BAB 1

Februari 01, 2020


Sasaran-sasaran remeh usaha-usaha harta benda, sukses lahiriah, kemewahan senantiasa tampak asing bagi saya. Tahap awal tiap bait yang kutumpahkan dalam tulisan, saya berbahagia dengan cara saya sendiri. Memanusiakan manusia dengan cara, dan metode yang terjalin sama dengan nilai-nilai yang sudah terkonseptualisasi alami dalam diri. Saya mutlak yakin, pilihan kehidupan jalan lurus itu membuat kalian selamat, dan bahagia. Tetapi berbeda dengan saya,  jalur yang disediakan tersusun rapi nampaknya. Tetapi, saya banyak mencoba hal ini itu, membelokan nakhoda ke kanan, dan kiri, serta banyak menimbang sehingga Saya pun belajar. “semua sama, mana yang beda?” keadilan?

Setengah tahun berlalu sudah. Lulus dari bangku sekolah menengah kejuruan di wilayah Selatan Ibukota. Semasa di bangku sekolah nikmat duniawiah ialah, melihat orang yang sudah lulus bisa berperang peran mendapatkan kebahagiaan yang mereka ingin raih. Mulai dari hasil pencapaian bekerja, atau pun niaga. Hingga setengah tahun pula ini, dilalui saya sudah. Saya berada tepat bergabung sosial, ditempat mencari kebahagiaan yang saya pikirkan sebelumnya. Mungkin ini adalah waktu yang memang dirancang Tuhan harus di hadapi. Mungkin jika tidak dihadapi sesuatu itu tidak akan menjadi sesuatu jika sesuatu itu tidak ada.  Hingga memulai cerita, ketika saya bekerja di sebuah butik fashion dengan brand ternama disalah satu Mall di Ibukota.                                                              

Terasa cukup nyaman memang, di mana lulus bersekolah bekerja, ialah salah satu kegiatan mulia dibanding harus diam menunggu rezeki datang tiba-tiba. Dari kegiatan ini pun, tiap akhir bulan sudah terkumpulah opsi, ingin memiliki ini, dan itu. Hingga sampai pencapaian sedikit, demi sedikit mimpi itu harus terbayarkan lunas semestinya, dan seharusnya. Rasanya tidak ada pilihan lain yang ingin didapatkan selain kerja, dan usaha. Sampai timbulah sadar, ketika segala sesuatunya proses saya ingin membeli, dan beri. Tetapi awal dari itu tetap saja, pikiran terdepan ialah kepuasan memang bukan unsur saya sebagai manusiawi. Jika terlebih kita lupa akan rasa syukur. Rasa syukur itu sepertinya amat penting perannya. Karena ketika percaya sang pencipta menghadirkan semuanya dalam kehidupan ini, sepantasnya kita berterimakasih atas rezeki, dan limpahan rahmatnya.

Merasa nyaman di dalam masa dunia kerja saat ini, dan pencapaian serasa sudah tercicipi. Timbul kembali masa di mana pencarian jati diri terbentuk di masa bangku sekolah. Lintas imajinasi, saat bersekolah itu sangat nyaman bisa bermain, berteman, fokus kehidupan pun berupa dengan mencapai ilmu apa yang menyebabkan kita harus lulus, dan tidak mengecewakan sosial sekitar terutama keluarga. Timbulah gangguan perasaan, yah ampun saya mau sekolah lagi saja Tuhan mohon, lelah…..!!!

Hingga tertamparlah sudah dengan waktu, saya ternyata sudah berada di masa indrustri, mana terpikir kalau sekolah, dan belajar lagi itu penting. Terpenting ialah pulang membawa uang, membeli kebutuhan pangan, kalau libur ya banyak mengerjakan kegiatan bermanfaat yang gemar saya telan, seperti menulis, menyendiri, dan berkhayal memikirkan sifat orang sekitar tanpa membatasi diri ini sendiri. Paling terburuk ialah menikmati kegembiraan orang lain, dan menderita bersama mereka seperti pedoman terbaik untuk merasa hidup ini harus berakhir bahagia. Tanpa kenal istirahat, meskipun itu saat libur berkerja tak terasa istirahatnya. Enam bulan pun berlalu sudah, bekerja untuk salah satu butik. Terlintas butuh tidaknya saya memiliki kendaraan yang mampu dibeli dari hasil jerih payah, serta usaha. Yah, bagaimana tidak, keterbatasan keluarga, serta saya saja baru mampu menjinakan roda dua sepedah saja  pada saat kelas XI. Jadi keinginan memiliki kedaraan itu pun rasanya amat sangat jauh di pikiran. Karena saya belum mahir menjalankan kendaraan roda dua, Pertama. Kedua, kepentingan menolong keluarga hal paling utama dipikir saya takan tergantikan hal-hal itu sebagai tembok untuk di ratapi.

Semasa kecil saya anak yang pemalu, dan takut akan mencoba suatu hal. Jikalau suatu benda, barang tersebut terlebih bukan kepemilikan saya sendiri. Dari sifat itulah, mana mungkin saya mencoba meminjam milik orang lain, dan puas mengunakan barang tersebut untuk menjadi mahir. Meski sadar ingin/bisa memiliki barang tersebut, rasanya tak ada daya untuk membelinya. Saya merasa amat payah pada masa itu. Hingga kini rasanya, arti diri ini sudah banyak yang salah. Takut, malu terus terusan saya telan. Oleh karena itu, saya dengan keterbatasan sifat yang amat emosional, dan utama sosial keluarga, menjadikan saya tidak memiliki sepedah roda dua semasa kanak-kanak, bahkan tidak mampu mengendarainya. Hingga baru timbul lah keinginan, rasanya mengendarai kendaraan sendiri pada masa kini, sepertinya enak. Nyaman, kalau ingin berpergian tidak repot berjalan kaki, dan naik angkutan umum. Berbeda jikalau memandang teman sebaya, mereka sepertinya bahagia, dan sudah lebih dahulu merasakan enak tidaknya berkendaraan pribadi. Hingga tampak tergambar menyenangkan yah, bisa berpergian kemanapun tinggal tancap gas. Tetapi, dari sini saya belajar meski pada saat ini saya bekerja. Saya rasa memang belum sangat perlu memiliki kendaraan, terlebih jarak tempuh hanya 300 meter dari rumah, bisa ditempuh jalan kaki. Jalur tempuh yang melewati tatanan kota berpenduduk rapat Selatan ibukota, dan melewati bibir kali yang airnya keruh, berbau tidak sedap. Saya masih percaya diri tiba di tujuan. Wadah di mana manusia membuang penghasilannya demi kepentingan pribadi, baik primer maupun sekunder. Jadi buat apalah memiliki kendaraan ?.          

Pandangan terkadang memang amat mengganggu, musuh diri kita sebenarnya bukan sekitar melihat kita ini siapa, sampai mana, sudah, dan jadi apa, tetapi musuh kita adalah pikiran itu sendiri. Sampai lah, hasutan-hasutan dari pandangan keinginan hasrat memiliki kendaraan sendiri. Mungkin, pada saat ini yang mampu akan terbeli yah rupa kendaraan bermotor roda dua. Permasalahannya, mengumpulkan sedemikian banyaknya untuk membeli cash, atau toh sekitar banyak yang rela tampil mampu sampai keren mencicil bayaran untuk membeli barang yang diinginkannya. Hmmm... dalam hati ‘untuk apa bahagia dirasa memaksa’. Namun meski begitu, terlebih Ayah, dan Ibu mendorong saya pula untuk mencoba, memiliki barang lewat hasil jerih payah sendiri. Atau mungkin kedua orang tuapun, rasanya sudah terganggu dengan lingkungan sekitar, bahwa anaknya tak berdaya rasanya. Atau mungkin pula, ini awal belajar saya, bahwa pikirkan kembali masa yang akan datang bukan masa saat ini.

Selama bekerja di perusahaan retail, sering sekali godaan datang menyerang hasrat. Saat setiap mata ini terbuka, terlihat pemuda, pemudi, manis serta yang tampan mirip artis, ya! artis sosial media yang sering mengudara jika kita aktif mengaplikasikan smartphone, kita paham betul apa gambaran media-media sosial tersebut. Mereka semua ini yang saya perhatikan, kisaran umurnya setara dengan saya saat ini, dan tidak jarang dipungkiri juga saya melihat mereka megalami kecocokan yang menjalani bahtera cinta buta selagi monyet. Berpergian ke Mall untuk membeli sesuatu yang dibutuhkannya, dalam wadah mencari nafkah saya ini. Atau ? mereka sekadar memindahkan wahana bermain terbaik bagi dirinya. Terus saya baper (bawa perasaan) aduuuuuuh... sedangkan saya, yang seumuran dengan kalian juga bermain terus memang di Mall. Hadir terus bahkan, mau hujan, panas, ada event menarik di Mall. Saya selalu ada untuk bermain, bermain sabun tetapi... Sabun sana, sini agar barang yang saya jual ini laku, omzet naik memajukan perekonomian. Yah, ekonomi perusahaan itu maju memang. Kita mah hanya berputar-putar tenaga dengan bayaran upah minim demi kelangsungan hidup, dan gaya. Meski begitu dengan tambahan iming-iming daya juang di janjikan bonus melimpah jika tembus target dari penjualan tiap bulannya, hah...... menurut saya tetap saja harus meningkatkan lebih performa maksimal untuk mendapatkan hal tersebut, kerja maksimal, totalitas tanpa batas, muka tembok, mulut berapi-api, dan kurang perhatian dengan stamina. Jika itu semua kurang di mata mereka ‘penguasa’, akan ada ancaman pemecatan jika semua plan ini tidak berjalan mulus.

Jadi, “Kalau Anda ingin mengalami kehidupan yang bahagia, ikatlah kehidupan itu kepada suatu sasaran, bukan kepada orang, atau benda.”1

 Selama enam bulan ini. Banyak yang didapat, dan terlewat menurut saya. Mulai dari memiliki teman baru dalam pekerjaan, pengalaman baru, dengan sudut pandang beragam, hingga  membangun  nilai-nilai  apa, sampai kalian juga mengapa tercebur dalam wadah yang sama untuk mencari apa ?. Bicara umur, pada saat ini saya lah yang paling muda, saya juga mungkin yang baru memulai tahu, kalau kerja itu fix lelah, tidur mulu saja mudah lelah. Nah, kalau corat-coret status dalam media sosial mungkin bisa mem-posting kurang piknik.

Definisi piknik itu sendiri, berjalan yang direncanakan, dan ada tujuan, yah meski tiba di tujuan lupa akan partikel-partikel yang membuatnya sampai di tujuan. Saya juga berjalan yah samalah namanya jalan yah lelah. Yang terjadi nyata ialah, bangun pagi - pagi mengais rezeki, awas – awas kerja jangan malas, nanti bisa – bisa kena pecat. ‘The End – Kelas Pekerja’. Yang terpikir terlewati dari ini semua rasanya mencari kebahagiaan bukan ?

