BAB 7

Juni 05, 2020



Ingin melihat bintang. Sebuah angan bukan menjadi bintang. Jelas betul pemahaman kini, ikan sungai harus tetap berada di sungai. Karena bagaimanapun, itu tempat sejatinya dia bertahan hidup. Saya harus sadar, ikan sungai itu, sejauh apapun keindahan lautan. Ikan sungai tetap akan berada di sungai. Mampu menggambarkan kehidupan di lautan, namun bukan berarti menyerbu ke arah yang berasamaan. Seperti halnya permohonan jangan, kepada ikan paus menembus muara, dan berenang di sungai.

            Semua dalam ambang kerusakan. Ini upaya saya mengembalikan era dimana berkembang itu perlu. Namun, untuk menjadi enak dimakan rasanya juga jangan. Lantas bagaimana kini, kita harus sama-sama kuat. Bergerak bersama tidak maju dengan arah keprimitifan, serta larut malas, dalam era masa kini. Meski kemungkinannya 0% beradu gengsi ego, tetapi saya yakin akan ada beberapa yang menginginkan semua ini tidak sedemikian rupa. Serta merubah value persentase tersebut.

            “Khawatir dengan apa yang ada di mesin waktu. Khawatir membuat kalian 2 kali lebih berat”.

            Ingin melihat bintang, sebuah paparan saat dunia tidak lagi penuh toxic polusi. Langitan luas terbuka lebar, para pekerja menantikan sejak lama kesejahteraannya. Ini bukan prihal siapa kuat bangun pagi mengais rezeki, tunduk saat berargumentasi, tersisih dari kompetisi, demi berprestasi berlapis generasi. Ini demi hasil upaya, usaha, kerja keras kita sebagai kaum pekerja, sama menginginkan jiwa yang berbahagia. Akhir tulisan ini bukan sekadar cerita perjalanan saya dalam bervespa. Saya bukan orang yang romantis, bukan juga yang humoris, apalagi agamais yang akan selalu laku terbawa pulang untuk membahagiakan orang tersayang disisi. Buku ini demi cinta, dan sayang kepada semua ciptaan isi bumi, dan kita untuk sama-sama cukup modal kembali.

            Saya kurang tahu lagi ingin menuliskan apa. Saya jadi makin bingung, dengan pelajaran yang dahulu diajarkan pendahulu, atau buku yang saya pelajari. Dimana memisahkan fungsi mengenai primer, dan skunder. Pembelian mengenai hal-hal pokok untuk kita konsumsi, kini beralih fungsi. Contoh saja, dengan kendaraan, kemudian handphone, quota, pulsa, kini malah menjadikannya suatu kebutuhan penting disamping proses cara pembeliannya. Jadi lebih penting mana, makan ? atau bergaya ? atau cara proses sosialisasi modernisasi ini yang kini menjadi salah. Atau memang ini sudah jalur peradaban. Namun tarik garis lurus, kita ikuti jalurnya, kita pula yang kian terengah mengejarnya untuk menjadikannya sesuai rencana.

Perputaran kemajuan seperti halnya sebuah taraf ekonomi kehidupan harus maju, namun tidak memajukan yang bekerja dalam satu wadah instalasi para pemilik modal. Kita akan selalu menanti kemajuan, serta menanti perubahan dengan lebih baik. Namun tanpa harus paham dengan bagaimana cara membeli kemajuan tersebut. Mirip kasus didepan akan terlahir, dan terbentuknya kendaraan listrik yang notabenenya mengurangi polusi, kemudian seperti sediakala tidak berfungsinya handphone berbasis edge, 3G, setiba waktunya 4G yang merusak semua mobilitas rakyat harus, dan berkewajiban mengupgrade alat yang dimilikinya karena jika tertinggal kita dinilai tidak bisa berpeluang hidup dengan berbahagia. Lantas kita-kita ini lah yang lagi-lagi berlomba untuk mengkonsumsinya ?? lantas yang sudah tercipta, dan terjalin dengan lama akan terbuang begitu saja, dengan mengorbankan lagi sumber daya upaya, dan tenaga dengan percuma.

Bab akhir ini wajib menjawab semua kekisruhan, dan keinginan sesungguhnya bab sebelumnya, semoga. Ada yang menerima, ada yang menimbang, namun pasti ada pula yang menolak beradu paham mengenai tulisan rima ababil ini. Persis hitam, dan putih tidak akan pernah menyatu, seperti masing pola warna sudah ada dalam porsinya, sudah tugasnya. Padahal kita hanya milik 2 warna yakni merah, dan putih modal orang hebat terdahulu yang sudah memperhitungkan semangat juang, darah terbuang, dan saling mendoakan dalam putih kesucian. Bukan terus menerus menggoreskan hitam di atas putih. Meski begitu terkadang, warna menjadi salah berpandang, berganti seperti warna hatinya.

            Berpegang teguhlah, semua ini hanya titipan. Konseptual saat saya melirik kembali fungsional kehidupan, dibalik perjuangan mempertahankan kehidupan dari masa ke masa. Saya cukup berbangga akan konsep juru parkir. Dimana, juru parkir tak akan pusing mengenai berkepemilikan puluhan, bahkan ratusan, kendaraan tiap waktunya, yang di titipkan untuk dijaga. Dan tidak pernah bersedih ketika semuanya sepi meninggalkannya di hadapan. Namun, mengapa kita pula cukup dipusingkan hidup ini, kian urung waktu. Konseptual juru parkir, tidak ada yang perlu disombongkan jika di titipkan, tidak perlu bersedih ketika semuanya yang dijaga itu diambil kembali oleh sang pemilik.

            Saya akan menceritakan, hal-hal yang dirasa kurang menarik ditumpahkan melanjutkan bab sebelumnya. Dimana Siput tercinta dengan berat hati, laku terjual. Namun ini semua demi kebaikan yang telanjur saya jalani. Yah, Siput saya dijual kala itu, demi melunaskan hasil jerih payah harapan besar orang tua. Kebanggan harapan orang tua pada bagian itu yang rasanya harus disajikan, disamping ketakutanya akan selembar ijazah berharga, demi layak tidaknya bekerja dimasa kini ‘katanya’.                                                                      Biaya urusan pendidikan yang mahal, harus saya lalui dengan menjualnya. Untuk membeli laptop berengsek, agar bisa mengerjakan skripsi saya. Dan untuk meringankan beban iuran Universitas, yang tak akan pernah sejatinya jujur mengantarkan tujuan, usai rapi dari tiap waktu yang termakan, dari bagian ruang kelas yang terisi, dari pertemanan yang dilalui fase kehati-hatian. Tulisan ini bersiap siap kaya dengan kerumitan yang memiskinkan.  

            Harusnya tamat, karena Siput sudah terjual begitu  saja. Tidak menarik bukan ? Tutup tulisan ini, dan pergi menyeduh secangkir kopi, atau teh sesuai selera.

Jiwa Ingin Bahagia

            Sibuk memikirkan kesalahan, sibuk memikirkan perasaan. Saya resmi menjadi ‘jejeboy’. Lagu yang membawa kepada keacakan otak. Judul pada album pertama Jason Ranti, “Lagu yang problematik”, menemani kebuntuan tulisan ini. Keadaan dibawa, diangkat, dan tetap memikirkan benar tidaknya pemikiran yang lahir karena sejatinya ini iblis, atau malaikat didalam diri, sopir hati. Kalian pasti akan membenci saya, ketika saya memperlakukan sebagaimana kalian memperlakukan saya. Tetapi sejatinya saya berkeluh kesah, mengapa hidup ini sejatinya jahat. Mengapa mereka semua lahir karena orang tua yang bersenang senang. Namun rasanya, kita lahir dari fase melewati perjalanan yang panjang. Menurunkan partikel kecil Nur ‘cahaya’ dari langit ke 7, untuk turun ke bumi, saling menghancurkan, berkompetisi, tidak saling mengenyangkan.

Saya khawatir mengantarkan modernitas kepada anak kelak. Mempertaruhkan perhitungan, daya upaya mengurangi polusi, demi berlapis berbagai generasi. Rasanya masih kurang, jika kita hanya mengurangkan polusi sedangkan beribu populasi masih terus bertambah. Setidaknya tulisan ini mempertaruhkan polusi dari kendaraan. Namun akan masih ada yang menungggu menjadi bom waktu, yakni mesin pendingin ruangan, dan mesin pendingin makanan yang masing-masing dimiliki satu, keluarga satu dalam rumahnya. Lantas masih yakin dengan peradaban yang makin maju ?. Sekali lagi saya khawatir mengantarkannya, kita seperti ini saja hidup sudah tak kuat menahan panasnya. Apa lagi dunia nanti ?, namun sejatinya pantas bukan, cinta yang musti merana, dan banyak biaya kita siap buang ? maka dari itu, mulailah di sini, dan sekarang, mengapa musti kesana. Sedangkan dunia memiliki luka yang sama.

            Sedikit mengkonstruksi, pada bait ini. Keluarga saya tidak sedang baik kini. Sejatinya benar menjelma menjadi Indonesia, rasanya sangat pahit. Ibu yang melahirkan saya, menjarak, dan meninggalkan rumah. Usai adik pertama menikah, saya dilaluinya jelas. Meski yah begitu, mungkin sudah jodohnya, sudah filmnya. Yang jelas saya tidak berhenti berharap, agar Ibu kembali di sini, di rumah yang berbayar tiap bulannya. Ibu dengan pola pikirnya yang acak, membasuh, dan asuh. Namun tetap tidak mengerti sinyal apa yang sejatinya Ibu kirim. Jalan tengah, jalan damai, semoga rindu masih bisa di semai. Atau memang benar-benar selesai Ayah, Ibu sejauh ini, bukan tugas saya. Pasrah berserah, pilihan ter emas. Tetap tak akan tergantikan untuk saling membahagiakan keduanya. Karena memang sejatinya hal utama itu harus saya wujudkan, chips tertanam dalam-dalam. Kita tidak dapat memilih dilahirkan dari keluarga yang mana, namun kita dapat membahagiakan keluarga dengan cara upaya. Sajikan canda tepis gulana. Di sanalah hiburan murah, family.

            Rasanya seperti bahaya memang komunis. Namun bagi yang mengamatinya dalam-dalam. Saya memikirkan ini buku KPPG isi nya curiga seperti isi buku kiri,  karena memang dibaca dari kiri. Tetapi rasanya tidak memaksa kalian bersikap kiri. Hanya saja kini memang sudah jauh Indonesia terseret budaya liberalis yang akhirnya, harus bersiap siap membangun deretan serdadu perang dengan dunia luar, atau berpura pura berperang, dalam keacakan dalam komoditas negri ini sendiri ‘rakyat di adu domba’, yang kaya berpura miskin, yang miskin dianggap mencari ketenaran belas kasihan dalam socmed. Yang jelas informasi media menelaah dalam-dalam kepada suatu hal, dan gambaran yang sejatinya memindah fungsi. Mereka tetap bisa eksistensi dalam kancah media. Namun tetap jauh akan saling tolong menolong, bantu membantu satu sama lain. Budaya simbolik terbaru, demi mempelajari lemparan asumsi. Tatkala modal bantuan malah selalu saja mejadi salah sasaran.

