat berada dalam konflik, atau secara keseluruhan hilang. Hilangnya arah dalam masyarakat ketika kontrol sosial terhadap tindakan individu tidak efektif lagi. Seringkali pada masa perubahan sosial yang besar di masyarakat muncul keadaan anomi sehingga individu kehilangan arah, dan tujuan. Menurut Durkheim, anomi adalah ancaman khusus yang serius terhadap moralitas. Dia mencatat bahwa di masa lalu agama telah menjadi kekuatan penting yang mengajarkan orang untuk menahan hasrat mereka, dan berusaha mencari pahala untuk pencapaian-pencapaian spiritual. Namun demikian, indrustralis telah memerdekakan nafsu kuat bagi prilaku manusia, Durkheim berpendapat bahwa manusia akan terkatung-katung di masyarakat tanpa mengetahui hakikat sebenarnya mereka. Pendek kata, mereka menjadi anomik.26                                                                             

Durkheim yakin bahwa anomie adalah penyebab dari banyak masalah sosial, dan inilah objek penelitian yang melahirkan bukunya yang terkenal berjudu Suicide. Dalam menelit isu ini, Durkheim menganalisa bunuh diri dalam ragam kondisi, dan di berbagai negara. Misalnya, dia menemukan bahwa tingkat kejadian bunuh diri lebih rendah di masyarakat yang berbasis agraris ketimbang  di masyarakat yang bekerja di wilayah indrustri. Teori ini terbukti pada penelitian lain. Menurut Durkheim, alasannya adalah bahwa orang-orang dalam mengikuti berbagai aktivitas di komunitas tradisionalnya, dan diikat oleh moral yang telah tertanam dari generasi ke generasi. Mereka memiliki harapan-harapan yang realistis. Meski kehidupan mereka relatif tidak glamour, secara jangka panjang mereka mengambil manfaat dari stabilitas, dan tiadanya anomi. Sementara Marx meningkatkan akan fenomena alisensi, Durkheim memberi peringatan akan kemungkinan anomi. Jika Marx dianggap pendiri teori konflik, Durkheim dianggap memberi fondasi klasik bagi mahzab fungsionalisme sosiologi.27   

Terkait dengan bunuh diri, juga terjadi di kalangan penganut Katolik, dan Protestan. Ditemukan bahwa tingkat bunuh diri pada orang yang menikah lebih rendah dari pada orang yang cerai, dan di kalangan Katolik lebih rendah tingkat bunuh diri dibanding kalangan Protestan. Dalam melihat tingkat bunuh diri di kalangan Katolik, dan Protestan tidak bisa diperjelaskan dengan motivasi individu dari penganut Katolik, dan Protestan. Pandangan Durkheim menekankan bahwa fakta sosial berupa integrasi group dalam masyarakat. Di kalangan Protestan tingkat integrasi sosialnya dalam kelompok menyebabkan tingkat rendah atau tingginnya angka bunuh diri. Orang yang bercerai, dan di kalangan Protestan lebih tinggi tingkat bunuh diri ketimbang orang yang menikah, dan di kalangan Katolik.

Max Weber (1864-1920)

            Max Weber lahir di Efrut, Thuringia, dan keluarga pindah ke Berlin saat usiannya masih sangat muda. Weber belajar beragam subjek, mencakup hukum, ekonomi, sejarah, agama, dan filsafat. Dia juga juga sempat menduduki jabatan-jabatan akademik penting di sejumlah universitas di Jerman selama karirnya, dan termasuk juga seorang tokoh terkenal di kalangan politisi pada masanya. Hasil karya Weber di antaranya The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism (1904-1905), dan Wirtchaft und Gesellschaft [Economy and Society] (1922). Gagasan Weber tentang birokrasi modern (sebagai bentuk organisasi yang penting rasional, secara teknis bersifat efisiensi), stratifikasi sosial (kelas, status, dan kekuasaan), dan gagasan lahir dalam iklim sosial politik Jerman saat itu. Gagasan tersebut dapat dipahami dalam konteks latar belakang masyarakat Jerman yang mengalami transisi yang pesat, dan penuh dengan kontradiksi internal. Transisi dari suatu masyarakat yang sangat bersifat agraris ke masyarakat yang bersifat indrustri, dan perkotaan disertai dengan rasionalisasi yang bertambah di bidang politik, dan ekonomi. Dari segi perpecahan struktur ekonomi, dan politik berupa struktur ekonomi semakin dikuasai oleh sistem indrustri, dan didominasi oleh nilai-nilai semifeodal yang tradisional, dan koservatisme birokrasi.28 Untuk itu Sosiologi Weber secara mendalam dapat dimengerti dalam konteks tersebut.