Baiklah, kembali dalam posisi kelas pekerja. Bekerja seperti ini pulalah, ternyata banyak menghadirkan proses sosialisasi, mulai dari cara membujuk rayu pembeli, dan kerja sama tim, harmonisasi dalam bekerja. Dalam bekerja seperti yang saya tekuni ini, dinilai lebih sedikit ke efisiensinya, mengapa.? Karena tidak punya banyak waktu untuk membicarakan suatu hal yang interns semisal, saat kerja semua tim berfokus tahap apa yang harus dilakukan, agar barang laku terjual, toko sebisa mungkin rapi, dan menarik perhatian pengujung agar masuk, dan membeli barang yang diperjual belikan. Saya pun hanya miliki waktu 40 menit, itupun saat jam istirahat, dan itu juga terpotong waktu berjalan ke tujuan, membeli makan, kemudian negoisasi membeli makan apa. Terkadang, sesekali ibu kantin lagi goreng dahulu lauknya, terus makan, terus tidak jadi mengobrol, yah ampun kemudian bete (badmood), lawan bicarapun mulai sibuk ngabarin istrinya di handphone, atau tidak dirinya, update duh..., Cuma makan kangkung  nich... jenuh… jenuh… jenuh…

Nah, kemungkinan hal yang paling tepat, untuk quality time sosialisasi ialah saat pulang bekerja. Duduk-duduk sambil pesan koling (kopi sepedah keliling) tepat di bawah pohon rindang depan parkiran, itu juga tidak lama sekadar istirahat lepas penat dari aktifitas harian. Hingga timbul ragam, rasa keingintahuan, dan masukan mulai bermunculan dalam pikiran, dan pandangan. Mengenai, teman satu profesi juga, namun bisa tetap menjalankan pekerjaan ini, menghasilkan sesuatu dari pencapaiannya, dalam kerjanya. Dan fokus pembicaraan tentunya masih seputar kebahagiaan memiliki kendaraan. Selebihnya yang mereka hadapi, pastinya beragam, sesuai masalah sosial yang mereka hadapi. Bagaimanapun juga masih seputar objektif, subjektif masing-masing orang.

Menurut mereka, meski seperti percuma memang, kalau bekerja di butik seperti ini hanya mengandalkan lebih ke otot, waktu banyak terbuang untuk keluarga, sedikit waktu luang hanya untuk beristirahat pastinya. Tetapi menurutnya memang sudah rasanya, dan menjadi hukum pasti bahwa manusia remaja menuju dewasa butuh mencari kesibukan disamping mencari kebutuhan dasar Physiological Need, bahwa, kebutuhan dasar manusia tetap harus makan, kemudian butuh halnya sosialisasi, dalam berkerja di perkotaan seperti ini. Kebutuhan primer amat sangat dipelukan di negara ini karena bisa saja sewaktu-waktu tempat bekerjanya dipindahkan ?, dengan memiliki kendaraan pribadi contohnya, khalayak dapat mempermudah beraktifitas diri secara pribadi, dan pastinya lebih hemat estimasi waktu ‘pada masa nya’. Oleh karena itu, bekerja menjadi hukum pasti, meski mereka harus rela menabung, berkorban waktu, melatih kesabaran, dan menyisihkan hasil. Demi membeli sesuatu yang diinginkan. Hanya itu kah hasil jerih payah nya ? dibalik kebutuhan pasti pemenuh kebutuhan harian.                       

Tetapi menurut pandangan saya pada saat ini, serta umur kini, yah terbilang dalam ambang labil. Dari sekesekian orang dengan kelas sosial tertentu, tentu saja dengan sudut pandang yang hampir bersamaan. Jika semua orang berpikiran, dan melihat sudut pandang yang sama, orang lebih mementingkan kebutuhan tersebut harus sama. Ketimbang harus bisa memanfaatkan hasil tersebut untuk suatu hal yang lain, dan rela memparuh jerih payahnya untuk membayar tagihan yang menurut saya kurang perlu. Adakah bertaruh berani dengan mementingkan kesehatan dengan mengaplikasikan suatu hal yang lain? dengan potensi yang tujuannya sama, yakni sampai tepat waktunya.   Jauh pikiran ini yang mungkin tergambar, inilah ibu kota. Ini baru sekecil cerita nakalJakarta Undercover” . Tetapi dari sini, saya menimbang pola pikir, memang sih kendaraan amatlah perlu selagi hidup di perkotaan seperti ini. Namun, manusia kian individualisme. Tiada lagi manusia sesama manusia saling tegur, sapa, ataupun melempar senyumnya. Mereka saling berlomba untuk terlihat berbahagia, dan  tidak saling memecahkan permasalahan ego bersama. Dibalik negara ini juga akan dibawa ke mana, dan memang fasilitas apa yang sudah mumpuni, untuk orang itu ikut ambil alih berangkutan umum, bersepedah, menggambil langkah dengan berkendaraan bebas polusi. Sampai lucunya sekarang orang berjalan kaki pun ikut merasakan macet dijalan, aneh memang.

Yang berjalan melihat segala sesuatunya jelas. Yang dalam bilik kaca kendaraan bermotor, melihat jelas. Namun, hatinya, tertutup sudah. Banyak bergerundil bahasan, bahwa dirinya yang paling baik. Banyak berpikir hal apa yang kurang dalam dirinya. Semua masih amat minim berpikir. Kita hanya ingin berbahagia. Bahagia bagaimana ?. Pasalnya kita ini makhluk sosial. Makhluk yang diciptakan beragam. Beda kepala, beda pikiran. Namun, yah inilah yang mungkin bisa diluangkan sejenak dalam benak pikir. Segala sesuatunya Tuhan berencana, takakan pernah tertukar, yakinlah.

Bayangkan, jika kita terus mengedepankan gengsi. Alam kian tercemar, proses hidup manusia selanjutnya merasa bahwa bumi kini, bagai bulan, dan seisinya ialah alien tampak aneh. Keajaiban, dan karunia menjadi momok menakutkan, bukan lagi menggambarkan keindahan. Dalam kitab Alquran memang kini bumi kian ingin menampakan akhir zaman. Dan jauh dari pola pikir tersebut. Islam pun menimbang mengapa ada si miskin, dan si kaya. Agar mereka saling bersukur, dan beramal ikhlas satu sama lain. Dan mungkin harapan kedepannya hidup ini, di negeri ini khususnya, akan membaik kian urung waktu. Kalau dalam kutipan lirik lagu The Upstairs, band asal Ibukota. “Apakah aku berada di mars, atau mereka mengundang orang Mars”. Kalian memang ingin bumi ini bagai Mars ? seisinya sudah banyak orang aneh yang acuh begitu saja. Maju terima nasib, mundur jadi tradisionalism tidak mau. Sebelum kita sampai pada hari itu. Yakinlah semua nya ini perjalanan. Bagaimana kita paham memilih jalan. Karena, dengan berjalan tersebutlah kita mengerti, kita paham, dan pendewasaan terbentuk dari apa yang terbetur sedemikian rupa. Karena benturan tersebutlah yang menjadikannya, catatan terbaik dilembaran esok hari.

Jadi, persoalan mengenai kehancuran hari akhir ialah, kehancuran yang kita ciptakan pula pada hari ini. Lantas, jika kita semua lahir dari seorang Ayah, Ibu yang bersenang-senang, mengapa ? disaat kita bersenang dihari ini malah merusak demi generasi selanjutnya usai kita pergi benar-benar pergi. Kian berat kita mengantarkan generasi setelah kita untuk bertahan hidup. Makin menemukan hal-hal yang mendekatinya dengan kepunahan zaman, di mana fantasi kedepan dengan segala kemungkinannya “mungkin” semua ini belum berkaca dari apa yang ada pada kitab. Bahwasanya kita hanya takut pada neraka, dan hanya inginkan kesenangan berbau surga. Kapan pun, di mana pun Tuhan mengarahkan kita dengan amat baik, dengan skema film yang baik. Namun, terkadang kitalah yang menjadikannya sulit. Saya yakin setiap kali bertemu orang baru, dan orang-orang yang terus mewarnai hidup ini ialah utusan Tuhan. Karena ditiap wajah yang kita temui, disitulah wajah Tuhan.

Namun, kembali saran, masukan juga datang. Saat sedang kumpul-kumpul sambil minum-minum dipinggir jalan bersama teman sekolah, sewaktu libur dari kegiatan aktivitas biasa, yakni bekerja. Banyak cerita sampai di mana perjalanan mereka setelah mungkin kehidupan dahulu banyak waktu ditumpahkan di sekolah, hingga kini berpencar, dan memainkan peran, bahwa secara ilmiah struktur sosial, interaksi sosial, dan faktor penyebab perubahan di dalam struktur, dan interaksi dirasakan setelah lulus dari bangku sekolah.               

Semasa sekolah, manusia seperti saya, yang hidup banyak berpandang di ibukota ini, terlalu amat banyak melihat sudut pandang ragam manusia yang amat banyak berbeda, tetapi dominan masyarakat hedonisme, banyak bermain, dan belum merucut pada Social Need. Oleh karena itu, saya menuliskan seberapa penting, dan apa yang membuat kita harus paham betul ilmu sosiologi berbeda dengan ilmu lainnya. Yakni terletak pada sudut pandang ditambah budaya, dan simbol apa yang terbentuk dari pembelajaran unik yang saya padu padankan. Yang menurut saya belajar ini itu bersamaan dengan mengembangkan hobi saya sekarang, mengajarkan saya, untuk tidak sombong, tersenyum, menyapa, kalo mogok ya mikir, jangan manja!. Apa lagi nyusahin temen terus!, maklum hobi ini, berupa pandangan kebahagiaan, objektif saya. Ada yang lain ? pasti kalian akan menjawab “Ada”. Tetapi kemungkinan saya tidak sepemahaman.

Kunci utama perjalanan ialah bersyukur, contoh tulisan ini tidak luput hadir dari rasa syukur, dan tak luput dari diri saya saja. Melainkan sudut pandang dari kesekian orang yang dirasa, kemudian tertuliskan oleh saya. Kalian bisa mencobanya, mungkin juga pernah merasakannya, suatu imajinasi hayalan ketika lawan bicara kita itu ialah wujud kita sendiri yang ada dalam posisinya yang lebih baik dari kita. Sebuah pandangan yang kita amati, berujung dengan jawaban menipu. Saat ini yang dirasa saya yang sudah pantas berumur, kemudian lulus dari bangku sekolah dibatasi oleh kelas sosial keluarga yang menjadikannya saya bersemangat dengan hari esok, dihadapkan dengan seorang yang memilih untuk menganggur ?, entah apa yang dipikirnya, mungkin dia punya kontrakan 100 pintu ?, Orang tua yang juragan, anak bungsu, atau mungkin kurang berusaha keras?. Atau mungkin pula dia sangat nyaman di posisinya, mungkin dia bahagia dengan ragam hujatan yang terus keluar dari mulut-mulut buas sekitar ? Anehnya orang tersebut justru lebih bahagia rasanya dari pada yang kita bayangkan untuk menjawab semua pertanyaan dirinya mengenai kita sekarang berposisikan sebagai apa. Rasanya lebih baik beraktivitas tidak banyak ingin bertemu mereka, atau menyendiri dalam kamar. Rasanya seberapa banyak rezeki ini bukan untuk membuktikan, dan mengalahkan mereka. Syukuri, jalani, dan perbaiki.  

Padahal nih yah, untuk menghindari busuknya pujian, ya itu ‘bekerja’ terus sampai peluang itu dekat dengan kita berniagalah. Dipuji mulu, kapan memuji untuk sang pencipta.           

