BAB 2
Sekolah, rupa sistem pendidikan terlintas dipikir ialah, hidup dimasa mendatang, bukan hidup dimasa sekarang, yang tidak akan pernah terpikirkan juga nantinya di masa mendatang itu. Semangat, serta niatan ialah rupa wujud penggapaiannya. Uang menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang di negeri ini. Serta pendorong cipta ragam mimpi yang diharapkan.
Tuhan uang, semua manusia men-Tuhan kan segenap kemampuan, pikiran, meski hanya demi melanjutkan kelangsungan hidupnya di dunia ini, yang berpedoman terbaik bagi mereka yah! hidup itu harus banyak uang. Bahkan saya bisa menggambarkan bahwa, berhala terlihat bermacam – macam bentuk rupa di era modernis kini. Masih sepintas cerita, yang ingin saya curahkan. Hingga betapa saya berbangga, akan berhala yang saya miliki, dia bukan uang, meski segalanya harus dengan uang. Saya bangga akan, si Siput 2013. Dia terus saja menghadirkan pola hidup ini bahagia.
Kuliah, mana pernah terpikir rasanya bisa merasakan sistem pendidikan yang amat mewah ini. Andai kata bisa terlontar, saya hanya ingin bahagia, meski rasanya bahagia itu tak akan pernah dirasa tak apa, yang penting bersyukur masih ada pada bagian hidup ini. Seperti bicara ikhlas yang tidak saja ujungnya. Cukup memulai ambil kunci, mulai kick starter Siput rasanya sudah bahagia. Rantanggg…tang
Sekitar pertengahan tahun 2013, saya mungkin berterimakasih atas segala nikmat, dan rahmat yang Tuhan berikan atas segala rezeki yang saya peroleh. Saya dapat menjajaki kebusukan yang di lalui dari bangku kuliah. Ayah yang mendorong saya untuk tetap, memparuh waktu, agar bisa melaksanan kerja, dan berlajar kembali. Pada masa ini, mana mungkin terpikirkan rasanya kuliah, sambil melakukan aktifitas seperti biasanya, terasa percuma. Tetapi yah mungkin benar, sesuatu tidak akan menjadi sesuatu jika sesuatu itu tidak ada.
Ayah saya berkata, “ini mungkin jalan di mana, kamu harus lebih maju dari pada Ayah, terlebih sekarang ini, ijazah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) tidak dipandang mewah seperti dulu”. Saya pun akhirnya menimbang, apa benar yah kuliah itu penting. Sampai pada akhirnya, pilihan berlabu. Saya diberi pilihan oleh Ayah untuk menjalani sistem kuliah di UHAMKA (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr.HAMKA), di wilayah Selatan Jakarta. Duh... nampaknya, terlihat tragis, mempikirkan membawa badan ini saja rasanya mulai lelah, malah saya harus berkuliah menambah daya juang otak untuk melunasi nya, dan terlebih, Universitas yang saya ingin terapkan ialah kampus Islami. Amin ayo Amin…
Mundur pada masa di mana saya merasa, tidak ada gunanya. Sekolah negri saja rasanya saya kurang mampu. Oleh karena itu pada waktu lulus SD (Sekolah Dasar). Saya merasakan sistem SMP (Sekolah Menengah Pertama) di Tsanawiah, yang jaraknya masih mampu di hadapi dengan berjalan kaki pastinya. Dan hmm… gumam... saya amat paling payah dari sekian ratus siswa ajaran 2006, wilayah Kebayoran Baru.
Di Tsanawiah, pelajaran yang amat benar membekas dari niatan, dan rasa takut pada saat ini ternyata, senjata di lain waktu menurut saya, usai yang dirasakan sekarang. Pada masa itu, saya menerima bentuk sistem ajar mengajar bersaing dengan murid yang notaben mereka sekolah sambil pesantren. Kelemahan terbesar ialah malas semasa itu, bahkan hingga mengerak dalam otak sepertinya. Sampai sering sekali ketakutan, tiap kaki melangkah memasuki kelas yang berisikan pelajar sederajat, mengenakan celana panjang, baju sopan, dan wanita yang berkerudung dengan rok panjangnya. Terpenting dari cerita lalu ialah, saya merasa gagal dengan teman teman lain. Mereka bisa dengan aman bersekolah Negeri. Sedangkan saya lagi-lagi menyusahkan Ayah, dan Ibu harus memparuh bayaran sekolah Tsanawiah, dan terlebih bayaran bulanan rumah petak tempat saya tinggal. Saya akan secara kuat mengantikan ini semua kelak.
Teringat lucu sih... tiap kali pelajaran mengaji, dan presentasi bicara bahasa Arab. Saya murid paling belakang, dan mencari bentuk tubuh teman sekelas yang gempal, agar dirinya bisa menutupi saya dari rasa yang amat payah, ujian tes di depan kelas.hihi... Tetapi sudahlah, masa itu pun telah dilalui, dan keberanian menjadi modal utama, kemudian optimis, saya bisa lalui masa itu sekarang, tanpa harus saya pikir panjang, jelas bahwa kuliah agama ini pasti menjadi pedoman paling penting dalam hidup saya nanti.
Bingung sesaat... mengapa Ayah memilih Universitas ini, untuk saya lalui. Mungkin terlebih memang dekat lokasi dengan rumah, jaraknya sekitar 900 meter jalanan lurus tanpa kelok, dan hanya berpapasan lampu stop sekali. Barulah tiba di mana saya belajar, dan saya rasa, bisalah dihadapi dengan mudah. Kerja pun berarti jaraknya hanya beberapa meter dari kampus ini. Yah meski pilihan Unversitas lain yang saya suka juga sudah didaftarkan pula, tetapi bagaimana ! mungkin benar, di sini lebih baik. Timbang menimbang kala itu, semua nya harus berjalan dengan baik, dan terlebih kuliah ini jangan main-main, harga nya bukan main. Jadi saya harus manfaatkan waktu baik, dengan mengambil kelas regular untuk hasil yang maksimal.
Lulus SMK multimedia terlintas pikir, fakultas apa yah yang pantas. Pada masanya niatan, dan keinginan memang ingin melanjutkan basic yang saya sudah miliki sejak SMK, yakni mengaplikasikan software Adobe. Dan saat hadir dalam pendaftaran, terpilihlah sudah Fakultas Teknik, saya siap dengan jurusan TI (Teknik Informatika) nantinya. Awal mula masuk Universitas, banyak kegiatan yang wajib dilalui, baguslah saya mampu untuk siap menghadapinya. Tetapi, belum ditengah jalan juga, belum awal-awal pula juga. saya dipaksa membelokan arah pilihan. Untuk memilih pindah jurusan, menjadi FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik), jurusannya! masih amat horor untuk diceritakan. Pasalnya, pada saat saya mendaftarkan kelas Fakultas Teknik, jurusan TI. Gedung kuliah tersebut pindah di wilayah Timur Ibukota. Yah saya menyerah, dilain hal saya bekerja, dan masih payah, amat sangat payah. Hanya memiliki rupa Vespa tua, yang mungkin sewaktu – waktu malah merusak sistem jam tempur saya, kala itu, berpikir wajib memilih, “Bismillah FISIP” dalam hati.
Sang Jiwa Yang Membara
Berbeda dengan perkembangan
badan. Jiwa mengalami perkembangan, dan penyempurnaan yang
lebih ‘tak terbatas’. Dan, tidak linear hanya satu arah saja. Kalau
diumpamakan grafik, penyempurnaan badan manusia mengikuti kurva normal. Yaitu dari
rendah atau nol, meninggi mencapai puncaknya di usia 20-30 tahun, kemudian
menurun lagi menuju nol. Berakhir dengan kematian. Badannya rusak, hancur
terurai didalam tanah. Pada saat itu badan manusia sudah tidak berfungsi lagi.
Tidak bisa merasakan apa–apa lagi.
Selama di dunia kualitas jiwa
manusia bisa naik turun. Meningkat ketika dia membersihkan jiwanya
dengan membuat banyak kebajikan. Dan menurun, ketika dia mengotori jiwanya
dengan banyak berbuat kejahatan. Mengapa demikian, karena jiwa adalah
‘sang aktor’ dalam kehidupan manusia. Dia punya kehendak bebas yang
ditularkan oleh Tuhan dari sifat-Nya: Maha Berkhendak, lewat penipuannya sebagai
ruh-Nya. Inilah yang membedakan jiwa dengan badan. Tubuh manusia sekadar ‘kendaraan’ bagi
jiwa. Jika kendaraan itu rusak, penumpangnya masih bisa beraktifitas di luar
kendaraan. Yang demikian ini terjadi pada manusia pada saat dia tertidur, dan mati. Pada saat tertidur, jiwa manusia bisa
beraktifitas,
dan mengembara di luar badan dengan cara bermimpi. Baik atau pun buruk. Dan ketika
mati, jiwa juga kembali beraktifitas, mengembara di luar badannya. Tetapi,
karena badannya sudah hancur, maka jiwa itupun tidak bisa kembali ke dalam
badan. Kecuali si badan sudah diturunkan kembali oleh Tuhan di hari bangkit,
kelak. Jadi berbeda dengan badan, jiwa tidak mengalami kematian dalam arti
sebenarnya. Meskipun badannya rusak, dan hancur, jiwa tetap tidak
mati, melainkan hanya keluar dari badan yang rusak itu. Jiwa, kemudian
melanglang buana di alam berdimensi lebih tinggi. Mengapa dia tidak mati ? Karena dia adalah energi. Dalam
istilah kedokteran jiwa disebut sebagai badan bioplasma. Maka, perjalanan jiwa bisa disebut sebagai
perjalanan mengembara untuk mencari hakikat fitrahnya sendiri.
Diciptakan di
dalam rahim sang ibu, jiwa terbentuk seiring dengan proses pembentukan badan si
janin. Karena itu tidak ada ceritanya di dalam Alquran, Tuhan hanya
menciptakan jiwa tanpa menciptakan badannya. Badan adalah kendaraan jiwa.
Sekaligus cetak birunya. Tempat Tuhan menciptakan jiwa. Di mana, dan bagaimana jiwa itu
diciptakan Allah. Karakternya ditempatkan di dalam untai genetikanya. Susunan
genetika manusia itulah yang menyimpan potensi jiwa. Interface-nya adalah otak.
Fungsi
jiwa seperti sedih, gembira, pemaaf, pemarah, penyabar, tergesa-gesa, iri,
dengki, ikhlas, sombong, rendah hati, dan lain sebagainya, tersimpan di dalam
untaian genetika dengan susunan tertentu. Inilah yang oleh QS. 91: 7-10 disebut
sebagai ‘’Allah mengilhamkan kepada jiwa kecenderungan untuk berbuat
fasik,
dan takwa’’. Kencendrungan itu disimpan dalam bentuk kode-kode genetika di
dalam sel tubuh kita. Dan, ini merupakan turunan dari orang tua kita. Bahkan
nenek moyang kita, sampai ke nabi Adam, dan ibu Hawa. Tetapi, mengapa sifat itu bisa
berbeda-beda pada setiap orang ? Karena, semua sifat itu tersimpan di dalam
genetika sebagai potensi. Sedangkan aplikasinya bergantung kepada ‘khendak’ yang
menjadi bawaan dari ‘aktor’ yang lebih tinggi lagi yaitu ruh. Ya, kehendak kita
bukanlah wilayah jiwa, melainkan wilayah ruh. Itu adalah derivasi dari sifat
Tuhan yang diturunkan kepada manusia. Iradat Allah. Dalam bahasa genetika,
kecendrungan untuk mengaplikasikan fungsi jiwa itu akan berupa aktifitas
‘nyala-padam’. Ibaratnya, adalah seperti seorang pemain piano. Umpamakan sang
pemain piano itu ruh, sedangkan piano adalah badan. Maka, lagu yang dimainkan
adalah jiwa.