      Tidak seperti Durkheim, sosiologi didefinisikan oleh Weber sebagai sains yang berusaha mendapatkan pemahaman interpretatif mengenai tindakan sosial untuk mencapai  penjelasan kasual mengenai arah, dan akibat-akibatnya. “Tindakan” merujuk pada prilaku manusia sepanjang aktor memberikan arti subjektif terhadap tindakannya.29 Tekanannya pada pemahaman subjektif (verstehen) sebagai metode dalam sosiologi untuk mendapatkan pemahaman yang valid mengenai arti-arti subjektif tindakan sosial. Tindakan sosial terjadi di antara dua orang atau lebih ketika salah seorang bertindak dengan mempertimbangkan tindakan dari orang lain. Individu memiliki motif, niat, orientasi, maksud, dan tujuan dari tindakannya.

            Melalui verstehen (interpretative understanding) digunakan sebagai metode dalam sosiologi yang berusaha ke dalam aspek subjektif dari prilaku, arti, dan motif dari tindakan individu, manusia dianggap sebagai makhluk yang unik. Berada dengan atom, dan molekul, manusia berpikir, merasa, mengejar tujuannya, memiliki motif, dan maksud. Manusia bukan seperti benda langit, tumbuh-tumbuhan, atau binatang. Memahami manusia tidak cukup dengan mempelajari mempelajari fenomena seperti fakta sosial, struktur sosial, dan alam. Ilmu pengetahuan alam yang menekankan pada observasi manusia dari luar; bagaimana manusia bertindak, dan menjelaskan keteraturan tindakan dengan hukum kausal yang abstrak. Hal seperti ini tidak memperlihatkan dari keunikan manusia.

            Untuk memahami tindakan manusia melalui verstehen dapat dilakukan dengan dua cara, pertama, meniru untuk memaham alasan, dan maksud tindakan aktor. Sebagai contoh, seorang mahasiswa berkerudung berjalan di kampusnya sambil membawa buku, kita mungkin menyimpulkan bahwa dia akan membaca buku tersebut, atau dia akan mengembalikan buku ke perpustakaan. Kedua, empati, yaitu  memposisikan situasi pada posisi aktor sehingga mengerti sesuatu yang dilakukan aktor. Misalnya, sosiolog mempelajari siapa saja yang salat berjamaah di Masjid, orang yang sering salat berjamaah, motif, dan yang mendorong mereka. Dalam melakukan observasinya, sosiolog, sosiolog harus bergabung dengan mereka, berbicara, mengobservasi, dan mencoba merasakan pengalaman mereka salat berjamaah. Bagi Weber inilah metode verstehen dari sosiolog yang sintifik. Gagasan lain dari Weber bahwa sains sebagai netral (value free). Sains bersifat netral dalam hubungannya dengan menilai porsi-porsi moral yang bertentangan. Penilaian baik, dan buruk, benar, atau salah di luar sains. Misalnya seorang ateis dapat mengumpulkan informasi, dan data pertimbangan nilai dirinya. Metode verstehen, dan sains bebas nilai (value free) merupakan gagasan penting Weber bagi sains khususnya disiplin sosiologi.

            Lebih jauh Weber mendedikasikan sebagian kehidupan karirnya untuk menyerang gagasan-gagasan Marxist, namun kedua pemikir ini tiba dengan beberapa kesimpulan yang terkait mengenai kehidupan di bawah kapitalisme indrustri. Sementara Marx, menekankan alienasi, Weber menekankan rasionalisasi.30 Rasionalitas Weber merupakan konsep dasar yang digunakan dalam klasifikasinya mengenai tipe-tipe tindakan sosial. Antara tindakan rasional, dan yang non rasional dibedakan dengan jelas. Disebutkan bahwa tindakan rasional behubungan dengan pertimbangan yang sadar, dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan. Tujuan tindakan, dan alat yang dipergunakan untuk mencapainya didasarkan pada pertimbangan, dan pilihan yang sadar. Alat yang dipergunakan individu dipertimbangan atas efisiensi, dan efektifvitasnya ketika sebuah pilihan dibuat secara sadar.                                                                                                         