Menurut, Tim Curry, ada tiga elemen sosiologi. “Elemen pertama dari sosiologi adalah sains. Sains itu berupa rangkaian, dari mana kita terbentuk, kelas sosial mana hingga sampai, Elemen kedua ialah sudut pandang sosiologi. Masyarakat umumnya, dan khusus membahas masyarakat perkotaan, memiliki struktur, dan terstruktur yang berisi komponen lingkungan sosial kita, seperti keluarga, agama, dan negara. Elemen ketiganya ialah interaksi sosial. Para individu terlalu amat banyak terlibat dengan sejumlah besar orang, dengan berinteraksi secara reguler. Meski terstruktur, ketidakstabilan, dan kesinambungan merupakan eksistensi sosial manusia.”2                              

Eksistensi pada masa sekolah semisal, ialah bisa bermain sana sini, dan cukup memiliki niatan puas, yakni harus lulus membanggakan demi membayar lunas segala jerih payah orang tua semasa sekolah. Sedikit patah, meski jika kita tergiur rumput tetangga. Sepertinya menyenangkan, karena melihat kelas sosial teman lain nampaknya nyaman. Ada yang sudah kuliah, diberi fasilitas mumpuni oleh keluarganya. Sedangkan saya, baru memulai mimpi ingin memiliki wujud rupa kendaraan, itu saja sudah. Disamping itu saya payah kalau saya juga harus ikut meramaikan jalanan ibukota dengan kendaraan baru yang saya mampu dibeli dengan cicilan. Terlebih payah lagi, belum mahir mengemudi, mengalahkan memiliki kendaraan sendiri, itu amat sangat parah. Kata yang terlontar itu datang dari teman, yang sangat  membuat sedikit menggeser ego, dan berkata, mereka letih ketika harus rela jemput saya kalau ingin diajak kumpul, atau sekadar nebeng minta antar pulang ke rumah karena pulang larut malam, meski candaan, menurut saya itu permukaan penyemangat.       

Biarlah pikiran itu beradu, seperti kopi, dan susunya, putih akan tetap hilang dari kata gelap pekat atau keruh menjadi cokelat. Masih kembali terpikir perlu tidaknya memiliki kendaraan. Paham mengenai sesuatu berkendara. Kebanggaan, puas ketika siapapun dimanjakan akan berhala kendaraan. Namun, selintas kemampuan, motivasi, ternyata saya butuh kendaraan. Terbesit benak tidak muluk-muluk, saya hanya ingin Vespa tua. Aneh bagi sebagian orang yang menilai bentuk kendaraan ini di zaman yang sudah makin maju. Tetapi inilah awal mula saya memulai cerita bahagia dibalik duka bahagia tersimpan berlimpah ruah. Buku yang kalian baca saat ini adalah mimpi kesekian orang yang sudah mempikirkan jauh, ternyata sebagian orang banyak yang egoisme yah, hampir semua sama termasuk saya. Dan saya menuliskanya point dalam Bab “Ingin Melihat Bintang”.

Kini kaum modernis, dan kemajuan era global ialah menumpukan bintangnya di jalanan, merubah pola pikir bukan pada tempatnya. Dan banyak orang juga bertopeng hingga berjubah tidak semestinya. Kini tumpukan bintang banyak dijalanan, bintang yang merusak awan sehingga bintang sebenarnya dilangit tidak tampak indah lagi kita temukan dengan mata telanjang.

Sedikit melintas pola pikir terdahulu, mengapa kendaraan bermesin khususnya roda dua yakni Vespa itu tercipta. Hingga melahirkan budaya kaum buruh yang mengenalkan Vespa, sampai proses personal branding tersebut hadir membanjiri negeri kita ini. Serta membudaya, dan hingga berpotensi aset dimasa kelak. Sejarah berupa goresan yang akan terlintas kembali, terbaca dikemudian hari, dan kitapun akan mampu menciptakannya. Ketika kita mampu membanggakan suatu produk yang kita miliki sendiri, di negara kita yang tercinta ini. Hingga mendunia kah hal tersebut ? semua ada dari cara, dan usaha membahagiakannya serta berbangga memilikinya.

Sejarah

Mengapa Vespa, disalah satu sisi saya enggan lelah, dan berpayah-payah membayar cicilan jika kebahagia prosesnya seperti itu. Saya mau mencoba hal awal itu bahagia, dan seterusnya menyenangkan. Vespa merupakan kendaraan klasik yang masih digemari, dan terhampar banyak masih di jalan Nusantara sampai sekarang. Sampai masuk imajinasi, semasa kecil. Ialah jika saja melintas sebuah Vespa, saya hormat bak sedang upacara hari Senin pagi di Sekolah, dan melemparkan sedikit senyum, serta tertawa terbahak-bahak melihatnya, karena mendapat balasan tanggapan ramah pengendaranya. Hingga kini pun budaya itu masih berlangsung. Entah darimana terciptanya. Vespa bukanlah sebutan untuk kendaraan ini. Vespa merupakan sebuah brand dari sepeda motor skuter yang berasal dari negeri Italia. Piaggio merupakan nama dari perusahaan induk dari merk Vespa. Pada masa awal kemunculannya Vespa memiliki saingan berat dalam pasar skuter, yaitu brand bernama Lambretta.            

Namun sekarang ini, otomatis Vespa lebih dikenal karena masih mengeluarkan produk baru, dan sudah menjadi personal branding. Yakni terkenal kendaraan yang awet, dan kuat, meski harus kuat juga mengendarainya. Rasanya kalau yang mengendarainya lemah, jangan harap bermimpi ingin Vespa di zaman era modern kini, apalagi untuk gaya saja. Gaya harus sebanding dengan uang yang kalian keluarkan, sedangkan kekuatan, dan kebahagiaan dalam berpikir pantas belajar dari si Vespa tua perkasa ini.

 Berikut sedikit gambaran, mengapa ingin memiliki Vespa hingga kini menjadi mimpi terbesar saya. Ini hanya merupakan contoh kecil saja bergantung dari brand dunia, namun saya tuangkan dalam bentuk pengalaman, dan faktor lain yang dihasilkan dari pola pikir saya sebagai penulis. Mungkin nanti ada bentuk benda atau jasa yang awal mulanya seperti ini, meluas, dan memerdekakan kualitas modernitas di kemudian hari. Sehingga dapat terus diterima, dan berbudaya. Pasalnya, ada yang lebih terbaik dari memiliki kendaraan pribadi, bisa transportasi umum, bersepedah, maupun berjalan kaki, semua memiliki penggemarnya sendiri, semua bisa di banggakan.     

Sejarah awal Vespa pabrik Piaggio didirikan oleh Rinaldo Piaggio pada 1884. Pada awalnya perusahaan ini memproduksi kapal, kereta, mesin, dan badan truk. Selanjutnya pabrik ini banyak menghasilkan produk pesawat terbang. Produksi Vespa dihasilkan Piaggio pada masa kepemimpinan putra Rinado Piaggio, Enrico, dan Armando. Vespa merupakan ambisi Enrico untuk menghasilkan kendaraan yang bisa membantu mobilitas personal. Dalam bahasa Italia, Vespa berarti tawon atau lebah. Vespa dirancang oleh Corradino D’Ascanio, seorang insinyur di bidang penerbangan. Dia juga merancang, mengkonsep, dan menerbangkan helikopter produksi Piaggio. D’Ascanio berhasil membuat model Vespa yang terlihat simpel, ekonomis, dan nyaman namun tetap elegan. Karena dasarnya dari penerbangan, maka rancangan Vespa juga mengambil dari beberapa prinsip pesawat terbang. Hal ini bisa dilihat dari garpu ban Vespa yang mengambil inspirasi dari model ban untuk mendarat dari pesawat terbang.

Konstruksi awal dari Vespa dimulai pada 1945. Model pertama Vespa diberi nama MP5. Kendaraan ini berbentuk sederhana namun tetap elegan. Bentuknya menyerupai bentuk lebah. Namun Vespa model awal ini masih menuai kritikan. Bentuk penutup pengaman terlihat seperti papan selancar. Bahkan sejumlah pekerja di Piaggio menyebut kendaraan ini sebagai motor Paperino. Paperino merupakan sebutan mengejek bagi tokoh kartun Donal Bebek. Kenyataan ini membuat D’Ascino memperbaiki model Vespa. Vespa model kedua bernama MP6. Akhirnya muncul seri Vespa terbaru yang diberi nama MP6. D’Ascino menyebut kendaraan ini sebagai Sambra Una Vespa, yang jika diartikan berarti Terlihat Seperti Tawon. Sebutan inilah yang membuat kendaraan produksi Piaggio ini dinamakan Vespa.      

Pada April 1946, Vespa dengan seri MP6 mulai diproduksi secara masal di pabrik Piaggio yang terletak di Pontedera, Italia. Pada 1949, Vespa telah diproduksi mencapai 35 ribu unit. Pada kurun waktu 10 tahun, Vespa telah diproduksi sebanyak satu juta unit. Vespa menjadi simbol gaya hidup pada 1960-an, bahkan sampai sekarang. Vespa terus berkembang di seluruh daratan Eropa, dan dunia. Negara lain mulai mengajak Vespa untuk bekerja sama membuat model ini untuk dijual di negeri mereka. Pada 1950, Jerman bekerja sama dengan Vespa untuk meluncurkan Vespa 125 cc. Larisnya Vespa membuat banyak perusahaan lain memproduksi skuter.                                               

Beberapa pesaing Vespa pada saat itu adalah Lambretta, Heinkel, NSU, dan Zundapp. Dilirik karena bentuknya elegan. Produk Lambretta, dan Zundapp sempat populer juga di Indonesia pada era 1960-an. Vespa banyak dilirik karena bentuknya yang elegan, dan lucu. Produk Vespa seperti seri 150 GS begitu populer sehingga sering muncul dalam film produksi 1960-an. Seri ini mulai menyatukan setang kemudi, dan lampu sorotnya. Namun, ciri khas berupa bokong tawon tidak pernah ditinggalkan. Tentu saja seri ini masih diburu bahkan sampai sekarang ini.                                                                                

Vespa lalu melanjutkan inovasinya dengan kemunculan seri ET2, ET4, Grand Turismo, dan PX150. Vespa tidak hanya menjadi kendaraan skuter biasa, namun telah menjadi ikon dari negara Italia. Vespa juga menjadi ciri subkultur anak muda pada era 1960-an. Vespa sebagai gaya hidup kepopuleran Vespa, terutama pada era 1960-an, membuat kendaraan ini tidak lepas dari gaya hidup anak muda pada waktu itu. Vespa menjadi pendamping sebuah subkultur yang muncul di Inggris pada akhir 1950-an sampai pertengahan 1960an. Subkultur ini tumbuh di Inggris, terutama di kota London. Mereka menyebut kelompoknya dengan sebutan Mod.                                                   

Mod berasal dari kata Modernist, yang mengiringi istilah Pop yang berasal dari kata Popular. Mereka adalah pemuda urban yang berasal dari kelas pekerja di kota London. Mereka berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Namun mereka tidak ingin ketinggalan dalam masalah fashion. Mereka memakai pakaian resmi yang disebut dengan zoot suit. Pakaian ini merupakan paduan jas, dan celana kain yang biasa dipakai kalangan menengah ke atas. Mereka memakai setelan ini untuk mengolok kalangan atas, bahwa mereka dari kalangan bawah bisa juga memakainya.

Selain pakaian, ciri lain dari Mod adalah musik, gaya rambut klimis, jaket parka, dan kendaraan skuter. Skuter dipilih karena kendaraan ini sedang populer, terjangkau buat mereka, dan sangat 'Italia'. Produk skuter semacam Vespa, dan Lambretta menjadi populer di kalangan Mod. Mereka memodifikasi skuter ini dengan memasang banyak lampu, dan kaca spion. Mereka juga memakai logo yang diambil dari lambang angkatan udara Inggris.                                            

Logonya sangat sederhana, yaitu lingkaran berwarna biru paling luar, dengan lingkaran putih di dalamnya, serta lingkaran merah di paling dalam. Warna biru berarti in the blue day, warna merah berarti in my red eyes, dan warna putih berarti I ride with my scooter. Warna dari logo ini sering juga disematkan pada skuter kelompok Mod. Mod menjadi sebuah gaya hidup pada waktu itu. Tidak hanya fashion, mereka juga memberi pengaruh dalam bidang musik. Mereka mendengarkan musik ciri khas Mod yang dibawakan band Inggris waktu itu seperti The Who, The Small Faces, dan The Kinks. Mereka juga mendengarkan lagu-lagu dari musisi Afro-Amerika yang membawakan aliran musik Northern Soul, dan Motown.  