Tuts piano sudah demikian adanya. Susunan nada maupun
jumlah oktafnya. Akan tetapi sang pianist
bisa melantunkan apa saja, dengan
cara menekan-nekan tuts itu dalam kombinasi yang sangat banyak kemungkinannya.
Bisa juga muncul lagu yang sangat indah, dan merdu, atau lagu
yang menyeramkan,
lagu yang
menggembirakan, menyedihkan, dan sebagainya. Semua itu muncul dari ‘kehendak’
sang pianist. Dia tidak akan pernah bisa
menyampaikan lagu-lagu itu kalau tidak menggunakan piano sebagai
medianya. Mirip dengan badan, jiwa, dan ruh. Ruh adalah penggerak semua
aktifitas kehidupan manusia. Akan tetapi harus ada medianya, yaitu badan. Di
dalam sel-sel badan itu terdapat kode-kode genetika yang mirip dengan tuts
piano. Perilaku
yang keluar sangat bergantung kepada tuts mana yang ditekan. Juga bergantung
kepada komposisi apa yang sedang dimainkan. Komposisi permainan tuts-tuts
itulah yang akan menghasilkan kualitas jiwa. Bagaikan indah, dan tidaknya lagu yang
diperdengarkan lewat permainannya.
Piano-piano standar yang kita miliki mempunyai nada, dan oktaf yang sama di tuts-tutsnya. Akan tetapi, mengapa lagu yang keluar bisa berbeda-beda? Karena komposisi yang dimainkan memang berbeda-beda. Tuts-tuts yang ditekan juga tidak sama. Demikian dengan gen manusia, sama akan tetapi karena faktor kode yang dimainkan berbeda. Baik secara fisik maupun pisikis. Contoh tulisan ini memang tidak sama persis dengan kondisi antara badan, jiwa, dan ruh. Tetapi setidaknya sedikit mirip-mirip. Perbedaan yang mendasar ialah pada perumpaan antara jiwa, dan lagu. Jiwa adalah makhluk hidup yang bisa berimprovisasi secara aktif di bawah pengaruh ruh. Sedangkan lagu adalah komposisi mati, yang sepenuhnya bergantung kepada sang planist.9
Jadi pembawaan diri saya dimasa menjalani fase remaja ini, saya beranggapan semuanya
bisa saya
hadapi, semuanya bisa saya
jalani. Meski terlihat cengeng memang, sedangkan pilihan sudah matang, malah
pindah jurusan, dikarenakan terlalu jauh. Saya juga kan menghitung, pengeluaran
pastinya, jikalau memang ingin tetap di Teknik banyak pengeluaran yang
semestinya,
dan tidak pantas juga untuk dikeluarkan menurut saya. Jiwa ini merasakan
harus,
dan berperan apa,
dan semestinya yang akan saya
hadapi rasanya, meski ruh saya
asumsikan sebagai Tuhan akan bermain dadu. Dadu itu dilemparkan kemudian kita
hanya merupa, bahkan meraba, angka yang keluar itu berapa. Jadi, kita sebagai
manusia yang masih hidup perbanyaklah melakukan hal, dan macam yang ingin
kita pula laksanakan, percayalah bahwa Tuhan yang Mahaesa, adalah pembuat
skenario terbaik. Terlebih, kita sudah di alam lain, apakah masih kita bermain peran
?, dan bukan berarti meramalkan keadaan seperti
sekarang ini.
Penuh keinginan, tanpa tahu kehendak orang sekitar, ‘tetangga masih miskin’.
Di masa belajar kembali ini, hal terpenting mengapa saya bisa mencurahkan, bahkan bisa memproduksi tulisan ini dengan sesungguhnya, dikarenakan saya menggambil jurusan Jurnalistik. Di sini, saya bertemu seseorang motivasi tertinggi saya, yang mengatakan kutipan Napoleon Bonaperte “Jika anda bukan seorang anak Raja, maka menulislah”, dari kutipan tersebut, mimpi terbesar saya berupa tulisan ini, yang mengaju pada saya harus diterima di instalasi tempat mengadu nasib, seusai saya lulus nanti, dengan mereka menguji saya, mereka dapat membaca hasil karya saya, bukan satu atau dua contoh berita, melaikan isi tulisan feature, hal itu sudah menjadi cukup. Dan tiap tulisan, kutipan, sobek tiap sobek kertas, dan catatan di smartphone yang saya simpan dari awal masa perkuliahan ini ialah bentuk metode Jurnalistik yang saya pelajari juga, hingga saya pun tersadar, siap mencurahkan isi perasaan, bahkan ilmu. Bahwa tiap bait kata menggandung imajinasi. Dan sedekah pun tidak berupa virtual uang, bahkan bentuk prakata – kata itupun bagian dari membagi ilmu, dan kemungkinan sebagian menerimanya tidak dicerna semua. Agar nantinya ilmu tersebut disebar luaskan, di bagikan dengan sebaik baiknya tidak dibuat buat. Serta menyusun prakata bagai puzzel untuk melengkapi kebutuhan yang sudah kian hilang. Jika yah sampai pada tempatnya, prosesnya saya ingin mengisi mereka kenyang perutnya, dan berisi otaknya.
Jika kalian pembaca yang terlahir, di era milenial, maka ketika remaja tanggung seperti saya, pastinya tidak asing dengan salah satu band asal ibu kota yakni “Seringai”. Band ini di terbangkan oleh Arian, Ricky, Sammy, dan Edy. Lagu terfavoit saya ialah ‘mengadili persepsi’ di mana alunan lagu, lyrik, dan baitnya saya suka, terlebih banyak merchandaise pula yang saya miliki, sampai tiap kali memulai perkuliahan jaket tersebut menjadi ciri saya. Yakni jaket dari album ‘Taring’. Dari lagu ‘mengadili persepsi’, saya pula lah memulai menumpahkan ide gagasan dalam tulisan ini hingga menjadi karya untuk pribadi bahkan jika terbaik tanpa ragu saya produksi tepat pada masanya. Yakni di mana dalam catatan saya bertuliskan, “1. Carilah harta sebanyak-banyaknya, kemudian gunakan untuk tidak lupa membantu, dan menolong sesama, kerja untuk Tuhan dalam menyampaikan rezeki, ibadah, sunah, kerjakan, jangan tinggalkan, 2. Raihlah ilmu setinggi-tingginya, lantas ajarkan kepada masyarakat luas agar memperoleh pencerahan di kemudian hari, dan yang ke 3. Ingatlah pesan yang disampaikan, jika disebar, dan dilaksanakan orang lain pahala, dan dosa ada hukumannya”, tulisan tersebut terasa saya bermain Tuhan dalam perjalan ini, “merasa benar menjajah nalar” dalam lirik ‘mengadili persepsi’. Oleh karena itu, saya mau baik meski panik akan terjadi apa didepan. Yang buruk buang jauh, terlebih jika isi buku ini payah, mari kita diskusi bersama.
Tetapi ada baiknya memang saya pertimbangkan tulisan ini, mengacu pada gaya hidup saya selama perkuliahan. Konseptualisasi keluarga, serta lingkungan sekitar, di mana saya pun tersadar segala bentuk dosa, dan pahala dilakukan bersamaan, dan wujudnya dipastikan tidak kasat mata, tidak bisa dihirup, bahkan di konsumsi sebagai penunda rasa lapar. Namun, yah sudah tergambarkan kan bagaimana rupa gambaran, akan dibawa ke mana isi tulisan ini. Nampaknya belum yah, terlebih masih banyak sudut pandang menarik ditiap bab nya.
Semasa memulai perkuliahan, saya adalah objek yang mudah
dicari, di mana saya
berambut panjang, dengan balutan jaket/parka, dan kaki yang dibungkus booth
kulit hitam, dan memarkirkan Vespanya di bawah pohon rindang, berisikan manusia
– manusia unik menurut saya.
Karena di kampus Islami ini, memang tidak terlebih semua diasumsikan
berpenampilan sebagai teroris,
atau pun
ISIS yang tengah santar diberitakan. Tetapi tempat saya berkumpul inilah, berisikan
ragam bentuk teman yang memang amat berbeda, dari seisi kampus UHAMKA,
wilayah jalan
Limau, Jakarta Selatan. Saya, dan mereka semua bisa digolongkan sebagai.
Kelompok penghancur system??? Saya berbangga dengan tempat ini, lebih bisa
mengexplore luas.
Yah, saya dipastikan remaja tanggung yang cukup merasakan, apa itu lingkaran hitam semasa kuliah. Entah bagaimana ceritanya, dan pastinya, di mana kebanyakan Univeristas di Indonesia, khususnya Jakarta. Pasti mudah menemukan di mana, pencarian jati diri masih berlangsung. Dan Tuhan pasti mengarahkan, dan menempatkan kita di tempat semestinya pula. Oleh karena itu, dari sekesekian ratus orang yang saya temui, dan selalu berubah – ubah tiap tahunnya, di kampus ini. Saya terlihat sosok orang yang amat cuek tidak peduli tetapi menimbang dalam hati bergundil akan setiap pasang mata yang menatap saya. Haduh, bergundil itu ialah sifat yang banyak menghabiskan pahala yang kita kerjakan.
Cuek dengan kendaraan jeleknya, cuek jikalau kuliah jarang mandi, bahkan jarang sekali memulai menyapa terhadap orang yang tidak sama sekali akrab, bahkan mungkin hanya orang sesekali itupun juga, jikalau dirinya yang menyapa saya dengan kata “pret”. Pret itu nama yang saya dapat, di masa perkuliahan ini. Dengan nama terangnya ialah “KAMPRET”, coba itu. Kampret itu anak kalelawar, terbang dikala sore hari. Meski kuliah saya itu dari pagi sampai siang hari pun mereka melihat saya dengan muka malas, menyebalkan, dan sedikit kantong mata. Tidak itu saja, penilaian kata yang acap kali terlontarkan dari bibir ini, terkadang mengacu untuk mereka dengan nilai-nilai yang saya pertimbangkan, terkadang menyakitkan, terkadang membuat lawan bicara saya mempikirkan kata-kata saya. Pedas saya tuh kaya sambal setan. Tetapi sejatinya jelas saya orang paling bodoh, banyak bertanya, banyak bingung.
Karena pada fase ini, saya belum paham betul sebenarnya. Saya hanya berpikiran semua harus sama, semua yang kalian jalani itu payah, lemah, dalam kacamata saya. Semua bisa keren, semua bisa pantas kuliah. Sedangkan saya, bisa juga bergabung dengan kalian yang rapi, bahkan terlihat amat pandai dari tampak luar. Dikarenakan mereka saya anggap, manusia selamat. Bermainkan peran dengan nyaman. Kuliah sama, tetapi berbeda dengan saya yang juga berkuliah tetapi harus merasakan kerasnya mencari rezeki versus sudah banyak memiliki keinginan kaula muda. Namun, harus rela terbuang begitu saja, demi bayar kuliah. Tetapi di sini pastinya tidak hanya saya saja kan ?