Rasionalisasi merupakan pemikiran Weber yang sangat berpengaruh, Weber percaya bahwa saat tradisi hilang, dan digantikan dengan rasionalitas, Eropa mengalami indrustiralisasi, dan mengadopsi ekonomi kapitalistik. Gaya baru kehidupan ini sangatlah berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Misalnya, dalam sebuah masyarakat tradisional seorang petani yang sakit mungkin akan meminta pertolongan tetangga, namun dalam masyarakat indrustri seorang pekerja yang sakit tidak memiliki siapa pun kecuali agen birokrasi pemerintah. Weber berpendapat bahwa rasionalitas telah membuat efisiensi yang lebih besar, namun dia juga menyadari akan akibat sejenisnya. Kekuatan, dan kehangatan sebuah keluarga besar tidak bisa tanggung jawab mutualismenya tidak bisa digantikan begitu saja dengan birokrasi pemerintahan.31                                                 

Berbeda dengan masa sebelumnya, pada abad ke-20, ada gejala semakin besarnya minat para intelektual untuk mempelajari agama. Hal ini dapat dimengerti, karena semakin besarnya kecendrungan masyarakat di dalam mempelajari masalah keagamaan sejalan dengan usaha para penganut agama untuk memodifikasi, dan menyesuaikan kepercayaan dan pranata-pranata keagamaan di tengah pesatnya perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat modern. Hal ini agama dengan pendekatan paradigma baru, yang berbeda dengan  paradigma lama para seniornya. Sebuah anti tesis. Tesis baru mereka adalah penolakan secara tegas, dan terus terang terhadap pendapat bahwa agama sebagai faktor penghambat masyarakat. Menurut mereka, agama justru sebagai faktor penghambat kemajuan masyarakat.                                                                                    

Pada tahun 1920-an muncul lah karya monumental Maz Weber yang berjudul The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism, sementara Emile Durkheim dengan kajian asepek-aspek Sacred, dan Profane dalam masyarakat, kepercayaan, dan simbol-simbol suci pada masyarakat primitif, dan pra indrustri. Pendek kata, agama dilihat dari berbagai perspektif, dan bersinggungan dengan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Namun setelah tahun 1920 mengikuti kematian Max Weber, Sosiologi Agama kembali mengalami mengalami kemunduran, dan berlagsung sampai akhir tahun 1950. Namun masa 30 tahun tersebut tidak berarti memberikan sumbangan apapun. Negara-negara, seperti Inggris, Amerika, dan Perancis dengan susah payah berhasil mencapai kecanggihan teoritis yang dapat menjadi kerangka acuan para ahli pada masa berikutnya.           

Pada tahun 1960-an kembali para ahli Sosiologi Agama mempunyai minat yang besar terhadap gejala keagamaan. Hal ini terlihat minat yang besar terhadap gejala keagamaan. Hal ini terlihat dari karya-karya ahli, seperti Peter Berger, Thomas Lucmann, Guy Swanson, dan Robert N Bellah. Pendekatan, dan metode yang mereka lakukan sama, dan luasnya cakupan kajian sesuai dengan dinamika perkembangan zaman. Pada masa-masa puluhan tahun terakhir banyak bermunculan kajian-kajian keagaman yang dilakukan oleh para ahli Sosiologi Agama, khususnya dari negara Eropa, Amerika, dan Australia. Sebutlah nama-nama seperti Ronald Robertson, dan Bryan S. Turner, dan lain-lain. Tema-tema kajian mereka sangat beragam, mulai dari hal yang berbau gender, pranata keagamaan, minoritas-mayoritas, diskriminasi agama sampai pada persoalan hubungan etnis, dan agama. Namun secara kuantitatif volume karya-karya mereka berjumlah terlalu menggembirakan.