Sudah tersaji, secara sengaja, sadar, maupun tidak tersadari. Politik negeri ini sudah memodali paham masyarakatnya yang sukar mengonsumsi dongeng rezim terdahulu, sudah sejaklama diudarakan, dalam kancah media yang mempermudah, tanpa bangku sekolah. Kemudian eksistensi posting sosial media “May Day” atau “Kamisan” tanpa total mengedukasi apa isi, makna, serta minimnya regulasi keamanan, yang mungkin juga membuatnya malah samar menjadi asumsi ditiap kanal masyarakat Indonesia. Baiklah singkat cerita ‘kebebasan media’.

Pemerintahan kini selalu keluar jalur dengan cara-cara muktahir mengikuti perkembangan zamannya. Namun tidak dipungkiri, seperti masyarakat, yang pastinya akan menerima bentuk apapun itu berupa bantuan. Terlihat jelas bukan, masyarakat kian manja. Kemajuan menjadi bom waktu para masyarakat pribumi yang bermetafosis menjadi masyarakat mars. Apapun yang menguntungkannya ‘ambil’, lalu konsumsi, tanpa pikir panjang, karena sejatinya uang itu makin sulit terhendus. Dan dilain sisi, kita tengok, akan ada yang bergumam di langit atas, mengenai kebijakan cari muka di tiap-tiap uji coba. Uji coba ajakan pemerintahan era kini, usai pemilihan kemarin.

Saya khawatir ini semua takan berhasil dalam mencari pertahian masyarakat. Khawatir mendaftarkan pra kerja, dan menerima bantuan dana sosial. Usai jabatanya berakhir, akan ada kandidat lain, yang masuk mengacak kembali sususan komunis, yang sudah tersusun rencana sejatinya. Habislah nama-nama yang terdaftar dalam kancah media elektronik. Unsur fitnah, dan pesan sara kembali mewarnai polemik. Mungkin bisa saja, emosinal pesaing demi menangnya pertaruhan pemilihan, masyarakat hilang esok harinya, tak dapat melihat kembali sinar matahari. Kaum elite lagi yang dirasa akan selamat. Karena mereka sudah aman dengan pangannya, tidak terjebak dalam permainannya. Serta aman dengan berkepemilikan senjata apinya masing-masing. Berbeda dengan masyarakat menengah kebawah. Mereka hanya punya selera makanan seadanya, dan senjata sejatinya mereka ialah pena.

            Kehati-hatian dalam memecahkan gejala, dan tanda. Saya tetap berkeyakinan teguh agama. Meski saya tidak mengganggu keyakinan semua para pembaca, serta menjadikannya satu dunia, satu negara, mirip dongeng Iluminati, yang sedang trand menyerang kaula muda tanpa paham jelas apa maksudnya. Urusan masing-masing, dan kepercayaan masing-masing. Namun tetap, saya hanya bertujuan mengembalikan fungsional hidup kebersamaan, dan solidaritas tinggi dalam KPPG ini dalam kemasyarakatan Indonesia atas asas Pancasila. Hidup beragam, hidup saling melengkapi, dan tidak menuntut pemaksaan pohon kelapa yang bersanding dengan pohon pisang, pohon kelapa harus berbuah pisang.

Mungkin jika melirik kembali, kemerdekaan Indonesia, buah hasil presiden pertama kita. Bapak Ir. Soekarno, yang sejatinya juga ialah ingin disebut rakyat di akhir hidupnya. Jelas diri Ir. Soekarno saja berpegang teguh pada agama, dan tanda yang kerap dia baca, dan teramalkan, yang menjadikannya potongan Pancasila. Jika saja sekali lagi saya katakan. Konsistensi sejak dahulu. Kita bangsa Indonesia dinilai selamat. Memang selalu ada persaingan, tatkala otak pistol di balik celana itu mulai mengacak acak keyakinan hati. Tatkala godaan penawaran kebebasan aspirasi gedung putih mulai menarik tiap bagian masyarakatnya yang sejatinya liar. Lupa dirinya mencari makan dari masyarakat, untuk kebahagian diri sendiri, bangga akan pencapaian diri sendiri. Namun sekeliling saudaranya, dan tetangganya mati kelaparan, mati berjuang mencari nafkah, dan bermimpi menjadi mudah dengan cara ketenaran.

Kini kerajinan media yang sedang asyik, menyorot negri-negri komunis matir nuklir, atom, diberitakan, dan yang jelas negara adikuasa yang memang kita terjeblos masuk dalam permainannya. Sadar seharusnya kita ini sukar sekali ingin memiliki mainan. Hingga kini, mereka kaya itu datangnya dari hasil keringat kita. Seketika yang ada di otak masing-masing terkonseptual ketakutan, para pengamatnya adikuasa/komunis. Tatkala memang akan ada tersaji, show up negri komunis dalam kancah media-media. Lantas Indonesia penganut yang mana ? Negri ini luas, negri ini surga bahan pangan, dan hasil buminya. Akan jadi apa kita, jika yah memang peradaban pendek umur.

Negara lain memaksimalkan berdandan, mencari muka mereka dengan kekuatan negaranya. Mereka paham betul mana yang diperlukan, mana yang seharusnya tidak dibawa dalam negerinya, bagi masyarakatnya. Semoga fungsionalnya untuk mensejahterakan umat di dunia terjalin baik dengan memelihara keragaman. Itu semua adalah bagian dari pilihan kita saat masalalu Nusantara. Dan kini semoga saja, Indonesia memang dalam ambang bercanda. Mirip candaan hastag masyarakat +62 yang mampu berkamuflase menjadi apa saja yang menipu khalayak luas demi eksistensi. Yah… harap tinggal berharap. Negri ini nyatanya benar-benar ditakuti negeri di luar sana. Trick tidak bisa di serang budaya luar.

            Duniawiah, persetan dengan kematian. Mereka menggerus rakus, tak peduli sumber mata air rezeki dari mana asal usulnya. Makin sulit menembus paham. Prakata “konspirasi” membuat manusia sejatinya bisa menembus paham ke Tuhanan. Sejatinya, kita hanya bisa membacanya, menikmati secukupnya, tanpa harus menafsirkan akhir kehidupan. Karena jelas sekali penggusuran paham keyakinan agama, tak akan bisa diganggu guggat dengan kelayakan kita sebagai manusia yang strata kehidupan paham yang maha tinggi ilmu. Karena suatu rumusan agama juga tidak seharusnya di kaji dalam. Hanya saja wajib disampaikan karena isinya, dan rakhmatnya. Ikuti penerangan jalannya, karena agama ialah obor lampu penuntun jalan gelap. Jika ya, manusia tetap tidak ingin kiamat, ingin bertemu doraemon, semua bangunan berlapis kaca, kendaraan yang dimana bisa terbang, serta robot-robot modern canggih demi menopangnya, apa ya ? kita bisa makan, makanan robot ? bisa menembus berbagai waktu, penjelajah waktu. Saat nalar saya ini direndahkan televisi.

Terasa sampai proses cara negeri ini harus benar-benar kuat begitu. Konstruksi, hantu, dedemit, juga sudah dibangkitkan mungkin dari kuburnya, demi menyelamatkan umat. Namun rasanya hanya konyol belaka. Kemudian jelas betul, memang kita harus baik dengan sesama. Mungkin akal pendeknya, kita juga harus berbagi piring bersama negri tetangga, demi mereka bisa makan. Namun seharusnya lihat-lihat terlebih dahulu, isi dapur sesungguhnya yang kita miliki. Masyarakat yang sejatinya berjuang juga di negeri ini, malah makin terpuruk dengan mengayuh tenaganya lebih ekstra. Perjuangan sejatinya, lihat lah saudara sendiri terlebih dahulu, apa mereka perlu bantuan. Barulah kita pompa dengan sekeras kerasnya, proses amal bantuan ke berbagai negeri dengan kekuatan yang sejatinya kita miliki. Bukan malah maju lenggangnya tanpa peduli sekitar terdekat kita.

 Kitab Islam ialah penyempurna semua agama, menyelamatkan semua tanda kehidupan umatnya, dan tak akan mati terbunuh begitu saja. Meski mereka semua pemeluk ketidak berketuhanan berusaha dengan menjatuhkan Islam. Yakinlah Islam ialah agama kuat, agama yang menuntun kebenaran, dari masa ke masa. Isi keasliannya akan tetap ada di hadapan anak-anak hafiz Alquran yang tersaji di televisi-televisi media. Meski peradaban akan hancur, dan semua tulisan hilang. Yakin betul, hafalan tersebut tak akan luput hilang dari mereka yang benar-benar menyempurnakan agama Islam ini.

Penyempurnaan bagian, taktikal Zionis, cara beralam kitab Hindu, Budha, dan cinta kasih Kristus. Ataupun agama perhitungan symbol alam, yakni 101. Dimana simbolik 1 Orangnya, kosongkan kepada Tuhan yang Mahaesa, 1 Alamnya. Melalui fase beralam, itu semua bisa dibacanya ‘Iqro’ ? New Religion. Semua dikupas lengkap dalam Alquran. Lantas bagaimana kita yang sudah berpegang teguh dalam Islam mengantarkan bagian-bagian ini demi menyelamatkan umat. Kasus paham dari Ateisme, serta Iluminati ialah kurang nya mengakui Tuhan. Karena mereka hanya menghilangkan fungsinya. Yakni, “Tiada Tuhan”, dan wajib mengakui sejatinya, “Tiada Tuhan, selain Allah”. Seperti agama baru, 101 dalam anjing spesial hanya segitu saja populasinya di dunia tidak bisa lebih. Seperti kita memahami sidik jari yang selalu berbeda. Apakah ya itu agama yang sedang eksistensi digandrungi kini ? jika ya, akan ada 2 kubu. Dimana 101 baik, 101 buruk. Hadeh…. maha oke, maha gaib. Takan bertemu, sekali lagi jika bukan Islam yang mempertemukan.

            Islam mengajak kita wajib beriman, meski hanya sebesar biji sawi ada di dalam diri. Niscahyanya kalian InsyaAllah, selamat. Tanda-tanda kini jelas memang, dimana kesesatan yang terdorong, dan menunggu dentuman dahsyat mematikan semua telekomunikasi, peperangan klasik tersajikan. Bukan bualan, atau mengajak benar-benar ini agama yang sempurna dengan membaca semuanya dari isinya, dengan cara tidak dilebih lebihkan, dan ikut larut liar pentafsiran. Atau merasa benar-benar paten perjalanan hanya terus terulang, berbalik dari kekacauan, karena apapun ajarannya, malah membuat kehancuran dahsyat ?, dan tombol reset kembali digunakan Tuhan untuk melunturkan kembali masa zaman pra sejarah berabat-abat silam ? mungkin begitu ?. Tidak usah khawatir mempikirkan bahwa kita bukan malaikat, dan pedoman iman tebal jelas kita manusia tak luput salah. Dan jelas kita lebih mulia. Pekerjaan malaikat, dan iblis cukup enak. Kita yang berjuang dalam galaxy yang menjadikannya diri kita lebih mulia dari pada malaikat, dan iblis yang jobdesk itu-itu saja. Tinggal pilih, harusnya mudah. Seperti menekan tombol like dalam aplikasi.