Oh iyah... mungkin terasa bingung, mengapa saya kuliah gondrong. Karena, di semester dua, saya sudah pindah bekerja saya di sebuah media online milik swasta, wilayahnya tidak jauh dari Mall tempat awal bekerja, dan curahan ini akan kita bahas pastinya. Oleh karena itu juga, pilihan Jurnalistik dipastikan, karena saya ingin sekali tahu lebih mendalam, apa itu Jurnalistik. Teringat pula mengapa FISIP, pasca resign, leader lama butik saya bekerja, berpesan. “Kuliah lah Eko ambil fakultas berbau komunikasi, sepertinya cocok”. Karena saya mendapati keanehan, mengapa tidak!, umur yang dipastikan belum matang, masih di bawah 20 Tahun dengan kewajiban umur yang valid itu 22-23 dalam dunia kerja Jurnalistik. Fase umur ini bertepat dengan yang sudah lulus masa perkuliahan seharusnya. Saya buta apa itu sistem kerja Jurnalistik apa itu menulis, tetapi saya bisa bekerja di instalasi media. Bahkan sudah memproduksi puluhan tulisan per harinya. Dalam kelas Jurnalistik, dan banyak ilmu komunikasi, kutipan terbaik dari pengajar menjadi catatan, dan daya timbang dalam konseptualisasi.
Saya selama menjalankan jiwa sekarang ini. Dan tidak dibenarkannya, jika ini kehidupan anak yang dicontoh “rider Vespa” di manapun kalian itu. Ini hanya rupa bentuk saya, karena terjerumus dalam jahatnya berhala yang diisap, pemacu daya kekacauan otak. Dari kelas Jurnalistik, banyak membaca ialah faktor utama mengetahui jendela dunia. Meski terkadang, semua kata yang terlontar terhadap sosok manusia di depan kelas pernah saya sanggah. Dengan raut wajah kekesalan, dan mata yang sedikit memerah karena ulah setan yang merasuki, lewat berhala isap. Dikarenakan, pikir saya pada masa itu ialah, tidak ada yang memungkinkan media kini nyata. Pasalnya seorang naluri Jurnalistik berbeda drastis dengan kenyataan di lapangan, dan segala bentuk yang diajarkan pada sistem idealis seorang Jurnalistik amat sangat meleset, dan berbeda, itu menurut pikiran sesuai nalar lucy in the sky pada saat itu, dan mohon maaf, jika kalian protes pikiran nalar liar ini, bagaimanapun ini masih bab pendidikan, dan kita juga masih negara democrazy. Anehnya, ingatan itu samar-samar, sangat amat acak. Ketika tiap bait itu ingin saya tuliskan semuanya tidak ada. Semuanya tidak bisa saya tumpahkan. Yang saya ingat media itu diciptakan awalnya untuk saling menghancurkan belahan negara. Dilain sisi media itu bisa menerbitkan suatu agenda yang baik. Contoh saja penggulingan era Bpk. Soeharto, itu juga pengaruh media ada yang baik, mendidik ada pula yang buruk. Tetapi bicara mendidik ? , bagimana siaran itu saja yang berlangsung ketika tayangan itu terus berulang dan dikemas ulang, awas!
Seorang
Jurnalistik ialah, mencari, mengolah sampai mempublikasikan suatu rangkaian
berita berdasarkan fakta. Namun, yang terjadi di lapangan, dengan berbagai
macam bentuk wadah media. Seseorang menjalankan media, di nahkodai mereka yang
berkepemilikan modal. Mereka tidak mudah begitu saja, menuangkan ide, dan gagasan sesuai
idealis jurnalistik mereka. Terlebih saya pada masa perkuliahan ini, sudah
merasakan bekerja pada instalasi kecil, bernamakan media, namun tidak sesuai SOP (Surat Oprasional Perusahaan). Bagaimana
tidak contoh saja yang saya
temui orang media
diluar yang mencari isi hidupnya dengan menjalankan peran pemilik media, bahkan
hingga mereka dibutakan, demi idealis seorang Ayah. Demi membeli susu untuk
anaknya dirumah. Memberitakan karena bayaran sekesekian untuk menuliskan
sesuai opini narasumber yang banyak dirahasiakan, dan terlebih susunan
pertanyaan yang seharusnya di pertanyakan, malah dibelokan, karena Tuhan kertas.
Oleh karena itu, hal kini yang saya timbang dipastikan saya hadir dengan sadar utuh, hingga menghadirkan utuh pula tulisan demi tulisan, yang sedang pembaca pegang ini. Jadi dipastikan lagi, segala bentuk pemicu daya otak itu bukan gaya hidup terbaik. Bahkan memang sebuah berhala tersebut banyak merasakan bentuk imajinasi yang luas. Akan tetapi, kita harus sadar pula, Agama megajarkan, “sucilah dirimu jika menghadapku”, bahkan jika kalian masih dijalan yang salah, cobalah untuk kuat terhadap cobaan yang kalian akan jalani, untuk berjalan di jalan benar. Karena, segala bentuk ibadah, akan menjadi biasa, jika kita terbiasa. Bahkan resep terkuatnya ialah, jika kita beribadah, jika kita ingat sang pencipta, baik lagi kita menjalankannya. Maka kita terlepas dari perbuatan jinah, bahkan bisa lebih baik untuk jauh meninggalkannya. Meskin pun yah, komentar terberat ialah. Mau makan apa kalau idealis ? lagi-lagi dia tidak yakin Tuhan yang bermain film dunia ini?.
Baik, masuk dalam pola pikir pada masa kacau di atas. Tetapi terlebih jika tersadar kini. Pikirku beranggapan, kendaraan Siput ini ialah rupa berhala terbaik. Pada kelanjutan saya menjalani perkuliahan. Saya pindah lokasi, tempat tinggal, dan memulai menjalankan perkuliahan dengan membuka mata, Astagfirullah... kesiangan. Pasalnya, kedua orang tua, saya, dan kedua adik kini tinggal, di wilayah Barat ibu kota. Cukup panjang, awal cerita disini ini, tetapi rasanya di buku lain cukup. Tidak di buku ini. Yah terasa cukup lumayan lah, yang di mana biasa saya kuliah jarak tempuh hanya lima menit, kini 30 menit bahkan sampai 60 menit, bahkan tidak sampai pun juga pernah. Cerita nya panjang mengapa tiba-tiba di Jakarta Barat.
Saya berasumsi kacau, pada masa galau menurut saya, yang artinya ‘gak ada lauk’. Saya kuat sampai saat ini, karena Siput. Bagaimana tidak, tiap malam hari, Siput, saya ajak bicara, tiap minggu saya bongkar untuk sesekali merawat mesin yang kotor karena oli tercampur debu jalan, dan sampai terlebih kalau mogok dijalan, tidak pernah saya sesali, malah saya usap, saya ajak obrol kembali, “kok mogok, mengapa mogok, belum jajan – jajan yah.. ?”, sampai segitunya saya, sayang Vespa saya sendiri. Yah tersadar memang, kali ini banyak sekali masalah nampaknya, terasa memang harus turun mesin, dan jarak yang kutempuh tiap hari kini lebih memakan waktu. Daya umur Siput pun semakin harus terus menerus di rawat dengan lebih baik. Tetapi tetap saja, inilah budaya, inilah Vespa Indonesia. Bahkan saya masih terkagum, hidup di perkotaan ini, yang notaben manusia sudah tidak mempikirkan lagi manusia. Namun ada saja yang rela, dan ikhlas membantu, terlebih kalau saya sudah menyerah, dan Siput terpaksa harus didorong sampai rumah, oleh kalian yang sama seperti saya, pengagum Vespa. Mereka adalah orang-orang utusan Tuhan, masih dalam budayanya, masih dalam tolong menolongnya, masih pula di satu jalur yakni “Satu Vespa Berjuta Saudara” begitulah culture Vespa Indonesia. Begitulah cara kerja Tuhan. Begitulah Tuhan ada. Itulah film yang diberikannya.
Di masa pendidikan ini, banyak
sekali karya buku yang kudapat dari keluarga, teman, kerabat dekat, dan kadang
teman bermain. Demi hanya untuk sesekali tukar buku, dan memulai perbicaraan
yang menarik dari paham satu pikiran. Saya gemar membaca bentuk buku motivasi,
serta buku pelajaran yang memang semestinya harus di pahami terlebih dahulu,
sebelum siap berperang di landasan kelas. Tidak hanya itu, buku cerita fiksi,
yang memusingkan nalar, kemudian banyak pula bentuk buku yang ceritanya
membangun mimpi dikemudian hari. Dan semoga pula, wujud tulisan ini, difokuskan
untuk membangun kehidupan nanti. Guna mengganti pola hidup kini, dengan
modernis kaum buruh Indonesia yang sejahtera.
Dan banyak juga film, kemudian musik yang saya dapat, dan peroleh dari teman kuliah ini. Karenanya film juga menjadi objek menarik. Banyak gambaran, jelas tergambar dalam bentuk wujud film. Dan mungkin dari sebagian orang lebih bisa cepat paham film. Kemudian mengenai isi konten musik dipastikan karena lirik, dan nada irama. Semuanya saya dapat belajar, bahkan semuanya itu juga harus terlebih dipahami, dan dirasa. Meski begitu, terkadang kita pula harus mengerti betul, lawan komunikasi kita. Apa yang diwujudkannya, apa yang disukainya, sehingga kita pula bisa memahami pola daya pikirnya. Karena demi sekadar perubahan diri pula, bisa berlanjut dengan konsep orang-orang sekitar. Bisa sekadar obat penyembuh luka hati dari apa yang kita simak, mungkin objeknya selain itu bisa orang yang kalian temui.
Baiklah, kembali dalam bab ini yang di mana, kita lebih membahas belajar yang bersangkutan, sosial, komunikasi, dan budaya dalam Vespa dengan sama sama. Meski banyak juga yang harus tercurahkan mengenai pertemanan, kehidupan dalam masa kuiah ini. Namun, sepertinya banyak sekali goresan cerita masalah dalam masa pra-kuliah ini. Tuhan amat membenci. Dalam pikir ini ketika, cerita masalah, cerita yang mengangkat suatu keburukan ke pada orang lain. Tuhan sepertinya akan menumpahkan masalah baru, dan apa-apa yang belum kalian ketahui, rasanya menurut saya bersyukur lah dengan film kehidupan itu, kita lewati saja.
Visi, Misi, Tujuan Berbudaya
Pembaca selaku individu, dan makhluk sosial yang beradab pastinya memiliki landasan pengetahuan, wawasan, serta keyakinan untuk bersikap kritis, peka, dan arif dalam menghadapi persoalan sosial, dan budaya yang berkembang di masyarakat. Berikut visi misi tujuan Ilmu Sosial Dasar Budaya :
a) Memberikan pengetahuan, dan wawasan tentang keragaman, kesetaraan, dan martabat manusia sebagai individu, dan makhluk sosial dalam kehidupan masyarakat.
b) Memberikan dasar-dasar nilai estetika, etika, moral, hukum, dan budaya sebagai landasan untuk menghormati, dan menghargai antar sesama manusia sehingga akan terwujud masyarakat yang tertib, teratur, dan sejahtera.
c) Memberikan dasar untuk memahami masalah sosial, dan budaya serta mampu bersikap kritis, analitis, dan responsif untuk mencerahkan masalah tersebut secara arif di masyarakat.