Perkenalan awal Indonesia dengan Vespa memang tidak bisa dipastikan. Pasukan perdamaian dari Indonesia yang bertugas di Kongo, atas perintah PBB, membawa oleh-oleh Vespa tipe Classic dengan kapasitas 150 cc. Vespa ini dihadiahkan sebagai penghargaan dari pemerintahan Indonesa waktu itu. Karena itu model Vespa ini di Indonesia disebut dengan Vespa Kongo. Baru pada pertengahan 1965, beberapa importir berusaha mendatangkan Vespa langsung dari Italia. Bahkan ada yang merakitnya di Indonesia dengan lisensi Vespa tentunya. Vespa akhirnya menjadi primadona kendaraan roda dua sebelum masuknya motor bebek. Pada 1970 hingga1980-an, sebuah perusahaan produksi Vespa di Indonesia bisa menjual 500 unit skuter setiap hari. Vespa mulai turun pamornya ketika motor produksi Jepang masuk Indonesia. Pamornya anjlok ketika tidak ada produksi, dan inovasi baru serta adanya krisis moneter tahun 1997. Tetapi kondisi ini tetap tidak menghalangi pecinta Vespa memburu kendaraan klasik ini. Hingga kini Vespa produksi klasik masih dicari. Vespa masih digemari karena keunikan bentuk, gampangnya untuk dimodifikasi, dan mesinnya yang relatif lebih simpel, dan utama ialah komunitas yang melable kendaraan ini amat berharga hingga kini. Vespa klasik ini dijual dengan harga beragam, tergantung dari model, kondisi, dan originalitas. Sampai sekarang Vespa masih tetap digemari, bahkan oleh generasi muda. Banyak komunitas Vespa yang masih bertahan, dan memodifikasi skuter ini menjadi bermacam bentuk. 1.1            

   29 April 2013 tepatnya, upah dari hasil bekerja turun sudah, sehari sebelum hari ini. Bertemu cinta pertama saya di depan parkiran Mall. Sambil disinari lampu kuning di bibir jalan, “itu dia sepertinya yang saya bayangkan sejak kemarin”. Awalnya seperti biasa, pulang kerja sambil ngopi-ngopi bersama rekan satu kerjaan, terlihat dari kejauhan pemuda memarkirkan Vespa model PX150 tahun 1984 spesifikasi standar berwarna putih lusuh, serta banyak stiker yang tertempel di permukaan body nya, sedang terparkir. Lantas saya langsung saja menghampiri si pemilik kendaraan tersebut dengan berani, dan sedikit memasang kerut wajah dengan memulai membuka obrolan dengan rasa penasaran besar. Karena seperti diklik saja hati ini melihatnya. Sambil senyum sumringah ketika pembicaraan berpusat pada keinginan saya membutuhkan kendaraan pribadi, untuk berpergian.

Tanpa terus menerus obral obrol, pembicaraan langsung mengarah, saya taksir kendaraan ini. Pemilik awalnya sontak heran, namun dia ternyata juga antusias, dan bersemangat pula memang berniat menjual kendaraan tersebut. Tidak banyak terlintas pikir lagi, atau pusing memahami kendaran ini, bagaimana kondisi, dan cara penggunaannya, paham mesin pun rasanya tidak ada kala itu. Egoisme mendominasi di pikir saya, keuangan masih hangat, keinginan besar hanyutlah sudah. Tampilan luar pada saat itu, awal yang membuat keinginan besar saya tergoda, membeli kendaraan klasik ini. Siput (Si putih) sesuai namanya, dia cantik pada malam hari, tenang jalannya seperti siput.                                                                 

   Sampai tiba, duooor... sistem jual beli kebut sudah, transaksi langsung pada tahap tawar menawar, urung sudah hingga Siput ditangan. Titik temu harga jual beli mendapati kesepakatan. Pada saat itu, kendaraan ini belum bisa saya jinak kan lah istilahnya. Akhirnya kendaraan yang saya namai Siput tersebut dibawa teman semasa sekolah menuju rumah. Soalnya dia sudah terbiasa membawa kendaraan Vespa juga. Beruntung saja dirinya kerja satu kawasan Mall juga dengan saya, dan sering juga bertemu di luar parkiran. Menurutnya, ketika saya duduk tepat dibelakangnya menuju arah pulang ke rumah. Motor ini kurang baik. Saya seperti terburu buru membelinya. Hanya berawal dari pandangan saja. Yah sudah lah, kita lihat kelanjutannya, tangkis jawabku. Menariknya saya, dan si penjual pulang sama-sama diantar oleh teman. Meski tampak murung, namun penasaran akan ada hal menarik apa yang akan di hadapi. Semilir angin, bising mesin, dan sedikit aroma asap mengantarkan saya pulang kerumah. Sedikit canggung memang perkataan yang dilontarkan teman kepada saya, tetapi masa bodolah. Hati serasa bahagia, dan rasanya tidak sabar tiba dirumah.

Rantang...tang...tang...tang... asik sampai sudah dirumah, tetapi harus rela bergantian mengantar teman saya tersebut kerumahnya sekarang juga. Karena sudah larut malam, oleh perbincangan jual beli tadi. Kendaraan pabrik Jepangan Ayah menjadi korbannya, untuk mengantar teman saya. Langsung pada tahap respons penilaian hasil dari bekerja di hadapan kian pasang mata orang yang siap saya lalui, dan temui. Yah, tanggapan atau penganggapan itu suatu bentuk komunikasi. Komunikasi apa yang terjalin, ketika suatu komunikan memberi isarat. Isarat tersebut bisa berupa verbal maupun non verbal. Dan terkadang kita juga mahir betul berasumsi.          

Ada saja yang pro, dan kontra, yang pro cuma sebagian teman sih sepertinya, karena mereka pemain sekaligus pengguna Vespa klasik ini juga, yang kontra contoh sepertinya Ibu saya pada saat itu, “yah motor siapa ini, sempit, mana bising”, saya hanya jawab gumaman Ibu dengan, yah ini hasil jeri payah, dari pada pesan motor baru. Harus rela paruh uang tiap bulannya. Intinya yang terlintas pada saat ini, saya bekerja selama sembilan bulan bisa menghasilkan mimpi tersebut. Tanpa di sadari juga, harga satu mimpi saya itu, seharga bayaran gajih satu bulan saya di toko. Mimpi sudah terpenuhi, penyiksaan siap dihadapi. Saya paham betul kedewasan belum saya miliki pada saat itu, labil menjadi hal yang harus disesali dikemudian hari, dan siap saya hadapi. Terlebih benar juga kata ibu, sempit sempitin, pasalnya saya memang tinggal di kawasan padat penduduk, dengan tiga rungan memanjang di dalam gang.                                                  

Tetapi, ini lah namanya belajar, kita tidak akan tahu jika kita tidak mencoba. Jauh dari penilaian orang terhadap pandangan saya. Saya sangat siap untuk dihujat mengapa Vespa, Vespanya bising, mesin 2tax berasap, dan macam macamnya orang menilai. Tetapi ternyata saya juga menilai komunikasi apa yang bisa terbentuk dari orang tersebut, siapa dia, kelas sosial bagaimana, bagaimana dia dididik. Bahasan tersebut sudah jauh dipersiapakan, dan dipandang, ketimbang ini yang lebih parah, satu bulan gajian, baru lewat satu hari, beli Vespa tuh, kendaraan memang ditangan sudah. Tetapi besoknya masih bekerja jalan kaki, harus rela berpuasa, bahkan sering sekali kalau istirahat hanya membawa mi instan yang diseduh pake air dispenser sampai akhir bulan Mei tiba gajian kuat... kuat... kuat.... Meski dengan menahan rasa itu semua. Saya tetap yakin karena semua ini juga melalui perizinan, Ayah, Ibu.

Aduh.... gumam saya, ya untuk apa sih mementingkan orang lain, soalnya kita yang jalanin, kita yang nikmatin, bahagia itu sederhana bukan. Tempat kerja pula masih amat sangat mampu untuk dilalui naik sepatu, buat apa harus bergaya dengan Siput. Belum bensin, dan parkirnya, terlebih jalan yang memutar lewati jalan raya.             

Secara normal, dan biasa, manusia dipastikan melakukan hubungan atau komunikasi baik (verbal, dan non verbal) dengan lingkungannya. Contoh, dari usia dini sampai dewasa, hubungan atau komunikasi selalu, dan terus dilakukan bahkan menjelang masa tuanya berakhir. Hubungan, dan komunikasi terjadi terus menerus secara intensif terutama dengan lingkungan keluarga atau teman dekatnya.

Bagi anak usia dini keluarga inti, dan teman dekatnya memiliki pengaruh besar terhadap tingkat perkembangan anak seperti dalam memperkenalkan simbol-simbol, bahasa, nilai-nilai, dan kebiasaanya. Bagi anak usia dini, biasanya proses sosialisasi berlangsung selama diasuh oleh orang tua, dan lingkungan terdekat. Secara perlahan, dan bertahap, bahasa, simbol, nilai-nilai, dan kebiasaan diajarkan, ditanamkan sesuai dengan pedoman yang dipegang masyarakat tertentu. Ketika seorang individu tidak mendapat sosialisasi di masyarakat maka dia tidak akan mengenal bahasa, simbol, nilai-nilai, dan kebiasaan hidup bersosial di masyarakat.

Berikut bentuk tahapan pasti manusia, karakteristik tiap manusia pun dipastikan berbeda-beda, karena sekali lagi beda kepala beda pola pikir, dan mendasar atas nilai. Saya sendiri menghadirkan pola kehidupan kaum Vespa karena saya memiliki nilai, dan tahapan kehidupan saya. Berikut tahapan kehidupan manusia :

Tahap Kehidupan Manusia

Dalam masyarakat indrustri, masa kehidupan manusia secara khusus dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu masa kanak-kanak, remaja, dewasa, masa tua, dan yang pada dekade terakhir, masa sangat tua (manula).

Masa Kanak-Kanak                                                                         

Masa ini khususnya ditandai dengan romansa masa kecil yang penuh dengan permainan. Banyak orang dewasa yakin bahwa anak-anak seharusnya tidak dibekali porsi berbagai isu seputar seks, kematian, alkohol, dan kekerasan. Para orang dewasa karena itu menyensor berbagai film, dan bahasa bagi anak-anak tidak mendiskusikan tema-tema itu dihadapan mereka. Untuk lebih jauh melindungi anak-anak dari eksploitasi tema-tema tabu itu, para orang dewasa juga mengkhususkan mereka dengan dunia sosial yang khusus. Anak-anak masuk pendidikan TK (Taman Kanak-kanak) atau play-group, terlibat dalam perlombaan olahraga, dan busana. Mereka juga dibebaskan dari berbagai tanggung jawab hukum, sosial, dan ekonomi.  Sebelum masa kanak-kanak berakhir, aspek-aspek dasar pembelajaran formal juga telah disediakan, dan kebanyakan anak telah cukup membangun kedewasaan, dan kepercayaan diri mereka dengan berkutat rutinitas keluarga, persahabatan, dan sekolah. Mereka juga telah mengembangkan berbagai prilaku kultural yang umum. Misalnya, mereka tahu bagaimana menyebrang jalan dengan aman, berbelanja di toko, dan secara umum terlibat dalam berbagai aktivitas keseharian dengan tentunya pengawasan orangtua.          