            Akal pikiran, hari tiap hari tersimpan, dan terbawa, gunakan semaksimal mungkin. Biasakan membaca, merasa, bukan mengkaji. Tugas mengartikan manusia biasa seperti kita tidak akan mampu menafsirkannya. Justru malah bukan mengajak, malah seperti mengancam, menakut nakuti, serta keras mengharapkan menang tanpa landasan gambar nyata sejatinya Rahmatan lil ‘alamin. Paparan pembuka di atas mengajak kita untuk berpikir maha gaib. Seperti pembukan Qs. Al-Baqoroh 1,2,3. Serta mengembalikan sejatinya hati, akal, dan pikiran. Kalian bebas berasumsi, bebas menuangkan emosi. Namun tetap harus memiliki perhitungan tatkala benar tidaknya, salah tidaknya, cinta tidaknya, serta berpotensi mengangkatkah, atau saling menjatuhkankah ? Yang jelas penuh niatan saya ini, melumasi beberapa pikiran berkarat, hati yang juga ikut lusuh di separuh bagian waktu. Agar kita paham, bertahan bukan berarti serakah. Pandai bukan berarti untuk meninggalkan yang tidak mampu. Namun kembali untuk sama bersama menjadi satu berkeTuhanan. Tidak ada menang, tidak ada kalah. Agar semua perhitungannya pun tidak terlalu, di alam lain usai kita bersiteguh keras di bumi. Dan tanam baik-baik, alam semesta ini akan menemui ujungnya. Berpedomanlah kepada hari akhir, itu awal yang akan berusaha kalian paham akan tujuan KPPG.

            Akal sehat saja tidak cukup. Melihat segala sesuatunya agar berimbang ? tidak tidak tidak… memang semua proses untuk menjadi baik terasa semuanya mengerikan, merugikan. Rela harus kalah di paruh waktu, oleh orang-orang yang merasa besar. Tetapi tidak mungkin juga saya harus berdiam diri dirumah untuk terus menerus lemah, dan keluar menjadi singa yang siap mencakar apabila terancam. Pernikahan, khawatir anak saya lahir tidak berbahagia, harus jahatkah saya juga, dan terlihat kuat di paruh waktu. Demi anak tersenyum bahagia dengan  berbagai manipulasi, atau memang sesungguhnya saya harus perlakukan sesuai tingkatan dewa agar anak ini menjadi kuat. Sejatinya manusia tidak ada beda, mereka masing-masing memiliki pertahanan yang bagus. Entah kamuflase, menyelamatkannya, atau memang keyakinan kitab masing-masing sudah upgrade.

            Berbahagia itu wajib. Segala sesuatunya harus berdasarkan bahagaia. Mengapa ? karena dengan mengawali bahagia, segala sesuatunya yang kita jalani akan terasa mudah, dan menyenangkan. Cukup ingin kembali kemasa silam, seharusnya saya berbahagia mempelajari pelajaran perhitungan, fisika atau apapun itu dibalik gurunya yang juga sangat tidak menarik hati. Karena pada dasarnya yang diawali kebencian, jelas betul tak akan membekas di hati, ilmunya.

            Mengawali bab dengan jiwa ingin bahagia. Saya tengah berbangga dengan kedua orang tua saya. Karenanya saya sampai pada saat ini. Sebuah pandangan ini karena saya berbangga. Semasa mengawali percintaan buku pertama. Saya harus bahagia, dengan apa-apa saja yang awalnya semua yang saya rasakan ini terlihat tidak menarik. Saya akan membuatnya ini menjadi suatu kisah perjalanan yang sama sekali tidak perlu di sesali. Ketidak mampuan orang tua yang sejatinya terus menerus berjuang membangun kebahagian untuk anaknya. Saya bersyukur kala itu, saya menjadi pribadi yang cukup terlihat eror memang. Antik dari segala bentuk perjalanannya, sabar, dan tetap berpeluang bahagia dengan apa-apa yang sudah diraih. Saya dirasa memang harus mengerti suatu kemampuan orang tua. Dibalik semasa kecil saya tidak mampu memiliki sepedah roda dua. Kemudian dikala meranjak dewasa, serta mampu bekerja. Hal pertama yang menombak tajam dalam pribadi diri yakni berkepemilikan Vespa Siput.

            Siput menerjang semua jawaban, disaat semasa sekolah. Saya yang akrab dengan berjalankaki, berangkutan umum, yang jajan setidaknya sesuai kemampuan. Usai mengenal dunia pekerjaan, saya mampu berbahagia, tanpa melirik suatu daya besar teman sekitaran meski saya tidak meraba jauh mereka memperoleh kebahagian itu dengan cara seperti saya, atau instan seragam dengan orang lain. Yang jelas, apa saja yang saya kenakan saat itu, memiliki peluang kebahagian di landasan permukaan, demi memberanikan diri show up dihadapan ratusan pasang mata yang berasumsi mengenai diri.                                 Saya paham betul inilah yang tersajikan, mengurung diri menjadikannya amat sangat berarti, dan sekali lagi harus berpedoman, segala sesuatu proses harus memiliki rasa senang, dan berbahagia. Kini saat saya harus keluar, menjadikannya berharap bisa mengantarakan suatu keinginan yang mungkin memang perjalananya akan tidak selancar pemikiran yang tertutup ini, dan hanya dari satu objektif pandang saja. Burung dalam sangkar. Mempelajari menjadi busuk, dan tidak nyata saya, demi dagangan laku, dan lebih totalitas malu maluinnya.

            Semua wajib berbahagia, semoga saja ini hanya saya yang terlihat amat sangat terpuruk. Semua wajib bekerja. Kerja itu kegiatan mulia, ingin membeli secukupnya seperlunya, ingin memberi secukupnya semampunya. Upayakanlah ada yang keluar, akan Tuhan ganti dengan yang masuk. Proses masa tubuh manusia. Masa kecil, punya banyak waktu, tenaga, tidak punya banyak uang. Masa remaja punya banyak tenaga, uang, tidak memiliki waktu. Masa tua punya banyak uang, waktu, tidak memiliki tenaga. Maksimalkan hal-hal ini agar tidak payah manage waktu. Jangan cepat malas, dan terlalu banyak istirahat mungkin saat sehat.

            Semua pasti ingin berbahagia, prosesnya saja yang terkadang lupa. Yakinlah tak akan tertukar jika paham akan alur cerita Tuhan yang mengatur ini semua. Baiklah jika berasumsi Tuhan tidak berkepihakkan, namun yakin lah buang nalur duniawiah terlebih awal. Tanamkan dalam nalur alam usai kita di dunia ini. Niscahyanya semua akan tertarik ikut seirama sesama dengan baik. Karena apa ? kita sudah berjuang turun ke bumi ini dalam jalan Tuhan.

            Terkadang beranggapan dunia ini tidak adil. Pertemanan ada yang menghianati. Pekerjaan saling kejam menjatuhkan. Lingkungan yang saling berlomba menjatuhkan. Keluarga yang mengancam demi tanggapaan. Satukan rumusan, semuanya diawali dengan bahagia saja. Dunia ini milik Tuhan, masalah ini milik Tuhan, gantungkan masalahnya, lalu kembali beraktifitas seperti biasa.

 

Di Sekolah Ku Tunggu

            Jika menelaah masa kehidupan orang terdahulu, kemudian dalam dunia bekerja era kini. Mereka hanya menggapai rupa, memiliki ilmu sedikit, dan banyak memiliki taktik,  dalam bertahan hidupnya. Namun era perkembangan dimana dunia dalam era kertas kini. Dimana ingin rumah ada berkepemilikan kertas, untuk jajan harus punya kertas, berkepemilikan kendaraan harus ada kertas. Kini ilmu harus sebanding dengan apa yang diusahakan dalam tiap-tiap kertas. Mencari ilmu dengan bersekolah dimasa kini, demi menopang masa depan.

Prestasi, suatu prakata yang memang lama dibangun sejak kita mulai beranjak hidup sebagai manusia. Prestasi menjadikan daya juang untuk sama berbangga, dengan apa-apa saja yang usai dilaluinya. Menelaah tatkala usia kanak – kanak masa pertumbuhan, pastinya orang sekitar lingkupan kita sebagai manusia yang hidup membutuhkan kemajuan dengan apa-apa saja yang dipelajari sang anak dalam pemahaman, dan kepandaian yang dimiliki, itulah sebuah prestasi. Kebanggan serta, pujian akhirnya dilayangkan kepada suatu insan jika mencapai value yang diucap sebagai prestasi. Maju dalam fase remaja, persaingan prestasi makin giat dibentuk, terbentuk oleh daya juang pembelajaran yang diterimanya, sehingga dirinya lulus, serta berprestasi. Fase remaja menuju dewasa, khalayak tersebut memparuh daya juang, apakah kelayakan dari paham berprestasi tersebut dapat mengantarkannya untuk mendapatkan peluang bekerja. Dari sinilah muncul, perjalanan yang sudah sejauh ini digapai ingin melalui tahap apa-apa saja yang tidak diperoleh, dan belum memperoleh semasa kanak-kanak, menuju remaja. Karena daya, dan upaya tersebut harus terbayar lunas dengan masing unsur kebanggan yang ingin diraih.

Namun apakah cukup dinilai puas, memenuhi kebutuhan ? Usai prestasi dari segala macam bentuk tanggapan luar yang diterimanya. Dan waktu terus berjalan, hingga didekatkan dengan kebutuhan yang makin sejatinya memang perlu. Untuk membangun rumah tangga, dan mimpi di masa tua kelak. Beberapa ada yang salah dalam langkah, beberapa lagi ikut terperangkap, dan barulah mereka sadar hidup sejatinya untuk tua. Disaat menjadi tua, apakah prestasi yang masih diharapkan itu ada ?. Ada, yakni kepuasan serta bangga akan penerus yang dirasa mampu, meneruskan daya juang semasa era pra kerja. Dari sinilah hidup persaingan itu ada. Dari sinilah kebersamaan, dan kekompakan kita dalam bermasyarakat dinilai kurang. Memandang sekitaran menjadi ancaman, yang sewaktu waktu malah merugikan sebuah perjalanan.

Akankah pilihan jalan tidak mengejar prestasi belaka ? jawabannya sulit. Namun beberapa sudah mengusahakan hal-hal yang dinilai nya, prestasi itu hanya keindahan kecil pandangan mata. Selebihnya menyiapkan hari, dimana tak lagi muda, dan gagah, untuk saling berbagi. Karena hidup ini hanya sementara, manfaatkan waktu dengan semaksimal mungkin menolong sesama. Apakah prestasi itu tampak terasa ?, dan terlihat di permukaan pandangan ?. Itulah pilihan hidup, mencoba, dan berjuang agar tidak buntung saat proses. Bisa dibilang bermain aman. Namun kembali dalam-dalam, tengok kembali sopir hati. Sudahkah sejatinya kita menjalankan isi hati ? dengan apa saja yang sudah dipelajari ? Sudahkah perputaran duniawi ini menjadikannya selamat dengan kebersamaan yang sama-sama mengantarkan kebahagiaan orang sekitar, tanpa berlelah hati ? Semakin besar peluang kita menjadi orang terpandang, semakin besar pula pola hidup yang dijalani, jika kita kurang rasa bersyukur, dan berkecukupan.