Berdasarkan porsi tersebut, maka ilmu sosial, dan budaya termasuk dalam kategori, general education (pendidikan umum) yang bertujuan untuk membina individu (pembaca) untuk menjadi warga masyarakat, dan warga nergara yang baik, yaitu pendidikan yang bekenaan dengan pengembangan keseluruhan kepribadian seseorang dalam kaitannya dengan masyarakat, dan lingkungan hidup. Nursyid Sumaatdja (2002: 107) mengatakan bahwa :
“Pendidikan umum mempersiapkan generasi muda terlibat dalam kehidupan umum sehari-hari dalam kelompok mereka, yang merupakan unsur kesatuan budaya, berhubungan dengan seluruh kehidupan yang memenuhi kepuasaan dalam keluarga, pekerjaan, sebagai warga negara, selaku umat yang terpadu serta penuh dengan makna kehidupan.”
Dapat disimpulkan berdasarkan pendapat di atas bahwa pendidikan umum ini mempersiapkan pembaca, terutama generasi muda untuk menjadi “manusia yang sesungguhnya”, yang manusiawi, mengenal diri sendiri, manusia lain di sekelilingnya, sadar akan kehidupan yang luas dengan segala masalah, dan kondisinya yang luas dengan segala masalah yang menjadi hak, dan kewajiban tiap orang untuk memberdayakannya sebagai anggota keluarga, masyarakat, warga negara dunia, dan akhir selaku umat manusia sebagai ciptaan Tuhan Maha Pencipta. Karena manusia dalam hidupnya mengalami pengalaman hidup yang penuh makna, bahkan aktivitas sosial, dan budayanya pun dipengaruhi oleh pola-pola makna yang memberdayakan hidupnya. Philip H.Phenix (1964: 6-8) mengemukakan bahwa, “Pendidikan umum merupakan proses pembangkitan makna-makna yang esensial yang membimbing pelaksanaan hidup manusia melalui perluasaan, dan pendalaman makna-makna tadi”.
Selanjutnya Phenix dalam Nursyid S., (2002: 109) mengatakan bahwa makna-makna esensial yang melekat dalam kehidupan masyarakat, dan budaya manusia meliputi enam pola, yaitu simbolis, empiris, estetik, sinoetik, etik, dan sinoptik.
Makna simbolis meliputi bahasa, matematika, termasuk juga isyarat-isyarat, upacara-upacara, tanda-tanda kebesaran, dan sebangsanya. Makna simbolis ini sangat berarti dalam kehidupan bermasyarakat-berbudaya manusia. Makna empiris mencangkup ilmu kealaman, hayati, dan kemanusiaan. Makna empiris ini mengembangkan kemampuan teoritis, konseptual, analitis, generalisasi berdasarkan fakta-fakta, dan kenyataan yang bisa diamati. Makna estetik meliputi berbagai seni, kesenian, sastra, dan lain-lain. Kedalam kawasan maka estetik ini, termasuk hal-hal yang berkenaan dengan keindahan, dan kehalusan, keunikan menurut persepsi subjektif berjiwa seni. Makna sinoetik berkenaan dengan perasaan, kesan, penghayatan, dan kesadaran yang mendalam. Makna ini mencangkup empati, simpati, dan sebangsanya. Makna etik berkenaan dengan aspek-aspek moral, akhlak, prilaku yang luhur, tanggung jawab, dan sebangsanya. Makna sinoptik berkenaan dengan pengertian-pengertian yang terpadu, dan mendalam seperti agama, filsafat, dan pengetahuan sejarah yang menuntut nalar masa lampau, dan hal-hal yang bernuansa spiritual.
Mengenai pempaparan di atas terdapat segala nilai mengenai proses terjadinya bentuk sosial budaya. Dan jika saya mentafsirkannya untuk membuat segalanya lebih kecil, dalam golongan Vespa. Mengenai karir, dan hobi untuk sebuah harapan nantinya. Jika pembaca pernah menonton Film “Racing Extinction” sebuah karya terbaik menurut saya dari negeri yang tidak ada kerjaan, dan tidak memiliki budaya yakni, “Amerika”. Amerika memang budaya film. Pintar menggambarkan saja dia mah. Namun, dari film tersebut saya mengambil kutipan. “Jika kita kehilangan sesuatu yang kecil, maka tidak akan menjadi apa-apa”. Dalam film tersebut, menceritakan kepunahan hidup hewan serta seisinya. Namun difokuskan, mengenai kepunahan sirip Hiu, dan banyaknya pemburuan masal Hiu, dan Paus. Dalam konten film tersebut, terdapat cuplikan sudut Indonesia ialah negara yang masih hijau. Dan modal 60% udara terbanyak dalam bumi. Dan dalam film ini juga menjelaskan, dan menurut saya ini bukan realitas sebenarnya. Jika warga Indonesia memburu ikan besar-besaran demi kapitalis uang. Karena, ikan pun datang dengan sendirinya. Dan yah pesan, atau pun komentar akan kalian pertimbangkan sendiri jika kalian sudah melihat film tersebut. Terpenting berhati-hatilah oleh ajakan film Amerika ini, entah mengapa idealnya saya sebagai manusia biasa, amat terganggu oleh negara penganut Liberal yang mengajak kita kejauhan lalu mengecoh kita sebagai bahan eksperimen nya.
Namun jika kita lirik kembali. Ini suatu bentuk hal yang amat penting, terlebih apa yang saya ingin bangun ialah, mengenai sesuatu yang kecil. Sesuatu sejarah, ya meski dari mananya itu, tulisan ini tidak membuat pembaca kaya dengan pastinya. Karena buku ini tidak menjelaskan bagaimana pembaca meggarap ekonomi, perekonomian. Karena ini buku sosiologi, tulisan budaya, perspektif dari pandang seorang objektif penulis dengan harapan tingkat tingginya melestarikan alam dari bentuk sejarah lewat kendaraan. Namum baik jika kita juga kan membahas sedikit yang berkenaan dengan ekonomi. Tetapi jika kita mampu bergerak bersama. Indonesia ini akan mandiri, karena memiliki potensial ragam. Dari apa yang dibiarkannnya, dicuek nya. Meski kini ditambah lagi warga negara +62 menjadi manja, bawel, dan banyak ragam penyerangan budaya lewat media. Utang berhutang di mana mana dalam sistem pemerintahan. Proses jilat menjilat demi membangun negeri sedang dijalani. Lewat kemajuan, era modernis kini. Mari perbaiki, mulai saja dahulu dari kita. Seperti memilih tulisan yang baik, menggunakan media dengan baik, kemudian menyebarkan kabar berita yang baik pula itu sudah memulai untuk terus menerus demi generasi yang baik.
Yah memang ini terasa proses
simbiosis jika kita beranggapan postitif dari sudut jilat menjilat. Segala
bentuk pasar bebas, masuk dalam negeri ini. Kitapun terlena, budaya pun dijual begitu murah, alhasil karya di mentalkan
sana sini. Dianggap negara miskin tetapi jalanan kian macet. Semua golongan
atas pun
miskin penglihatan. Menimbun segala harta demi memperkaya negara tetangga.
Demi kelansungan 7 generasinya. Ayo lah, ini buku yang tergerak dari kami para
penggaum rahasia. Budaya,
dan cinta
yang melestarikan aset, melesatkan jauh kebersamaan. Kita cinta negara kita, kita butuh hidup meski sekadar bahagia. Tetapi kita mengalami kesulitan. Dan
tampak
raut wajah rakus, membuat negara ini kian tidak hijau lagi. Memerah bagai
neraka dikemudian hari. Maju dengan segala bentukan pandangan. Ketika diserang, dan terserang. Habislah
sudah.
Andai kata negara ini masih asri, yah. Biarkan segenap kota maju dengan potensialnya. Tetapi stop! Merusak alamnya. Vespa memiliki ragam simbolis, dan akan kita banyak bahas dalam bab “Kecil Bebas Bermain”, sedangkan empiris sejalan dengan estetik ialah jelas ragam bentuk wujud Vespa, pengendaranya itulah yang berkenaan dengan keindahan, dan kehalusan yang dipahami ideologi bagi para pengendaranya. Sineotik menjadi alasan tulisan ini meluas, serta tercurahkan. Atas asas, dan dasar simbolis tegur sapa. Membudaya, dan berbudaya, bahwa satu Vespa sejuta saudara. Etika menguak entah ke mana, mungkin luas.
Namun perkecil kembali. Kita kembali lagi, yang melakukan tidak tandunk atas mengatas label contoh ‘Vespa’, sebagai ruang belajar. Dan yang merasa dirugikan dalam harapannya untuk mengupas buku ini, harap bercermin kembali, dengan hati lapang, dan ikhlas menghadapinya. Ini demi mengedepankan citra budaya sesungguhnya. Dengan proses sinoptik, berfilsafat, berkeyakinan nyata. Agar sejalan prilaku kedepannya berdasarkan, Rahmatan LilAlamin. Sampaikan tulisan miskin ini kepada mereka yang berkecukupan, kepada mereka manusia elite penguasa.
Kajian Ilmu Sosial
Sosiologi jelas merupakan ilmu
sosial yang objeknya masyarakat. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang
berdiri
sendiri karena telah memenuhi segenap usur-unsur ilmu pengetahuan. Dengan
beberapa ciri utama. Ciri pertama, sosiologi bersifat empiris, berarti bahwa
ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan, dan akal sehat serta
hasilnya tidak bersifat spekulatif. Ciri kedua, sosiologi bersifat teoritis,
yaitu ilmu hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka unsur-unsur
yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan-hubungan
sebab akibat, sehingga menjadi teori. Ciri ketiga, sosiologi bersifat
kumulatif, berarti bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori
yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori
yang sudah lama. Ciri keempat, sosiologi bersifat non-etis, yakni yang
dipersoalkan bukanlah buruk-baiknya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya
adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.10
Sosiologi umumnya dideskripsikan
sebagai salah satu cabang-cabang ilmu sosial. Selain merujuk kepada
suatu tubuh pengetahuan hukum-hukum universal. Sosiologi juga menggunakan
metode investigasi umum yang sama, yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam. Seperti
sarjana pada ilmu alam, para sosiolog menggunakan metode ilmuan. Mereka
berusaha membangun suatu tubuh pengetahuan saintifik melalui empat komponen
metode ilmiah, namun kumpulan data itu sendiri bukanlah merupakan sebuah ilmu.
Dalam setiap kondisinya, data-data mesti disusun dalam suatu cara, analisa,
digeneralisasi, dan dikaitkan dengan data-data. Hal ini dikenal sebagai
rekontruksi teori (theori recontruction).