Realitas kesukuan, dan kelas membuat hal itu berbeda. Berbeda dengan bangsa kulit putih, orang Afrika secara Tradisional mensosialisasikan anak mereka untuk menjadi lebih independen sejak dini, dan membebankan tanggung jawab yang lebih untuk kesejahteraan keluarga. Anak-anak yang lebih tua menghabiskan waktu mereka untuk mengasuh menjaga adik-adik mereka sementara orangtua mereka berkerja, dan anak-anak yang lebih tua sudah bekerja untuk membantu menghidupi keluarga. Untuk tingkatan tertentu, para keluarga kulit putih, dan kelas pekerja juga menjalani kehidupan serupa.3         

Masa Remaja                                                                                   

Masa remaja menjadi sebuah masa kehidupan yang terpisah sejak akhir abad ke-19 saat industrialisasi menciptakan suatu tuntunan jumlah pekerja. Sementara citra kultural remaja biasanya mencangkup tanda-tanda fisik, dan independensi ekonomi, citra yang baru menekankan pada kekakuan, ketidakdewasaan, dan kualifikasi yang rendah yang untuk memasuki masa dewasa. Masuknya masa remaja dalam suatu tahapan kehidupan manusia memberi sebuah kesempatan lebih untuk sosialisai, namun ini juga menciptakan sebuah masa hidup yang bergejolak, yaitu bercampurnya antara norma-norma kebebasan masa dewasa, dan subordinasi masa anak-anak.                                           

Masa remaja sekarang dikenal dengan fisik yang sudah dewasa, namun mereka semestinya dibatasi untuk memperoleh akses bagi aktivitas seksual. Mereka sudah cukup umur untuk bisa mengendarai mobil, dan motor, namun hal itu harus dengan izin orangtuannya. Masa remaja juga sudah cukup umur untuk aktif dalam kemiliteran, namun belum cukup umur untuk menjalani bahtera pernikahan. Sebuah tahap membentang antara masa remaja, dan masa dewasa secara utuh. Dengan kata lain, masa muda adalah masa di mana orang tidak lagi remaja, namun belum juga mencapai kedewasaan secara utuh, yaitu antara umur belasan hingga dua puluhan tahun. Masa muda ini adalah saat yang ideal untuk keterlibat dalam kegiatan, seperti berpetualang, magang, kerja sosial, dan kuliah di universitas.4

Masa Dewasa                                                                        

Periode antara usia pertengahan 20-an tahun, dan pertengahan 60-an dianggap sebagai masa dewasa. Lantaran usia dewasa membangun sosialisasi yang utama, fase belajar pada periode ini menjadi lebih sedikit. Ketimbang mengambil waktu untuk belajar hal baru, masa dewasa adalah masa mempraktikkan pembelajaran di masa sebelumnya. Semua keahlian, bakat, dan pendidikan yang telah dicapai sebelumnya diperaktikkan pada tahap kehidupan ini.

       Selama awal masa dewasa hingga sekitar usia 40 tahun, banyak amanah kehidupan tercapai. Misalnya, orang muda yang baru dewasa lepas dari ikatan orangtua, merajut kehidupannya sendiri dengan keluarganya sendiri, dan memegang tanggung jawab ekonomi, kesejahteraan sosialnya sendiri. Orang muda dewasa mesti juga belajar memuaskan harapan kaitannya sebagai suami atau istri, pekerja, ayah, dan ibu, warga masyarakat yang bertanggung jawab. Laki-laki, dan perempuan bisa saja menghadapai berbagai harapan terkait dengan perkejaan selama masa awal dewasannya. Banyak masyarakat tradisional yang menunjuk perempuan untuk bekerja di wilayah domestik, dan membatasinya untuk aktif di sektor publik. Pada tipe masyarakat tradisional, usia antara 25 hingga 35 tahun adalah periode di mana perempuan berhenti bekerja, dan mulai melahirkan, mengasuh anaknya. Di lain pihak, laki-laki pada masanya yang sama mulai memperoleh promosi jabatan, keahlian, dan senioritas yang menjadi kesuksesannya di masa dewasa selanjutnya. Selama umur 40 hingga 60 tahun, berbagai karir telah mencapai puncaknya.

Masa Tua dan Manula                                                                      

Orang-orang yang semakin tumbuh tua mulai meninggalkan peran mereka yang lama, dan mulai sosialisasi dengan peran mereka yang baru. Orang tua, dan manula mulai beradaptasi atau belajar menjadi pensiunan dari pada pekerja, menjadi nenek, serta lebih banyak memberikan nasihat ketimbang memberikan perintah secara langsung. Pola-pola interaksi personal juga berubah. Mereka harus memberikan perhatian yang lebih besar tehadap kesehatannya, belajar mengenai diet yang baik, dan baru, serta mengolah hidup dengan tunjangan-tunjangan yang dimilikinya. Orang yang sudah tua juga perlu belajar mengenai metode olahraga yang lebih sesuai, semisal, jalan kaki ketimbang olahraga lari, atau memancing, dan menghindari olahraga panjat tebing, dan lain-lain.

          Karena kondisi kehidupan, dan kesehatannya membaik, umur mereka pun semakin bertambah panjang. Karena itu, mereka menyandang peran baru yakni sebagai manula yang usianya sudah sangat lanjut. Meskipun banyak  orang yang pada tahap ini mengalami penurunan fisik, dan mental, banyak juga yang masih bersemangat, dan aktif. Tahap usia lanjut merupakan segmen atau kelompok yang usia pertumbuhannya sangat cepat, dan oleh karenannya jumlah mereka cukup signifikan.5

Sampai lah dirasa, sasaran usai di laluli, namun rasa bahagia nampaknya belum terasa. Terasa dilihat tetangga, dan massa ‘media sosial’ maksudnya. Yah, bagaimana tidak saya sebulan sudah terbeli si Siput, tetapi belum juga dikendarai, rencananya menanti gajian bulan Mei ini turun, baru bisa ini itu tanpa ragu. Seperti yang sudah dijelaskan, saya sekarang ini berada dimasa di mana muda, dan masa dewasa secara utuh. Secara dewasa saya sudah memilih pilihan yang saya khendaki. Tetapi unsur remaja tanggung masih dalam sifat kemiliteran saya berani bertaruh nekat. Tanpa perhitungan yang cukup jelas. Sebulan penuh masih berani menahan emosi untuk menaiki kendaraan yang sudah saya miliki, tetapi kembali lagi berbalik pada tahap sosial yang saya miliki. Saya lebih menahan ego tersebut, karena kurang ekspresi jika kurang uang juga. Ya?  

Berbanding terbalik, jika saya berada diposisi remaja lain pada kelas sosial menengah ke atas yang berkecukupan. Mungkin, jika saya seperti mereka saya bisa memanfaatkan hal tersebut dengan lebih baik, bukan untuk berparlente seperti yang terlihat, tetapi seperti rasanya susah, siapa yang tahu bahwa masalah tetap terus ada jika manusia kurang rasa bersyukur. Percayalah tidak ada manusia kini yang tidak ingin kaya, saya pun ingin. Sampai bermimpi, dan memutar balikan posisi mereka miliki dengan militan cara saya, dalam memperoleh kebahagian dengan bekerja mencari kebahagian tersebut. Saya sampai berniat menyisihkan uang untuk hal ini, dan itu tetapi itukan umpamaan, karena saya belum ada disaat posisi itu.   

Namun kenyataan lah ya rupa kenyataan, posisi saya dinilai masih amat sangat bersyukur. Terlebih saya sehat walafiat, memiliki bentuk rupa yang pencipta beri kepada saya sempurna, mata, hati, telinga. Dan personal diri terus dirasa mampu untuk bertahan mengarungi samudra biru, bahkan kemampuan itu hadir, dan lahir sebelum saya. Terlebih saya pun berada diposisi bisa mengenyam pendidikan sejauh ini, semua itu terlebih sang pencipta yang beri, bahkan suatu bentuk masalah yang masih bisa saya hadapi pula dengan lapang dada itu lahirnya dari sang pencipta, serta semuanya batasan saya yakin tidak diluar batasan kemampuan. Bandingkan diluar sana, dengan rasa kekurangannya, dan mereka pun sudah sepantasnya bersyukur, dan mengagungkan sang pencipta. Oleh karena itu, bentuk Miskin itu apa ? tidak ada yang bisa menjelaskan, dan dirasakan. Sedangkan Kekayaan itu sendiri bisa terpikirkan, dan dirasakan, bahkan angan-angan tiap manusia yang hidup, dan dikonsepkan sendiri dalam hidup. Bayangkan lah jika kesulitan itu menyenangkan.                   

Karenanya, melihat sudut pandang bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena kita belajar. Hapus kata bakat, terapkan kata semangat !.

 Dalam posisi yang terus dihadap, kebanyakan manusia akan jauh dengan sang pencipta ketika dirinya merasa kuat, dan berada diposisi piramida atas, sehingga mana mungkin merasakan apa itu dasar, mungkin banyak kata yang terlontar itu pun tanpa dipikirnya, mana mungkin banyak terucap rasa syukur. Banyak waktu ragam manusia pun mempikirkan hidup duniawiah, dan pencapaian itu amatlah menipu. Ketika lemah datang menyerang kembali, manusia itu sendiri mensembah-sembah hingga mengucurkan air mata. Apa kita pun akan seperti itu ?. Jawabnya telat... di sini, dan sekarang.

Teruslah beribadah sebagaimana awal kita dilahirkan, sebagaimana kita pun memandang, sebagaimana kita dapat berfilsafat, kita tidak sendiri, dan hukum dalam tuntunan hidupun jelas, sampai terlepas hidup ini sudah ada yang mengatur dalam bermain. Yah memang, aturan hidup seperti permainan, tetapi inilah yang dinamakan amal pahala, sebagaimana manusia bisa mengukur, dan menghitung bentuk, namun tidak dengan pahala, saya kira semua agama menjelaskannya. Tuhan mengajarkan suatu yang tidak ada, tetapi selalu terasa di hati, bukan permainan akal.

Inti dari ini semua, sang pencipta tidak menilai 1/10 1/9 1/8 1/7 1/6 1/5 ¼ 1/3 ½ sampai 1, bentuk pahala. Karena apa yang dijalankan rupa ikhlas, dan niatan baik. Contoh dalam agama Islam, mengapa adanya puasa, untuk merasakan mengapa harus berlapar-lapar, dan haus, karena kita harus bersyukur, apa terlihat pahala tersebut ?. Coba aplikasikan, mungkin jika ada yang memandang hina jika puasa tersebut diaplikasikan di bulan yang bukan bulan Ramadan, banyak persepsi, dan bahkan akan jadi bahan olok dikemudian hari oleh sesama Islam contohnya, “mengapa tidak mau makan, dan minum ?”, “tidak punya uang ?”, bagi yang melihat individu tersebut mungkin jadi bahan pembicaraan, namun ketika dilihat sisi baik bagi yang menjalankannya, Apa terlihat pahala tersebut ?.                                                                  

Jadi, sudah semestinya mungkin beralam, membumi, jadi ketika kita merasa dirugikan, mungkin itu adalah dosa kita, tetap harus bersyukur, dan dibayar. Biarlah hukum alam itu berputar, yang baik akan mendapatkan baik dikemudian hari, yang jahat tinggal menunggu balasannya, mungkin terlihat, mungkin tidak, mungkin sadar, mungkin tidak, mukin besok semasa hidupnya, atau mungkin nanti semasa di akhirat.