            Kita wajib membuat konten terbaik dalam hidup. Kita lelah berpura pura, lelah bersandiwara. Usai gelap menjadikannya terang, kita terus memainkan peran yang lagi-lagi menjerat kelayakan hidup sejatinya yang ingin benar-benar ingin dinikmati. Awalanya tertuntun, kemudian menuntun. Menyisakan duri, menyisakan perih, dan sunyi. Zaman merubah kita juga untuk ikut turut berkamuflase agar bisa bertahan. Tanpa penting memikirkan konten sekitaran yang dirasa, sekitaran kita, kita wajib bersyukur dalam menjalaninya. Tetapi kembali lagi, kita bisa mengucapkan rasa syukur, bagaimana dengan mereka yang kita pandang, lebih baik jadi kita ? kita kadang ingin memandang lebih tinggi, dan dewasa lagi, dan bijak dalam hal apapun. Padahal kita pun harus ikut masuk dalam dalam kejiwa mereka yang dinilai kurang beruntung dari kita. Agar kita benar-benar paham, dan mengantarkan mereka mengucapkan rasa syukur. Karena bertemu kita dengan kita membantu mereka, membantu keperluan mereka dalam mencapai suatu kelayakan hidup.

            Awal kelahiran Siput, banyak sekali mempelajari pola hidup unik didalamnya. Dimana hanya rupa gambaran Vespa, saya dekat dengan mereka yang sama dalam pola menghargai, serta sama-sama menyemangati. Bayangkan saja, separuh perjalanan kuliah semasa itu, mengajak saya untuk terus bersemangat mengasah ilmu di perguruan tinggi dengan disampingkan mencari pundi-pundi rezeki. Dengan sedikit senyuman wajah sekitaran para scooteris, dan ramahnya pengguna Vespa lain, itu membuat saya optimis. Senyuman, serta sapaan ramah pengendaranya menjadikan suatu masalah yang begitu besar perjalanan fana dunia ini, luntur dengan sama-sama menghargai, dan menyemangati. Tanpa harus tau jelas, permasalahan apa yang dialami tiap para pengendaranya. Yang jelas, ketika truble saja pun itu menjadi suatu hal yang gaib. Tenang, dan yakin akan ada yang saling tolong menolong dalam kesusahan. Senyum obat termujarab menghibur alam sekitar.

            Kenakalan fase remaja dianggap kewajaran dalam proses menemui komplikasi masalah yang akan di terima seusai beranjak dewasa. Saya bersyukur, semangat muda ini tidak menyalahi tempat. Dimana memiliki Vespa itu tidak mudah, tidak murah. Perjalanan yang terus dilalui memang harus berbangga ria. Namun memang tidak dapat dibayar rendah. Vespa sejatinya dimiliki untuk sama-sama dimengerti dalam pola merawat serta menjaga nama baik pengendaranya. Bukan hanya koleksi semata. Kita dapat memelihara kendaraan sebagaimana kita dapat mempergunakannya karena dirinya ialah mesin. Sekali lagi saya menggambarkan Vespa ini ialah kuda yang sejatinya memiliki tenaga, dan jiwa. Kita tidak dapat memahami, dan membandingkan kendaraan bermesin dengan kuda yang memiliki umur, dan nyawa untuk mengerti akan perasaannya.

            Kendaraan tua mengajarkan proses berkepemilikan harus dibayar kontan. Dan bersiap siap mempelajari pola kemesinan yang juga makin menua. Seperti pola kehidupan orang tua, yang sejatinya merawat kita, sampai pada titiknya mereka yang harus kita rawat dengan kelembutan di paruh bagian waktu lainnya. Akankah begitu orang tua dapat kita kasih sayangi dengan cicilan kebahagian ? tanpa memperjelas suatu permukaan perjalanan yang dijalankan dengan kelembutan hati ikhlas dalam memperoleh pundi rezeki yang halal, dan baik untuk sama-sama dikonsumsi. Karena jelas betul, jika kita pandai memeliharanya. Kita akan tahu berapa nilai yang kita dapat, jika kita benar merawatnya. Kendaraan tua kian waktu kian tak terkira harganya. Orang tua kian waktu kian berbangga kita, karena mengantarkannya oleh lautan doa yang baik disanding dengan apa-apa saja perkerjaan kita yang baik.

            Sekali lagi, manfaatkan waktu hidup yang singkat ini. Alam semesta ini luas. Terlalu jauh jika memang kita ikut menghitung alam semesta. Yang jelas, semua ini tercipta, karena adanya sang pencipta. Yakinlah ada perhitungannya kelak. Kita akan kembali kelak, dalam kegelapan, atau hingar bingar cahaya kemenangan. Bukan malah ikut menjadi bagian manusia konspirasi, dengan membandingkan agama itu tidak nyata, dan otak manusia yang dirasuki iblis itu nyata.

            Saya bersyukur, meski  mengawali tulisan dengan mengadili persepsi. Mungkin benar, suatu yang hidup dimasa mendatang, bukan hidup dimasa sekarang, yang tidak akan pernah terpikirkan juga nantinya di masa mendatang itu. Dengan menimba ilmu, dan pencapaian suatu prestasi ketika hal-hal ini tertuliskan. Saya harus tersadarkan kembali oleh beberapa teman yang membacanya. Agar suatu objektif ini memiliki kekuatan subjektif positif para pembacanya. Dan proses perkuliahan saya dimasa silam, menjadikannya selamat, dan tidak merugikan beberapa pihak.

            Era baru didepan nanti, mendorong semua jauh dari nyata. Manusia mirip dengan robot diatur, dan teratur macam budaya film robot silam. Kita jelas manusia yang juga makan dengan makanan manusia bukan makanan robot. Persiapkan lah ini semua, tersenyumlah, saling sapa menyapa lah demi membasuh kelelahan berlapis hati orang sekitar. Kembalilah dalam jalur manusia pada umumnya. Modernitas membuat kita sebagai manusia punah dibelahan waktu lainnya. Daya upaya mengembalikan kerusakan pikiran, dengan prosesnya harus mentotalkan pembenaran hati. Agar nantinya tetap tidak merusak, tetap berbahagia dengan bekerja.

Jangan Gengster

            Pedoman kepribadian serta presentase keasingan di masa yang akan datang, berawal dari pola pemikiran, kehidupan sedang diusahakan menjauhi nalar kitab, agar panjang umur peradaban. Duniawi mau tidak mau, ingin tidak ingin, prosesnya harus didekatkan dengan cara sosialisasi. Sosialisasi inilah yang kini makin rumit. Era perkembangan zamannya kini, terseret sudah sejatinya susunan pedoman jangan cemari lingkungan. Namun dengan mudahnya proses sosialisasi serta dekat dengan cara menganyam portal ala media, menjadikannya modal sosialisasi yang dekat dengan kejahatan, keuntungan yang besar dengan pembabatan lahan, gusuran, ruang gerak yang terus menjahati tiap bagian posisi bagi yang ingin terus bertahan. Namun tertutup jelasnya tidak terkuak dalam kancah media.

Kebanyakan dari proses cara sosialisai ini adalah, berusaha mengumpulkan suatu tujuan dengan pedoman yang isinya, detailnya, sama dengan suatu dinamika personal individu. Menyusun kebersamaan dengan pola yang tadinya justru dengan keacakan, sedikit skill, namun sama-sama ingin mengantarkan tujuan kebersamaan. Terlalu banyak taktik, paham ilmu yang mengakar, merusak tanah berpijak, menjadikannya penyemangat demi kelangsungan hidup itu sendiri. Namun, jika gagal mencoba suatu taktik muktahir, proses sosialisasi ini justru bisa mencapai kekerasan, maupun paksaan. Salah satunya demi tercapainya suatu tujuan bersama, meskipun di atas penderitan oranglain.

Manfaatkan media yang ada dengan baik, jika mundur ? meratakah sistem cara dagang yang sudah nyaman kita nikmati ? perlahan kita bawa dalam era selamat data keluarga data Indonesia, kehati-hatian dalam penghancuran raya peretas sialan. Serta para kaum wanita yang berjoget ria serta beberapa belahan dada sedikit mengobati, ketimbang harus buas memperhatikan kekacauan media berita ??? Akankah terus wanita di korbankan demi eksistensi, dan harga dirinya di murahkan di rendahkan dengan bertelanjang dada ?. Usaha yang cukup ditanda kutip “garis keras”. Berusaha (go internasional), dengan mereka musik koplonya, dan goyangan sadis, perhitungan psikologi anal sex yang melalui tahap meeting/survei kekayaan pemilik media joget.

Pembangunan castle untuk mendominasi alam semesta. Menguntungkan bagi dirinya, kembali dalam proses kekejaman era kini, yang sudah telanjur terlalu jauh untuk memukul balik keadaan. Merugikan bagi  yang lainnya jelas, ini pilihan yang sejatinya babat saja manusia yang merugikan, tanpa pikir panjang dosa tidaknya, menguntungkan tidaknya, yang jelas maju terus tanpa pikir paksa keadilan. Sistem kerja dapat meracuni para tenaga, yang sewaktu waktu dapat merutuhkan barisan dengan kepalan tangan yang mereka sembunyikan masing-masing dalam kantungnya. Makin jahat, makin rumit paham perspektif konflik. Angka menandai maka, dan makna. Yang jelas tergambar, berbagai tumpukan kemewahan banyak tersaji di jalanan. Namun tidak bisa menjawab pasti kekayaan mereka itu sendiri, membahagiakannya ? jelas. Namun malah larut terus dengan giat untuk mengedepankan gengsi, dengan berburu properti.

Kita lihat sisilain dari manusia yang menengah maju, ikut turut sama ingin memiliki kendaraan. Sedangkan kaum miskin ? hidupnya kian tergerus, rasanya tidak pantas mereka hidup, wajib dibunuh saja. Terkadang mereka sangat-sangat berusaha untuk bisa makan dengan mencoba berdagang, yang terkadang ditawar jahat oleh yang katanya ingin membeli dengan cara menolongnya. Seharusnya sadar lah kita sang pembeli, saat wahana Mall tidak dapat di tawar, sedangkan pasar pribumi mendapati kekejaman dengan tawar menawar harga yang mirip manusia kesetanan.

Menanti bantuan juga rasanya rakyat miskin dianggap kuman penyakit, bukan menjadikannya partikel kecil yang mengingatkan akan kesetaraan, yakni sama makhluk hidup. Proses prestasi jelas, keadaan disalahkan, dan diperhitungakan jelas. Namun keadaan lahir untuk cara menolong si miskin ini juga menuai kritik murka di langitan luas. Sumbangan yang diudarakan untuk meringankan beban di pandang sebagai ngemis-ngemis masyarakat kaya, maupun menengah keatas untuk tampil di layar. Yang sejatinya kembali lagi tidak pernah mengedukasi, serta benar-benar membantu masyarakat miskin untuk layak hidup mereka. Bukan diancam hidup mereka. Jika begini, kita hidup di kala, firaun ada dimana mana dengan kendaraan mewahnya, dengan pusingnya masing-masing yang katanya menolong adalah urusan kredit gaya hidup yang juga belum terselesaikan.