Teori-teori yang membantu
kita mengorganisasi,
dan memahami data-data mengkaitkan mereka dengan penemuan-penemuan terdahulu
para peneliti lain.11
Sains hanyalah
salah satu cara di mana manusia mempelajari dunia di sekitar mereka. Tidak
seperti alat-alat investigasi lain yang bergantung kepada diskusi logis
konsep-konsep abstrak seperti agama, atau filsafat, sains dalam beberapa
bagiannya membatasi investigasinya langsung melahirkan peristiwa-peristiwa yang
diobservasi. Berbagai hal yang bisa diobservasi melalui cara ini di istilahkan sebagai
entitas-entitas empiris. Karena itu, salah satu karakteristik dasar dari sains
adalah empirisme. Misalnya, para teolog bisa mendiskusikan peranan iman dalam
melahirkan “kebahagiaan sejati”, para filsof bisa mengkaji kebahagiaan sejati
apa yang bisa dicakup. Namun, para sosiolog akan mencatat, menganalisa, dan memprediksi
berbagai konsekuensi item-item yang bisa diukur seperti kepuasan kerja, kaitan
antara pendapatan,
dan kebahagiaan yang dimaksud, dan peran kelas sosial dalam peristiwa depresi.12
Ilmu-ilmu
sosial berisi semua disiplin ilmu yang mengaplikasikan metode-metode ilmiah
dalam mengkaji perilaku manusia. Meski terdapat beberapa kasus tumpang tindih,
masing-masing cabang ilmu sosial memiliki ranah investigasinnya sendiri. Hal
ini membantu untuk memahami setiap cabang ilmu sosial lainnya, seperti
antropologi, kultural, psikologi, ekonomi, sejarah, ilmu politik, dan social
work.
Antropologi Kultural adalah ilmu sosial
yang berkait erat dengan sosiologi. Dua cabang ilmu ini memiliki banyak teori, dan utamanya adalah
dalam kelompok-kelompok yang mereka teliti, dan cendrung mengkaji
kelompok-kelompok,
dan institusi-institusi di dalam masyarakat besar, modern penelitian yang
membuat mereka mampu agak cepat mengumpulkan informasi spesifik mengenai
sejumlah besar penduduk. Kebalikannya, antropologi kultural sering berkutat
dalam masyarakat lain untuk periode yang panjang, dan berusaha mempelajari
sedalam,
dan sebanyak mungkin mengenai masyarakat itu, dan kaitan-kaitan
dengan penduduknya. Jadi, para antropolog cendrung fokus kepada budaya
masyarakat, masyarakat kecil pra-indrustri karena masyarakat tersebut kurang
kompleks,
dan lebih cocok dengan metode pengkajian seperti ini.13
Terkait
dengan psikologi, ilmu ini
mempelajari proses penggetahuan akal, proses mental, dan prilaku individu. Dia berfokus dengan
tema-tema seperti motivasi, persepsi, kognisi, kreativitas, gangguan mental,
dan kepribadian. Lebih dari disiplin ilmu sosial yang lain, psikologi
menggunakan percobaan-percobaan
laboraturium. Psikologi,
dan sosiologi tumpang-tindih dalam sub-divisi ranah yang dikenal dengan
Psikologi - Sosial - kajian tentang bagaimana prilaku manusia
dipengaruhi,
dan dibentuk oleh berbagai situasi-situasi sosial yang beragam. Psikologi
sosial mengkaji isu-isu seperti bagaimana masalah, dan mencapai sebuah kosensus
atau faktor-faktor apa yang bisa menyebabkan ketidak nyamanan dalam sebuah
situasi kelompok. Untuk sebagian besar kasus, bagaimanapun, psikologi mengkaji individu, dan sosiologi mengkaji
kelompok-kelompok individu begitu juga institusi-intitusi masyarakat.14
Berkenaan
dengan ekonomi, ilmu ini mengkaji
produksi, distribusi, dan konsumsi barang, dan jasa. Para ekonom
telah membangun teknik-teknik untuk mengukur hal-hal seperti harga, supply and demand¸ suplai uang,
rata-rata inflasi, dan ketenagakerjaan. Bagaimanapun, ekonomi adalah suatu
bagian dari masyarakat. Adalah tiap-tiap individu dalam masyarakat yang
menentukan apakah akan membeli barang buatan Amerika, atau Jepang, apakah dia bisa menangani
cicilan atas rumah impiannya, dan sebagainya. Sebaliknya para ekonom mengkaji
harga,
dan faktor ketersediaan, para sosiolog tertarik kepada faktor-faktor sosial
yang mempengaruhi prilaku ekonomi. Apakah tekanan kelompok yang menyebabkan
pembelian suatu barang, atau apakah kekuatan akan ukuran jarak tempuh yang
menyebabnya meningkatnya
pembelian kendaraan kecil yang lebih hemat? Faktor-faktor sosial, dan kultural apa yang
menyumbang perbedaan dalam hal pendapatan yang disimpan dalam kelompok masyarakat
yang berbeda? Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah contoh-contoh pertanyaan
yang para sosiolog
berusaha cari jawabannya.15
Terkait dengan disiplin ilmu sejarah, sejarah menengok masa lalu
dalam usaha mengkaji apa yang telah terjadi, kapan kejadiannya, dan mengapa itu
terjadi. Sosiologi juga melihat peristiwa-peristiwa historis di dalam
konteks-konteks sosial mereka untuk mengungkap mengapa berbagai hal terjadi
dan, yang lebih penting, untuk menguji apa signifikansi sosialnya pada saat itu, dan
sekarang. Para sejahrawan menyediakan sebuah naratif kronologis dari berbagai peristiwa selama
periode tertentu,
dan bisa menggunakan metode-metode penelitian sosiologi untuk mencoba
mempelajari bagaimana bersejarah. Para sosiolog di sisi lain, menguji
peristiwa-peristiwa itu mempengaruhi situasi-situasi sosial selanjutnya. Para
sejahrawan berfokus kepada peristiwa-peristiwa satuan, misalnya Revolusi, atau Perbudakan
Amerika.
Saat
melihat topik perbudakan Amerika, para sejahrawan secara khusus berfokus kepada
saat para budak pertama kali tiba atau bagaimana para budak telah ada pada
tahun 1700,
atau 1850,
dan bagaimana kondisi-kondisi yang mereka hadapi saat hidup. Para sosiolog, dan sejahrawan sosial
modern akan menggunakan data tersebut untuk mengajukan banyak pertanyaan:
kekuatan-kekuatan sosial,
dan ekonomi apa yang telah membentuk institusi perbudakan di Amerika? Bagaimana
Revolusi Indrustri telah mempengaruhi perbudakan ? Bagaimana pengalaman
perbudakan telah memberi pengaruh terhadap keluarga kulit hitam ? Meski sejarah, dan sosiologi telah
saling memberi kemajuan lebih dari 20 tahun, setiap ilmu masih memegang fokus
yang berada: Sosiologi fokus pada masa sekarang, dan sejarah pada masa
lalu.16 Dalam hal ilmu politik, ilmu ini berkonsentrasi pada tiga wilayah utama,
yaitu teori politik, pelaksanaan aktual pemerintahan, dan perilaku politik.
Penekanannya pada prilaku politik, ilmu politik tumpang tindih dengan
sosiologi. Distingsi utama antara kedua disiplin ilmu ini adalah bahwa
sosiologi berfokus pada bagaimana sistem politik mempengaruhi
intistusi-intistusi lain di masyarakat, sementara ilmu politik memberi
perhatian-perhatian
lebih pada kekuatan-kekuatan yang membentuk sistem-sistem, dan teori-teori
politik untuk memahami kekuatan-kekuatan itu. Namun demikian, kedua disiplin
ini saling berbagi dalam ketertarikan keduanya tentang mengapa orang ikut dalam
gerakan-gerakan politik, bagaimana media massa mengubah partai-partai, proses-proses politik,
dan sebagainya.17
Banyak teori, dan metedologi penelitian-penelitian dalam bidang social work berasal dari sosiologi, dan psikologi, namun social work memberi fokus hingga pada tingkatan yang sangat tinggi kepada aplikasi, dan problem sloving. Dispilin-dispilin sosiologi, dan social work sering tumpang tindih. Tujuan utama dari social work adalah untuk secara langsung membantu manusia atas berbagai masalah yang menjeratnya, sementara tujuan sosiologi adalah untuk memahami mengapa masalah tersebut bisa muncul. Para pekerja sosial menyediakan bantuan bagi para individu, dan keluarga yang memiliki masalah emosi, dan psikologi atau yang mengalami berbagai kesulitan dari masalah yang menjeratnya, sementara tujuan sosiologi adalah untuk memahami mengapa masalah tersebut bisa muncul. Para pekerja sosial menyediakan bantuan bagi para individu, dan keluarga yang memiliki masalah emosi, dan psikologi atau yang mengalami berbagai kesulitan dari masalah kemiskinan atau masalah lain yang sedang dihadapi yang berakar dari struktur masyarakat. Mereka juga mengorganisasi kelompok-kelompok komunitas untuk menangani isu-isu lokal seperti masalah tempat tinggal, dan berusaha untuk membantu disipilin ilmu lain. Meski sosiologi bukanlah social work, dia merupakan bidang konsentrasi akademis yang berguna bagi pihak yang tertarik untuk memasuki profesi-profesi di bidang social work.18
Pengetahuan Sejarah Sosial
Pada masa abad ke-18, dan 19 Masehi,
masyarakat tradisional Eropa mengalami perubahan yang sangat pesat, dan signifikan. Pada
saat itu, perubahan yang terjadi di masyarakat tak bisa dipahami karena para
sarjana belum memiliki taradisi intelektual, dan pandangan
berkaitan dengan masalah kemasyarakatan. Saat para peneliti, dan sarjana berjuang
memahami perubahan itu, usaha-usaha mereka muncul silih berganti, dan membentuk ilmu
baru yang disebut sosiologi.
Kekuatan
utama yang mengubah peradaban Eropa selama abad ke-19 adalah Revolusi
Indrustri. Revolusi ini sepenuhnya telah menyusun kembali bentuk masyarakat, dan mengubah cara
hidup manusia. Misalnya, mesin uap telah digunakan untuk membuat mesin baru
yang lebih kuat,
dan luar biasa. Dengan mesin itu, lokomotif bisa mengangkut ribuan ton barang, dan ratusan penumpang
ke tempat-tempat yang jauh jaraknya. Mesin-mesin uap telah membuat perahu, dan kapal laut bebas
berlayar tanpa harus bergantung pada arah angin, dan turbin-turbin raksasa
telah merubah pola kerja di pertanian, dan perindrustrian. Berbagai pusat produksi telah berkembang, dan menjadi tempat
kerja bagian ribuan orang. Komunitas pedesaan semakin lemah, dan kota-kota menjadi
rumah bagi banyak orang yang bekerja di pabrik-pabrik baru. Karena batubara
digunakan sebagai sumber energi utama, pabrik-pabrik mengeluarkan volume asap yang
sangat besar yang berubah menjadi debu, dan mengotori udara, gedung-gedung,
jalan-jalan, dan orang-orang. Kota-kota di mana pabrik-pabrik berada belum
memiliki instasi kepolisian,
dan pemadam kebakaran yang baik,
dan instasi-instasi lain yang terkait dengan kepentingan publik. Akhirnya,
wabah penyakit menjadi hal yang biasa. Kolera misalnya menjadi mesin pembunuh
efektif yang secara rutin telah menghilangkan ribuan nyawa manusia tiap
tahunnya.19
Saat tatanan sosial, dan indrustri berubah, tatanan politik pun mengalami hal serupa. Sistem kelas sosial dengan uang, dan sosial lain yang berada di atas, dan hampir semua sistem kelas sosial lain yang berada di bawah tak lagi mudah dipahami. Berbagai peruntungan dibuat dalam di setiap perniagaan, dan melalui bidang usaha ini, para pedagang, dan indrustrialis memperoleh kekuatan baru. Rakyat biasa mulai percaya bahwa mereka juga punya hak yang sama dalam kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan [Liberty, Equalit, and Fraternity]. Untuk memperoleh hak-hak tersebut, beberapa pihak mengadakan perlawanan, dan revolusi. Banyak revolusi tersebut yang pada akhirnya dirayakan sebagai hari raya nasional, misalnya Bastile Day di Prancis, dan hari kemerdekaan di hampir semua negara. Inilah sekelumit latar belakang lahirnya sosiologi di dunia Eropa. Disiplin ilmu baru ini memprsentasikan sebuah usaha untuk secara lebih baik memahami kekuatan-kekuatan sosial yang merambah di hampir seluruh wilayah Eropa, dan tatanan masyarakat yang telah mapan sebelumnya.