Hingga penantian itu hadir, seperti akan turunnya hujan, angin, dan awan gelap mula lah yang akan menampakan wujudnya. Turun sudah apa yang dinanti, dan di dambakan gajian. Wooah... belajar coba naik Siput ah… Hari libur menjadi hari sangat bahagia, niatan istirahat sirna sudah. Tidak cukup waktu lama belajar mengendarai kopling, dan oper presenelling di tangan kiri, saya kira rumit, karena sudah terbiasa membawa motor Jepang-an, saya cepat bisa. Ya meski masih belum mahir, terkadang slip kopling. Siput dibawa putar-putar kelurahan Gandaria Utara, di daerah dekat rumah, di sana pula terdapat taman melingkar, dan sepinya lalu lalang manusia. Serasa sudah mahir, saya mencobanya membawa ke jalan ramai. Surga sudah rasanya, serasa paling beda di jalan, amat sangat menjadi pusat perhatian rasanya. Mods Mayday Jakarta mejeng ini mah.hihi????

   “Jangan mencemaskan kesulitan-kesulitanmu dalam matematika, kujamin bahwa kesulitanku masih lebih besar dari pada kesulitan-mu.”6. Paparan kutipan ini, mengajak saya pada awal keberhasilan saya bisa mengendarai roda dua, saat kelas 9. Saat itu, umur tidak sepantasnya belajar mengendarai sepedah, lantas saya pun diajar Ayah saya mengendarai motornya, tepat di lapang kosong di wilayah Lebak bulus, Jakarta Selatan, bukan mengayuh, tetapi merasa daya dorong mesin terletak pada gas di tangan. Lapangan yang cukup luas membuat saya mampu berekspresi semaunya, jatuh, dan salah pun langsung tersungkur di hamparan tanah merah, proyek perumahan belum rampung di wilayah Villa Delima, Karang Tengah. Dari paparan tersebut, perhitungan dapat kita rasa, meski semestinya satu tambah satu itu dua.    

Sasaran Budaya Simbolik

   Selain cerita-cerita kesulitan cara meraih sasaran saya untuk berbahagia. Saya dihadapkan dengan masalah terbaru, yakni masalah kemesinan Siput. Perhitungan mengenai harga semestinya, memang tidak bisa semestinya juga saya langsung bahagia, bisa terus mengendarainya, jika Siput ini tidak dirawat. Harga murah, tidak sebanding dengan harga kendaraan baru sekarang memang, dari segi bandel bisa kalian nilai sendiri, tetapi soal gaya, saya rasa kendaraan ini memang dikutuk untuk gaya. Biar jelek, yang penting kece. Permasalahan kemesinan nyatanya harus saya pahami lebih dalam, ini bukan masalah, tetapi belajar, di mana saya amat awam dengan turun tangan mesin-mesinan. Yah, anak lulusan sekolah menengah kejuruan jurusan multimedia sekarang dihadapi oli, dan kunci-kunci. Kata iklan, berani kotor itu baik, asal jangan kata koruptor saja ya.

Sedari masa kanak-kanak nampaknya saya kurang bahagia, baru remaja inilah, kesulitan tak berarti ini menjadi wahana saya untuk mampu menyelesaikannya. Meski capai, lelah, apalagi ditegur orangtua beli kendaraan macam ini. Saya jadi sering ke bengkel, dan memparuh bayaran bengkel, jatah makan jadi kian terkikis lagi. Tetapi, sadar tidaknya pada saat itu, hal ini dianggap dosa bagi kalangan pengguna kendaraan klasik lain. Jikalau kendaraan tersebut pindah tangan. Katanya salam perkenalan sama pemilik barunya. Di sini saya malah menanggapi ini dosa saya, mogok, rusak ya dosa saya mungkin dijalan saya suka kebat kebut, melanggar lalu-lintas, dan saya harus sabar menyikapinya, mungkin sedikit rezeki saya ini untuk pemilik bengkel demi menafkahi keluarganya.           

Make a simple!!! Kualat sama yang tua’an. Hmm itu juga paparan yang lebih jelas deh, namanya juga Vespa tua ditumpaki saya yang lebih muda.

Lantas kalian cukup paham tidak, mengapa saya tertarik menulis buku ini berupa dari wujud kendaraan ? Yah bagi yang paham, tulisan saya mengarah bentuk komunikasi, aspek sosiologi, dan nilai-nilai lain yang bisa membuka nalar akan keheranan tersebut. Bicara komunikasi, apa pembaca paham mengenai simbol ‘klakson Vespa’ ?, saya sih belum paham betul mengapa mereka saling tegur sapa, tanpa ragu, bahkan pada masa saya amat sangat terbantu ketika saya dihadapkan masalah mogok di jalan, tenang saja pasti ada Vespa lain akan menolong saya. Bukankah ini sudah membentuk budaya ?             

Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk suatu yang lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal), prilaku non-verbal, dan objek makna yang makna nya disepakati bersama. Kemampuan manusia mengunakan lambang verbal memungkinkan perkembangan bahasa, dan menangani hubungan antara manusia, dan objek (baik nyata ataupun abstrak) tanpa kehadiran manusia, dan objek tersebut. Lambang adalah salah satu kategori tanda. Hubungan antara tanda dengan objek dapat juga di representasikan oleh ikon, dan indeks, namun ikon, dan indeks tidak memerlukan kesepakatan. Ikon adalah suatu benda fisik ( dua atau tiga dimensi), yang menyerupai apa yang di representasikannya. Representasi ini ditandai dengan kemiripan. 7

Lalu kembali dalam berbudaya Vespa, budaya saling tegur sapa bahkan tolong menolong tersebut sudah berlangsung sejak lama. Ya mungkin masih banyak juga kita temui, dan rasakan ada kala Vespa lain tidak membantu kesusahan kita, kita sendiri harus bisa memposisikan berbagai bentuk hal, mungkin jika harian dalam ruas lingkup jalanan perkotaan, mungkin dia tidak menolong, dan bantu karena ada kepentingan lain semisal ingin pergi bekerja. Mungkin juga terburu-buru, atau tidak ingin terlibat sama sekalipun ada. Balik lagi dirinya mengunakan Vespa itu sendri untuk apa ?. Kalian yang mana ?

Namun jika berpergian keseluruh daerah nusantara di mana pun kalian berada saat rideing, tenang, dan optimis saja saudara Vespa ada di mana-mana. Meski lucunya kini diperkotaan khususnya, budaya saat ini Vespa hampir terpatahkan oleh Ojek online. Ya mereka satu label, saling tergur sapa sudah dapat order mas!!!?, tetapi golongan ini sontak amat sangat beda dengan kendaraan klasik kita.          

Contoh dalam komunikasi, misalnya rambu-rambu lalu-lintas di jalan raya yang menunjukan arah, adanya pom bensin, masjid atau rumah makan di depan, atau kondisi jalan (berbelok, menanjak, atau menurun) itu adalah ikon. Berbeda dengan lambang, dan ikon, ada indeks yakni tanda secara alamiah mempresentasikan objek lainnya. Istilah lain yang sering digunakan untuk indeks adalah sinyal (signal), yang dalam sehari hari disebut gejala (symptom). Indeks muncul berdasarkan hubungan antara sebab, dan akibat yang mempunyai kedekatan eksistensi. Misal awan gelap menjadi indeks akan turun hujan, sedangkan asap merupakan indeks api. Hal tersebut bisa jadi lambang memang, karena makna nya telah disepakati.

Lambang bersifat sembarang, manasuka atau sewenang-wenang. Apa saja bisa dijadikan lambang, bergantung pada kesepakatan bersama. Kata-kata (lisan atau tulisan), isyarat anggota tubuh, makanan, dan cara makan, tempat tinggal, jabatan (pekerjaan), olahraga, hobi, peristiwa, hewan, tumbuhan, gedung, alat (artefak), angka, bunyi, waktu, dan lain-lain. Namun alam tidak bisa menjelaskan, dan beri penjelasan mengapa manusia menggunakan lambang-lambang tentu untuk merunjuk hal tertentu, baik yang konkret maupun abstrak. Kita tidak mempuyai alasan suara yang mengeong itu kucing, bukan kambing apalagi gajah. Penyebutan itu semata-mata berdasarkan kesepakatan saja.                 

Ada ungkapan mengatakan “You are what you read” (Kalian adalah apa yang Kalian baca). Siapa Kalian dapat diketahui dari jenis bacaan Kalian. Kita bisa membedakan dunia simbolik (pendidikan, pengalaman, selera) orang yang membaca Times, Tempo, Kompas, dengan orang gemar membaca Tribun misal, meskipun perbedaan itu sekadar dugaan. Memang orang bisa saja berpura-pura menyukai suka musik jazz, rock, atau musik klasik di depan teman-temannya, agar dianggap modern, atau borjuis, padahal di kamar sendiri dia sebenarnya menyukai, dangdut.

 Jadi pemaknaan berupa dugaan bisa saja kita anggapi itu sebagai suatu yang posistif maupun negatif, tergantung kita paham mengenai nilai yang akan kita asumsikan. Dalam kendaraan klasik pabrikan Italia ini, masing-masing memiliki pemaknaan yang berbeda-beda. Vespa klasik bentuk, dan rupanya beragam, mulai dari standar, retro, dan extrme masing-masing bentuk, dan rupa berbeda meski itu sama Vespa. Dan hal ini sepertinya akan menarik juga jika saya bahas dalam bab selanjutnya. Meski ada berbagai macam bentuk, dan rupa wujud mereka pun nyatanya sama, dan bertahan hingga kini di negeri ini.

       Dalam berkendaraan Vespa klasik ini, pemaknaan juga bisa terus baik, seperti yang saya sudah gambarkan. Anggap lah itu dosa kita jika kita memiliki kesusahan, bersikaplah ikhlas, dan tetap bersyukur. Meski, mungkin dari sebagian yang lain, kendaraannya klasiknya mogok kesal terus berpikir sial. Harus cepat diganti yang baru, malu, atau sudah banyak pula yang kendaraannya di modifikasi sedemikan rupa agar tidak mendapati penghalang, atau pun saat dirinya tidak memiliki kesusahan, kalau begitu duit yang berbicara lebih banyak dari pada usaha, dan memahami hal tersebut.                      

Disamping contoh, dan segala bentuknya ini. Saya berbagi pengalaman unik mengenai diri saya saja untuk dituliskan, karena pembelajaran menjadi hal yang penting bagi saya untuk di diskusikan, tuliskan, dan bukan megolongkan kalian yang menggunakan Vespa hanya berupa untuk hedonisme. Jika bergaya kalian cukup beli kendaraan klasik ini, pakai, pajang. Uang berbicara banyak bagi kalian. Kalau seperti itu, pada masa ini mobil, dan kendaraan bermotor lainnya dinilai murah bisa kalian beli untuk menjadi bintang rock star jalanan, tidak repot saat digunakan, bisa kebut jika diperlukan, tetapi ini yang akan menarik, tulisan ini akan membangun kelas sosial yang semestinya, dan seharusnya yang rapi, dan tampak baik belum tentu ingin membantu.                                                                                 

Tetapi memang kembali lagi, beda kepala beda pola pikir, ada yang menyebut, “ah situ mah nyusahin diri sendiri, motor rusak bukan dibenerin”, kebanyakan dari mereka yang berasumsi dikarenakan mereka tidak masuk dalam hati. Mungkin, Vespa yang dikendarainya baru pemula, mungkin Vespa pinjaman, mungkin memang kurang, dana, mungkin habis bensin, mungkin dirinya butuh busi, dan kita sebagai satu icon, ada yang salah dengan tegur sapa ? bahkan sampai tukar kontak nomor pribadi untuk saling bernegoisasi nantinya, mungkin kedepannya si pemilik tetap mengendarai Vespanya, mungkin pula dirinya menambah armada Vespanya untuk menyelamatkan aset. Kemungkinan itukan lahir ketika kita berkontak langsung, dan juga ingin berniatan baik. Terlebih dari batas kemampuan yang kita tidak bisa bantu pun, kita bisa melontarkan kata sopan, maaf tidak bisa bantu, bahkan dengan non verbal rasanya cukup juga, agar nantinya juga Vespa dimasa akan datang tidak menghadirkan kesusahan, dan memberi kemudahan saling tolong menolong dalam berbudaya, ramah budipekertinya.  Budaya ini harus terus berjalan.          