            Perpindahan ibu kota silam jika terlaksana pergerakannya. Kita wajib berpikir mengenai khusus positifnya. Memikirkan kembali banyak negatifnya. Memisahkan kembali pekerja, pengemisnya, dan orang kampung. Jika pembahasan upah tiap daerah perlu dialokasikan dengan baik kembali. Kemudian pembahasan mengenai cara mereka orang yang cukup maju harus berpotensi membuka masing-masing lapangan kerja, atau yayasan yang membantu, menolong membangun kreatifitas. Jelas ilmu saja kadang kurang perlu, yang terbaik ialah mengenyangkan perunya terlebih dahulu, kemudian ajak potensi dengan tuangkan ilmu kepada mereka. Dengan begitu kebuntuan yakin akan terbuka lebar, mereka orang kecil banyak berandai, dan berkamuflase menjadi orang besar. Jika besar mereka menggambarkan kadaan lautan yang luas dengan cara mereka masing-masing, jalankan dengan modal yang dimiliki. Kerasnya hidup dalam pekerjaan jelas, ancaman mereka ialah isi perutnya. Yang memutar dengan seirama otot, dan otak agar terealisasi dengan irama yang indah.

Semua manusia terlahir sebagai fitrah ilahinya, bukan untuk dibiarkan kemudian dibunuh keadaan pradaban. Bukan juga menyalahkan keadaan, mengapa harusnya berbiologis dengan menjadikannya beban hidup bertambah. Proses positif dunia perkotaan, dan perdesaan harus sama-sama saling menguntungkan. Proses kemampuan beberapa orang yang berpeluang hidup harus di perjelas tujuannya. Perpindahan ibu kota rasanya untuk penerimaan beberapa ribuan orang untuk sama-sama membabat peradaban dengan ruang lingkup yang masih kosong, dan siap di bangun dengan tempat tinggal. Jika berlandaskan pemikiran terburuknya ialah, ruang udara kian menipis, lingkungan lagi tercemar, tanpa teredukasi serta dukungan iklan masyarakat yang terus berorientasi manusia agar hidup tertib.

Kelompok juga menjadikannya, saling tercebur dalam kepentingan orang. Saling berbusung dada demi bisa hidup, dan bertahan di dunia yang fana. Mereka yang berpikiranya hanya pasrah saja pada lillah makin tergerus sepertinya, dan tewas karena lapar. Keadaan dibuat didepan mata nanti begitu jahat, memaksa tanpa mengerti. Harus kah kadaan Tuhan yang murka pada alam semesta, mematikan serentak dengan caranya. Namun apakah adil tidaknya hal itu dilaksanakan Tuhan ? kita wajib paham kembali lagi. Proses sosialisasi keberagaman harus dengan kebersaaman. Mereka harus sama-sama tenang, tanpa kekacauan keadaan yang membuatnya lebih berat hidup, bangun berpura pura menjadi kuat. Semua akan terlihat adil saat hisab di layangkan usai kita meninggalkan dunia yang fana ini. Seketika lagu The S.I.G.I.T berjudul “Ring of Fire”, mengingatkan negri kita dalam putaran cincin api bumi. Awas-awasi mudahnya lebur, mirip cerita Atlantis yang hilang dalam peta romawi.

Sisi baik dari JSR masa silam, ialah melihat struktur kemanusian yang sama-sama terjalin bersama. Meski kekhawatiran akan tetap ada, karena berjubal orang di sana dengan potensi, pasti akan ada kejahatan yang terselip dalam arena acara, atau dalam perjalanan dengan kendaraan tua. Namun kembali lagi bertujuaan satu kesana, dan potensi awal yakni libur lebaran JSR dengan beberapa ketenangan. Jika tidak tenang kemungkinan tidak akan menghadirkan acara tersebut. Memang lebih baik berkelompok bersama rekan untuk hanya berupaya silaturahmi, dan menuju tujuan yang dibangun bersama seirama, meski bicara isi dapur rasanya jauh. Namun ini rupa gambaran saja, dari kami para scooteris. Yang tersaji jelas, jangan memaksakan keadaan hanya bermodalkan gaya, mengenyampingkan silaturahmi jelas. Berlomba menjadi sedih lebih dari kalian, hati namun rusak dengan sempurna. Masalah yang menerus, ini belum separuhnya, sejatinya kalian tidak mengapa. Namun proses hari demi hari bukan seperti Pekerjaan Rumah “PR” yang harus usai kemudian di kumpulkan.

Banyak beberapa esok hari,  ingin dilalui dengan saling bertatap muka kembali. Walau pedih hari ini, namun kembali istirahat untuk sama-sama saling bisa bertemu esok hari dengan potensi yang tenang, dan sampai pada suatu keinginan yang seharusnya, dan wajib mulia. Karena sejatinya butuh pembelian lahan liang lebih mahal dengan cara mengubur sesungguhnya apa-apa saja yang sudah kita miliki di dunia.

Pepatah lama jika kita mati dalam keadan miskin itu salah kita. Pikir kembali maksud, dan tujuan pribahasa laki-laki tua yang mengenakan celana pendek ke mana-mana. Tanpa menambahkan ide untuk saling tolong menolong meringankan beban para pekerja yang bekerja dengan kita.

Kejar Kelas Keras

            Suatu yang dimiliki, berawal dari suatu yang tidak ada. Sesuatu yang ada, pernah ada mengisi, namun sejatinya bukan seperti ciptaan Tuhan yang kita konsumsi, kemudian terbuang tanpa memikirkan kembali, berlabuh dimana kotoran yang terbuang. Ikhlas terbuang, hanyut bersama air, ciri khas manusia kepada suatu hal yang menurutnya tidak penting, mudah begitu saja dilupakan. Lupa apa yang dibuang sesungguhnya melalui fase bersyukur, karena dengan apa yang dibuang membuatnya tidak sakit. Berbeda dengan, gapaian berupa proses prestasi. Yang menjadikannya penyakit hati, tidak relanya terbuang begitu saja, hasil usaha pola ajar mengajar silam.

Jika suatu tersebut ditarik kembali oleh Tuhan, akan bertindak apa ?. Semua yang kita miliki kini, hasil buah karya ciptaan manusia belaka. Hasil dari inovasi muktahir zaman, yang memperhasut keadaan agar kita miliki, dan wajib kita bawa pulang, terpajang. Semua memang dasar akan perhitungan, semua akan kusut pada waktunya. Menyesal dibagian paruh waktu baginya mereka yang gagal. Tersenyum bahagia tatkala bernafas, murung tatkala tak lagi bisa menatap indahnya mentari. Mati dengan berat dihati akan duniawi.

Jika semua pertolongan namun bertarif, niscahya lah itu bukan bantuan, namun itu ialah bisnis. Kita wajib sama-sama memecah belahkan isi rima tulisan ini semua. Tujuannya ialah membawa kalian dengan pola menimbang kembali, mana yang baik, buruk kita laksanakan. Agar tidak salah pemahaman, dari tiap bait babnya, semua memiliki puzzle dalam berkehidupan. Saya tengah mengantar tulisan ini, bukan menjadikannya separuh Tuhan, separuh makhluk, separuh hamba yang kemudian lontaran fasisme terhadap isi narasi KPPG.

Namun kita tatkala bergerak wajib memahami pola warna alam semesta, meski alam pandai bermuslihat, kita wajib, dan tidak pantas meninggalkannya ketika duduk di antara dua sujud penutup salam. Berdiri tatkala menjadi panas nya api, rukuk menjadikannya angin, dan udara yang kerap kita hirup, sujud menjadikannya air yang kerap membasuh, dua di antara dua sujud menjadikannya beton kokoh gunung yang mendamaikan, sejuk hati ini. Sudah pantaskan kah hal tersebut dengan kiri, dan kanan hidup sekitar berterima kasih nya kita Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kejar kelas keras ialah buah hasil pemikiran sabda batu kepada api, prihal kutukan kerasnya batu, dan amarah api.  Manusia macam saya yang sejatinya tidak memiliki keduanya surga, maupun neraka. Mungkin saya tidak akan ditaruh dimana mana, bukan surga, bukan neraka, mungkin dilapangan.

            Mempelajari pola agar bertahan hidup ditatanan ibu kota Jakarta, namun harus tetap beriman. Meski semua perjalanan, pekerjaan, media pendukung semua sudah melewati fase nalar kebaikan yang jauh dari anggapan bahagia, dan isi kontennya berupa kekejaman belaka. Oleh karena itu, ketika kali ibu kota ini dianggap balance, yang dimana manusia berdosa banyak, orang berdoa banyak. Namun orang yang berdoa, ingin belajar agar sejatinya juga ingin hidup berirama dengan yang berdosa dianggap masalah dihari nanti. Saling mendorong satu sama lain. Yang berdosa menganggap mereka yang berserah hanyalah menyusahkan, dan salah anggapan mereka mengenai kehidupan tanpa daya, dan usaha. Sedangkan mereka kaum berdoa mengarahkan sekerumun orang yang bersemangat memperoleh hasil tanpa memperhitungkan dosa mengajak untuk kembali tanpa berlebih mengejar, dan berlari urusan duniawi. Keduanya dianggap tidak bertemu akan daya upaya akal, dan nalar. Sudah ada pada tiap porsinya masing-masing tinggal kita akan ada dalam posisi yang dimana ? lapangan itukah ? dengan fatamorgananya ? terus berjalan, kosong kemudian mati karena ketakutan, kelaparan, terus saja berulang. Berusaha penasaran dengan neraka atau surga itu posisinya seperti apa yang tersaji di dunia sajakah ?.

            Modern slave, hal yang sejatinya pantas kita sebut kini. Menunggu tersebarnya virus tatkala awal 2000an system Windows XP Bill Gates dengan sengaja menciptakan virus, dan siapa saja yang ingin membuatnya di permudah. Era saat ini saja kita termanipulasi dengan karya Steve Jobs yang memprotek anti virus. Tetap saja semua portal jendela ialah proses dari cara googling, dan beberapa aplikasi yang buah hasil dari cloning sistem. Jadi sejatinya mahal harga hardware, namun dikemudian hari tidak bisa digunakan ?, lagi-lagi kita tercebur dalam permainan jual beli. Dibeli untuk kita pajang, tidak rela terbuang, namun jelas sama sekali tidak ada fungsi tidak mengenyangkan. Oleh karena itu saya juga berdosa jika ya buku ini tecetak ada berapa pohon terbantai, jika ya kurang tanaman ditanam lagi, kemudian persiapan mengenai matinya internet, dan rilisan fisik kembali seperti dulu kala menjadi mengasyikan.

            Berkenala, demi sara, demi laba. Pejalanan hidup seperti berkelana menjajal suaka, mensabat semua peluang rezeki/usaha. Dalam prosesnya harusnya mudah, tidak dipusingkan, dan berserah. Gaji bisa saja tertukar, namun rezeki takakan terturkar. Sepertihalnya jika hidup semerawut, buang itu kelaut. Semua masalah pada dasarnya kecil, yang besar memang dunia ini. Hingga mengapa kita tertampar terengah mengejar dunia. Kebutuhan yang sejatinya tidak terbutuhkan, keinginan yang sebenarnya tidak diperlukan. Cara mudahnya masalah itu gantungkan semua pada Tuhan. Jangan pada akal kita, kita tak akan sanggup. Yakinlah semua akan beres, yakinlah ini rencananya. Kejar titiknya bukan pada orang ataupun benda.