Auguste Comte (1798-1857)
Auguste Comte lahir di Montepellier,
Prancis, tahun 1798. Dia berasal dari keluarga Katolik, dan berdarah bangsawan
tetapi Comte tidak memperlihatkan loyalitasnya. Comte lama hidup di Paris
politik. Sebagai seorang mahasiswa di Ecole Polytechnique, Paris, seorang yang
keras kepala,
dan suka membentak, dan meninggalkan Ecole. Dia salah satu seorang
filsof yang menyaksikan,
dan mengalami kekacauan pada abad ke-19 di Prancis. Kerajaan monarki Prancis
diturunkan dari tahtanya pada saat revolusi tahun 1789, Eropa. Di tengah
ketidakstabilan tersebut terdapat keraguan terkait efek yang lebih luas dari
Revolusi Prancis terhadap gangguan stabilitas Prancis yang diprediksi lebih lama.
Comte
tidak menginginkan perubahan revolusioner karena dia merasa evolusi
masyarakat secara alamiah
akan membuat segala sesuatu menjadi lebih baik. Reformasi hanya diperlukan
untuk membantu proses.20 Pemikiran Comte ini dipengaruhi, dan sejalan terutama
dengan pemikir kontra revolusioner Katolik Perancis seperti Louise de Bonald
(1754-1840),
dan Joseph de Maistre (1753-1821). Kedua pemikir ini bereaksi keras terhadap
Pencerahan,
dan Revolusi Prancis yang dianggap
sebagai produk bercirikan abad Pencerahan. Sebagai contoh, De Bonald merindukan
kembali keharmonisan,
dan perdamaian Abad Pertengahan serta merasa terganggu oleh perubahan
revolusioner di Prancis. Namun, pemikir Comte dapat dipisahkan dari pengaruh
kedua pemikir itu setidaknya berdasarkan dua landasan. Pertama, dia
tidak berpikir adanya kemungkinan kembali ke Abad pertengahan; kemajuan
ilmu,
dan indrustrilah yang tak memungkinkan nya. Kedua,
dia
mengembangkan sistem teori yang lebih canggih ketimbang yang dilakukan
pendahulunnya, yang cukup memadai untuk membentuk kajian yang baik dari
sosiologi awal.21
Awalnya istilah fisika sosial yang berasal, dan digunakan Comte untuk merujuk pada disiplin ini (sebelum penggunaan sosiologi). Namun sebagian pemikir rivalnya menggunakan istilah fisika sosial juga, sedangkan dia bedakan disiplin sosiologi akan melahirkan pengetahuan. Dari keyakinannya, sosiologi akan memberikan pengetahuan untuk memahami, dan kemudian memprediksi serta mengontrol prilaku manusia.22 Dengan disiplin ini, Comte percaya bahwa sebuah ilmu pengetahuan teoritis mengenai masyarakat, dan investigasi yang sistematik tentang tingkah laku dibutuhkan dalam menemukan hukum-hukum sosial, dan memperbaiki masyarakat. Dalam fisika sosial Comte lebih menekankan dinamika sosial (social dynamic, atau perubahan sosial) dari pada statika sosial menggambarkan bahwa fokusnya terhadap perubahan sosial menggambarkan bahwa fokusnya terhadap reformasi sosial, khususnya peristiwa Revolusi Prancis, dan Pencerahan yang melahirkan penyakit-penyakit sosial.
Ketertarikannya
pada perubahan sosial terutama evolusi sosial masyarakat mengantarkan kita pada landasan pendekatan
Comte tentang hukum tiga tingkatan, atau teori evolusinya. Teori ini menyatakan
bahwa terdapat tiga tingkatan intelektual
yang harus dilalui dunia di sepanjang sejarahnya. Selain dunia, kelompok
masyarakat, ilmu pengetahuan, individu, dan bahkan pemikiran berkembang juga
melalui proses tahapan tiga tingkatan yang sama. Pertama, tahap teologis yang pengaruhnya besar pada dunia sebelum era 1300.
Pada masa ini ditandai dengan keyakinan bahwa dasar segala sesuatu terletak
pada kekuatan adikodrati, tokoh agama, dan keteladanan manusia. Pandangan
terhadap kekuatan supernatural sangat dominan dalam kehidupan dunia sosial alam
fisik. Semua gejala dihasilkan dari tindakan langsung dari hal-hal lain
supranatural. Kedua, tahap metafisik yang
hanya bentuk lain dari tahap pertama, dan keyakinan bahwa segala sesuatu
dapat dijelaskan dengan sesuatu keyakinan bahwa segala sesuatu dapat dijelaskan
dengan adanya kekuatan abstrak, bukan lagi kekuatan dewa-dewa personal. Ketiga,
tahap positivistik yang bercirikan
dengan sebuah keyakinan terhadap ilmu sains. Manusia mulai cendrung
menghentikan penelitian terhadap penyebab absolut, atau supranatural
(Tuhan atau alam),
dan memusatkan perhatiannya pada studi tentang hukum-hukum, yaitu dengan
mengadakan pengamatan terhadap alam fisik, dan dunia sosial.
Penekanan terhadap evolusi intelektual merupakan gagasan untuk memperbaiki
situasi sosial dari segi intelektualnya terlebih dahulu. Mengingat kekacauan
pemikiran terdahulu seperti teologis, dan metafisik menyebabkan kekacauan
sosial. Sedangkan alam pemikiran positivisme menggabungkan penalaran, dan pengamatan,
sekaligus secara tepat. Positivisme ini akan muncul meskipun tidak secepat yang
diharapkan orang.
Sebagai sebuah ilmu, sosiologi mengkaji dua aspek fundamental masyarakat, yaitu mengapa dia berubah, dan mengapa dia tidak berubah. Pendekatannya pada sains, dan perubahan sosial masih menjadi bagian yang penting bagi disipilin ini hingga sekarang. Meski Comte dianggap sebagai orang yang menggunakan istilah sosiologi, adalah sarjana Inggris, Harriet Martineau, yang telah menerjemahkan, dan mengedit karya Comte yang paling berpengaruh, The Positive Philosophy of Auguste Comte. Dalam proses pengeditan, dan penejemahnya, Martineau telah mengklarifikasi ide-ide Comte, dan membawa gagasan–gagasannya kepada audiensi yang lebih luas. Lebih jauh pada tahun 1837, Martineau menerbitkan Society in America yang berisi kebiasan kebiasaan di negara baru ini – keluarga, ras, gender, politik, dan agama. Di samping itu, Claude Henri Saint-Simon (1760-1825) merupakan pemikir yang berjasa mengembangkan minat Comte dalam masalah-masalah kemanusiaan, dan sosial. Comte pernah menjadi murid, dan sekeraris Saint-Simon, dan keduanya menjalin kerja sama yang erat, sehingga mampu mengembangkan karya awal Comte sendiri. Meskipun keduanya memiliki kesamaan, tetapi setelah tujuh tahun akhirnya keduanya terlibat perdebatan sengit terkait kepengarangan karya bersama yang menyebabkan berpisah.23
Emile Durheim (1858-1917)
Lahir di Alsace, Prancis, Durkheim masuk ke sekolah-sekolah di Prancis, dan Jerman, tempat dia belajar hukum, filsafat, ilmu sosial, psikologi, dan antropologi. Dia adalah seorang sosiolog teoritis, dan praktisi pendidikan. Durkheim merupakan orang pertama yang memperoleh gelar profesor di bidang pendidikan, dan sosiologi. Beberapa karya Durkheim meliputi: The Devision of Labor in Society (1893), Suicide A Study in Sociology (1897), dan Elementary From of Religius Life (1912). Perhatian utama Durkheim adalah melerakan sosiologi sebagai disiplin sains yang berbeda, dan unik. Dari pemikir sosiologi sebelumnya disiplin ini dianggap masih terlalu spekulatif, dan samar-samar. Upaya yang dilakukan oleh Comte kurang maksimal untuk mengembangkan sosiologi berdasarkan sains. Sosiologi, bagi Durkheim, sebagai sains yang mempelajari fakta sosial (sosial facts); sesuatu yang eksternal, namun memaksa, terhadap individu.24
Ciri
dari fakta sosial berupa eksternal dari individu, dan bersifat memaksa yang membentuk
tindakan setiap individu seperti keberadaan ekonomi, dan pengaruh agama. Semisal tubuh manusia
yang memiliki organ-organ, masyarakat juga mempunyai bagian-bagian berupa
institusi seperti sistem politik agama, keluarga, dan sitem pendidikan.
Bagian-bagian ini harus bekerja secara harmonis sehingga berkontribusi untuk
menjaga keberlanjutan hidup. Tidak hanya itu bekerja secara harmonis tetapi
bagian-bagian ini juga berfungsi secara terintegrasi dengan keseluruhan. Durkheim berpandangan bahwa
keberlanjutan konsensus umum, atau kesepakatan di antara anggotanya mengenai
nilai-nilai dasar, dan kebiasaan.