Saya berpikir mengapa saya harus bertahan merasakan Si putih kusam yang kucintai ini. Jauh sebelum saya pun memungkiri, banyak yang terbaik, dan lebih baik, tetapi inilah mungkin cinta pertama saya. Inilah barang yang dilalui oleh jerih payah saya. Vespa menjadi seperti bagian pandangan wajib. Pada dasarnya saya memang mendapati Vespa itu dikarenakan buy 1 get all, antiknya dapat, keren, dan bandel menyatu dalam semua aspek. Bagaimana pun rusaknya, mogoknya rasanya saya tak rela tinggalkannya di manapun itu. Siput harus saya bawa pulang kerumah. Meski kadang tersadar pula saya belum cukup mampu memiliki kebahagian bermacam-macam. Nyataya lebih baik naik Siput, lebih baik manfaatkan keadaan, lebih baik berpikir maju dengan hal yang bisa saya kembangkan nantinya. Tetapi hayalan itu mungkin tiba-tiba bisa menyerang pikir saya, mungkin kelas sosial saya pun bertambah naik dari pada ini, kehidupan saya membaik kian urungnya waktu.

   Meski begitu saya rasa, ini wujud bentuk Tuhan memberi saya hadiah yang amat mahal, cerita, kekuatan, kesetiaan saya tidak bisa ditukar dengan uang. Seperti laman Instagram saya yang repost postingan kendaraan sesvan bertuliskan ‘Tidak Dijual Takut Kaya’ dalam acara SAKRAL Jakarta di wilayah Joglo, Barat Ibukota, meski mimpi, kebahagian itu diinginkan pastinya, tetapi sifat spartan, dan saling gotong royong selalu akan saya wujudkan, dan jangan lupa bersyukur. Bagaimana tidak, siapa yang tidak ingin berkecukupan, bahkan keluarga menjadi prioritas utama. Namun sudah jelas bukan, saya berniatan akan membangun mimpi dari Vespa yang berjuta pengalaman untuk, berjuta saudara di jalan.          

       Kalian pun harus maju, dan rela membantu, kalian harus yakin, hari ini membantu orang lain, esok dibantu orang lain, hingga kalian berjalan bersama tanpa ada rasa ragu lagi, lebih dari sekian balas budi. Tetapi itu takdir sang pencipta, bahwa memang hidup ini harus dipahami dengan baik, dan saling menghargai perbedaan. Berpikir maju wujud cara kita itu ingin pandai berusaha semaksimal mungkin tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan. Jika pusing, itu berarti otak kalian masih berfungsi, jika tidak pusing itu baru bahaya, coba periksa di tukang nasi, mungkin kalian lapar. Dengan memajukan akal pikir, kebutuhan akan sosial makin tinggi, dan merubah pula kelas sosial yang kalian perani. Disinilah kebahagian itu dicari harus ingat berbagi. Tanpa harus sibuk mempikirkan dari mana kita lahir, apa tujuan kita hidup, terpenting ialah jika kita maju, jangan lupa bersedekah dengan hati ikhlas. Meski hidup ini dirasa Tuhan uang, semua sudah pada porsinya, jangan berlebihan.

       Teringat kali pertama Siput dengan niatan berbangga hati, dan menyombongakan diri, dengan gaji bulan ini, ingin sekali mengendarai Siput ketempat kerja. Sombong yah... bagaimana tidak, berkendaraan sendal pun rasanya masih sampai di lokasi di mana saya mencari pundi rezeki, dan sombong juga apa yang disombongkan sebenarnya. Tetapi ini bicara sombong berbangga, hati yang merasa puas meyombongkannya, meski orang lain tidak merasakannya. Ingat yah, ini bentuk rupa siloka (makna bebalik). Senang melihat susah, susah melihat senang. Rantang... tang... tang... Siput mandi sudah, orangnya mandi wangi udah. Siap bergegas bekerja jadwal jam kedua masuk pukul jam 2 siang, kendaraan siap terpajang beda dari yang lain di lingkungan parkir bersanding sama dengan kendaraan terbaiknya yang dimiliki orang lain, lalu masuk Mall lewat pintu masuk parkiran kendaraan roda dua nih deuuuuu... Jalan langkah besar saya persiapkan ketika nanti masuk pintu berlapis kaca otomatis dengan angin sejuk yang tercipta buatan mesin. Skenario yang tersusun rapi… dalam story mind. Tetapi tetapi tetapi... hayalan... jossss.... bleger. Banyak orang jadi gila, banyak orang jadi puyeng... saya termasuk tidak yah... ? ngayal, dan menghayal saja. Yang dilakukan merasa terbaik rasanya. Niatan bawa kendaraan siap, eh… baru saja sampe pertigaan 200 meter sampai Mall, putus tali kopling. Hmmm... dasar. Waktu sudah hampir memasuki jam kerja, telat tidak yah ? saya coba dorong sajalah.

Tetapi bersyukurlah, ada saja yang niatan menolong, kendaraan saya masih bisa melaju, semilir angin berasa, dan gagahnya memegang kendali Siput terasa. Tetapi saya berteriak dalam balutan pelindung kepala, bangg... cape gak setut motor saya” ucap saya. “udah mas gak apa, saya juga lewat parkiran Mall” balasnya. Alhamdulillah... disetut dong saya. Hahaha…. joke

Kelar udah hidup, tidak jadi sombong. Baju berlumurkan air yang terbentuk bukan karena hujan membasahi, bukan pula tersiram orang lain karena motor saya jelek. Tetapi murni basah keringat, karena cukup sudah rasa dibantu orang entah siapa dirinya, entah malaikat mana yang masih ada niatan membantu, entah pula sang pencipta mungkin menghadirkan malaikat yang membantu saya, intinya yah ini yang harus siap dihadapi.                                                       

Dalam bahasan bab pertama ini, banyak pertimbangan mengenai pola pikir, dan daya, bukan menafsirkan jelas golongan. Bahkan terselip doa dalam proses penulisan ini pun untuk sebagian orang di mana pun itu kalian yang membaca tulisan ini, untuk saling memahami ilmu setinggi-tingginya, dan luas. Lantas kemungkinan di kemudian hari jika terjadi masalah, saya paham betul ketika permasalahan di tumpah ruahkan sang pencipta akan memberi apa-apa yang belum diketahui, dan itu siap saya hadapi, menanggapinya dengan pikir tenang.

Jadi manusia dalam era kini, “manusia lebih cepat dingin ketimbang bumi yang di pijaki dirinya” pusing menjadikannya tujuan titik sebagai pedoman hidup, lalu meninggalkan pola titik lain yang mengantarkannya ke tujuan tersebut, secara proses.

Bahkan saya berpikir, “saya hanya manusia pemimpi, hari ini juga mimpi, maka biarkanlah dia datang di hatimu. Kutipaan lirik Ebit G Ade – Camelia 2, mengajak pada rasa. Sebagaimana sang pencipta, terlebih akan bermain dadu mengenai jalan hidup ini, atau pun biarlah saya terjerat mimpi yang indah. Jika begini terus rasanya, saya seperti menyapu daun gugur mengkuning, di bawah pohon yang lebat. Akhirnya saya harus berani lawan arus. Pasalnya, hidup itu harus berpedoman ya, tetapi dalam mempersiapkan segala sesuatunya dengan sampai kita harus siap menyendiri dalam tanah berukuran panjang, dengan lebar ruas badan kita, itu juga perlu. Sampai pula pada di mana kita nanti menjadi pohon yang berbuah, jadi kita rasanya akan terus hidup dari bagian bumi ini. Meski memang, banyak proporsional orang, berpikir. Biarlah dia merasakan dosanya sendiri. Jelas terjalain ialah, berserah, dan tidak menyerah.           

Namun tetap, fokus pencapaian ini tersudut kepada kesiapan manusia menghadapi era modernis, kapitalis, setan kertas bermata satu. Vespa adalah kendaraan klasik yang diciptakan pada awal mulanya untuk mempermudah trasportasi, dan bentuk yang diciptakannya dirancang untuk siap hingga puluhan tahun kedepan. Maka dari itu, bab selanjutnya siap menjelaskan bagaimana kita mempelajari, dan menyikapi. Kemudian, Vespa menjadi kendaraan para kaum terpelajar menurut saya, dan siap menghilangkan bentuk gangguan jalanan yang kian tahun, manusia lahir sama dengan kendaraan pun yang terus lahir. Amat menganggu” populasi yang lagi harus di musnahkan dengan cara keluasan hati, bukan dengan langsung dibunuh karakternya begitu saja.

Terlebih dari itu berarti harus ada kesiapan pemerintah untuk membatasi, proses pasar globalisasi dengan memajukan alat transportasi yang mumpuni dengan kemungkinan besar berpotensi membangun keadilan. Di mana pada saat ini, untuk mendandani negeri ini, kita kian terus saja berhutang. Dilain sisi yang terlihat jelas masuknya laba-laba pasar bebas, yang malah kian tahun menjamur, kian hari saja terus berfantasi cinta buta. Ini kita akan bahas di bab lainya, yang bertombak, okelah kita tidak bisa membranding produk kita sendiri untuk dipasarkan tumpah ruah di negeri orang lain. Mohon saja, bisa tidak kita tidak murahan. Ibarat lubang, kita terus di tusuk oleh penyakit nikmat yakni virus yang kian hari belum terasa, namun di lain hari kita eror karena penyakit tersebut.

 Bahkan imajinasi saya melintas terhadap jalan aspal terbaik Nusantara siap di banjiri Vespa terdahulu yang sudah lahir, yang sudah mungkin terhitung jelas populasinya, tidak dalam bentuk kelahiran kembali, dan biarlah sebagian orang memiliki kendaraan mewah. Oleh karena itu, Vespa dikemudian hari disiapkan untuk kalian perorangan yang siap menimbun harta kecil negeri ini, bertanda kutip ‘aset negri’. Karena mungkin saja, daya jual dikemudian hari kian menambah, meski pajak, dan segala bentukannya tengah di tegakan pula. Saya pikir kalian sekalian mampu menghidupinya, ketimbang harus membeli bintang mewah jalanan demi meramaikan hirup pikuk jalanan. “Vespa saya mewah loh… saya berbangga… saya akan berdiri, setelah semua ini dihinakan”.

Jadi apa itu proses sukses lahirlilah, ketika kita pula mampu menyikapi dunia masa mendatang. Bukan hidup dengan di dunia sekarang, kalau seperti itu, kita terus saja menambal masalah. Jadi bercirilah dari harta berharga Vespa khususnya. Namun, tetap kita harus paham proses (ctr+alt+delete). Ketika ada di bagian piramida hidup, dari mana kita lahir, dan dari mana kita kembali untuk mensyukurinya. Segala bentuk tulisan ini pun tercermin gambaran karena kalian yang paham merasakannya akan amat sangat mengetahui, permasalahan yang dihadapi, dan hanya merupa-rupa mimpi, jikalau... kalau... andainya... haft… Oleh karena itu mengapa mimpi itu tidak dihadirkan dikemudian hari, yang notaben nya mungkin dengan proses yang amat lama? mungkin prosesnya menyatukan pikir satu dengan yang lainnya... ? Bahkan lebih banyak kemungkinan – kemungkinan lain yang tergambar. Pelan, saya yakin ini akan tiba.                 