Karl Marx (1818-1883)

            Seorang ahli filsafat sejarah Jerman, Karl Marx, telah menerima gelar doktor dari Universitas Jena. Das Kapital adalah karyanya yang paling penting, namun buku ini lebih dijulukan kepada para pembaca dari kalangan sarjana. Sebaliknya, Communist Marnifesto ditulis untuk konsumsi pubik, dan seruannya untuk melakukan revolusi. Pengaruh Marx dalam dunia pemikiran kontemporer begitu dramatis. Tulisan-tulisannya menginspirasi revolusi komunisme di Rusia, Cina, Kuba, Vietnam, dan yang lainnya. Dalam pandangannya mengenai konsepsi materialisme sejarah bahwa bukan ide, atau nilai manusia yang memegang sumber utama perubahan sosial tetapi didorong terutama oleh pengaruh ekonomi. Konflik kelas antara proletar (pekerja upahan), dan borjuis (pemilik modal) memberikan motivasi perkembangan sejarah.                                    

Marx yakin bahwa sarjana ilmu sosial mesti bekerja demi masyarakat yang lebih baik, dan tujuan pribadinya adalah untuk membebaskan para pekerja dari kemiskinan, dan kekerasan yang diakibatkan oleh indrustrialiasi. Dia menimbang revolusi sebagai satu-satunya cara untuk melakukan pembebasan, Marx hidup selama abad ke-19, yaitu saat kapitalisme merajai wilayah Eropa, dan Amerika. Kapitalisme adalah sebuah topik yang kompleks. Namun pendek kata, dia mengizinkan tiap-tiap pribadi untuk memiliki tanaman-tanaman produksi, usaha-usaha perdagangan, dan aspek-aspek perdagangan lainnya. Para pemilik itu menyewa para pekerja, dan saling bersaing dalam pasar bebas untuk memperoleh keuntungan sebesar mungkin. Dalam terminologi sarjana beraliran Marxist, tanaman produksi, pabrik, baja, dan serupanya disebut sebagai alat-alat produksi (means of production), dan mereka yang menjadi pemiliknya disebut dengan kaum borjuis (bourgeoisie). Para pekerja yang menjual tenaganya untuk kaum borjuis itu disebut dengan kaum proletar. Konflik itu tidak bisa dihindari, dan akhirnya kehancuran masyarakat tidak bisa dipungkiri.32                                                       

Antagonisme antara kaum borjuis, dan proletar disebut sebagai konflik kelas. Dalam masyarakat kapitalisme, kaum borjuis merupakan kelas elite yang menguasai alat produksi, dan memiliki kekayaan serta mengeksploitasi para pekerja, sedangkan kaum proletar terdiri dari buruh, para pekerja pabrik, dan orang yang banyak dari jumlah borjuis. Atas ini Marx berpandangan bahwa masyarakat berada dalam konflik, dan perjuangan kelas.        

Menurut Marx, kapitalisme di dalamnya memiliki penyebab-penyebab kerusakannya Skenario hari kiamat ini adalah sebagai berikut. Berusaha memperoleh keuntungan sebesar mungkin, kaum borjuis memberi upah yang sangat rendah sehingga kaum proletar hampir mungkin tidak bertahan hidup. Marx memberi prediksi bahwa kehidupan para pekerja yang sengsara itu akan memberi penyadaran bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari kesengsaraan adalah dengan bersatu, dan melakukan revolusi. Saat memegang kendali, kaum proletar akan membentuk sebuah pemerintah baru, dan membebaskan properti dari kepemilikan individu. Negara selanjutnya mengambil alih alat-alat produksi atas nama rakyat, dan masyarakat kemudian hanya akan memilih kelas sosial tunggal yang terdiri dari kelas proletar, dan eks-borjuis. Hasilnya, kelas sosial tunggal atau masyarakat tanpa kelas akan terwujud.33                                                      