Masyarakat memiliki keunggulan terhadap individu. Dia bukan sekadar
kumpulan tindakan-tindakan individu, melainkan juga terdapat struktur sosial yang
memaksa tindakan individu. Dengan
latar belakang Revolusi Prancis,
dan akibatnya pemikiran Durkheim muncul ke permukaan. Pandangannya tentang
masyarakat, solidaritas,
dan integrasi tidak dapat dilepaskan dengan tatanan sosial saat itu. Ketegangan
berkepanjangan, dan konflik-konflik di
wilayah politik, dan di wilayah sosial terjadi perubahan dari keteraturan
sosial yang baru terlihat masih
goyah. Durkheim fokus kepada kesatuan masyarakat. Dalam pemikirannya, terdapat
distingsi antara dua tipe solidaritas sosial yaitu solidaritas mekanis, dan solidaritas organis. Menurutnya, masyarakat-masyarakat
tradisional bersifat kecil,
dan bergantung kepada teknologi yang tidak rumit. Semua pemburu di dalam
masyarakat berburu, dan pengumpul makanan,
misalnya menggunakan sistem
senjata yang sama, dan semua petani
bercocok tanam dengan cara yang sama. Karena setiap orang berpartisipasi dalam
kehidupan sosial yang sama pula. Durkheim menyebut tipe solidaritas semacam ini
dengan solidaritasnya mekanis.24
Dalam masyarakat-masyarakat indrustri, di sisi lain, orang-orang melakukan berbagai perkerjaan yang spesifik dengan menggunakan alat-alat yang kompleks, dan mereka jarang berinteraksi secara langsung. Meski orang-orang berbagi beberapa nilai, mereka tetap tidak sependapat dengan beberapa nilai yang lain. Tampaknya masyarakat indrustri memiliki potensi sedikit untuk bisa mempertahankan mereka bersama, namun mereka secara jelas bisa tinggal bersama. Dalam hal ini, Durkheim menunjuknya bahwa berbagai perbedaan di antara mereka memuatnya menjadi interdependensi. Misalnya para pekerja di perusahaan Ford di California tidak melakukan kontrak dengan para akuntan yang bekerja di tempat lain. Namun mereka bersifat indepedensi. Jika para akuntan itu tidak melakukan pekerjaannya, maka para pekerja tidak bisa menerima gaji. Dan jika para pekerja berhenti bekerja, maka Ford tidak akan bisa memenuhi jadwal produksinya, dan para akuntan mungkin tidak bisa bekerja. Dengan kata lain, jika satu pihak jatuh, semuanya akan jatuh; dan jika satu pihak sukses, semua akan sukses. Durkheim menyebut tipe solidaritas semacam ini dengan solidaritas organis.25
Durkheim juga disibukan dengan berbagai perubahan indrustrial
yang menjamah seluruh Eropa.
Dia secara khusus fokus kepada tendensi industralisme yang memproduksi anomi- suatu kondisi sosial di mana norma-norma masyarakat berada
dalam konflik, atau secara
keseluruhan hilang. Hilangnya arah dalam masyarakat ketika kontrol sosial
terhadap tindakan individu tidak efektif lagi. Seringkali pada masa perubahan
sosial yang besar di masyarakat muncul keadaan anomi sehingga individu
kehilangan arah, dan tujuan. Menurut
Durkheim, anomi adalah ancaman khusus yang serius terhadap moralitas. Dia mencatat bahwa di masa lalu agama
telah menjadi kekuatan penting yang mengajarkan orang untuk menahan hasrat
mereka, dan berusaha mencari pahala untuk
pencapaian-pencapaian spiritual. Namun demikian, indrustralis telah memerdekakan
nafsu kuat bagi prilaku manusia, Durkheim berpendapat bahwa manusia akan
terkatung-katung di masyarakat tanpa mengetahui hakikat sebenarnya mereka. Pendek kata, mereka
menjadi anomik.26
Durkheim yakin bahwa anomie adalah
penyebab dari banyak masalah sosial, dan inilah objek penelitian yang
melahirkan bukunya yang terkenal berjudu Suicide.
Dalam menelit isu ini, Durkheim menganalisa bunuh diri dalam ragam kondisi, dan di berbagai negara. Misalnya, dia menemukan bahwa tingkat kejadian bunuh
diri lebih rendah di masyarakat yang berbasis agraris ketimbang di masyarakat yang bekerja di wilayah
indrustri. Teori ini terbukti pada penelitian lain. Menurut Durkheim, alasannya
adalah bahwa orang-orang dalam mengikuti berbagai aktivitas di komunitas tradisionalnya, dan diikat oleh moral yang telah
tertanam dari generasi ke generasi. Mereka memiliki harapan-harapan yang
realistis. Meski kehidupan mereka relatif tidak glamour, secara jangka panjang mereka mengambil manfaat dari
stabilitas, dan tiadanya anomi.
Sementara Marx meningkatkan akan fenomena alisensi, Durkheim memberi peringatan akan kemungkinan
anomi. Jika Marx dianggap pendiri teori konflik, Durkheim dianggap memberi
fondasi klasik bagi mahzab fungsionalisme sosiologi.27
Terkait dengan bunuh diri, juga terjadi di kalangan penganut Katolik, dan Protestan. Ditemukan bahwa tingkat bunuh diri pada orang yang menikah lebih rendah dari pada orang yang cerai, dan di kalangan Katolik lebih rendah tingkat bunuh diri dibanding kalangan Protestan. Dalam melihat tingkat bunuh diri di kalangan Katolik, dan Protestan tidak bisa diperjelaskan dengan motivasi individu dari penganut Katolik, dan Protestan. Pandangan Durkheim menekankan bahwa fakta sosial berupa integrasi group dalam masyarakat. Di kalangan Protestan tingkat integrasi sosialnya dalam kelompok menyebabkan tingkat rendah atau tingginnya angka bunuh diri. Orang yang bercerai, dan di kalangan Protestan lebih tinggi tingkat bunuh diri ketimbang orang yang menikah, dan di kalangan Katolik.
Max Weber (1864-1920)
Max
Weber lahir di Efrut, Thuringia,
dan keluarga pindah ke Berlin saat usiannya masih sangat muda. Weber belajar
beragam subjek, mencakup hukum, ekonomi, sejarah, agama, dan filsafat. Dia juga juga sempat menduduki
jabatan-jabatan akademik penting di sejumlah universitas di Jerman selama
karirnya, dan termasuk juga seorang tokoh terkenal di kalangan politisi pada
masanya. Hasil karya Weber di antaranya The
Protestan Ethic and Spirit of Capitalism (1904-1905), dan Wirtchaft
und Gesellschaft [Economy and Society]
(1922). Gagasan Weber tentang birokrasi modern (sebagai bentuk organisasi yang
penting rasional, secara teknis bersifat efisiensi), stratifikasi sosial
(kelas, status, dan kekuasaan), dan gagasan lahir dalam iklim sosial politik Jerman
saat itu. Gagasan tersebut dapat dipahami dalam konteks latar belakang
masyarakat Jerman yang mengalami transisi yang pesat, dan penuh dengan kontradiksi internal. Transisi
dari suatu masyarakat yang sangat bersifat agraris ke masyarakat yang bersifat
indrustri, dan perkotaan disertai
dengan rasionalisasi yang bertambah di bidang politik, dan ekonomi. Dari segi perpecahan struktur ekonomi, dan politik berupa struktur ekonomi
semakin dikuasai oleh sistem indrustri,
dan didominasi oleh nilai-nilai semifeodal yang tradisional, dan koservatisme birokrasi.28 Untuk
itu Sosiologi Weber secara mendalam dapat dimengerti dalam konteks tersebut.
Tidak seperti Durkheim, sosiologi didefinisikan oleh Weber sebagai sains yang berusaha mendapatkan pemahaman interpretatif mengenai tindakan sosial untuk mencapai penjelasan kasual mengenai arah, dan akibat-akibatnya. “Tindakan” merujuk pada prilaku manusia sepanjang aktor memberikan arti subjektif terhadap tindakannya.29 Tekanannya pada pemahaman subjektif (verstehen) sebagai metode dalam sosiologi untuk mendapatkan pemahaman yang valid mengenai arti-arti subjektif tindakan sosial. Tindakan sosial terjadi di antara dua orang atau lebih ketika salah seorang bertindak dengan mempertimbangkan tindakan dari orang lain. Individu memiliki motif, niat, orientasi, maksud, dan tujuan dari tindakannya.
Melalui verstehen (interpretative understanding) digunakan sebagai metode dalam sosiologi yang berusaha ke dalam aspek subjektif dari prilaku, arti, dan motif dari tindakan individu, manusia dianggap sebagai makhluk yang unik. Berada dengan atom, dan molekul, manusia berpikir, merasa, mengejar tujuannya, memiliki motif, dan maksud. Manusia bukan seperti benda langit, tumbuh-tumbuhan, atau binatang. Memahami manusia tidak cukup dengan mempelajari mempelajari fenomena seperti fakta sosial, struktur sosial, dan alam. Ilmu pengetahuan alam yang menekankan pada observasi manusia dari luar; bagaimana manusia bertindak, dan menjelaskan keteraturan tindakan dengan hukum kausal yang abstrak. Hal seperti ini tidak memperlihatkan dari keunikan manusia.
Untuk memahami tindakan manusia melalui verstehen dapat dilakukan dengan dua cara, pertama, meniru untuk memaham alasan, dan maksud tindakan aktor. Sebagai contoh, seorang mahasiswa berkerudung berjalan di kampusnya sambil membawa buku, kita mungkin menyimpulkan bahwa dia akan membaca buku tersebut, atau dia akan mengembalikan buku ke perpustakaan. Kedua, empati, yaitu memposisikan situasi pada posisi aktor sehingga mengerti sesuatu yang dilakukan aktor. Misalnya, sosiolog mempelajari siapa saja yang salat berjamaah di Masjid, orang yang sering salat berjamaah, motif, dan yang mendorong mereka. Dalam melakukan observasinya, sosiolog, sosiolog harus bergabung dengan mereka, berbicara, mengobservasi, dan mencoba merasakan pengalaman mereka salat berjamaah. Bagi Weber inilah metode verstehen dari sosiolog yang sintifik. Gagasan lain dari Weber bahwa sains sebagai netral (value free). Sains bersifat netral dalam hubungannya dengan menilai porsi-porsi moral yang bertentangan. Penilaian baik, dan buruk, benar, atau salah di luar sains. Misalnya seorang ateis dapat mengumpulkan informasi, dan data pertimbangan nilai dirinya. Metode verstehen, dan sains bebas nilai (value free) merupakan gagasan penting Weber bagi sains khususnya disiplin sosiologi.
Lebih jauh Weber mendedikasikan
sebagian kehidupan karirnya untuk menyerang gagasan-gagasan Marxist, namun
kedua pemikir ini tiba dengan beberapa kesimpulan yang terkait mengenai
kehidupan di bawah kapitalisme indrustri. Sementara Marx, menekankan alienasi,
Weber menekankan rasionalisasi.30
Rasionalitas Weber merupakan konsep dasar yang
digunakan dalam klasifikasinya mengenai tipe-tipe tindakan sosial. Antara tindakan
rasional,
dan yang non rasional
dibedakan dengan jelas. Disebutkan bahwa tindakan rasional
behubungan dengan pertimbangan yang sadar, dan pilihan bahwa
tindakan itu dinyatakan. Tujuan tindakan, dan alat yang dipergunakan untuk mencapainya
didasarkan pada pertimbangan,
dan pilihan yang sadar. Alat yang dipergunakan individu dipertimbangan atas
efisiensi,
dan efektifvitasnya ketika sebuah pilihan dibuat secara sadar.
Rasionalisasi
merupakan pemikiran Weber yang sangat berpengaruh, Weber percaya bahwa saat
tradisi hilang,
dan digantikan dengan rasionalitas, Eropa mengalami indrustiralisasi, dan mengadopsi ekonomi
kapitalistik. Gaya baru kehidupan ini sangatlah berbeda dengan apa yang telah
ada sebelumnya. Misalnya, dalam sebuah masyarakat tradisional seorang petani
yang sakit mungkin akan meminta pertolongan tetangga, namun dalam masyarakat
indrustri seorang pekerja yang sakit tidak memiliki siapa pun kecuali agen
birokrasi pemerintah. Weber berpendapat bahwa rasionalitas telah membuat efisiensi
yang lebih besar, namun dia
juga menyadari akan akibat sejenisnya. Kekuatan, dan kehangatan sebuah
keluarga besar tidak bisa tanggung jawab mutualismenya tidak bisa digantikan
begitu saja dengan birokrasi pemerintahan.31
Berbeda dengan masa sebelumnya,
pada abad ke-20, ada gejala semakin besarnya minat para intelektual untuk
mempelajari agama. Hal ini dapat dimengerti, karena semakin besarnya
kecendrungan masyarakat di dalam mempelajari masalah keagamaan sejalan dengan usaha para
penganut agama untuk memodifikasi,
dan menyesuaikan kepercayaan dan pranata-pranata keagamaan di tengah pesatnya
perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat modern. Hal ini agama
dengan pendekatan paradigma baru, yang berbeda dengan paradigma lama para seniornya. Sebuah anti
tesis. Tesis baru mereka adalah penolakan secara tegas, dan terus terang
terhadap pendapat bahwa agama sebagai faktor penghambat masyarakat. Menurut
mereka, agama justru sebagai faktor penghambat kemajuan masyarakat.