Dalam proses menganalisa masalah kunci utama untuk mendobraknya ialah pola pikir, kemudian sabar menjadi senjata berbahaya dikemudian hari. Namun, kembali lagi, saat kita berada dalam posisi piramida atas semakin mengerucut, semakin pula kita tidak merasakan, semakin pula jari telunjuk ini dengan mudahnya memerintah. Itu pulalah yang kita harus aplikasikan dalam budaya kita di Indonesia. Teruslah bersosialisasi, teruslah merasa apa yang baik siap menerima baik, yang jahat, dan segala instan, kemudian  mudah menyerah siap pula menyesal dikemudian hari.

   Meski begitu, saya akan menjelaskan secara gamblang. Pada dasarnya tidak ada pihak jelas menentang upaya pengembangan sosiologi baik mau kita berfilsafat. Namun saya memperspektif dalam kajian Islam. Islam sekalipun upaya sosiologi tersebut didukung secara luas. Barangkali lebih tepat dikatakan bahwa sebagian besar ilmuan sosial Muslim masih bersikap skeptis. Hal ini terutama karena belum jelasnya apa yang dimaksud, dan apa yang menjadi agenda dari sosiologi Islam itu sendiri.                                                  

Jikalau masalahnya adalah hasil kajian sosiologi umum seringkali menyesatkan sebagaimana hasil kajian Weber tentang Islam, maka jawabannya adalah kritik yang dilancarkan Bryan S. Turner, yaitu Weber tidak konsisten dalam menggunakan metode Verstehen yang dia rintis sendiri. Kritik Bryan S. Turner itu justru menunjukan dengan gamblang sifat sosiologi sebagaimana sifat sains pada umumnya, yang sangat terbuka terhadap kritik, sejak awal berdirinya, sehingga teori tentang pudarnya masa depan agama yang dikemukakan oleh pendiri sosiologi yakni Agus Comte (1798-1857) telah pula ditinggalkan orang. Dengan kata lain, para ilmuan sosial Muslim memiliki pula hak penuh untuk melakukan koreksi, dan penyempurnaan terhadap kekurangan-kekurangan sosiologi umum maupun sosiologi agama.                                 

Jadi kalaupun kita menginginkan agar ajaran-ajaran Islam tentang kehidupan sosial dijadikan pertimbangan utama dalam mengkaji masyarakat Islam, hal ini pun dapat dilakukan tanpa harus mengibarkan bendera sosiologi Islam. Adapun mengenai komentar Ilyas Ba-Yunus yang menyatakan bahwa : “From the Islamic point of view, no knowledge is complete unless it serves ultimate purpose” (1982:284). Sebenarnya hal ini lebih berkaitan dengan motivasi masing-masing ilmuan yang untuk Islamisasi-nya tidak memerlukan Islamisasi terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.                                               

Bertolak dari berbagai argumen di atas, maka demi kelancaran perkembangannya, pengertian sosiologi Islam lebih dahulu diperjelas. Namun Sosiologi Islam tidak sepatutnya dibebani konotasi ideologis yang cenderung menarik garis tengah antara “kita”, dan “mereka” yang non-Muslim. Sebab, hal itu akan mengerdilkan ajaran Islam yang berwatak Rahmatan lil ‘alamin. Untuk itu kiranya istilah sosiologi Islam sebagaimana digunakan bagi judul buku Bryan S. Turner dapat dimodifikasi pengertiannya sehingga keinginan untuk memberdayakan ilmuan Muslim agar mereka mampu memajukan peradaban Islam dapat pula terakomoditasi.                                                                      

Dengan demikian baik, (logika) maupun ayatun bayyinat (realitas objektif) yang berkaitan dengan kehidupan sosial menjadi sasaran sosiologi Islam. Dengan batasan tersebut di satu pihak keinginan untuk mengarahkan fokus kajian kepada ajaran Islam, dan praktiknya dalam kehidupan sosial dapat dipenuhi. Di pihak lain, sifat sosiologi Islam sebagai sains yang terbuka bagi siapa saja, termasuk non-Muslim, untuk berkecimpung di dalamnya juga terbuka luas.

Sampai di sini, kemungkinan ada yang sedikit meragu karena bukan mentotalkan, dan membatasi. Alhamdulillah Ya Robalalamin, saya lahir, dan besar di agama Islam, saya tidak tahu jika saya bukan besar karena Islam. Jika sepanjang perjalanan bacaan ini, saya mengkonstruksi berujuk pada sedikit poin agamais. Indonesia kita paham betul, sila pertama. Dan ketika membahas bahasan, kertas mata satu lah, kemudian kapitalis, pasar bebas dibab selanjutnya akan memperjelas. Dan mengapa dilampirkan hal-hal sedemikian rupa, karena saya membawanya kepada, sifat beralam, membumi, perhitungan, cinta kasih, baru lah rahmat ini. Itu semua terbentuk dari satu kesatuan. Yang di mana, jika didepan ialah proses kerusakan alam semesta. Mari kita menjadi bagian terbaik itu. Bukan memperburuknya.

Jika dalam Agama Kristus, dibahas Yesus akan turun kembali ke bumi, berkahirlah semesta alam. Jika dalam Islam itu, iyalah turunnya Nabi Isa As, Qs Az-Zukhruf (43): 61. Kemudian 40 tahun dunia memiliki kedamaian, baru lah kita kiamat. Mengapa manusia malah berlomba untuk menjadi yakni seperti tiga titik, segitiga yang saya tuliskan seperti di atas. Merucut kepada satu titik tujuan jika kita ada pada posisi piramida yang teratas. Bertotalitas meninggalkan poin titik titik lain, demi satu tujuan titik saja, titik teratas. Ini yang disimpulkan dalam cara berbudaya, bersosiologi dalam Vespa yang saya alami itu sendiri dituangkan, dituliskan, dibacakan, diputar untuk menemui rasa.  Jika ya, mata satu yang direpsentasikan ialah Iluminasi yang menjelma dari manusia. Mengapa kita malah berlomba untuk menjadi dirinya, yang berkuasa sedangkan yang lainnya sibuk untuk mempikirkan esok hari akan makan apa. Jika kita berdamai dengan jiwa, dan diri kita, merubahnya titik tersebut dengan pola yang lebih perduli dengan titik lain. Mari sama-sama wujudkannya. Karena kita lahir dari Ayah, dan Ibu yang bersenang senang maka senanglah, dengan cita, dan kasih, dari rasa yang dipertemukan alam semesta luas ini, demi membangun segala sesuatunya dengan berhitung, kemudian bersedekahlah dengan baik, bukan berkuasa, Adi kuasa, memeperkaya mereka dengan mencoba visit kita ke mereka. Percayalah Indonesia itu akan menemui, titik rumusannya, ind ONE nesia. Kita akan sampai pada jalan itu, dan kita akan kuat, mandiri, merdeka, dan berbagi kebahagiaan. Kebersamaan dalam hal, bertahan hidup dengan cara berbagi. Memperluas lahan gerak untuk sama-sama bisa mengerjakan kebijakan yang baik.

Sosiologi Islam dan Problem Sosiologis Umat

       Bentukan tulisan buku ini membentuk pola komunikasi, budaya, dan sosiologi namun sesuai Islamiah dengan menggambarkan bentuk rasa bersyukur, dan niatan hati bersih ikhlas. Dengan lebih jelasnya pengertian sosiologi Islam dapatkah diharapkan peranannya sebagai sosiologis alternatif guna mengatasi masalah sosiologis umat ? Jawabnya atas pertanyaan tersebut tidak sederhana sebagaimana tidak sederhananya masalah yang dihadapi umat. Namun sebelum membahas lebih lanjut mengenai hal itu perlu kiranya lebih dahulu dipahami perbedaan antara “masalah sosial”, dan “masalah sosiologis.” Masalah sosial adalah suatu aspek dalam kehidupan sosial yang tidak sesuai dengan yang diharapkan sehingga memerlukan penanganan, dan pemecahan. Sedangkan “masalah sosiologis” adalah suatu kondisi dalam kehidupan sosial yang mengudang rasa ingin tahu secara intelektual (intelectual curiosity) karena itu memerlukan pemahaman, dan penjelasan yang mendalam. Pengganguran misalnya, adalah jelas merupakan “masalah sosial”. Namun hal itu menjadi “masalah sosiologis” manakala kita mempertanyakan bagaimana masyarakat secara keseluruhan diorganisasikan sehingga tidak tersedia lapangan kerja yang cukup. Dan bahasan lebih mendalam ini akan dituntaskan dalam bagian “Kecil Bebas Bermain”.                                         

Berdasarkan pengertian demikian sesungguhnya banyak, dan sangat kompleks “masalah sosiologis” yang dihadapi saat dewasa. Saya mengambil bentuk contoh betapa banyak partai politik yang berlabel Islam khususnya di Indonesia, yakni sekitar 20 partai. Mengapa mereka tidak menjadi satu saja, agar segala sumber daya yang dimiliki dapat dihimpun juga lebih besar ? . Bahasan mengenai contoh, kelompok, dan Organisasi Vespa Indoesia pun akan kita bahas dalam bab selanjutnya mengapa banyak label Vespa, padahal Vespa ya Vespa. Balik dalam bentuk Pemilu 1999 yang notabene dipandang sebagai pemilu yang sangat demokratis suara yang diperoleh partai Islam secara keseluruhan jauh lebih kecil dari pada suara yang mendukung partai-partai non-islam.                                                                                           

Jawabnya terhadap pertanyaan tersebut tidak dapat diberikan secara sertamerta. Untuk memperoleh jawaban yang relatif akurat diperlukan penelitian dengan samping yang proporsional terhadap pemilih beragama Islam. Meskipun penelitian tentang hal itu belum dilakukan namun secara hipotesis dapat dikemukakan, bahwa dikalangan sebagian besar umat tampaknya berlaku pendidikan bahwa komitmen keagaman itu tidak indentik dengan komitmen politik. Jadi, dengan kata lain sebagian besar dari mereka sebagian tidak setuju dengan politisi agama. Dengan demikian, maka salah satu problem sosiologis umat adalah terjadinya kesalahan dalam membaca peta sosial politik, khususnya pada kalangan para pemimpin partai Islam. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa yang lebih terpenting umat sesungguhnya bukan label Islam melainkan kenyataan objektif yang Islami. Dalam kaitan ini seruan ilmuan Muslim Kuntuwijoyo (2002: 213) untuk mengupayakan melakukan objektivikasi Islam sungguh sangat relevan.  Objektivikasi adalah “memandang sesuatu secara objektiv.” Seruan “objektivitas” Kuntowijoyo meliputi tiga hal yakni : (a) akulasi politik objektif, (b) pengakuan penuh objektif, dan (c) tidak lagi berpikir kawan-lawan.                                                                                                      

Sekalipun seruan Kuntowijoyo pada dasarnya berkaitan dengan kehidupan politik umat, namun seruan tersebut juga sangat relevan bagi upaya pengembangan sosiologi Islam. Dengan kata lain, sosiologi Islam harus diletakan pada bagian tak terpisah dari upaya objektivitas Islam. Kiranya dengan jalan itulah eksistensi sosiologi namun Islam dapat diharapkan mampu berperan sebagai  sosiologi alternatif dalam upaya mengatasi masalah sosiologis umat. 8


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts

Instagram Images

Instagram Images
Sempit Ruangmu Kaya (Repost)

Subscribe