            Tidak ada masalah ketika kita berkeinginan kaya. Karena awal dasar ingin bahagia kita seperti memiliki list dalam tujuan. Seperti halnya, membahagiakan kedua orang tua, ingin memperbanyak sedekah, hingga mampu membangun bahtera rumah tangga. Dari list kehidupan itu, semoga kalian semua mempunyai catatan sangat berarti, dan ketika catatan itu terbaca kembali, teringat perjalanan, dan tidak akan lupa akan hal-hal baik dari awal tujuannya kalian ingin menggapai kebahagian. Saling berjibaku pengusaha anak negri ingin naik haji.

            Wujud baru sikap tidak bersyukur ialah, kalian mungkin sekali terkecoh oleh tujuan. Karena apa ? prestasi terdekat sekali dengan tanggapan. Tanggapan yang merubah biasanya susunan pemenuhan kebutuhan. Yakni makin kita sibuk, terjalin kepentingan yang sejatinya langkah kita terhalau. Terjebak lah lara, dan kembali lagi tidak ada yang salah. Saat kita menyikapinya masih seputar cara penyadaran. Tanpa disadar dengan proses tidak tersadar akan prosesnya, kita melupakan point partikel kita yang mengajak kita sampai di tujuan tersebut karena doa-doa kita. Usai berada dalam piramida kebutuhan mari sejatinya kita baca kembali hal apa yang terdahulu kita paksa, dan pinta dalam doa serta usaha.

Kecil Bebas Bermain

            Cicak terlihat diam begitu saja dilangit-langit dinding, dan tidak pernah tertukar rezekinya meski dirinya tidak bisa terbang, cicak bisa menemukan rezekinya. Mempelajari sifat-sifat cicak kini, tidak lagi sama mencari makan di dinding yang kerap diam-diam merayap. Mereka justru turun dari dinding terkadang makin gemuk dirinya, tak beselera lagi berburu. Lebih mudah mengambil sisa-sisa makanan di atas meja. Seperti halnya saja kita, kurang berselera mensantap pangan yang ada sejatinya tersaji di meja. Kita lebih memilih berselera menu lain yang tersaji dalam iklan.

            Tafsiran mengenai cerita cicak ialah proses gambaran binatang yang kurang baik disejarahkan dalam Islam. Namun dari berbagai sumber lain dirinya ialah hewan yang sejatinya tampak suara, dan tatapannya yang setia menemani. Melekat, membelai dinding kesepian jiwa kalian…

            Berbeda pendapat demi menjelajahi waktu. Amati Tiru Modifikasi “ATM”, semua sudah ada dalam fase tahap tersebut kini. Tidak usah bermuluk-muluk mencari kitab reinkarnasi. Yang jelas, rentetan kilas lampu kamera sudah memenuhi para wajah generasi XYZ yang ikut meramaikan keuangan receh menguikuti jejak yang salah kaprah. Kecil Bebas, mengajarkan menafsikan keberadaan, proses perjalanan. Lantas apa itu pertumbuhan manusia ?, kemudian apa pembelajaran mengenai metamorphosis pada hewani ?, jika disandingkan dengan pola gambar pembahasan rantai makanan.

            Bumi berputar pada porosnya, manusia tumbuh karena lingkungan di sekitarnya pada kepentingannya. Kemudian berbanding berbeda kasus telur, ulat, kepongpong, kemudian jadilah kupu-kupu. Suatu proses perkembangan biologi pada hewan yang melibatkan perubahan penampilan fisik, dan/atau struktur setelah kelahiran atau penetasan. Ternyata proses itu juga dimiliki manusia kini yang kerap dapat berubah-ubah bentuk sifatnya dibalik keberhasilanya dalam kamuflase dalam konten media yang diaturnya. Tujuannya jelas, rupa gambaran menghibur diri, dibalik sejatinya sekitaran kerabat lain tidak boleh dalam tahu persis mengenai urusan dapurnya. Manusia siapa saja, spesies manusia apapun itu, kini dapat berubah ubah fungsi unsur sifatnya sesuai aplikasi yah Bpk/Ibu, dibayar Pay latter, Terima kasih… maka dari itu kembangkan tulisan KPPG yang menurut saya juga kuang baik, namun dapat melahirkan para penulis yang baik. Perluas lagi nilai-nilai nya, karena agar mereka yang kurang mendapati kelas mewah kuliah dapat ikut turut serta belajar dalam pola KPPG ini.

            Jadi begitu jelas, menggapa proses dari perjalanan hidup ini kita tidak akan pernah tertinggal dengan dinamisme, rantai makanan. Gambaran SD melekat untuk kita bawa dalam pedoman hidup terus menerus terpakai tanpa disadari. Ada baiknya, jika kita paham akan kebaikannya dalam keseimbangan rantai makanan.  Namun apa yang terjadi kini ? kasus pola warna dalam bermain ini ialah mendorong jutaan warna untuk sama-sama keluar bercerita. Karena semua keadaan wajib bersuara. Berputarkah rantai makanan tersebut, dalam keadaan sesungguhnya ?.

            Saya mulai proses perjalanan pola gambar menuju JSR, Sentul, Bogor. Pertemuan scooteris Pulau Jawa, atau lebarannya anak Vespa jika kita  rumuskan dalam prakata “Java Scooter Rendezvous. Eksistensi Java jelas diambil, bukan karena memang sudah menjadi pola Indonesia hanya tunggal jawa!, tetapi ini membentuk perkenalan kepada tourist Internasional, bahwasanya acara ini resmi milik Indonesia. Saya bukan bagian orang dalam JSR, hanya mampu meneruskan harapan, dan keinginan mereka dalam mempersatu tali persaudaraan. Kala itu saya menimbang sekitaran perjalanan dari Ibu Kota menuju kabupaten Bogor, Jawa Barat mengikuti acara lenggang Vespa JSR X. Dinamika dalam asumsi dalam objektif diri, kemajuan kini dalam tatanan kemasyarakatan yang sudah melesat jauh, tidak bisa kita saling menumpahkan total kesalahan pembangunan. Karena sejatinya, manusia itu berkembang, dan dipastikan mereka pula lah yang bersemangat lahir kembali untuk membangun kelak.

            Kemajuan dari berbagai lini saat ini, menggeser banyak sekali hektare lahan serta jelas orang di dalamnya. Namun apakah sejatinya penggeseran itu benar-benar, menghidupi orang didalamnya lagi ?. Terlalu jauh, jika kita mempelajari pola sistem ajar mengajar siswa/siswi SD. Dimana padi, tikus, ular blabla… konsumen 1, konsumen 2, blabla… Yang tersaji saat ini ialah, manusia kian berkembang, kian bertambah, lahan kian digusur, pemerintah diancam wajib membangun lapangan pekerjaan, kemudian apa yang terjadi dengan pangan ? apa yang terjadi dengan ekosistem alam ? udara ?. Terlalu jauh musisi dalam negeri yang membahas kebutuhan pangan, lapangan pekerjaan, pendidikan, tanpa mempelajari juga sejatinya hubugan seksualitas yang harus memang memenuhi unsur di atas, dan juga agama yang sangat baik membahas kehidupan wajib berkeluarga. Keluar kita semua mencari, dan membangun rumah tangga. Pemerintah juga dinilai sudah amat jauh terjerumus dalam pola kehidupan keacakan hal-hal besar ingin diraih. Lupa hal-hal kecil  pula berkembang menjadi besar dikemudian hari. Perjalanan singkat Jakarta-Bogor mengundang banyak sekali pertanyaan dalam pikir saya. Ini semua seharusnya mendekatkan kita dalam kemudahan, karena ini Nusantara kita. Karena awasi pola cinta, bercinta bebas atau cinta cintaan ala sesama jenis.

            Takala populasi Vespa jika sejatinya keluar semua dalam pagelaran acara, begitu amat sangat macet, begitu tidak dapat bisanya teratur mereka dalam satu wadah. Namun pertimbangannya kini ialah, Vespa itu sudah tidak kita dapati pertumbuhannya, atau pabrikannya merilis kembali model yang antik seperti sekarang ini. Kalau pun ada harganya tidak merakyat. Dan jelas ini hanya acara dalam satu wadah, berarti sama dengan adanya populasi kemacetan kini yang diterima saat pergi, dan pulang bekerja, kemudian mudik lebaran di tiap daerah ? mencari apa, dimudahkan yang bagaimana ?.

            Apa jadinya kebijakan yang awalnya dinilai menguntungkan pribadi, jika nanti dihapuskan ?, Kendaraan bertaraf tertentu boleh melenggang jalan diruas jalan, dan akan ke mana bangkai yang tidak terpakai nanti. Kemudian untuk apa pembangunan ribuan jalan nanti jika tidak terpakai lagi kendaraan pribadi murahan yang kalian miliki ? Namun semua itu saat transportasi memadai yah, jika belum, namun hal tersebut diterapkan, beberapa kerumunan ini, atau kelompok dinamika sosial ini bisa dengan instannya menjadi organisasi masyarakat. Keluar mereka mengaspirasi kelayakan pemerintah yang bekerja semerawut. Lupa mereka akan partikel kecil, kita rakayat kecil yang mengantarkan tujuan salah mereka. Jika saja sedari dulu langkah pemerintah dinilai jelas, kita selamat, selagi sehat tidak dimanjakannya seperti saat sekarang ini. Namun jelas perekonomian kini mulai tersebar, meluas, dan proses merata, karena dengannya kedaraan. Pribadi personal dapat mengantar, dan menaruh pesanan barang sesuai alamat yang ingin dituju dengan mudah, dan praktis.

            Kiamat munculnya matahari dari ufuk barat. Kita harus hancurkan budaya barat. Kita kembali pada sejatinya budaya kita yakni timur. Perputaran rantai makan begitu terasa di taraf kehidupan kita orang kecil. Mereka yang diatas harusnya kita kadali. Namun rasanya rantai kehidupan mereka buat hanya menguntungkan dirinya saja, tersumbat perputarannya. Serta terlalu jauh kini sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Oleh karena itu apakah agama juga menjadikannya kamuflase terbaik ? atau agama bermetamofosis dalam unsur-unsur pembaharuan ? Yang jelas iman dalam Islam tidak dapat dalam-dalam dikaji. Baca petunjuknya, kita gantungkan masalahnya, ini loh akhir zamanya. Mulai biasakan kita dengan mengkonsumsi jajanan kampung, demi bertahan.

            Saya hidup dimasa merugi. Serbasalah apa-apa yang tengah dilakukan amat lah percuma. Bekerja harus penuh tipu daya, awal mula masuk digambarkan sebagai tikus, jika ingin naik segala urusanya jadilah mereka ular, kemudian elang jika setara pendidikannya, jatuh terkujur lemas yang mematikannya. Sakit hati, buang tenaga percuma, membawa pulang apa-apa yang sejatinya tak perlu. Bertahan dalam bekerja tiba akan waktu tua. Berusaha pula, harus bermodalkan selain uang era kini, modal lain langsung menjadi ular yang berdesik wajib pandai. Berbanding berbeda dengan ular pekerja, ular pengusaha kini wajib berani menjilat semua konsumen dengan pikiran lebih extra untuk mengapai semua pasarnya.