Pada
tahun 1920-an muncul lah
karya monumental Maz Weber yang berjudul The
Protestant Ethic and Spirit of Capitalism, sementara Emile Durkheim dengan
kajian asepek-aspek Sacred,
dan Profane dalam
masyarakat, kepercayaan,
dan simbol-simbol suci pada masyarakat primitif, dan pra indrustri. Pendek kata, agama
dilihat dari berbagai perspektif,
dan bersinggungan dengan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Namun
setelah tahun 1920 mengikuti kematian Max Weber, Sosiologi Agama kembali
mengalami mengalami kemunduran,
dan berlagsung sampai akhir tahun 1950. Namun masa 30 tahun tersebut tidak
berarti memberikan sumbangan apapun. Negara-negara, seperti Inggris, Amerika,
dan Perancis dengan susah payah berhasil mencapai kecanggihan teoritis yang
dapat menjadi kerangka acuan para ahli pada masa berikutnya.
Pada tahun 1960-an kembali para ahli Sosiologi Agama mempunyai minat yang besar terhadap gejala keagamaan. Hal ini terlihat minat yang besar terhadap gejala keagamaan. Hal ini terlihat dari karya-karya ahli, seperti Peter Berger, Thomas Lucmann, Guy Swanson, dan Robert N Bellah. Pendekatan, dan metode yang mereka lakukan sama, dan luasnya cakupan kajian sesuai dengan dinamika perkembangan zaman. Pada masa-masa puluhan tahun terakhir banyak bermunculan kajian-kajian keagaman yang dilakukan oleh para ahli Sosiologi Agama, khususnya dari negara Eropa, Amerika, dan Australia. Sebutlah nama-nama seperti Ronald Robertson, dan Bryan S. Turner, dan lain-lain. Tema-tema kajian mereka sangat beragam, mulai dari hal yang berbau gender, pranata keagamaan, minoritas-mayoritas, diskriminasi agama sampai pada persoalan hubungan etnis, dan agama. Namun secara kuantitatif volume karya-karya mereka berjumlah terlalu menggembirakan.
Karl Marx (1818-1883)
Seorang
ahli filsafat sejarah Jerman, Karl Marx, telah menerima gelar doktor dari
Universitas Jena. Das Kapital adalah
karyanya yang paling penting, namun buku ini lebih dijulukan kepada para
pembaca dari kalangan
sarjana. Sebaliknya, Communist Marnifesto
ditulis untuk konsumsi pubik,
dan seruannya untuk melakukan revolusi. Pengaruh Marx dalam dunia pemikiran
kontemporer begitu dramatis. Tulisan-tulisannya menginspirasi revolusi
komunisme di Rusia, Cina, Kuba, Vietnam, dan yang lainnya.
Dalam pandangannya mengenai konsepsi materialisme sejarah bahwa bukan ide, atau nilai manusia
yang memegang sumber utama perubahan sosial tetapi didorong terutama oleh
pengaruh ekonomi. Konflik kelas antara proletar (pekerja upahan), dan
borjuis (pemilik modal) memberikan motivasi perkembangan sejarah.
Marx
yakin bahwa sarjana ilmu sosial mesti bekerja demi masyarakat yang lebih baik,
dan tujuan pribadinya adalah untuk membebaskan para pekerja dari kemiskinan, dan kekerasan yang
diakibatkan oleh indrustrialiasi. Dia menimbang revolusi sebagai satu-satunya
cara untuk melakukan pembebasan, Marx hidup selama abad ke-19, yaitu saat
kapitalisme merajai wilayah Eropa,
dan Amerika. Kapitalisme adalah sebuah topik yang kompleks. Namun pendek kata, dia mengizinkan
tiap-tiap pribadi untuk memiliki tanaman-tanaman produksi, usaha-usaha
perdagangan, dan aspek-aspek perdagangan lainnya. Para pemilik itu menyewa para
pekerja,
dan saling bersaing dalam pasar bebas untuk memperoleh keuntungan sebesar
mungkin. Dalam terminologi sarjana beraliran Marxist, tanaman produksi, pabrik,
baja, dan serupanya disebut sebagai alat-alat produksi (means of production), dan mereka yang menjadi pemiliknya disebut
dengan kaum borjuis (bourgeoisie).
Para pekerja yang menjual tenaganya untuk kaum borjuis itu disebut dengan kaum
proletar. Konflik itu tidak bisa dihindari, dan akhirnya
kehancuran masyarakat tidak bisa dipungkiri.32
Antagonisme antara kaum borjuis, dan proletar disebut
sebagai konflik kelas. Dalam masyarakat kapitalisme, kaum borjuis merupakan
kelas elite
yang menguasai alat produksi,
dan memiliki kekayaan serta mengeksploitasi para pekerja, sedangkan kaum
proletar terdiri dari buruh, para pekerja pabrik, dan orang yang banyak
dari jumlah borjuis. Atas ini Marx berpandangan bahwa masyarakat berada dalam konflik, dan perjuangan kelas.
Menurut Marx, kapitalisme di dalamnya
memiliki penyebab-penyebab kerusakannya Skenario hari kiamat ini adalah sebagai
berikut. Berusaha memperoleh keuntungan sebesar mungkin, kaum borjuis memberi
upah yang sangat rendah sehingga kaum proletar hampir mungkin tidak bertahan
hidup. Marx memberi prediksi bahwa kehidupan para pekerja yang sengsara itu
akan memberi penyadaran bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari kesengsaraan
adalah dengan bersatu,
dan melakukan revolusi. Saat memegang kendali, kaum proletar akan membentuk
sebuah pemerintah baru,
dan membebaskan
properti dari kepemilikan individu. Negara selanjutnya mengambil alih alat-alat
produksi atas nama rakyat,
dan masyarakat kemudian hanya akan memilih kelas sosial tunggal yang terdiri
dari kelas proletar, dan
eks-borjuis. Hasilnya, kelas sosial tunggal atau masyarakat tanpa kelas akan
terwujud.33
Marx juga percaya bahwa sifat dasar pekerja indrustri juga memberi kontribusi bagi kejatuhan kapitalisme. Dia mengklaim bahwa bekerja adalah sebuah aktivitas unik yang membuat manusia berbeda dengan hewan. Sementara beberapa spesies hewan membuat produk, saat burung-burung membangun sarangnya, Marx berpendapat bahwa hanya manusia saja yang bisa memberi imajinasi, dan kreativitas atas pekerjaan mereka, dan karena itu membuat pekerjaan mereka menjadi bermakna. Marx yakin bahwa tragedi kapitalisme terjadi dengan cara bahwa suatu sistem mentransformasikan kerja dari sesuatu yang bermakna menjadi tidak bermakna. Karena sistem tersebut dikendalikan oleh keuntungan semata, para pekerja berubah menjadi hanya sekadar mesin berbentuk manusia. Menurutnya, kualitas-kualitas esensial dari pekerjaan manusia ini - monoton, terus berulang tiap hari, kurangnya makna, dan tidak punya kuasa sebuah situasi di mana orang-orang yang kehilangan kontrol atas hidup mereka sendiri, dan terimajinasi dari dunia sosial mereka, dan merasakan bahwa kehidupan ini tidak bermakna.34
Pempaparan di atas jelas, mulai dari
bagaimana itu sosiologi itu sendiri. Kemudian para sosiolog melakukan obserfasi, dan eksperimen
mengenai kelayakan hidup layak banyak orang. Tidak hanya itu, dalam buku yang
pembaca sedang baca ini ialah, suatu bentuk gambaran mengenai, faktor
berbudaya, berkomunikasi, kelayakan khalayak menghadapi ragam bentuk bahagia
lewat kemajuan negri dengan segenap kemampuan. Tidak hanya upaya kaum borjuis
bisa berbahagia. Namun dengan simbolis yang dimiliki kendaraan tua ini akan
membuat gambaran yang ideal. Bahwa memang tidak semuanya, dan pemilihan
kebahagiaan itu lewat gambaran apa yang dimilikinya. Namun buku ini siap
menciptakan peluang bahagia, dan berbudaya saling tegur sapa dimanpun itu
berada. Buku ini tidak seperti kemungkinan “Legalisasi Ganja”.
Yang isinya rangkaian kemungkinan, yang amat tidak mungkin di Nusantara. Jika terlebih
negeri ini, negeri beragam
status sosial
yang banyak menjelaskan segala bentuk larangan mengenai aspek negatif yang
dihasilkan dari “Ganja”
bisa saja memicu kejahatan. Namun berbeda jelas
dengan tulisan ini. Serasa sulit, jika para khalayak memang dominan berpikir,
celotehan
buku ini mengajuk pada fase classical
life.
Namun pandangannya hanya ini saja. Negeri ini kian maju, seiring kemajuan zaman. Banyak fondasi tengah di genjarkan kini. Dan banyak sudah lulusan yang sudah terlahir dari bumi pertiwi. Dan dilain zaman nantinya, dengan sekarang kita bergerak. Selamatkan alam, selamatkan budaya, tanpa harus terus menerus menghabiskan sumber daya. Berbahaya jika, nanti kita tidak bisa merasakan sumberdaya, nanti kelayakan hidup makhluk hidup mati, dan punah karena rakusnya sistem kapitalis uang. Agar generasi kita nanti bisa merasakan mode transportasi yang layak karena negara kian tersusun indah sudah, lapangan kerja layak, dan orang-orang kian tidak lagi canggung untuk sekian melemparkan kata-kata, tidak dimanja, dan parno akan ponsel genggamnya. Dan utamanya stop kelahiran kendaraan di negeri ini. Oleh karena itu, idealis memang saya menuliskan Vespa, yang di mana orang yang berkepemilikan Vespa ialah harta terpendam negeri ini. Karena dengan Vespa, kelahirannya sudah jelas. Bentuk modernnya ilah mereka dengan kebiar biar biarannya bisa membeli suatu bentuk mode transportasi yang mereka mampu beli. Namun tetapkan balik kembali. Bahwa lebih baik jalan kaki, lebih baik bersepedah. Stop kelahiran. Save Sejarah. Ramahlah, karena ini budaya kita. Tidak terus menerus kita membutuhkan, dan saling simbiosis dengan budaya luar. Buat mereka haus balik dengan pola gambaran INDONESIA maju, INDONESIA jangan primitif dengan moderenisasi, INDONESIA dikit lagi saya yakin siap menjadi Atlantis yang diceritakan dahulu kala, sebelum kehancuran tombol riset terulang kembali, merugikan kami para pekerja.