Marx juga percaya bahwa sifat dasar pekerja indrustri juga memberi kontribusi bagi kejatuhan kapitalisme. Dia mengklaim bahwa bekerja adalah sebuah aktivitas unik yang membuat manusia berbeda dengan hewan. Sementara beberapa spesies hewan membuat produk, saat burung-burung membangun sarangnya, Marx berpendapat bahwa hanya manusia saja yang bisa memberi imajinasi, dan kreativitas atas pekerjaan mereka, dan karena itu membuat pekerjaan mereka menjadi bermakna. Marx yakin bahwa tragedi kapitalisme terjadi dengan cara bahwa suatu sistem mentransformasikan kerja dari sesuatu yang bermakna menjadi tidak bermakna. Karena sistem tersebut dikendalikan oleh keuntungan semata, para pekerja berubah menjadi hanya sekadar mesin berbentuk manusia. Menurutnya, kualitas-kualitas esensial dari pekerjaan manusia ini -  monoton, terus berulang tiap hari, kurangnya makna, dan tidak punya kuasa sebuah situasi di mana orang-orang yang kehilangan kontrol atas hidup mereka sendiri, dan terimajinasi dari dunia sosial mereka, dan merasakan bahwa kehidupan ini tidak bermakna.34

            Pempaparan di atas jelas, mulai dari bagaimana itu sosiologi itu sendiri. Kemudian para sosiolog melakukan obserfasi, dan eksperimen mengenai kelayakan hidup layak banyak orang. Tidak hanya itu, dalam buku yang pembaca sedang baca ini ialah, suatu bentuk gambaran mengenai, faktor berbudaya, berkomunikasi, kelayakan khalayak menghadapi ragam bentuk bahagia lewat kemajuan negri dengan segenap kemampuan. Tidak hanya upaya kaum borjuis bisa berbahagia. Namun dengan simbolis yang dimiliki kendaraan tua ini akan membuat gambaran yang ideal. Bahwa memang tidak semuanya, dan pemilihan kebahagiaan itu lewat gambaran apa yang dimilikinya. Namun buku ini siap menciptakan peluang bahagia, dan berbudaya saling tegur sapa dimanpun itu berada. Buku ini tidak seperti kemungkinan “Legalisasi Ganja”. Yang isinya rangkaian kemungkinan, yang amat tidak mungkin di Nusantara. Jika terlebih negeri ini, negeri beragam status sosial yang banyak menjelaskan segala bentuk larangan mengenai aspek negatif yang dihasilkan dari “Ganja” bisa saja memicu kejahatan. Namun berbeda jelas dengan tulisan ini. Serasa sulit, jika para khalayak memang dominan berpikir, celotehan buku ini mengajuk pada fase classical life.

     Namun pandangannya hanya ini saja. Negeri ini kian maju, seiring kemajuan zaman. Banyak fondasi tengah di genjarkan kini. Dan banyak sudah lulusan yang sudah terlahir dari bumi pertiwi. Dan dilain zaman nantinya, dengan sekarang kita bergerak. Selamatkan alam, selamatkan budaya, tanpa harus terus menerus menghabiskan sumber daya. Berbahaya jika, nanti kita tidak bisa merasakan sumberdaya, nanti kelayakan hidup makhluk hidup mati, dan punah karena rakusnya sistem kapitalis uang. Agar generasi kita nanti bisa merasakan mode transportasi yang layak karena negara kian tersusun indah sudah, lapangan kerja layak, dan orang-orang kian tidak lagi canggung untuk sekian melemparkan kata-kata, tidak dimanja, dan parno akan ponsel genggamnya. Dan utamanya stop kelahiran kendaraan di negeri ini. Oleh karena itu, idealis memang saya menuliskan Vespa, yang di mana orang yang berkepemilikan Vespa ialah harta terpendam negeri ini. Karena dengan Vespa, kelahirannya sudah jelas. Bentuk modernnya ilah mereka dengan kebiar biar biarannya bisa membeli suatu bentuk mode transportasi yang mereka mampu beli. Namun tetapkan balik kembali. Bahwa lebih baik jalan kaki, lebih baik bersepedah. Stop kelahiran. Save Sejarah. Ramahlah, karena ini budaya kita. Tidak terus menerus kita membutuhkan, dan saling simbiosis dengan budaya luar. Buat mereka haus balik dengan pola gambaran INDONESIA maju, INDONESIA jangan primitif dengan moderenisasi, INDONESIA dikit lagi saya yakin siap menjadi Atlantis yang diceritakan dahulu kala, sebelum kehancuran tombol riset terulang kembali, merugikan kami para pekerja.

You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts

Instagram Images

Instagram Images
Sempit Ruangmu Kaya (Repost)

Subscribe