            Jelas bukan Kecil Bebas Bermain, mereka yang tarafnya berproses mengejar suatu prestasi pergi mereka semua dalam titik dimana mereka bisa mencari rezeki, kampung tidak lagi dihiraukannya hijrah mereka menuju kerasnya kota. Prestasi terbaik dikota ialah, terus memandang tanpa peduli menunduk. Menunduk dikota dengan kerasnya berbagai orang yang datang dengan ocehannya masing-masing dapat dipastikan pulang kembali ke kampung dengan tersungkur malu. Yang sejatinya kini bumi kian buruk rupa. Ruang gerak dipersempit oleh banyaknya manusia berprestasi membangun bahtera rumah tangga, bejubal orang di sana. Saya terus khawatir, kecil bercita-cita bisa terus indah bermain meski itu hanya dalam hayal. Ketika hayalan terwujudkan, inikah yang di inginkan. Saling semerawut, terkadang sahabat sendiri menjadi hantu mengerikan, demi kerasnya berjuang.

            Yang jelas kini ialah lirik wajib berbisa. Melawan penindasan bukan akan tidak berarti sia-sia. Namun benar-benar diperjuangkan. Perjuangan tidak terhenti ditulisan ini saja, rangkul mereka semua untuk sama sadar akan hal penting, dan tidak penting berkehidupan. Merubah pola taraf kehidupan dengan meninggalkan unsur kerumitan. Pendidikan tinggi dinilai perlu, dan dibutuhkan demi meneruskan ketidak bodohan dilain waktu. Namun apa yang kembali dihadapkan kini ?, biaya pendidikan kian mahal. Kemudian gaya hidup di perkotaan demi mendekatkan dengan pekerjaan dinilai mahal untuk bisa bertahan. Hidup di perkotaan disandingkan dengan kebutuhan untuk menopang dinilai percuma jika tersadarkan. Survive jelas, namun hitung kembali jika saja di daerah perkampungan kita juga pandai mendulang rezeki. Namun apa yang terjadi ? perkampungan kini pula minim lahan, banyak terisi lahan dimanfaatkan elite politik. Pekerja perkebunan sewaktu-waktu meratetapi nasibnya akan ke mana mereka berlangsung.

            Semoga saja tulisan ini penuh dengan orang yang keinginannya niatan membaca, dan point sejatinya mengantarkan sepertinya hal lulus dari perguruan tinggi. Arwah pembangkangan siap-siap tersaji, mereka yang mati berjuang kerasnya hidup di perkotaan akan menyadarkan mereka semua. Mungkin memang bukan hari ini yang menyadarkan. Namun seperti halnya hutang, yang bermutasi menjadi siluman. Saya rakyat kecil, saya pulalah ikan sungai. Berusaha merupa gambaran lautan amatlah luas. Serta menggambarkan kini, untuk mendekatkan rezeki yang berkualitas halal sudah jauh gambarannya. Ingin segala sesuatunya instan. Anak-anak tumbuh berkembang, ingin seperti sabahat kompleknya yang bekepemilikan mainan yang bagus,  dan baik dibawa pulang. Usai dimilikinya, dan dipamerkan kembali di hadapan temannya hanya rupa gambaran itulah daya upaya.

            Tabungan okeh lah ada baliknya informasi mengenai timbun rezeki. Kita memang jelas takan ada yang tahu kapan mencapai tujuan. Besok mungkin sampai tercapai. Namun sejatinya juga kita ingin sekali memiliki kebun dengan penuh pesan bunga. Semoga kecil, dan berbahagia. Doa saya semoga semua selamat. Disetiap tikungan ada doa, ada nyawa.

Antik Itu Kampungan

            Hidup hanya sekali, kebahagian sejati wajib terpenuhi. Mungkin singkat cerita lelah menjadi sulit dari berbagai pandangan masyarkat sekitar, serta kewajiban sebagai manusia dewasa. Mau tidak mau, ingin tidak ingin kebahagian wajib netral dalam diri. Meski, pertaruhannya ialah lelah, dan jauh akan ketenangan. Semua demi menerabas menjadi kuat dari asa berbagai lini. Sampai pada di sini, wajib berpedoman membaca gejala dari jelaga. Apa yang di rusak, apa apa saja yang hilang kita wajib menari, meski bayangan diri sejatinya tidak rela menemani. Kalian dapat saja menjadi polisi, dan buku saya ini ialah semua rintangan yang pernah kalian hadapi juga sebelumnya. Saya adalah santapan makan siang kalian. Tilang saya sejauh ini saya manusia merugi. Menebar kesedihan, kepedihan, bodoh dalam hak cara berpikir mengenai value angka yang sama. Kalian memiliki jalan 5 + 4 = 9, begitu dengan saya 6 + 3.

            Diladang yang gersang terus merasa kurang, prospek dari harga jiwa yang kian tahun kian melangit. Cita-cita hidup menjadi layak, cita yang mengantarkan untuk menjadi mimpi-mimpi kalian yang sangat wajar, namun menurut saya kurang wajar menuai benturan yang amat keras. Jika ya proses semua ini demi untuk sama-sama hidup saya tengah berjuang mengangat semuanya. Semua layak hidup, tetapi tidak semua rela rezekinya dihilangkan begtu saja mengenai angan-angan yang sudah tertulis di daftar list pemenuh kebutuhan.

            Hidup menjadi kampungan siap-siap tergerus peradaban. Bertahan akan kesakitan pola pikir mengenai pemelihara barang-barang tak layak lagi di oprasikan, siap-siap kecewa untuk menjaga, dan merawatnya yang terkadang tidak sesuai harapan dengan proses jual beli lahirnya barang-barang baru, untuk sama dimiliki sesuai fungsi. Jika pilihan dilayangkan, pilih mana saya akan peradaban kian maju atau kehidupan dimasa lalu yang segala sesuatunya tidak instan. Jelas ingin kehidupan yang saat ini dengan proses yang menarik jual beli dengan cara mudah, namun tidak merusak nilai-nilai keberadaan terdahulu.

            Pasar era digital kini amatlah sangat membantu. Proses iklan dipermudah serta tersalurnya portal media memudahkan segala sesuatunya. Namun harus sejatinya benar-benar siap. Ajaran terdahulu ialah segala sesuatunya memiliki bentuk fisik yang jelas sehingga memungkinkan pembeli juga ikut melihat, meraba suatu barang tersebut. Jadi sejatinya keinginan kini, manfaatkan pola baru yang ada, yang menguntungkan, namun menjauh serta kehati-hatian dalam berhitung harus dimiliki sejak dini. Modal menjadi momok menakutkan, tak ayal beberapa pemilik modalpun tidak mengajak mereka yang berdiam diri tidak ada kesibukan untuk berbagi hasil yang menjanjikan. Karena jelas betul, kita tidak bisa sendiri untuk membentangkan luas potensi. Namun jangan menghancurkan hati.

            Sesuatu mengenai demi masa yang kita jalani sekarang terlihat kita tersesat. Sulit untuk bersembunyi nanti dari perkembangan yang ada, dan merugi dari apa-apa yang masa tengah mendorong kita harus terhisapnya.  Serta kekhawatiran akan cerita sekarang menjadi rumusan masalalu selalu aktual. Kewajiban memiliki keturunan dengan segala sesuatunya semoga dirinya tumbuh, dan berkembang terpenuhi daya upayanya, kita dinilai wajib membangun hal-hal itu sewaktu sehat. Gambaran serupa mengenai perpindahan ibu kota, dan ibu kota akan menjadi kampung. Sulit dipercaya, dan diasumsikan bahwa ini ialah kampung, untuk sama-sama pulang, dan saling bermaaf maafan bukan saling mengejar suatu yang tampak dipermukaan penuh akan persaingan. Ya, metropole tetaplah metropole. Jakarta akan tetap jadi induk para pekerja seiring berkembangnya zaman.

Menanti saja dirasa tidak sabar. Padahal kita tahu, pelangi itu muncul usai hujan terhenti. Proses lahirnya Antik Itu Kampungan ialah, mempelajari sifat terdekat pembentukan sifat dari sistem kekeluargaan. Seperti halnya Vespa yang saling gotong-royong, tolong menolong dalam perjalanan. Setia menunggu seharusnya untuk sama-sama maju.

Selalu tersungkur disisa malam. Terjaga untuk menanti puisi-pusisi romantis keacakan nalar. Antik ialah orang tua yang menyelamatkan. Mirip jam tangan mahal yang Ayah berikan, dan seiring waktu model jam tangan pemberian Ayah ini bernilai mahal harga nya, kita tawarkan pada tiap toko-toko jam pada umumnya. Saya bersyukur memiliki jam tangan ini. Meski terus merasa kurang, semua ini demi memurungkan hal-hal apa saja yang sudah terjadi dalam barang-barang apa saja yang sudah sejatinya menemani. Pembelajaran orang tua wajib kita rawat usai ini.

Pasar bebas serta apa itu yang sudah sejatinya mengantarkan kita terlalu jauh kini. Siap akan menjadi bom waktu, perenungan kita semua. Bahwasanya kelahiran akan sifat-sifat barang, dan jajanan mukhtahir mengantarkan kesakitan bumi yang amat pedih. Bumi kian rusak, manusia kian merusak, ekonomi diperdaya dengan kebutuhan era kini yang sejatinya jika kita tidak merawatnya akan berlabuh menjadi limbah yang mengganggu. Terpikir akan terbuang ke mana mereka, jika ya rusak bisa kita obati, namun jika sudah amat sangat hancur akan kah seperti kotoran yang terbuang serta terurai begitu saja, mengantikan mineral bumi yang sejatinya terambil, terkonsumsi.

Kita lelah berpura pura, lelah bersandiwara. Pagi terus menyambut, dan kita tidak sejatinya melemparkan senyuman sejati. Esok pagi akan seperti hari ini lagi, merasa kurang, tidak tercukupi, dan mengejar prestasi. Berjudi menyisakan duri, menyisakan perih, menyisakan sunyi. Akan kemana kita sejatinya ? antik bukan. Tua, dan masih kampungan, bukan menikmati penggunaan barang-barang muktahir seperti sediakala sewaktu sehat. Yang jelas akan menelan pahit obat, untuk penghilang rasa sakit dari kegiatan apa-apa saja yang melelahkan.

Harmoni dengan yang hidup, dan mati. Sesuai dengan falsafah kitab Alquran. Dimana rumusan perjalanan hampir terjalin, tersusun secara sistematis. Menyebrangi beberapa generasi, dan zaman. Melintasi daya paham manusia, ketidak mampuan manusia untuk merumuskan hal-hal yang Tuhan, sudah diberi penerangan jalan dimasa silam untuk sama-sama dijalankan seharusnya dengan baik. Namun apa yang terjadi, kekuasaan atas fitnah terbesar tersusun rapi di era mobilitas kini. Setan akhir zaman akan mengerucut tajam menusuk, serta mengasingkan agama penyempurna ‘Islam’. Jelas bukan penantian Nabi Isa, turun kembali di tugaskan Allah untuk mengislamkan seluruh bumi, dalam kurun waktu 40 tahun nanti. Dimana hal hal ini terjalin, tertulis jelas dalam Islam.

Kemudian jika, dalam umat Kristus pun tertulis, namun mereka segan memperjelas ketika akhir hembusan napas terakhirnya dengan menyebut dua kalimat “Syahadat”. Dimana InsyaAllah, dengan bersyahadat kita semua akan selamat. Tetapi apakah mudah untuk melakukannya ? Wallahualam, oleh karena itu kita harus berlatih sejak dini. Bukan saja menjalankannya, namun mempersiapkannya di ending akhir kita bernafas. Berarti jelas betul kerusakan ada dalam perjalanan ini, yang sudah telanjur terjadi. Apakah mungkin yang dimaksudkan dalam komunisme itu ialah suatu agama ?. Apakah Iluminasi benar-benar menelaah waktu, bukan dari kitab Alquran yang dirasa kini dirinya memiliki kepintaran lebih jauh dari segala bentuk agama ?. Kita harus paham betul, kita harus menang tatkala kerusakan ini, makin memperparah. Sampai sejauh ini, saya hanya ditertawakan, lantas saya juga mebalasnya dengan tawa. Hidup hanya numpang ketawa, lantas saya juga apa ?.

Yang jelas terjalin, tercipta, terbentur terbentuk ialah mereka membacanya, dan ketidak mungkinan hidup kembali renkarnasi, mesin penembus dimensi lain, berpeluang untuk menembus keheranan dengan potensi otak manusia akan sejauh mana. Mereka menilai ini semua tidak mungkin berakhir, jika ya berakhir mengapa tuntunan cahaya dalam kitab terlihat seperti bumi inilah surga, dan kegelapan kematian ialah neraka. Tatkala cerita, iblis menggugat Tuhan. Dirinya diciptakan, dan ditugaskan namun tetap sejatinya, ayalnya iblis ingin seperti malaikat yang seharusnya, rupa bentuknya, dan tugasnya yang lebih mulia serta sama tunduk atas perintahnya. Oleh karena itu menurutnya, kitab diciptakan demi untuk dipentalkan jauh. Dan lagi lagi tombol riset terbentuk kemudian hari dikarenakan keacakan manusia, dan memperparahnya alam semesta penuh dengan manusia dengan sedikitnya ruang gerak alamnya.

Mungkin anak mendiang Ir. Soekarno, yakni mantan gawang negara kita juga di masalalu. Ibu Wong Cilik sejatinya dahulu mendorong Indonesia tidak maju dengan liar, dengan provider Indoshit yang dijualnya kepada negri tetangga. Dan Papua menurutnya hanya sebagian kecil, karena demi membayar lunas, apa-apa saja yang sudah di babat habis oleh rezim Soeharto di masa silam. Yang hingga saat ini, tabungan nya di Swiss belum cair, demi membantu, dan menolong umat ?. Makin merugi, makin berhutang, persis perjuangan apa yang jelas tertulis KPPG. Semoga mampu mengentikan pola pikir dengan cara bersabar. Dan lagi dimohonkon agar para keluarga yang sejatinya hilang dimasa silam meredam untuk berbalas dendam.

            Takan ditemukan juga, semua sudah di usahakan pula rasanya, semua sudah dikeluarkan rasanya, ketika tamu luar datang mampir ke rumah kita ini. Mungkin, gambaranya seperti kue lebaran yang tersaji dimeja tamu. Dan kata ‘jamu’ menjadi rima terbaik kala ini, dengan realitas saat sekarang. Menjamu semua tamu negara, membuka peluang pasar bebas, kerja sama yang malah merugikan, serta menjamu para calon pelamar kerja, yang juga berasal dari negeri luar. Semoga saja itu hanya langkah, dan bukan tunduk karena kita lemah serta salah strategi. Karena kita memang sudah benar-benar lemah. Semua sudut tergambar mirip negri ini, negri pengemis. Negri pelacur yang bebas saja menawarkan open boking siapa saja negara luar yang penuh nafsu berahi dapat mengacak negeri ini, tanpa jelas mengantarkar kekayaan sesungguhnya hasil jerih payahnya. Rezeki instan setan dimakan setan untuk membayar kegiatan yang kesetanan. Jangan ada lagi kasus hilang dimasa silam demi menaikan potensi kepemimpinan. Yang harus ada, saling tukar pikiran, dan membagi tugas sebelumnya yang belum di tuntaskan secara bersama bukan bersaing lagi dengan visi misi lain lagi.

Ingin Melihat Bintang

            Siapa yang berani menari akan dieksekusi. Mereka manusia paling suci. Melihat suatu keberhasilan dalam diri, lalu mereka bilang kami lah manusia kecil yang jalang. Semoga sampai di sini penutup yang dirasa dapat mengobati. Semoga tujuan yang awalnya ini ialah penggambaran suatu Vespa Siputih. Sesuai dengan warnanya putih. Namun di kepalai semangat yang membara merah nya terdepan. Semoga saja dihari esok, pengambilan permaknaan semua ini jauh akan dari masalah besar. Semoga semua ini terlaksana dengan sedemikan rupa. Setiap lembarnya, mengundang imajinasi, mengalir berjuta cahaya, hasrat yang membuka jendela, semoga menghasut berjuta kebaikan menuju putih besih. Mimpi indah cukup di bayar bukan dikejar. Kepada siapa kita bayar ? kepada sang pencipta mimpi tersebut yang merasuki dalam film tidur. Tatkala terpejam menjadi menakutkan, dan tertidur menjadi indah terang menderang.

Memiliki minat baca dikalangan teman kerabat terdekat awalnya KPPG ini terelaisasi. Catatan harian yang siap dibaca dilain hari oleh saya sendiri utamanya. Yang akhirnya ingin, mau tidak mau, benar, tidak benar, terpublikasi dalam blog internet. Khawatir dengan keadaan dimasa mendatang, berkeinginan, dan kepemilikan kendaraan muatan banyak menjadi tidak berselera saat seketika harga kian melangit, kualitas buruk, dan jalanan makin ramai. Atau pilihannya jalanan sepi namun kendaraan terbatasi ditiap rumah-rumah. Atau kendaraan tidak lahir kembali, produksi lama sisa orang terdahulu dijual secara merata dalam kancah jual beli media sosial yang mengenakan sistem sama-sama menguntungkan bagi yang menginginkan. Dengan begitu kita dapat mengurangi beban alam yakni polusi. Kemudian semoga di semogakan kita bersemangat berjalan kaki menuju trasnportasi. Atau bersepedah bebas polusi, dan polisi. Semua ada dalam doa, dan mimpi bersyukurlah dengan pencipta alam semesta.

            Pelan semua ini proses, semua ini akan mendapati suatu tujuan. Jika ya panjang umur peradaban, mohon jangan mengancur keadaan dengan sulit memiliki ruang gerak. Jika ya panjang umur pradaban, hal-hal ini semua diciptakan dari mereka para dewa yang kurang kerjaan kesepian ingin hidupnya ramai, di ramaikan waktu silam dengan melahirkan kita sebagai penerusnya. Tetapi yakin lah semua yang dikerjakan dihari ini akan berdampak dengan apa saja yang akan ada di masa mendatang. Alam akan bergerak juga berdasarkan zamannya. Iman akah luntur perlahan jika mentotalitaskan urusan peradaban. Iman wajib di pelihara, dan terjaga atas turunannya baik berbuah yang baik. Buruk, bagaimana agar terlihat baik. Jadi islam damai bukan ? damai dengan berzakat. Semua manusia wajib makan. Tetapi tidak semua wajib bayar listrik.

Semoga yang buruk terpisah, dan terbuang, mengalir dalam lantunan doa-doa terbaik mengantarkan sejatinya ke surga. Tolong mafkan saya, doakan. Ingin Melihat Bintang ialah suatu tujuan, saat saya liburan menuju pantai Wonosari, dan menyandarkan tubuh dengan merebah di bibir pantai. Melihat langit indah, luas penuh dengan bintang. Jauh akan polusi, jauh akan kebisingan, desir, dan angin laut menghanyutkan semua beban, dan masalah.

Katanya orang banyak bicara itu akalnya kecil. Orang pendiam itu akalnya luas, dan pandai. Menurut saya diam itu hatinya bergrundil membahayakan bagi dirinya sendiri. Jadi keluarlah sebagimana ingin disuarakan. Seperti halnya Efek Rumah Kaca, “Di Udara,Aku bisa diracun di udara, Aku bisa terbunuh di trotoar jalan, Tetapi Aku tak pernah mati, Tak akan berhenti”. Tidak mudah begitu saja tulisan ini, di tangan ini. Digoda beberapa yang ingin menangkap saya, menghancurkan serta menjatuhkan.

Semoga kita semua merdeka, tanpa ada lagi hutang, kredit macet. Keinginan berutang demi menaikan taraf ekonomi sejatinya, dan dapat mengantarkan kita sejati ketenangan. Usaha harus sama-sama baik. Usaha harus sama-sama diuntungkan. Jika berhutang kita untung, dia untung, kita buntung mereka pemberi hutang tetap untung. Semoga Rakyat Indonesia mendapati pasar dagangnya dengan baik. Semoga negri ini dipenuhi anak-anak negri berdasi yang besar di negeri sendiri, membangun lapangan pekerjaan luas, dan banyak di negeri.

Semoga anak negeri dapat menghadirkan jutaan surga dalam televisi. Semoga semua dapat bekerja, dapat makan bukan dapat pusing dengan suatu pemenuhan kebutuhan yang tidak pasti. Semoga polusi jalanan yang membunuh orang-orang didalamnya terkurangkan. Agar langitan luas tidak dipenuhi gas emisi. Dan ekologi sitem terjalin sejati bersih, dan kita dapat menyaksikan langit-langit penuh bintang. Semoga kita dapat menabung dalam bank Indonesia sendiri, yang bekerja orang Indonesia sendiri, diuntungkan kita sendiri. Semoga kita memiliki luas lahan bertani. Semoga kita menjadi konten creator seniman terbaik dalam negri yang sama-sama mengajak untuk menjadi baik. Serta mengajak semua Negara dunia sama dengan budaya kita. Yakni ind One sia. Satu, ahad yakni mempercayai ketuhanan yang Mahaesa dengan taraf kehidupan yang saling bersama, sama makan, dan berbahagia.

            Bersiaplah hari ini atau tidak sama sekali. Saya langit, dan kepalan. Jika semua ini tidak berhasil membuka kebenaran. Agar Tuhan yang bekerja akan semua ini. Yang mengembalikan amunisi, kita hanya berusaha menjadi baik dalam tuntunannya. Semoga tidak ada lagi nyawa yang terbuang dengan percuma demi mempertahankan negeri ini. Semoga semua kesadaran negeri ini bukan untuk memperkaya diri sendiri. Semoga kalian semua dapat memahami saling tolong menolong, bersedekah. Semoga semua terealisasi akan hal permainan mufakat.

            Kalian dengan ketakutan kalian. Dan saya akan tetap terus tumbuh dengan cara bertahan. Sampai kejiwaan ini hanya terisi penuh dengan batu. Saya yakin, saya lah spesies baru bukan dari kedua garis keturunan saya.

Hal hal ini bukan untuk diulang, saya ingin melihat bintang.

.

.

.

.

.

.

Air mata diotak, mengizinkan suara masuk

Mereka ingin mendorong keluar dari jalan

Dengan kabel frekuensi mereka

Kalian tidak bisa salah di mata Saya

Penjual yang mabuk kerusakan

Pikiran gelisah

Telinga hancur

Kerusakan pendengaran

Kalian merasa lebih baik

Kalian tidak bisa salah di mata saya

Kalian tidak bisa salah di mata saya

Kalian tidak bisa salah di mata saya

 

Bintang

Rantai

Pohon Beringin

Kepala Banteng

Padi, dan Kapas

You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts

Instagram Images

Instagram Images
Sempit Ruangmu Kaya (Repost)

Subscribe